





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Abu Zaid bin Akhṭab -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengusapkan tangannya di wajahku dan mendoakanku." 'Azrah berkata, "Maka ia pun hidup selama 120 tahun sementara di kepalanya hanya terdapat beberapa helai rambut putih."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadRasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengusapkan tangannya di wajah Abu Zaid bin Akhṭab Al-Anṣāriy -raḍiyallāhu 'anhu- dan mendoakannya. Dalam riwayat lain hadis ini disebutkan bahwa beliau mendoakannya dengan doa: "Allāhumma jammilhu, wa adim jamālahu." Artinya: "Ya Allah! Jadikanlah ia gagah, dan jadikan kegagahannya berkelanjutan sepanjang umurnya." 'Azrah, salah satu perawi hadis ini berkata, "Abu Zaid Al-Anṣāriy hidup selama 120 tahun sementara di kepalanya hanya ada beberapa helai rambut putih." Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Zaid seorang yang berwajah mulus, tidak ada kerut dan keriputnya, dan keadaan itu berlanjut hingga waktu kematiannya. Itu semuanya dengan keberkahan doa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- serta usapan beliau di wajahnya.
Yazīd bin Al-Aswad -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa dia pernah salat Subuh bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-... Lalu menyebutkan hadis ini. Dia berkata, "Kemudian orang-orang berhamburan mengambil tangan beliau dan mengusapkannya di wajah mereka; dia berkata, "Maka aku mengambil tangannya dan mengusapkannya di wajahku, maka aku mendapatkannya lebih dingin dari salju dan lebih wangi dari kesturi."
Diriwayatkan oleh AhmadYazīd bin Al-Aswad pernah salat Subuh bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, kemudian dia melihat orang-orang berdiri dan berhamburan menuju Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk mengambil tangan beliau dan mengusapkannya di wajah mereka dalam rangka bertabaruk dengannya; maka dia mengambil tangan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mengusapkannya di wajahku, maka dia mendapatkannya lebih dingin dari salju dan lebih wangi dari kesturi.
Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang menemui kami lalu tidur siang di rumah kami dan beliau berkeringat, lantas ibuku datang membawa sebuah botol dan menyeka keringatnya ke dalam botol tersebut. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bangun seraya berkata, 'Wahai Ummu Sulaim! Apa yang kamu lakukan ini?' Dia menjawab, 'Ini adalah keringatmu, kami mencampurnya dengan minyak wangi kami, dan ia adalah minyak wangi yang paling bagus.'"
Diriwayatkan oleh MuslimAnas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- bercerita bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang menemui mereka di dalam rumah lalu melakukan qailūlah (tidur siang) di tempat mereka, pada waktu pertengahan siang. Maka Ibunda Anas datang membawa wadah kaca lalu mengambil keringat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan memasukkannya ke dalam wadah itu. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bangun dan bertanya kepadanya tentang apa yang dilakukannya dengan keringatnya. Maka dia mengabari beliau bahwa dia mengambil keringatnya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mencampurnya dengan minyak wangi yang biasa mereka pakai dan itu merupakan minyak wangi paling utama.
Al-Ja'd berkata, Aku pernah mendengar As-Sā`ib bin Yazīd meriwayatkan, "Aku dibawa oleh bibiku kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan berkata, 'Wahai Rasulullah! Sungguh anak saudariku ini sedang sakit.' Maka beliau mengusap kepalaku dan mendoakanku dengan keberkahan. Kemudian beliau berwudu dan aku meminum air bekas wudunya. Lalu aku berdiri di belakang punggung beliau dan aku melihat tanda kenabian di antara kedua pundaknya, bentuknya semisal telur merpati."
Muttafaq 'alaihAs-Sā`ib bin Yazīd bercerita bahwa bibinya membawanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mengabari beliau bahwa keponakannya itu sedang sakit. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengusap kepalanya dan mendoakannya dengan keberkahan. Kemudian beliau berwudu dan As-Sā`ib meminum air yang menetes dari anggota tubuhnya yang mulia ketika berwudu. Kemudian As-Sā`ib berdiri di belakang punggung Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu melihat tanda kenabian di antara dua pundak beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yaitu semisal telur merpati.
Abu Zaid Al-Anṣāriy -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkata kepadaku, 'Mendekatlah kepadaku!' Maka aku pun mendekat ke beliau, beliau bersabda, 'Masukkanlah tanganmu dan usaplah punggungku!' Lantas aku memasukkan tanganku ke balik gamis beliau dan mengusap punggungnya, ternyata tanda kenabian berada di antara dua jariku." Perawi mengisahkan: Kemudian dia ditanya tentang tanda kenabian tersebut, maka dia menjelaskan, "Yaitu berupa bulu-bulu halus yang tumbuh di antara dua pundaknya."
Diriwayatkan oleh AhmadRasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkata kepada Abu Zaid Al-Anṣāriy -raḍiyallāhu 'anhu-, "Mendekatlah kepadaku." Ketika dia telah mendekat, beliau bersabda, "Masukkanlah tanganmu di balik gamisku lalu usaplah punggungku." Lantas dia memasukkan tangannya ke balik gamis beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan mengusap punggung beliau, ternyata tanda kenabian berada di antara dua jarinya. Abu Zaid Al-Anṣāriy kemudian ditanya tentang tanda kenabian itu seperti apa? Maka dia menjawab, "Yaitu berupa bulu-bulu halus di antara dua pundak beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."
Abdullah bin Sarjis berkata, "Aku pernah melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- serta makan roti dan daging -atau dia berkata: ṡarīd (roti daging)- bersama beliau." Perawi bertanya kepadanya, "Apakah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memohonkan ampunan untukmu?" Dia menjawab, "Ya, dan untukmu juga." Kemudian dia membaca ayat ini, "Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan." (QS. Muḥammad: 19). Dia berkata, "Kemudian aku berputar ke belakang beliau, maka aku melihat tanda kenabian di antara dua pundaknya, yaitu di bagian atas pundak kirinya seukuran genggaman, dan di atasnya terdapat tahi lalat seperti kutil."
Diriwayatkan oleh MuslimSahabat yang mulia, Abdullah bin Sarjis bercerita bahwa dia pernah melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- serta makan roti dan daging bersama beliau. Lalu dia ditanya oleh muridnya, "Apakah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah memohonkan ampunan untukmu?" Dia menjawab, Ya. Bahkan Nabi juga memohonkan ampunan untukmu dan untuk semua orang beriman. Karena Allah -Ta'ālā- telah memerintahkan beliau dengan yang demikian itu. Allah berfirman, 'Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.'" (QS. Muḥammad: 19). Kemudian Abdullah bin Sarjis mengabarinya bahwa dia berputar ke belakang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu melihat stempel kenabian di antara dua pundak beliau, yaitu di bagian atas pundak kirinya, seukuran genggaman telapak tangan, dan di atasnya terdapat tanda yang menonjol dengan warna berbeda dari warna kulit beliau yang lain. Ini tidak bertentangan dengan riwayat sahabat yang menggambarkan stempel kenabian dengan kumpulan bulu ataupun sahabat yang menyerupakannya dengan telur merpati. Semua itu bisa saling disinkronkan.
Anas berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sungguh aku telah diteror karena perjuangan di jalan Allah padahal belum ada seorang pun diteror seperti itu. Sungguh aku pernah diganggu karena perjuangan di jalan Allah padahal belum ada seorang pun diganggu seperti itu. Sungguh, aku pernah melewati tiga puluh hari dan tiga puluh malam sementara aku dan Bilal tidak memiliki makanan yang bisa dimakan oleh makhluk yang bernyawa, kecuali sesuatu (yang sedikit) yang bisa disembunyikan di ketiak Bilal."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadDi dalam hadis ini, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyebutkan bahwa dahulu beliau seorang diri ketika pertama kali mendakwahkan agama ini, lalu -dengan sebab itu- beliau diteror oleh orang-orang kafir serta mereka mengganggu beliau sementara ketika itu belum ada seorang pun bersama beliau yang menyertai beliau dalam memikul gangguan kecuali pertolongan dari Allah, perlindungan-Nya, dan taufik-Nya. Kemudian beliau menerangkan bahwa di samping itu semua, beliau pernah berada dalam kondisi sedikit harta dan makanan dan tidak memiliki apa pun, yaitu selama tiga puluh hari beliau lewati tanpa makanan kecuali sedikit sekali yang dibawa oleh Bilal dan dia sembunyikan di bawah ketiaknya. Mereka juga tidak memiliki apa-apa meskipun berupa wadah tempat menaruh makanan. Yaitu ketika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- keluar melarikan diri dari Mekah.
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa seorang perempuan yang cacat akal datang dan berkata, "Wahai Rasulullah! Sungguh aku memiliki keperluan denganmu." Maka beliau bersabda, "Wahai Ummu Fulān! Lihatlah di jalan mana yang engkau inginkan tempatku menyelesaikan keperluanmu." Lantas beliau bersamanya secara empat mata di sebagian jalan sampai dia selesai mengutarakan keperluannya.
Diriwayatkan oleh MuslimAda seorang perempuan yang memiliki cacat mental berkata kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Wahai Rasulullah! Aku memiliki satu keperluan denganmu." Maka beliau menjawab, "Wahai Ummu Fulān! Silakan lihat di jalan mana yang engkau inginkan lalu aku pergi bersamamu ke sana supaya aku menyelesaikan keperluanmu." Lantas beliau berdiri bersamanya di salah satu jalan lalu lalang manusia untuk menyelesaikan keperluannya. Dan hal itu tidak termasuk khalwat (berdua-duaan) dengan perempuan bukan mahram karena dilakukan di jalan lalu lalang orang serta mereka terlihat, hanya saja orang tidak mendengar percakapannya. Ini merupakan bagian dari sikap tawaduk dan kasih sayang beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada umatnya.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Aku tidak pernah iri pada seseorang karena mudahnya kematiannya setelah melihat beratnya kematian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."
Diriwayatkan oleh TirmiżiAisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bercerita bahwa dia tidak pernah merasa gembira pada seseorang lantaran mudahnya kematiannya, tidak juga berandai-andai supaya mati dengan mudah setelah melihat beratnya kematian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Karena dia mengetahui bahwa beratnya kematian bukan petunjuk pada buruknya kesudahan orang yang meninggal, dan bahwa mudahnya kematian bukan termasuk kemuliaan. Kalau tidak demikian, pastilah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lebih patut dengan itu. Maka janganlah membenci beratnya kematian pada seseorang, dan jangan pula senang pada seseorang yang mati tanpa kesulitan.