





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ berdoa, "Ya Allah, aku ini hanya manusia biasa, maka muslim mana saja yang pernah aku cela, laknat, atau aku cambuk, jadikanlah hal itu sebagai penyuci dan rahmat baginya."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ berdoa seraya berucap, "Ya Allah, sesungguhnya aku hanya manusia biasa, bisa marah sebagaimana yang lain, maka siapa saja orang beriman yang pernah aku sakiti, atau pernah aku cela, atau aku ejek, atau aku laknat dan aku doakan jauh dari rahmat-Mu atau aku cambuk dan pukul, jadikanlah hal itu sebagai penyuci, ibadah, pembersih, kafarat, dan rahmat yang Engkau berikan kepadanya.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan: Ada seseorang berkata, "Wahai Rasulullah, doakanlah keburukan untuk orang-orang musyrik." Beliau bersabda, "Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai orang yang gemar melaknat, tetapi aku diutus sebagai kasih sayang."
HR. MuslimNabi ﷺ diminta agar mendoakan keburukan bagi orang-orang yang menyekutukan Allah, maka beliau menjawab, "Sesungguhnya aku diutus oleh Allah bukan sebagai orang yang suka melaknat yang mendoakan keburukan bagi manusia agar jauh dan terusir dari rahmat Allah, sehingga aku menutup mereka dari kebaikan. Aku tidak diutus untuk hal tersebut. Akan tetapi, aku diutus untuk menjadi sebab kebaikan serta kasih sayang bagi manusia umumnya, dan kaum mukminin khususnya."
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Wahyu pertama kepada Rasulullah ﷺ ialah berupa mimpi yang benar dalam tidurnya. Tidaklah beliau melihat suatu mimpi kecuali ia terwujud secara nyata seperti cahaya subuh. Kemudian beliau dihinggapi rasa senang berkhalwat. Beliau berkhalwat di gua Hira dan melakukan taḥannuṡ -yaitu beribadah- sekian hari sebelum pulang ke keluarganya dan mengambil bekal untuk itu. Kemudian beliau pulang lagi ke Khadijah untuk mengambil bekal baru untuk jumlah hari yang sama, hingga wahyu datang kepadanya saat berada di gua Hira. Lalu malaikat (Jibril) datang kepadanya dan berkata, "Bacalah." Beliau menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Beliau bercerita: Lantas Jibril menarikku dan mendekapku sampai aku sangat kelelahan. Kemudian ia melepaskanku seraya berkata, "Bacalah." Aku menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Maka ia menarikku dan kembali mendekapku untuk yang kedua kalinya sampai aku sangat kelelahan. Kemudian ia melepaskanku seraya berkata, "Bacalah." Aku menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Maka ia menarikku dan mendekapku untuk ketiga kalinya. Kemudian ia melepaskanku seraya membaca (artinya), "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Mahamulia." (QS. Al-'Alaq: 1-3) Rasulullah ﷺ lalu pulang membawa ayat-ayat tersebut sementara hatinya berdebar. Beliau masuk menemui Khadijah binti Khuwailid -raḍiyallāhu 'anhā- seraya berkata, "Selimutilah aku. Selimutilah aku." Lantas mereka menyelimutinya hingga rasa takutnya hilang. Beliau berkata kepada Khadijah seraya menceritakan berita tersebut, "Aku mengkhawatirkan diriku." Khadijah berkata, "Tidak, sama sekali. Demi Allah! Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Karena engkau benar-benar menyambung silaturahmi, membantu orang lemah, menanggung orang yang tidak mendapatkan penolong, menjamu tamu, dan membantu orang-orang yang ditimpa keburukan dalam kebenaran. Lantas Khadijah membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdil-'Uzzā, sepupu Khadijah. Dia masuk agama Nasrani di masa jahiliah dan bisa baca tulis bahasa Ibrani. Dia telah menulis Injil dengan bahasa Ibrani cukup banyak. Dia seorang yang sudah tua dan buta. Khadijah berkata, "Wahai sepupuku. Dengarkanlah keponakanmu." Waraqah berkata, "Keponakanku, apa yang engkau lihat?" Lantas Rasulullah ﷺ menceritakan semua yang dilihatnya. Waraqah berkata, "Ini adalah Nāmūs yang telah Allah turunkan kepada Musa. Duhai, andai waktu itu aku masih muda. Andainya aku masih hidup saat kamu diusir oleh kaummu." Rasulullah ﷺ berkata, "Apakah mereka akan mengusirku?" Dia menjawab, "Ya. Belum pernah sama sekali ada seseorang datang membawa seperti yang kamu bawa kecuali ia dimusuhi. Jikalau aku mendapatkan masamu, aku akan membelamu dengan pembelaan yang tinggi." Kemudian tidak lama setelah itu Waraqah meninggal dunia dan wahyu terhenti.
Muttafaq 'alaihUmmul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengabarkan bahwa wahyu yang pertama kali turun kepada Rasulullah ﷺ adalah berupa mimpi yang benar dalam tidur. Tidaklah beliau melihat suatu mimpi dalam tidurnya kecuali hal itu hadir nyata menyerupai cahaya subuh. Kemudian beliau suka berkhalwat. Beliau berkhalwat di Gua Hira. Beliau beribadah di sana sekian malam sebelum pulang ke keluarganya dengan membawa bekal. Kemudian beliau pulang ke rumah Ummul Mukminin Khadijah -raḍiyallāhu 'anhā- dan membawa bekal untuk jumlah hari yang sama hingga wahyu datang sementara beliau di gua Hira. Malaikat Jibril -'alaihissalām- datang kepada beliau seraya mengatakan: Bacalah. Beliau ﷺ menjawab: Aku tidak bisa membaca. Beliau bercerita: Maka Jibril menarikku, mendekapku, dan memelukku dengan erat hingga aku sangat kelelahan dan kesusahan. Kemudian dia melepasku dan mengatakan: Bacalah! Aku menjawab: Aku tidak bisa membaca. Lalu dia menarikku dan mendekapku untuk yang kedua kalinya hingga aku sangat kelelahan dan kesusahan. Kemudian dia melepasku seraya mengatakan: Bacalah. Aku menjawab: Aku tidak bisa membaca. Sehingga dia menarikku lalu mendekapku untuk yang ketiga kalinya. Kemudian dia melepasku seraya membaca: "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan; Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia." (QS. Al-'Alaq: 1-3) Beliau ﷺ lantas pulang dalam kondisi telah menghafal ayat-ayat tersebut dengan hati bergetar karena takut mati. Beliau masuk menemui istrinya, Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid -raḍiyallāhu 'anhā- seraya berkata: Selimutilah aku dengan kain! Selimutilah aku dengan kain! Mereka segera menyelimuti beliau menggunakan kain hingga rasa takutnya hilang. Lantas beliau berbicara kepada Khadijah dan menceritakannya berita tersebut. Beliau berkata: Aku mengkhawatirkan kematian atas diriku. Maka Khadijah berkata: Tidak, sama sekali. Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Karena engkau menyambung silaturahmi, menanggung orang lemah yang tidak dapat mengurus sendiri urusannya, membantu orang fakir yang tidak mendapatkan penolong; yaitu engkau memberi manusia apa yang tidak mereka dapatkan pada selainmu. Engkau juga menjamu tamu dan membantu orang-orang yang ditimpa keburukan karena melakukan sesuatu yang benar. Lantas Khadijah membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdil-'Uzzā, yang merupakan sepupunya. Dia adalah orang yang meninggalkan kejahiliahan dan menjadi seorang Nasrani. Dia juga telah menulis banyak Injil dalam bahasa Ibrani. Saat itu, ia sudah menjadi tua yang telah kehilangan penglihatannya. Khadijah berkata: Wahai sepupuku, dengarkanlah dari keponakanmu. Maka Waraqah bertanya kepada beliau: Wahai keponakanku, apa yang engkau lihat? Rasulullah ﷺ pun mengabarinya tentang semua yang dilihatnya. Waraqah kemudian menjelaskan: Ini adalah Jibril yang telah Allah turunkan kepada Nabi-Nya, Musa -'alaihissalām-. Andaikan hari itu aku masih muda belia! Andaikan aku masih hidup saat kaummu mengusirmu! Beliau ﷺ bertanya: Apakah mereka akan mengusirku?! Dia menjawab: Ya. Belum pernah sama sekali seseorang datang membawa seperti yang engkau bawa kecuali ia disakiti dan dimusuhi. Andaikan aku mendapatkan hari itu, aku akan membelamu dengan pembelaan tingkat tinggi. Tidak lama setelah itu Waraqah meninggal dunia dan wahyu tertunda sekian lama.
Abu Salamah bin Abdurrahman meriwayatkan bahwa Jābir bin Abdullah Al-Anṣāriy -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata: Saat itu beliau sedang menyampaikan hadis tentang masa-masa terhentinya wahyu. Dalam hadis tersebut, Nabi ﷺ bersabda, "Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Aku pun melihat ke atas, ternyata ada malaikat yang pernah mendatangiku di gua Hira sedang duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku merasa ketakutan, sehingga aku segera pulang dan berkata, 'Selimutilah aku.' Lalu Allah Ta'ala menurunkan, 'Wahai orang yang berkemul (berselimut)! Bangunlah, lalu berilah peringatan!' [QS. Al-Mudaṡṡir: 1-2] sampai firman-Nya, 'Dan jauhilah segala (perbuatan) yang keji.' [QS. Al-Muddaṡṡir: 5]. Maka wahyu pun tetap terjaga dan selalu turun."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan, saat itu beliau sedang bercerita tentang momen terhentinya wahyu dan tertahan tidak kunjung turun pada awal beliau diutus, "Ketika aku sedang berjalan di jalanan Makkah, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Aku pun melihat ke atas, ternyata malaikat Jibril yang pernah mendatangiku di gua Hira sedang duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku pun merasa takut dan khawatir, lantas aku pulang ke rumah, dan berkata, 'Selimutilah aku dengan kain.' Lalu Allah Ta'ala menurunkan, 'Wahai orang yang berkemul (berselimut)', yaitu yang berselimut dengan kainnya. 'Bangunlah' untuk berdakwah. 'Lalu berilah peringatan!', yakni peringatkanlah siapa pun yang belum percaya dengan risalahmu. 'Dan Tuhanmu', yaitu Tuhan yang kamu sembah. 'Agungkanlah', dan pujilah serta muliakanlah. 'Dan pakaianmu', yakni: dan pakaian-pakaianmu. 'Bersihkanlah', yakni bersihkanlah dari segala bentuk najis. 'Segala (perbuatan) yang keji' dengan menyembah berhala dan patung, 'maka jauhilah' dan tinggalkanlah. Lantas wahyu kukuh setelah itu dan sering turun."
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah mengirimkan ekspedisi perang ke negeri Najed. Maka aku pun keluar untuk bergabung dengannya. Kami berhasil mendapatkan ganimah unta dan kambing. Bagian ganimah kami (masing-masing) mencapai dua belas unta dan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masih menambah lagi masing-masing satu ekor unta."
Muttafaq 'alaihAbdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- mengabarkan bahwa Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah mengutus mereka (para sahabat) dalam suatu ekspedisi perang ke negeri Najed. Mereka mendapatkan ganimah yang banyak terdiri dari unta dan kambing. Setiap sahabat memperoleh dua belas unta, dan beliau memberikan tambahan atas bagian ganimah mereka berupa satu ekor unta untuk setiap orang.
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku menawarkan diri kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- (untuk ikut) dalam perang Badar, saat itu usiaku empat belas tahun, akan tetapi beliau tidak membolehkanku."
Muttafaq 'alaihAbdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa ia menawarkan diri untuk berangkat perang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebagai bentuk pengajuan prajurit kepada panglimanya- dalam perang Badar. Ini terjadi pada tahun ketiga hijriah dan umurnya empat belas tahun. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menolaknya untuk pergi berperang karena umurnya masih kecil. Selanjutnya ia mengajukan diri di perang Khandaq pada tahun kelima hijriah dan usianya sudah lima belas tahun. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membolehkannya untuk ikut berperang. Barangkali perang Uhud terjadi saat umurnya awal empat belas tahun, dan pada perang Khandaq umurnya akhir lima belas tahun.
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa Umar -raḍiyallāhu 'anhu- ketika puterinya Ḥafṣah menjanda, ia berkata, “Aku bertemu dengan Uṡmān -raḍiyallāhu 'anhu- lalu aku menawarkan Ḥafṣah untuk menikah dengannya. Aku berkata, “Jika kamu mau, aku akan nikahkan kamu dengan Ḥafṣah binti Umar?" Dia menjawab, “Saya akan pikirkan terlebih dahulu.” Beberapa malam pun telah berlalu, kemudian dia (Uṡmān) menemuiku lalu berkata, “Telah jelas bagiku bahwa aku tidak akan menikah pada hariku ini.” Kemudian aku bertemu dengan Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- lalu aku katakan kepadanya, “Jika kamu mau, aku akan menikahkan kamu dengan Ḥafṣah binti Umar?" Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- hanya terdiam dan tidak menjawab sepatah kata pun. Aku merasa sangat tersinggung kepadanya daripada kepada Uṡmān. Beberapa malam pun berlalu, kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melamarnya, lalu aku pun menikahkannya dengan beliau. Kemudian Abu Bakar bertemu denganku lalu berkata, “Apakah kamu marah kepadaku ketika kamu menawarkan Ḥafṣah kepadaku, lalu aku tidak memberimu jawaban apapun?” Aku pun menjawab, "Iya." Dia berkata, “Sesungguhnya tidak ada yang mencegahku untuk memberimu jawaban atas tawaramu kepadaku melainkan karena aku telah mengetahui bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah menyebutnya (Ḥafṣah), dan aku tidak ingin menyebarkan rahasia Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Seandainya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak menikahinya, tentu aku akan menerimanya."
Diriwayatkan oleh BukhariDalam hadis ini Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- mengabarkan bahwa Umar -raḍiyallāhu 'anhu- ketika puterinya yaitu Ḥafṣah menjanda, yaitu setelah ditinggal mati oleh Khunais bin Ḥużāfah As-Sahmi, saudara Abdullah bin Ḥużāfah, salah seorang sahabat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang meninggal di Madinah. Penyebab kematiannya adalah luka yang menimpanya ketika perang uhud. Dia termasuk dari orang-orang yang pertama masuk Islam dan ikut berhijrah ke negeri Ḥabasyah. Umar berkata, “Aku bertemu dengan Uṡmān”, yakni setelah istrinya Ruqayyah binti Rasulullah meninggal. Umar berkata, “Lalu aku tawarkan Ḥafṣah kepadanya (untuk dinikahi).” Ini menunjukkan bahwa seorang ayah boleh menawarkan puterinya untuk dinikahkan dengan orang baik dan saleh, dan dalam hal itu tidak ada cela, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam Al-Bukhari ketika memberi judul hadis ini. Umar berkata, “Jika kamu mau, aku akan menikahkan kamu dengan Ḥafṣah binti Umar?” Penggunaan ungkapan seperti ini adalah bentuk ungkapan kalimat syarṭiyyah di mana orang yang dituju bebas untuk memilih. Ini termasuk ungkapan yang baik dan penuh motivasi untuk dapat diterima, dan disebutkan juga penisbahan puterinya terhadap dirinya. Dalam hal ini terkandung penyederhanaan kalimat dengan menghilangkan sebagiannya, seakan-akan Umar berkata, “yakni puteri Umar, dan kamu mengetahui tentang kepribadian dan perilaku baiknya.” Jawaban Uṡmān adalah “Akan saya pikirkan terlebih dahulu”, yakni memikirkan apakah saya akan menikahinya sekarang atau saya undurkan waktunya. Umar berkata, "Beberapa malam pun telah berlalu, kemudian dia (Uṡmān) menemuiku lalu berkata, “Telah jelas bagiku bahwa aku tidak akan menikah pada hariku ini.” Dengan itu Uṡman menghendaki kemutlakan waktu; yaitu pada waktuku ini (pada saat ini). Dia menjawab demikian untuk menghilangkan persangkaan bahwa dia tidak ingin menikah selamanya, yang mana hal tersebut dilarang. Umar berkata, “Kemudian aku bertemu dengan Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- lalu aku katakan kepadanya, "Jika kamu mau, aku akan menikahkan kamu dengan Ḥafṣah binti Umar?” Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq secara sengaja tidak mau menjawabnya karena alasan tertentu yang lebih khusus dari sekedar berdiam. Umar berkata, “Aku merasa sangat marah” kepadanya daripada kepada Uṡmān. Hal itu disebabkan karena dia mendapatkan jawaban dari Uṡmān, sedangkan Abu Bakar tidak memberikan jawaban apapun dan hanya diam. "Beberapa malam pun berlalu dan kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melamarnya, lalu akupun menikahkannya dengan beliau. Kemudian Abu Bakar bertemu denganku." Yakni setelah pernikahan dilangsungkan dan setelah hal yang dia hindari sirna yaitu tentang perkara yang sebenarnya, Abu Bakar berkata dan menyampaikan alasan serta memperbaiki sangkaan saudaranya: (لعلّك) untuk menunjukkan rasa kasih sayang. Dia menggunakan kalimat tersebut bersandar pada akhlak baik Umar, dan bahwa Umar tidaklah marah karena hal tersebut. Akan tetapi kemarahan yang timbul darinya adalah sesuai dengan tabiat. Abu Bakar mengatakan hal itu kepadanya, dia berkata, “Apakah kamu marah kepadaku ketika kamu menawarkan Ḥafṣah kepadaku, lalu aku tidak memberimu jawaban apapun?” Yakni apakah kamu marah pada waktu itu? Umar menjawab, “Iya.” Ini adalah jawaban dari Umar sebagai pemberitahuan dan kejujurannya terkait kemarahannya tersebut. Lalu Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq berkata, “Sesungguhnya tidak ada yang mencegahku untuk menjawab tawaranmu kepadaku melainkan karena aku mengetahui bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah menyebutnya (Ḥafṣah).” Maksudnya adalah sesungguhnya aku berkeinginan untuk menikahinya. Mungkin ungkapan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang keinginannya untuk melamar Ḥafṣah diucapkan kepada Abu Bakar saja tanpa yang lainnya, sehingga ia memandang hal itu sebagai sebuah rahasia yang tidak boleh untuk disebarkan; oleh karena itu dia berkata, “aku tidak ingin menyebarkan rahasia Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.” Yakni tidak ingin menyebarkan apa yang beliau rahasiakan dan sebutkan di hadapanku. “Seandainya Nabi meninggalkannya” yaitu tidak melamarnya. “Maka aku pasti menerimanya,” dan ini dikarenakan haram hukumnya melamar wanita yang telah disebutkan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- (untuk beliau nikahi) bagi orang yang mengetahuinya. Dalam hal ini terkandung pendidikan untuk umat, dan yang seharusnya dilakukan adalah menjaga rahasia, berusaha sekuat mungkin untuk menyembunyikannya dan tidak membicarakan hal-hal yang dapat menyeret pembicaraan kepada terkuaknya rahasia.
Dari As-Sā'ib bin Yazīd -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Ketika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang dari perang Tabuk, orang-orang menemuinya, lalu aku pun menemuinya bersama anak-anak di atas bukit Al-Wada'. Dalam riwayat Bukhari, As-Sī'ib berkata, "Kami pergi menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersama anak-anak ke bukit Al-Wada'."
Diriwayatkan oleh Bukhari - Diriwayatkan oleh Abu DaudMakna hadis: As-Sā'ib bin Yazīd -raḍiyallāhu 'anhumā- mengabarkan bahwa Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika datang dari perang Tabuk, orang-orang -yang tidak ikut perang karena ada alasan dan lainnya- keluar menuju bukit Al-Wada' untuk menyambut Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat pulang. As-Sā'ib bin Yazīd pun keluar bersama anak-anak Madinah untuk menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Kami keluar bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam suatu peperangan. Kami berjumlah enam orang. Di antara kami terdapat seekor unta yang ditumpangi secara bergantian. Kaki-kaki kami berlubang dan kakiku pun berlubang serta kuku-kukuku rontok. Kami pun membungkus kaki-kaki kami dengan sobekan kain sehingga perang ini dinamakan perang Żātu Ar-Riqā' karena kami membalut kaki-kaki kami dengan sobekan kain." Abu Burdah berkata, "Abu Musa memberitahu tentang hadis ini lalu ia tidak menyukainya dan berkata, "Aku melakukan hal itu bukan supaya aku mengingatnya." Abu Burdah meneruskan, "Tampaknya Abu Musa tidak mau suatu amalnya disebar-luaskan."
Muttafaq 'alaihMakna hadis bahwa Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- keluar bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam sebuah peperangan disertai beberapa sahabatnya dengan jumlah enam orang. Di antara mereka ada seekor unta yang mereka tumpangi secara bergantian. Seseorang mengendarainya dalam jarak tertentu lalu jika sudah selesai gilirannya, ia turun dari unta dan orang lain mengendarainya. Demikian seterusnya mereka saling bergantian mengendarainya hingga akhirnya tiba ke tempat tujuan mereka. "Kaki-kaki mereka berlubang, kakiku pun berlubang dan kuku-kukuku rontok" disebabkan berjalan di tanah gurun disertai jarak yang jauh. Mereka tidak mengenakan sesuatu yang menutupi kakinya karena robek. Mereka berjalan telanjang kaki sehingga menderita sakit yang dahsyat tersebut. Meskipun demikian mereka tidak menghentikan perjalanannya, tetapi meneruskan perjalanan hingga bertemu musuh. "Kami pun membungkus kaki-kaki kami dengan sobekan kain" Ini menunjukkan bahwa sepatu-sepatu mereka telah robek karena panjangnya jarak tempuh dan kuat serta kerasnya tanah pijakan. Bungkusan itu ditujukan guna melindungi mereka dari kerasnya tanah dan panasnya. "sehingga perang ini dinamakan perang Żātu Ar-Riqā' karena kami membalut kaki-kaki kami dengan sobekan kain." artinya perang yang dihadiri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tersebut dinamakan demikian dengan sebab ini. Abu Burdah berkata, "Abu Musa memberitahu tentang hadis ini lalu ia tidak menyukainya" dan berkata, "Aku melakukan hal itu bukan supaya aku mengingatnya." Abu Burdah meneruskan, "Tampaknya Abu Musa tidak mau suatu amalnya disebar luaskan." artinya setelah Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- menceritakan hadis ini dia berkhayal andai dirinya belum ceritakan itu karena di dalamnya ada unsur penyucian diri, juga karena menyembunyikan amal itu lebih utama daripada menampakkannya kecuali terdapat maslahat yang kuat seperti orang yang jadi panutan. Seperti dalam hadis lain (Lalu dia sembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan tangan kanannya) Muttafaq 'Alaih.