Hedayat “A fruitful harvest”
from the gardens of “ Verses and Hadiths ”
Inspiring Dawah cards that highlight the profound meanings of Quranic verses and Prophetic Hadiths. Presented in an accessible and engaging style to help Muslims gain a deeper understanding of their faith with ease.
About Hedayat
Hedayat is a platform that combines simplicity of design and ease of use
displaying the benefits derived from Verses and Hadiths in
attractive cards with unique designs.
Unique Designs
Cards with unique and attractive designs that express the content of the text
Reliable Materials
Scientifically reliable benefits reviewed by a group of scholars
Easy Browsing
You can browse the cards easily and display them effortlessly
Different Languages
Cards are available in more than 40 languages for the benefit of all
Hadith Cards
Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Ada tiga orang yang sedang berjalan kemudian hujan turun menimpa mereka. Lantas mereka masuk ke dalam gua di sebuah gunung. Tiba-tiba sebuah batu jatuh menutupi gua mereka." Beliau melanjutkan, "Kemudian mereka saling mengatakan kepada yang lainnya, "Berdoalah kepada Allah dengan (perantaraan) amal paling utama yang telah kalian lakukan." Seseorang dari mereka berdoa, "Ya Allah! Dahulu aku memiliki kedua orangtua yang sudah renta. Setiap hari aku keluar untuk menggembala. Setelah itu aku pulang dan memerah susu, lalu aku datang dengan membawa susu dan memberikannya kepada kedua orangtuaku sehingga mereka meminumnya. Selanjutnya aku memberikannya kepada anak-anak, keluarga, dan istriku. Pada suatu malam, aku terlambat pulang sehingga ketika aku datang ternyata kedua orangtuaku sudah tidur." Dia berkata, "Aku tidak suka membangunkan keduanya sedangkan anak-anakku meliuk-liuk di bawah kakiku karena kelaparan. Begitulah kondisiku dan kondisi kedua orangtuaku hingga tiba waktu Subuh. Ya Allah! Seandainya Engkau mengetahui apa yang aku kerjakan itu semata-mata karena mencari rida-Mu, maka bukakanlah celah untuk kami agar kami dapat melihat langit darinya". Beliau bersabda, "Maka terbukalah sedikit celah untuk mereka." Orang kedua berkata, "Ya Allah! Sungguh Engkau mengetahui bahwa aku seorang lelaki yang sangat mencintai seorang putri pamanku seperti kebanyakan laki-laki yang sangat mencintai wanita. Wanita itu berkata, "Engkau tidak akan bisa mendapatkannya (cintanya) kecuali engkau dapat memberi uang sebanyak seratus dinar." Maka aku berusaha bekerja dan berhasil mengumpulkan uang tersebut. Ketika aku hendak menyetubuhinya, dia berkata, "Bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu renggut keperawanan kecuali dengan haq." Maka aku berdiri lalu pergi meninggalkan wanita tersebut. Ya Allah! Seandainya Engkau mengetahui apa yang aku kerjakan itu semata-mata karena mencari rida-Mu, maka bukakanlah celah untuk kami." Beliau bersabda, "Maka terbukalah dua pertiga dari batu yang menutup pintu gua. Kemudian orang yang ketiga berkata, "Ya Allah, Sungguh Engkau mengetahui bahwa aku pernah mempekerjakan seseorang dengan upah satu faraq (16 kati) gandum, lalu aku memberikan upah itu padanya namun dia tidak mau menerimanya. Lalu aku sengaja menanam satu faraq gandum tersebut sehingga dengan hasilnya aku bisa membeli sapi dan seorang pengembalanya. Kemudian di suatu hari orang itu datang kepadaku seraya berkata, "Wahai hamba Allah, berikanlah upahku yang dulu!" Lalu aku katakan, "Lihatlah sapi dan penggembalanya itu, itu semua milikmu." Dia berkata, "Apakah kamu mengolok-olokku!" Dia berkata, "Aku katakan, "Aku tidak mengolok-olok kamu tetapi itu semua benar milikmu." Ya Allah, Seandainya Engkau mengetahui apa yang aku kerjakan itu semata-mata karena mencari rida-Mu, maka bukakanlah celah untuk kami." Akhirnya mereka bisa terbebas dari gua tersebut."
Muttafaq 'alaihAda tiga orang keluar untuk berjalan lalu hujan menimpa mereka. Lantas mereka masuk ke dalam gua untuk berlindung dari derasnya hujan. Tiba-tiba sebongkah batu jatuh menutupi pintu gua. Sebagian mereka berkata kepada yang lainnya, "Berdoalah kepada Allah dengan amal paling utama yang telah kalian kerjakan. Mudah-mudahan Allah melapangkan jalan bagi kalian dan menggeser batu ini." Salah seorang dari mereka berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai bapak dan ibu yang sudah tua renta. Aku biasa keluar menuju tempat penggembalaan dan menggembalakan untaku. Lalu aku datang ke tempat penggembalaan kemudian memerah untaku. Selanjutnya aku membawa susu tersebut dan memberikannya kepada kedua orang tuaku sehingga mereka meminumnya. Selanjutnya aku memberi minum anak-anakku yang masih kecil, istriku, dan keluargaku yang lain; saudara dan saudariku. Pada suatu malam aku terlambat datang disebabkan ada hal yang menghalangiku. Ternyata bapak dan ibuku sudah tidur. Aku pun memeras susu sebagaimana biasanya lalu aku berdiri di sisi kepala keduanya karena enggan untuk membangunkan mereka. Aku juga enggan untuk memberi minum anak-anakku dan keluargaku sebelum keduanya minum. Sementara itu anak-anakku menangis dan berteriak di kakiku karena sangat lapar. Demikianlah keadaanku dan keadaan keduanya hingga terbit fajar dan keduanya terbangun. Lalu aku memberi minum keduanya kemudian anak-anakku. Ya Allah, jika engkau tahu bahwa aku melakukan itu karena mencari keridaan-Mu, maka geserkanlah batu ini sedikit hingga kami dapat melihat langit." Allah pun melapangkan celah untuk mereka hingga dapat melihat langit. Orang kedua berkata, "Ya Allah, sesungguhnya aku dulu sangat mencintai salah seorang putri pamanku. Lantas aku menggodanya tapi dia menolakku kecuali jika aku memberinya seratus dinar. Aku pun berhasil mendapatkan seratus dinar lalu memberikannya kepadanya. Setelah aku berhasil menguasainya dan akan melakukan hubungan badan, ia berkata kepadaku, "Takutlah kepada Allah dan jangan lakukan hal yang haram, dan janganlah engkau koyak keperawananku kecuali dengan cara halal." Seketika aku pun berdiri dari hadapannya dan meninggalkannya tanpa melakukan apapun kepadanya. Ya Allah, jika engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu karena mencari keridaan-Mu, maka geserkanlah batu ini dari kami." Allah pun menggeserkan dua pertiga batu itu dari tempatnya. Orang ketiga berkata, "Ya Allah, sesungguhnya aku dulu mengupah seorang buruh untuk bekerja padaku dengan imbalan aku akan memberinya enam belas kati gandum. Setelah selesai bekerja, aku memberikan upahnya tapi dia menolak untuk mengambilnya. Lantas aku mengambil gandum itu dan menanamnya. Aku terus menanamnya dan menjualnya hingga bisa membeli sapi dan penggembalanya. Setelah beberapa saat, datanglah buruh itu dan berkata, "Wahai hamba Allah, berikanlah hakku kepadaku." Aku jawab, "Pergilah ke tempat sapi dan penggembalanya itu, sesungguhnya ia milikmu dan ambillah semuanya." Buruh itu berkata, "Apakah engkau mengolok-olokku?" Aku jawab, "Sesungguhnya aku tidak mengolok-olokmu. Ia memang milikmu." Ya Allah, jika engkau mengetahui bahwa aku melakukan hal itu karena mencari keridaan-Mu, maka geserkanlah batu ini dari kami." Allah pun melapangkan pintu gua itu lalu mereka keluar darinya.
Sa'īd bin Jubair berkata, Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- pernah melewati sejumlah pemuda Quraisy yang memasang burung sebagai sasaran memanah. Mereka memberi pemilik burung setiap anak panah yang salah sasaran. Begitu mereka melihat Ibnu Umar, seketika itu pula mereka bubar. Maka Ibnu Umar berkata, "Siapa yang melakukan ini?! Allah melaknat siapa yang melakukan ini. Sesungguhnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah melaknat siapa saja yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran panah."
Diriwayatkan oleh MuslimSa'īd bin Jubair mengisahkan bahwa Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- pernah melewati beberapa pemuda Quraisy yang sedang memasang burung sebagai sasaran panah mereka; untuk menentukan siapa di antara mereka yang paling tepat sasaran dalam memanahnya. Ketika mereka melihat Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, seketika mereka lari darinya, lantas dia berkata, "Apa ini?" Mereka pun mengabarinya. Maka dia berkata, "Allah melaknat orang yang mengerjakan ini." Dia juga menyebutkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melaknat orang yang menjadikan hewan bernyawa sebagai sasaran. Alasannya adalah karena ia akan tersakiti ketika ada yang memanah sayapnya, ada yang memanah dadanya, ada yang memanah punggungnya, dan ada yang memanah kepalanya. Dia akan merasakan sakit bila tidak mati padahal ia memungkinkan untuk disembelih. Oleh karena itu, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melaknat orang yang menjadikan hewan bernyawa sebagai sasaran panahan.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, sesungguhnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa bersedakah dengan sepasang (hewan, dll) di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, wahai hamba Allah, ini adalah kebaikan. Siapa yang gemar salat, maka dia dipanggil dari pintu salat; siapa yang gemar berjihad, maka dia akan dipanggil dari pintu jihad; siapa yang gemar berpuasa, maka dia akan dipanggil dari pintu Rayyān; siapa yang gemar bersedekah, maka dia akan dipanggil dari pintu sedekah." Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Ku persembahkan ayah ibuku sebagai tebusan untukmu wahai Rasulullah, tidak penting bagiku orang yang dipanggil dari tiap-tiap pintu (untuk masuk surga). Apakah ada orang yang dipanggil dari seluruh pintu?" Beliau bersabda, "Ya, dan aku berharap, engkaulah salah satu orangnya."
Muttafaq 'alaihSiapa bersedekah dengan sepasang hartanya, apakah berbentuk makanan, pakaian, kendaraan atau uang karena mengharap rida Allah, maka malaikat akan memanggilnya dari pintu surga dan menyambut kedatangannya. Dia berkata, "Engkau telah mempersembahkan banyak kebaikan, dan engkau akan dibalas dengan pahala yang banyak juga. Orang yang banyak salat, akan dipanggil dari pintu salat dan masuk surga dari pintu tersebut. Orang yang sering sedekah, dia akan masuk surga dari pintu tersebut. Yang banyak berpuasa, akan disambut malaikat dari pintu Rayyān seraya mengajak mereka untuk masuk surga dari pintu Rayyān. Arti kata Rayyan adalah meminum sampai lega dan hilang dahaganya. Karena orang-orang berpuasa menahan diri dari minum air sehingga mereka kehausan, khususnya pada musim panas yang panjang, maka haus mereka dibalas dengan minuman abadi di surga yang mereka masuki. Ketika Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- mendengar hadis ini, dia berkata, "Ku persembahkan ayah ibuku sebagai tebusan untukmu wahai Rasulullah, siapa saja yang masuk di antara pintu-pintu tersebut tidak akan merasakan kekurangan dan kerugian." Lalu dia bertanya, "Apakah ada orang yang dipanggil dari semua pintunya?" Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab: "Ya, aku berharap, engkau termasuk salah seorang dari mereka."
Mu'āżah berkata, Aku bertanya kepada Aisyah, "Mengapa wanita haid harus mengqada puasa dan tidak mengqada salat?" Aisyah bertanya, "Apakah engkau wanita Ḥarūriyyah (Khawarij)?" Aku menjawab, "Aku bukan wanita Ḥarūriyyah. Tetapi, aku hanya bertanya." Ia berkata, "Dulu kami juga mengalaminya. Kami diperintahkan untuk mengqada puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqada salat."
Muttafaq 'alaihMu'āżah al-'Adawiyah -raḍiyallāhu 'anhā- bertanya kepada Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Mengapa wanita haid harus mengqada puasa dan tidak mengqada salat?" Aisyah balik bertanya, "Apakah engkau wanita dari golongan Khawarij Ḥarūriyyah yang suka bertanya untuk menolak dan memaksa diri?" Mu'āżah menjawab, "Aku bukan wanita Ḥarūriyyah. Tetapi aku hanya bertanya." Aisyah berkata, "Dulu kami juga mengalami haid bersama Nabi ﷺ. Kami diperintahkan untuk mengqada puasa, tetapi tidak diperintahkan untuk mengqada salat."
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Nabi ﷺ tidak pernah menjaga secara rutin satu pun dari salat-salat sunah melebihi dua rakaat salat sunah fajar."
Muttafaq 'alaihUmmul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menyampaikan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah memperhatikan dan menjaga secara rutin suatu salat sunah melebihi dua rakaat rawatib sebelum Subuh.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ berjalan di jalan Makkah lalu melewati sebuah gunung yang diberi nama Jumdān. Beliau bersabda, "Berjalanlah kalian. Ini adalah Gunung Jumdān. Al-Mufarridūn (orang-orang yang menyendiri dalam ibadah) telah mendahului." Para sahabat bertanya, "Siapakah al-mufarridūn itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah."
HR. MuslimNabi ﷺ menerangkan kedudukan orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah, bahwa mereka telah menjadi nomor satu dan mendahului yang lainnya dalam meraih derajat tinggi di surga. Beliau menyerupakan mereka dengan Gunung Jumdān yang menjadi gunung nomor satu dibanding gunung-gunung lainnya.
Dari Abu Rāfi' "Bahwasanya Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- pernah membacakan untuk mereka, "Iżās samā`un syaqqat" (Al-Insyiqāq), lalu dia sujud (tilawah). Setelah selesai, ia memberitahu mereka bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sujud tilawah ketika membaca surat ini."
Muttafaq 'alaihAbu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan bahwa dia pernah membaca surat Al-Insyiqāq lalu sujud pada saat membaca firman Allah - Ta'ālā -, "Waiżā quri`a 'alaihimul qur`ānu lā yasjudūn". "Lantas hal tersebut ditanyakan kepadanya," yakni, Abu Rāfi' -raḍiyallāhu 'anhu- mengingkarinya sujud ketika membaca ayat itu sebagaimana dalam riwayat lain dari Abu Rāfi' -raḍiyallāhu 'anhu-. Ia berkata, "Aku bertanya, sujud apakah ini?" Ia mengingkari hal itu karena diriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau tidak pernah sujud dalam Al-Mufaṣṣal (surah yang dimulai dari surah Qāf atau Al-Hujurāt hingga surah An-Nās) sejak beliau pindah (hijrah) ke Madinah. Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Seandainya aku tidak melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sujud, tentu aku tidak akan sujud." Yakni, aku bersujud karena mengikuti Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Suatu hari kami duduk bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan memiliki rambut hitam pekat, tidak tampak tanda-tanda bekas perjalanan padanya, sementara tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Lantas dia duduk di hadapan Nabi ﷺ seraya menautkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya. Orang itu berkata, "Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam!" Rasulullah ﷺ menjawab, "Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang hak selain Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah, mendirikan salat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah apabila engkau mampu." Dia berkata, "Engkau benar." Kami pun heran karena ia bertanya lalu membenarkannya. Orang itu kembali berkata, "Terangkanlah kepadaku tentang iman!" Beliau menjawab, "Engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari Akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk." Dia berkata, "Engkau benar. Terangkanlah kepadaku tentang ihsan!" Beliau bersabda, "Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu." Kembali dia bertanya, "Beritahukan kepadaku tentang waktu hari Kiamat!" Beliau menjawab, "Orang yang ditanya tentangnya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya." Dia berkata,"Terangkan kepadaku tentang tanda-tandanya!" Beliau menjawab, "Yaitu ketika budak perempuan telah melahirkan tuannya; ketika engkau melihat orang-orang yang tak beralas kaki, tanpa mengenakan pakaian, sangat miskin dan pekerjaannya menggembalakan kambing, mereka berlomba-lomba mendirikan bangunan yang megah." Lantas orang itu pergi dan aku diam sekian lama. Kemudian beliau berkata, "Wahai Umar, tahukah engkau siapakah yang bertanya tadi?" Aku menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian."
HR. MuslimUmar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Jibril -'alaihissalām- muncul di hadapan para sahabat dalam rupa laki-laki yang tidak dikenal. Di antara cirinya yaitu pakaiannya sangat putih dan rambutnya sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda telah melakukan perjalanan jauh seperti kelelahan, berdebu, rambut acak-acakan dan pakaian kotor, tetapi tidak ada satu pun yang hadir mengenalnya. Saat itu, mereka sedang duduk bersama Nabi ﷺ. Jibril lantas duduk di hadapan Nabi ﷺ seperti cara duduk orang yang belajar. Dia bertanya kepada Nabi ﷺ tentang Islam, maka beliau memberikannya jawaban yang berisikan pengakuan terhadap dua kalimat syahadat, memelihara salat lima waktu, menunaikan zakat kepada para mustahiknya, berpuasa Ramadan, dan menunaikan kewajiban haji atas orang yang mampu. Lantas penanya itu berkata, "Engkau benar." Sontak para sahabat heran terhadap pertanyaannya yang pada awalnya hanya menunjukkan ketidaktahuannya, tetapi malah kemudian dia turut membenarkan beliau. Kemudian dia bertanya tentang iman, maka beliau memberikannya jawaban dengan menyebutkan enam rukun iman yang mencakup: 1- Beriman pada wujud Allah Ta'ala dan sifat-sifat-Nya, mengesakan-Nya terkait semua perbuatan-Nya seperti penciptaan dan mengesakan-Nya dalam beribadah; 2- Beriman bahwa para malaikat yang diciptakan oleh Allah dari cahaya adalah hamba yang dimuliakan, tidak durhaka kepada Allah Ta'ala dan selalu melaksanakan perintah-Nya; 3- Beriman pada kitab-kitab yang diturunkan dari sisi Allah Ta'ala kepada para rasul seperti Al-Qur`an, Taurat, Injil dan lainnya; 4- Beriman kepada para rasul yang menyampaikan agama Allah, di antaranya Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan rasul terakhir, Muhammad ﷺ, serta nabi-nabi dan rasul-rasul lainnya; 5- Beriman pada hari Akhir, termasuk di dalamnya semua yang terjadi setelah kematian, seperti alam kubur dan kehidupan barzakh, bahwa manusia akan dibangkitkan dan dihisab setelah kematian, dan tempat berakhirnya antara ke surga atau neraka; 6- Beriman bahwa Allah telah menetapkan takdir segala sesuatu menurut ilmu-Nya yang azali serta yang ditunjukkan oleh hikmah-Nya, Dia telah menulisnya dan menghendakinya, dan apa yang ditetapkan-Nya pasti terjadi sebagaimana yang telah ditetapkan-Nya dan diciptakan-Nya. Kemudian dia bertanya tentang ihsan. Beliau lantas mengabarkan kepadanya bahwa ihsan ialah dia beribadah kepada Allah seakan-akan dia melihat-Nya; jika dia tidak mampu mencapai tingkatan itu, hendaklah dia beribadah kepada Allah Ta'ala seakan-akan Allah menyaksikannya. Yang pertama adalah tingkatan musyahadah, itu yang paling tinggi, dan yang kedua adalah tingkatan muraqabah. Kemudian dia bertanya tentang waktu hari Kiamat. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa ilmu tentang Kiamat termasuk yang dirahasiakan oleh Allah. Tidak ada seorang pun di antara makhluk yang mengetahuinya, baik yang ditanya maupun yang bertanya. Kemudian dia bertanya tentang tanda-tanda Kiamat. Beliau menjelaskan bahwa di antara tandanya ialah banyaknya budak-budak perempuan dan anak mereka atau banyaknya kedurhakaan anak-anak kepada para ibu, yaitu mereka memperlakukan ibu mereka seperti budak, dan dunia dilapangkan bagi para penggembala kambing dan orang-orang fakir di akhir zaman, yaitu mereka berlomba-lomba di dalam menghias dan mempermegah bangunan. Kemudian Nabi ﷺ mengabarkan bahwa penanya tersebut adalah Jibril yang dia datang untuk mengajari para sahabat tentang agama yang lurus ini.
Dari Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', Seusai perang khaibar, sejumlah sahabat pulang dari peperangan dan mereka mengatakan si Fulan syahid, si Fulan syahid, hingga mereka melewati seseorang lalu mereka berkata, Fulan mati syahid. Lalu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, ”Tidak, aku melihatnya masuk neraka karena pakaian atau mantel yang diambilnya.”
Diriwayatkan oleh MuslimUmar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Saat usai perang Khaibar ada sekelompok sahabat datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mengatakan, "Fulan mati syahid. Fulan mati syahid hingga mereka melewati seseorang lalu berkata, "Fulan mati syahid." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidak, sesungguhnya aku melihatnya berada di neraka akibat mantel yang disembunyikannya dengan maksud khusus untuk dirinya sehingga ia disiksa karenanya di dalam neraka Jahannam." Dengan demikian, hilanglah darinya predikat terhormat, yaitu mati syahid di jalan Allah 'Azza wa Jalla.
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- membuat beberapa garis (di tanah), lalu bersabda, "Garis ini adalah manusia dan garis ini adalah ajalnya. Ketika orang itu sedang dalam keadaan tersebut, tiba-tiba datanglah garis yang lebih pendek (ajal)." Dari Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- membuat garis berbentuk persegi empat dan membuat gari lain di tengah-tengahnya yang keluar dari garis persegi empat tadi. Beliau juga membuat lagi beberapa garis kecil-kecil di tengah-tengah sampai ke pinggiran garis yang tengah, lalu beliau bersabda, "Ini adalah manusia dan ini adalah ajalnya meliputi diri manusia tadi, atau memang telah meliputinya. Garis yang keluar dari kotak ini adalah angan-angannya, sedangkan garis-garis kecil ini adalah halangan-halangannya. Jika ia terluput dari yang ini (bencana ini), ia terkena yang satunya lagi. Dan jika ia luput dari yang ini, maka ia tentu akan terkena oleh yang itu."
Diriwayatkan oleh BukhariDalam kedua hadis ini terkandung perumpamaan angan-angan manusia, ajalnya, dan keinginan-keinginan yang mengikutinya. Kematiannya ada di salah satunya. Jika ia selamat darinya, maka kematian mendatanginya saat ajalnya habis. Garis-garis tersebut adalah musibah-musibah yang menimpanya. Jika ia selamat dari ini, maka ia tidak akan selamat dari itu. Jika ia selamat dari semuanya dan tidak terkena musibah berupa penyakit, kehilangan harta atau lainnya, maka ajal mendatanginya secara tiba-tiba. Ringkasnya, orang yang tidak mati dengan sebab, maka ia mati dengan ajal. Ketika orang itu sedang dalam keadaan musibah tersebut, "Tiba-tiba datanglah garis yang lebih pendek," yaitu ajal. Dalam hadis ini terdapat isyarat berupa ajakan untuk sederhana dalam berangan-angan dan persiapan menghadapi ajal yang datang secara tiba-tiba. Kata tersebut diungkapkan dengan "An-Nahsyu" yaitu sengatan binatang beracun. Ini merupakan bentuk hiperbol dalam menggambarkan kecelakaan dan kebinasaan.