





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfu', "Bulan pernah terbelah pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjadi dua bagian. Lantas gunung menutupi satu potongan dan satu potongan lain (dari bulan itu) ada di atas gunung. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ya Allah, saksikanlah!"
Muttafaq 'alaihBulan pernah terbelah pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjadi dua bagian yang saling terpisah. Setiap bagian berada di satu tempat. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ya Allah, saksikanlah." Yakni, ya Allah, saksikanlah atas mereka bahwa aku telah memperlihatkan kepada mereka bukti mukjizatku dan kenabianku!
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Zaid bin Ḥāriṡah datang untuk mengadu. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bertakwalah kepada Allah dan pertahankanlah terus istrimu!" Anas berkata, "Seandainya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hendak menyembunyikan sesuatu (dari wahyu), pasti beliau akan menyembunyikan hal ini. Ia berkata, "Zainab membanggakan diri kepada para istri Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang lain dengan berkata, "Kalian dinikahkan oleh wali-wali kalian dan aku dinikahkan oleh Allah -Ta'ālā- dari atas tujuh lapis langit." Dari Tsabit, "sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan ditampakkan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia. (QS. Al-Aḥzāb: 37), "Ayat ini turun mengenai kasus Zainab dan Zaid bin Ḥāriṡah."
Diriwayatkan oleh BukhariZaid bin Ḥāriṡah -raḍiyallāhu 'anhu- datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk mengadukan istrinya, Zainab binti Jaḥsy --raḍiyallāhu 'anhā- dan berkonsultasi dengan beliau untuk menceraikannya. Sementara itu Allah -Ta'ālā- telah mewahyukan kepada Rasul-Nya bahwa beliau akan menikahi Zainab. Allah menurunkan wahyu tersebut kepada beliau sebelum Zaid menceraikannya. Saat Zaid datang mengadukan Zainab kepada beliau dan berkonsultasi untuk menceraikannya, beliau bersabda kepadanya, "Bertakwalah kepada Allah dan peganglah erat-erat istrimu!" Lantas Allah -Ta'ālā- mencelanya dengan firman-Nya, "Dan (ingatlah), ketika engkau (Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau (juga) telah memberi nikmat kepadanya. "Pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah!" sedang engkau menyembunyikan dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak engkau takuti. Maka, ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab)." Yang disembunyikan oleh Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ialah keengganan beliau untuk mengawini Zainab karena khawatir terhadap omongan orang-orang bahwa beliau telah menikahi istri anak angkatnya. Ucapannya, "Anas berkata, "Seandainya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyembunyikan sebagian (dari wahyu), pasti beliau akan menyembunyikan ayat ini." Yakni, seandainya diperkirakan dalam bentuk kewajiban yang dilarang secara syariat menyembunyikan suatu wahyu, tentu ayat ini yang dipilih. Hanya saja itu tidak terjadi, bahkan dilarang secara syariat. Ayat ini merupakan dalil paling besar bagi orang yang merenungkan kejujuran Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Allah -Ta'ālā- mengabarkan apa yang telah terjadi dalam dirinya berupa kekhawatiran terhadap manusia. Beliau menyampaikan berita itu sebagaimana difirmankan oleh Alla -Ta'ālā- meskipun mengandung celaan kepada beliau. Berbeda dengan keadaan pendusta, ia pasti menghindari segala aib yang mungkin menimpanya. Kasus ini seperti firman Allah -Ta'ālā-, "Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling." Sampai akhir surah. Dan berbagai ayat serupa dalam Al-Qur`ān. Ucapannya, "Zainab membanggakan diri kepada para istri Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Zainab mengklaim bahwa perkawinannya dengan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- atas perintah Allah kepada beliau dan itu merupakan salah satu keutamaan Zainab dan tidak ada seorang pun istri beliau yang menyamainya. Zainab berkata, "Kalian dinikahkan oleh wali-wali kalian dan aku dinikahkan oleh Allah -Ta'ālā- dari atas tujuh lapis langit." Bobot hadis ini menetapkan ketinggian Allah -Ta'ālā- dan hak keputusan Allah bagi kaum mukminin. Ini adalah hal yang diyakini oleh mayoritas kaum muslimin, bahkan di antara mayoritas manusia, kecuali orang yang fitrahnya telah tercemar. Ini adalah sifat yang dapat diketahui oleh pendengaran, akal dan fitrah pada setiap orang yang fitrahnya tidak menyimpang. Arti ucapan Zainab, "Dan Aku dinikahkan oleh Allah," yakni, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menikahinya berdasarkan firman Allah -Ta'ālā-, "Maka, ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya)" dan Allah -Ta'ālā- yang mengurus akad pernikahannya dengan beliau.
Dari Imrān bin Huṣain -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Kami pernah dalam sebuah perjalanan bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan kami berjalan di malam hari sampai kami tiba di penghujung malam, lalu terjadilah satu peristiwa kepada kami (tertidur), dan tidak ada peristiwa yang lebih manis dari itu bagi seorang musafir. Kami terbangun oleh terik matahari dan orang yang pertama kali terjaga yaitu fulan, lalu fulan, lalu fulan, lalu Umar bin al-Khaṭṭāb. Sementara itu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila tidur, beliau tidak dibangunkan sampai beliau sendiri terjaga karena kami tidak mengetahui apa yang terjadi pada beliau dalam tidurnya. Saat Umar bangun dan melihat kejadian yang menimpa orang-orang (para sahabat) -ia adalah orang yang keras- lantas dia bertakbir dan mengangkat suaranya ketika bertakbir. Dia terus-menerus bertakbir dan mengangkat suaranya dengan takbir hingga Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- terbangun dengan suaranya. Ketika beliau sudah terjaga, orang-orang mengadukan kejadian yang menimpa mereka kepada beliau. Beliau bersabda, "Tidak apa-apa -tidak ada masalah- lanjutkan perjalanan." Beliau pergi lalu berjalan tidak beberapa jauh kemudian berhenti istirahat dan meminta air wudu. Beliau pun berwudu dan menyeru untuk salat. Selanjutnya beliau mengimami salat orang-orang. Usai salat, tiba-tiba ada seseorang yang menyendiri tidak ikut salat bersama orang-orang. Beliau bertanya, "Wahai fulan, kenapa engkau tidak ikut salat berjamaah bersama orang-orang?" Orang itu menjawab, "Aku junub dan tidak ada air." Beliau bersabda, "Bertayamumlah dengan debu, itu sudah cukup bagimu." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meneruskan perjalanan lalu orang-orang mengeluhkan rasa haus kepada beliau. Beliau berhenti lalu memanggil seseorang dan Ali seraya bersabda, "Pergilah kamu berdua dan carilah air." Keduanya pergi lalu bertemu dengan seorang wanita yang duduk di antara dua tempat air dari kulit di atas untanya. Keduanya bertanya kepada wanita itu, "Dari mana air ini?" Wanita itu menjawab, "Terakhir aku melihat air kemaren pada waktu seperti ini, dan para lelaki telah meninggalkan kami." Keduanya berkata, "Berangkatlah." Wanita itu bertanya, "Ke mana?" Keduanya menjawab, "Kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Wanita itu bertanya, "Diakah yang dipanggil ṣābi' (orang yang keluar dari tradisi nenek moyangnya)?" Keduanya menjawab, "Dia yang kau maksud. Berangkatlah." Lantas keduanya membawa wanita itu ke hadapan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan menceritakan kejadiannya. Perawi berkata, "Lantas orang-orang meminta wanita itu turun dari untanya dan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meminta bejana. Selanjutnya beliau mengucurkan air dari mulut kedua tempat air dari kulit itu ke bejana tersebut, lalu mengikat erat-erat kedua mulut wadah air dari kulit dan melepaskan tali yang mengikat bejana bagian bawah serta memanggil para sahabat, "Minumlah dan ambillah air." Orang-orang pun minum dan mengambil air sesukanya. Dan orang yang terakhir disodori wadah air adalah orang yang junub. Beliau bersabda, "Pergilah dan guyurlah tubuhmu dengan air ini." Sementara itu si wanita berdiri menyaksikan apa yang dilakukan terhadap airnya. Demi Allah, dia telah memindahkan air dari wadah itu, dan tampak bagi kami bahwa kedua wadah air itu lebih penuh dari sebelumnya. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Kumpulkan makanan untuknya." Para sahabat pun mengumpulkan makanan berupa kurma 'ajwah, tepung, dan sawīqah (makanan dari gandum) sehingga terkumpullah makanan untuknya. Selanjutnya mereka meletakkan makanan itu di atas kain dan menaikanya ke atas unta di hadapan wanita itu. Nabi bersabda kepada wanita itu, "Engkau tahu bahwa kami tidak mengurangi airmu sedikit pun. Sesungguhnya Allah-lah yang telah memberi kami air." Wanita tersebut mendatangi keluarganya dalam keadaan terlambat. Mereka bertanya, "Kenapa engkau terlambat, wahai fulanah?" Wanita itu menjawab, "Suatu keajaiban. Dua orang bertemu denganku lalu keduanya membawaku kepada orang yang dipanggil ṣābi' lalu orang itu melakukan begini dan begini. Demi Allah, orang itu penyihir paling pandai di antara ini dan itu." Ia berkata sambil memberi isyarat dengan jari tengah dan jari telunjuk lalu mengangkat keduanya ke langit -artinya langit dan bumi-, "Sungguh, dia benar-benar seorang Rasul." Setelah itu kaum Muslimin melakukan penyerbuan kepada kaum musyrikin di sekitar tersebut dan mereka tidak menyerang kelompok asal wanita tersebut. Suatu hari wanita itu berkata kepada kaumnya, "Menurut pendapatku mereka membiarkan kita dengan sengaja. Maukah kalian semua masuk Islam?" Lantas mereka mematuhi wanita tersebut lalu mereka masuk Islam.
Muttafaq 'alaihHadis mulia ini mengandung sejumlah hukum dan mukjizat yang tampak bagi para sahabat -riḍwānullāhi 'alaihim-. Hal ini terjadi karena mereka sedang dalam sebuah perjalanan dan mereka diserang kantuk sehingga waktu salat fajar berlalu. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan kepada mereka bahwa kewajiban yang harus mereka kerjakan dalam situasi seperti ini ialah bersegera menunaikan salat. Hal lainnya bahwa di antara para sahabat ada yang junub dan mereka tidak membawa air. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyuruhnya bertayamum. Dengan demikian jelas bahwa dalam kondisi tidak ada air maka tayamum bisa berfungsi menggantikan mandi besar. Hal ketiga yaitu salah satu mukjizat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa orang-orang mengeluhkan rasa haus dan ketiadaan air. Lantas beliau mengutus orang untuk mencari air. Akan tetapi mereka tidak mendapatkan air. Mereka hanya menemukan seorang wanita yang membawa air di dua wadah dari kulit. Mereka membawa wanita itu menghadap Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lantas beliau mengambil air dari wadah tersebut dan berdoa kepada Allah -Ta'ālā- hingga air tersebut melimpah, lalu para sahabat mengambil air dan minum sampai orang yang junub pun mengambil air dan mandi dengannya. Kemudian wanita itu mengambil kedua wadah airnya sambil berkata, "Tampaknya kedua wadah ini lebih penuh dari sebelumnya." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- juga menyuruh mengumpulkan makanan sebagai balasan baginya, sehingga hal ini menyebabkan dia beserta kaumnya masuk Islam.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Tatkala Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kembali dari perang Khandaq (parit) dan meletakkan senjata serta mandi, datanglah Jibril -'alaihis-salām- kepada beliau lalu bertanya, "Apakah engkau sudah meletakkan senjata? Demi Allah, kami belum meletakkannya. Pergilah ke daerah mereka." Beliau bertanya, "Ke mana?" Jibril menjawab, "Ke sini." Ia memberi isyarat ke Bani Quraiẓah. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun keluar menuju kampung mereka."
Muttafaq 'alaihKetika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kembali dari perang Khandaq, yaitu perang Ahzab dengan kemenangan dari Allah atas orang-orang kafir Quraisy dan sekutu mereka, beliau masuk ke rumahnya dan meletakkan senjata serta mandi untuk membersihkan debu peperangan. Lantas Jibril -'alaihis-salām- mendatanginya dan berkata kepada beliau, "Sesungguhnya engkau telah meletakkan senjata, sedangkan para malaikat masih menyandangnya dan belum meletakkannya." Selanjutnya dia memerintahkan beliau keluar untuk memerangi Bani Quraiẓah yaitu satu komunitas Yahudi di sekitar Madinah yang telah melanggar perjanjian bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan membantu orang-orang kafir. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun keluar bersama para sahabatnya lalu memerangi mereka, dan Allah pun memberikan kemenangan kepada mereka melawan musuhnya.
Dari Aisyah dan Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhum-, "Bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tinggal di Mekah selama sepuluh tahun, Al-Qur`ān turun kepada beliau, dan di Madinah selama sepuluh tahun."
Diriwayatkan oleh BukhariHadis ini menjelaskan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menetap di Mekah setelah kenabian selama sepuluh tahun dan di Madinah selama sepuluh tahun juga. Dan bahwa Al-Qur`ān turun kepada beliau selama masa tersebut. Dalam hadis lain disebutkan bahwa masa menetap beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di Mekah setelah kenabian adalah selama tiga belas tahun. Dan penggabungan antara kedua hadis tersebut adalah bahwa selam tiga tahun beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- merahasiakan (wahyu), kemudian wahyu tampak jelas setelah itu dan berturut-turut. Maka yang meriwayatkan sepuluh tahun, mereka belum menghitung tiga tahun tersebut, atau mencukupkan dengan sepuluh saja supaya genap.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ia berkata: "Aku tidak pernah cemburu kepada para istri-istri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- selain kepada Khadijah yang aku sendiri tidak pernah bertemu dengannya. Dia melanjutkan, "Setiap kali Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyembelih kambing maka beliau bersabda, "Kirimkan sebagiannya kepada teman-teman Khadijah." Dia melanjutkan, "Suatu hari aku pernah membuat beliau marah dengan kata-kataku, "Khadijah lagi, Khadijah lagi." Maka Rasulullah bersabada, "Sungguh aku dikaruniai cintanya."
Diriwayatkan oleh MuslimAisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menceritakan bahwa dia tidak pernah merasa cemburu kepada para istri Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kecuali kepada Khadijah, padahal Khadijah sendiri wafat sebelum Aisyah diperistri Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Setiap kali Rasulullah menyembelih kambing pasti beliau menyuruh mengirimkan sebagiannya kepada teman-teman Khadijah. Suatu hari Aisyah pernah membuat marah Rasulullah dan mengemukakan keberatannya karena beliau sering meyebut Khadijah. Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahukan kepadanya bahwa Allah telah menganugerahi beliau cinta terhadap Khadijah.
Dari 'Āṣim al-Aḥwal, dari Abdullah bin Sarjis -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Aku berkata kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Wahai Rasulullah, semoga Allah mengampuni Anda?" Beliau menjawab, "Dan untukmu." 'Āṣim mengatakan, maka aku menanyainya, "Apakah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memohonkan ampunan untukmu? Ia menjawab, "Ya, dan untukmu." Kemudian ia membaca ayat ini: (واستغفر لذنبك وللمؤمنين والمؤمنات) "Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan."
Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh MuslimAbdullah bin Sarjis -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa ia mendoakan ampunan untuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membalasnya dengan memohonkan ampunan juga. Lalu 'Āṣim al-Aḥwal bertanya kepada Abdullah bin Sarjis -raḍiyallāhu 'anhu-, apakah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memohonkan ampunan untukmu?" Ia menjawab, "Ya, dan beliau juga memohon ampunan untukmu." Kemudian ia berdalil dengan firman Allah -Ta'ālā- pada nabi-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-: (واستغفر لذنبك وللمؤمنين والمؤمنات) "Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan."
Abu Ḥāzim meriwayatkan, Aku belajar kepada Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- selama lima tahun, aku pernah mendengarnya meriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda, "Dahulu Bani Israil dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia akan digantikan oleh nabi yang lain. Akan tetapi, sungguh tidak ada nabi lagi sesudahku. Sepeninggalku akan ada khalifah-khalifah dan jumlahnya banyak." Para sahabat bertanya, "Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?" Beliau menjawab, "Tunaikanlah baiat yang telah diberikan kepada (khalifah) yang paling pertama kemudian yang berikutnya. Penuhilah hak mereka dan mintalah kepada Allah apa yang menjadi hak kalian, karena sesungguhnya Allah akan menanyai mereka tentang apa yang mereka pimpin."
Muttafaq 'alaihNabi Muhammad ﷺ mengabarkan bahwa Bani Israil dipimpin oleh para nabi. Para nabi yang mengurus urusan mereka seperti yang dilakukan oleh gubernur dan pemerintah pada rakyat. Setiap kali muncul kerusakan di tengah mereka, Allah mengutus kepada mereka seorang nabi untuk meluruskan urusan mereka dan membersihkan hukum yang mereka ubah. Sungguh, tidak ada lagi nabi setelahku untuk melakukan seperti yang dilakukan oleh nabi-nabi tersebut. Tetapi setelahku adalah para khalifah dan jumlah mereka banyak, namun di antara mereka terjadi pertikaian dan perselisihan. Lantas para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- bertanya kepada Rasulullah ﷺ: Apa yang engkau perintahkan kepada kami? Beliau menjawab: Apabila seorang khalifah dibaiat setelah khalifah lain, maka baiat pada khalifah pertama itulah yang benar dan yang harus ditunaikan. Sedangkan baiat khalifah yang kedua batal dan ia haram memintanya. Berikan mereka haknya, patuhi mereka, dan sikapilah mereka dengan mendengar dan taat pada selain kemaksiatan. Kelak Allah akan menanyai dan menghisab mereka terkait semua yang mereka lakukan pada kalian.
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Sejumlah orang dari sahabat Nabi ﷺ bertanya pada istri-istri Nabi ﷺ mengenai amalan beliau ketika sendiri. Lantas sebagian mereka mengatakan, "Aku tidak akan menikahi wanita." Sebagian lagi berkata, "Aku tidak akan makan daging." Yang lainnya berkata, "Aku tidak akan tidur di atas kasur." Maka beliau ﷺ memuji Allah dan menyanjung-Nya seraya bersabda, "Mengapa sebagian orang mengatakan begini dan begini?! Padahal, aku ini salat dan tidur, puasa dan berbuka, serta menikahi wanita. Siapa yang tidak menyukai Sunnahku, maka dia bukan dari golonganku."
Muttafaq 'alaihSejumlah orang dari para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- datang ke rumah istri-istri Nabi ﷺ untuk bertanya tentang ibadah beliau saat sendiri di dalam rumah. Ketika mereka diberi tahu, sepertinya mereka menganggapnya sedikit, sehingga mereka mengatakan: Di mana posisi kita dari Nabi ﷺ? Beliau telah diberi ampunan terhadap dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang. Berbeda dengan orang yang tidak tahu telah mendapatkan ampunan, ia butuh ibadah yang lebih banyak agar mendapatkan ampunan. Lalu sebagian mereka mengatakan: Aku tidak akan menikah. Yang lain mengatakan: Aku tidak akan makan daging. Lainnya lagi mengatakan: Aku tidak akan tidur di kasur. Ucapan mereka itu sampai kepada Nabi ﷺ, sehingga beliau marah dan berpidato di hadapan orang-orang seraya memuji dan menyanjung Allah kemudian bersabda: Ada apa dengan sebagian orang yang mengatakan begini dan begini?! Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa di antara kalian. Akan tetapi, aku juga tidur agar ada tenaga untuk mengerjakan salat malam, aku juga berbuka agar ada tenaga untuk berpuasa, dan aku juga menikahi wanita. Siapa yang berpaling dari cara beragamaku, memandang kesempurnaan ada pada yang lain, dan mengikuti jalan selainku, maka ia bukan dari golonganku.