





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Abu Muhammad Abdullah bin 'Amr bin al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhuma- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti ajaran yang aku bawa."
Kami meriwayatkannya dalam kitab Al-Ḥujjah dengan sanad sahihNabi ﷺ menjelaskan bahwa seseorang tidak disebut telah memiliki kesempurnaan keimanan yang wajib hingga rasa cintanya mengikuti apa yang dibawa oleh Rasul ﷺ berupa: perintah-perintah, larangan-larangan, dan lainnya. Sebab itu, ia harus mencintai perkara yang beliau perintahkan serta membenci perkara yang beliau larang.
Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, Ada empat sifat, siapa yang memiliki keempatnya maka dia seorang munafik, dan siapa yang pada dirinya terdapat salah satu dari keempat sifat itu, maka dalam dirinya terdapat satu sifat kemunafikan hingga dia meninggalkannya, yaitu: jika berbicara ia berdusta, bila berjanji ia melanggarnya, jika berselisih akan semena-mena, dan bila mengadakan perjanjian ia melanggarnya."
HR. Bukhari dan MuslimNabi ﷺ mengingatkan dari empat sifat, jika keempatnya terkumpul pada seorang muslim maka dia sangat mirip dengan orang munafik lantaran adanya sifat-sifat itu. Ini terkait orang yang secara dominan memiliki keempat sifat ini. Adapun orang jarang melakukan sifat tersebut, maka ia tidak termasuk di dalamnya. Keempat sifat itu adalah: Pertama: Ketika berbicara, dia sengaja berdusta dan tidak jujur dalam ucapannya. - Kedua: ketika membuat sebuah perjanjian, ia tidak memenuhinya dan mengkhianati rekannya. - Ketiga: ketika membuat sebuah janji, ia tidak menepatinya, bahkan menyelisihinya. - Keempat: ketika berseteru dan berselisih dengan seseorang, serangannya keras dan keluar dari kebenaran, ia curang dalam membantah dan menyanggah, dan ia menyampaikan kebatilan dan kedustaan. Kemunafikan ialah menampakkan suatu kebalikan dari yang disembunyikan. Hakikat ini ada pada pemilik sifat-sifat ini. Kemunafikannya adalah pada orang yang ia ajak bicara, orang yang ia beri janji, orang yang mengamanahinya, orang yang ia lawan berseteru, dan orang yang ia beri perjanjian. Ini bukan munafik dalam Islam dengan menampakkan keislaman tetapi menyembunyikan kekafiran. Siapa yang memiliki salah satu sifat ini maka dalam dirinya terdapat satu sifat kemunafikan hingga ia meninggalkannya.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Demi (Tuhan) yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Tidak ada seorang pun dari umat manusia, baik Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentang diriku lalu ia meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada risalah yang aku bawa, melainkan ia adalah penghuni neraka.”
HR. MuslimNabi ﷺ bersumpah dengan nama Allah bahwa tidak ada seorang pun dari umat ini, baik Yahudi, Nasrani atau lainnya, yang sampai kepadanya dakwah Nabi ﷺ kemudian ia meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada beliau, melainkan ia termasuk penghuni neraka yang kekal selama-lamanya.
Aisyah dan Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Ketika ajal datang kepada Rasulullah ﷺ, beliau meletakkan kain di wajahnya. Apabila susah bernafas, beliau membukanya. Dalam keadaan demikian, beliau bersabda, "Laknat Allah kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid." Beliau hendak memperingatkan apa yang telah mereka lakukan.
Muttafaq 'alaihAisyah dan Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhum- mengabarkan, bahwa ketika kematian menghampiri Nabi ﷺ, beliau segera meletakkan sehelai kain di mukanya. Apabila beliau sulit bernapas lantaran sakratulmaut, beliau menyingkirkan kain itu dari mukanya. Pada keadaan sulit itu, beliau bersabda: Allah telah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani serta mengusir mereka dari rahmat-Nya karena mereka membangun masjid di atas kubur nabi-nabi mereka. Kalau bukan karena bahaya perkara ini, tentu beliau tidak akan mengingatkannya di keadaan seperti ini. Oleh karena itu, Nabi ﷺ melarang umatnya agar tidak meniru perbuatan itu karena merupakan perilaku kaum Yahudi dan Nasrani, juga karena ia merupakan sarana yang dapat mengantarkan pada kesyirikan kepada Allah ﷻ.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala (waṡan). Allah melaknat orang-orang yang menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat ibadah."
HR. AhmadNabi ﷺ berdoa kepada Tuhannya agar tidak menjadikan kuburnya seperti berhala yang disembah oleh manusia dengan diagungkan dan dijadikan kiblat dalam sujud. Kemudian beliau ﷺ mengabarkan bahwa Allah telah menjauhkan rahmat-Nya dari orang-orang yang menjadikan kubur para Nabi sebagai tempat beribadah, karena menjadikan kubur-kubur itu sebagai tempat beribadah adalah pengantar menuju penyembahannya serta meyakini hal itu.
Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya ujian, dan jika Allah mencintai suatu kaum, Dia pasti menguji mereka; siapa yang rida maka baginya keridaan (Allah) dan siapa yang murka maka baginya kemurkaan (Allah)."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh TirmiżiDalam hadis ini, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan kepada kita bahwa seorang mukmin bisa ditimpa musibah, baik pada diri, harta atau hal yang lainnya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- akan mengganjar musibah yang menimpanya jika dia sabar. Semakin besar musibah dan imbasnya, semakin besar pula pahala dari Allah. Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa musibah adalah tanda kecintaan Allah kepada seorang mukmin dan bahwa ketentuan dan takdir Allah pasti terjadi. Namun orang yang sabar dan rida, maka Allah akan mengganjarnya atas keridaan itu dengan keridaan-Nya atas orang itu dan cukuplah itu sebagai pahala/ganjaran. Sebaliknya, siapa yang kecewa, dan benci pada ketentuan dan takdir Allah, maka Allah murka kepadanya dan cukuplah itu sebagai hukuman.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, Allah berfirman, "Aku adalah Zat yang paling tidak butuh kepada sekutu. Siapa yang mengerjakan amalan yang di dalamnya dia menyekutukan-Ku dengan yang lain, maka Aku tinggalkan ia bersama perbuatan syiriknya itu."
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, bahwa Dia Zat yang paling tidak butuh kepada sekutu. Dia tidak butuh kepada segala sesuatu. Ketika seseorang mengerjakan suatu amal ketaatan dan ia menjadikannya untuk Allah dan selain Allah, niscaya Allah akan meninggalkannya dan tidak menerimanya serta amalannya tertolak. Seseorang wajib memurnikan amal kepada Allah Ta'ala, karena Allah tidak menerima kecuali amal yang murni demi wajah-Nya yang Maha Mulia.
Jundub -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda di lima hari sebelum beliau meninggal dunia, "Sungguh, aku menyatakan setia kepada Allah dengan menolak untuk mempunyai seorang khalīl (kekasih mulia) dari kalian, karena sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Seandainya aku menjadikan seorang kekasih dari umatku, maka aku akan jadikan Abu Bakar sebagai kekasihku. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kalian telah menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat ibadah. Ingatlah, jangan kalian menjadikan kuburan sebagai tempat beribadah, karena aku melarang kalian dari perbuatan itu."
HR. MuslimNabi ﷺ bercerita tentang kedudukan beliau di sisi Allah Ta'ala, bahwa kedudukan beliau mencapai tingkat cinta yang paling tinggi, sebagaimana kedudukan itu telah dicapai oleh Ibrahim -'alaihissalām-. Karenanya, beliau menafikan memiliki khalīl selain Allah karena hati beliau telah terisi penuh dengan cinta kepada Allah Ta'ala serta mengagungkan dan mengenal-Nya, sehingga tidak ada lagi tempat untuk yang lain selain Allah. Sekiranya beliau memiliki khalīl dari kalangan makhluk, tentulah ia adalah Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq -raḍiyallāhu 'anhu-. Kemudian beliau memberikan peringatan terhadap tindakan melampaui batas yang dibolehkan dalam cinta, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani pada kubur para nabi dan orang-orang saleh sampai mereka menjadikannya sebagai tuhan-tuhan sekutu yang disembah selain Allah, serta mereka membangun tempat peribadatan di atas kubur mereka, dan beliau ﷺ melarang umatnya melakukan hal yang sama seperti perbuatan mereka.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah itu cemburu dan orang beriman juga cemburu. Kecemburuan Allah terjadi jika seorang mukmin melakukan apa yang diharamkan Allah kepadanya."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah itu cemburu, benci dan tidak suka sebagaimana orang beriman juga cemburu, benci dan tidak suka. Adapun sebab kecemburuan Allah ialah ketika seorang mukmin melakukan perbuatan-perbuatan keji yang Allah haramkan padanya seperti zina, liwat, mencuri, minum khamar dan lainnya.