





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Suatu malam aku salat bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau terus berdiri (lama) sampai aku bermaksud untuk melakukan sesuatu yang jelek." Ibnu Mas'ūd ditanya, "Apa yang hendak engkau lakukan?" Ia menjawab, "Aku bermaksud untuk duduk dan meninggalkan beliau."
Muttafaq 'alaihSuatu malam Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- salat bersama Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau berdiri lama, ini merupakan kebiasaan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- tidak kuat berdiri lama ini hingga ia hendak melakukan sesuatu yang tidak baik untuk dilakukan. Ia ditanya, "Apa yang hendak engkau lakukan?" Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- menjawab, "Aku bermaksud untuk duduk dan meninggalkan beliau terus berdiri." Hal ini disebabkan kepayahan yang dialaminya.
Dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhumā-, Bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masuk ke rumah salah seorang lelaki Ansar bersama seorang sahabatnya, lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkata kepadanya, “Adakah engkau mempunyai air yang telah diinapkan dalam bejana kulit malam ini? Jika tidak kami akan minum langsung dari mulut kami.”
Diriwayatkan oleh BukhariJābir -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata: Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masuk ke rumah salah seorang lelaki Ansar, ada yang mengatakan: dia adalah Abu Haiṡam bin at-Tihān al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu-, beliau bersama sahabatnya yaitu Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu-, lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya kepadanya: Adakah ia memiliki air yang telah diinapkan dalam sebuah bejana dari kulit, dan pada waktu itu sedang musim panas. Hikmah dari hal itu adalah bahwa air yang diinapkan akan menjadi dingin/segar. Jika tidak maka kami akan minum langsung dengan mulut tanpa menggunakan bejana dan tidak juga telapak tangan.
Dari Abdullah bin Busr -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memiliki sebuah mangkuk besar yang disebut Al-Garrā` yang biasanya harus dibawa oleh empat orang. Pada waktu Duha setelah mereka shalat Duha, mangkuk itu dibawakan dan telah berisikan makanan di dalamnya. Mereka berkumpul mengelilingi mangkuk tersebut. Ketika mereka telah banyak, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- duduk berlutut. Seorang Arab baduwi berkata, "Ada acara apa ini?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah menjadikanku seorang hamba yang mulia dan bukan sebagai orang yang angkuh lagi kejam." Lantas beliau meneruskan, "Makanlah dari sisi-sisinya dan biarkan dulu bagian yang paling atas (tengahnya), niscaya ia (makanan itu) akan diberkahi."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Abu DaudNabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memiliki sebuah mangkuk besar untuk makan yang disebut Al-Garrā`. Mangkuk itu dibawa oleh empat orang. Saat mereka masuk waktu Duha dan setelah selesai shalat Duha, maka mangkuk besar itu dibawa dan roti dileburkan ke dalamnya. Selanjutnya mereka duduk melingkari mangkuk tersebut. Saat mereka sudah banyak dan lingkaran tersebut sempit, Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun duduk di atas kedua lututnya. Beliau duduk di atas punggung kedua kakinya agar memberi ruang untuk saudara-saudaranya. Seorang Arab baduwi yang hadir saat itu berkata, "Duduk macam apa ini, wahai Rasulullah!" karena beliau duduk dengan rendah hati. Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah telah menjadikanku hamba yang murah hati dengan kenabian dan ilmu dan Dia tidak menjadikanku hamba yang kejam lagi pembangkang." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bukan orang sombong dan tidak pula lalim. Selanjutnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Makanlah dari sisi-sisinya dan biarkan dulu bagian yang paling atasnya (tengahnya), niscaya ia akan diberkahi." Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan untuk makan dari berbagai sisinya dan meninggalkan bagian atasnya serta beliau menjelaskan bahwa hal itu termasuk sebab keberkahan dalam makanan.
Dari Abu Hurairah -atau Abu Sa'īd Al-Khudri- raḍiyallāhu 'anhumā- perawi ragu-, ia berkata, "Ketika terjadi perang Tabuk, orang-orang ditimpa kelaparan sehingga mereka berkata, "Wahai Rasulullah, seandainya engkau memberi izin kepada kami, maka kami akan menyembelih unta-unta kami lalu memakannya dan membuat minyak dengan lemaknya?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Lakukanlah!" Tiba-tiba Umar -raḍiyallāhu 'anhu- datang lalu berkata, "Wahai Rasulullah, jika Anda melakukannya, maka binatang tunggangan menjadi sedikit, akan tetapi mintalah kepada mereka sisa bekal mereka, lalu mohonlah kepada Allah agar memberikan keberkahannya. Mudah-mudahan Allah menjadikan keberkahan dalam bekal itu." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Ya." Lantas beliau meminta karpet kulit lalu membentangnya. Selanjutnya beliau meminta sisa-sisa bekal mereka. Seorang lelaki datang dengan membawa satu genggam gandum, yang lain datang membawa segenggam kurma, dan yang lainnya datang membawa serpihan (roti), sehingga terkumpullah sisa-sisa bekal yang sedikit itu di atas karpet kulit. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memohon keberkahan, lalu bersabda, "Simpanlah bekal ini di bejana-bejana kalian." Lantas mereka menyimpan bekal itu di bejana-bejana mereka sehingga tidak ada satu pun bejana di barak melainkan sudah penuh. Mereka makan hingga kenyang dan masih tersisa. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak di sembah selain Allah dan sesungguhnya aku utusan Allah. Tidaklah seorang hamba menghadap Allah dengan membawa dua kalimat itu tanpa ada keraguan yang dapat menghalanginya masuk surga."
Diriwayatkan oleh MuslimOrang-orang menderita kelaparan ketika perang Tabuk lalu mereka berkata, "Wahai Rasulullah, seandainya engkau mengizinkan kami untuk menyembelih unta kami lalu kami memakan dagingnya dan memakai minyak dengan lemaknya. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengizinkan mereka dan bersabda, "Kerjakanlah!" Tiba-tiba Umar -raḍiyallāhu 'anhu- datang lalu berkata, "Wahai Rasulullah, jika aku lakukan itu, maka binatang-binatang yang membawa kita akan menjadi berkurang dan sedikit. (Menurutku) hendaknya engkau memanggil mereka agar membawa sisa makanan mereka lalu mohonlah keberkahan kepada Allah. Mudah-mudahan Allah menjadikan kebaikan dalam makanan ini dan memberikan keberkahan dalam makanan yang sedikit ini." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ya." Lantas beliau meminta permadani dari kulit lalu membentangkannya kemudian meminta sisa-sisa makanan mereka. Seorang lelaki datang dengan membawa gandum segenggam, yang lainnya membawa kurma, dan yang lainnya membawa septong roti, sehingga terkumpullan makanan yang sedikit. Selanjutnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-memohon keberkahan lalu bersabda, "Simpanlah di bejana-bejana kalian." Mereka pun mengambil makanan itu hingga tidak ada satu pun bejana yang mereka tinggalkan di dalam pasukan melainkan sudah mereka penuhi. Selanjutnya mereka makan sampai kenyang dan makanan itu masih tersisa. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya aku utusan Allah. Tidaklah seorang hamba menghadap Allah dengan membawa dua kalimat itu setelah kematiannya tanpa ada keraguan yang dapat menghalanginya masuk Surga, maka ia pasti akan masuk Surga baik pertama kali bersama orang-orang yang selamat atau pun setelah dikeluarkan dari Neraka.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, dia berkata, Aku pernah mendengar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda sambil bersandar kepadaku, "Ya Allah! Ampunilah aku dan rahmatilah aku. Gabungkanlah aku nersama teman tertinggi."
Muttafaq 'alaihKetika ajal Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah dekat, beliau bersandar ke ibunda kaum mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- sambil berdoa kepada Rabbnya untuk digabungkan dengan teman tertinggi yaitu golongan para Nabi, para as-ṣiddīqīn dan syuhada serta kaum yang saleh.
Dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Pada saat perang Khandaq, kami menggali parit tetapi terbentur tanah yang keras. Lantas para sahabat mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata, "Tanah ini keras sehingga menghalangi kami membuat parit." Lantas beliau bersabda, "Aku akan turun." Lantas beliau berdiri sedangkan perutnya diikat batu. Sudah tiga hari kami tidak merasakan makanan. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengambil cangkul dan mengayunkannya maka hancurlah tanah yang keras itu menjadi lembut. Kemudian aku berkata, "Wahai Rasulullah, izinkanlah aku pulang ke rumah." Aku bertanya kepada istriku, "Aku lihat sesuatu pada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam - yang membuatku tidak sabar, apakah engkau mempunyai sesuatu?" Istrinya menjawab, "Aku mempunyai gandum dan seekor anak kambing." Selanjutnya anak kambing itu aku sembelih dan istriku menumbuk gandum lalu daging kambing tersebut kami letakkan di kuali. Setelah itu aku mendatangi Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, sedangkan adonan sudah retak (hampir matang) dan kuali (berisi daging) di atas batu hampir matang. Aku berkata, "Aku mempunyai sedikit makanan, silakan engkau, wahai Rasulullah bersama satu atau dua orang untuk datang." Beliau bertanya, "Berapa banyak makanan itu?" Lantas aku jelaskan kepada beliau. Beliau bersabda, "Cukup banyak. Baiklah, katakan kepada istrimu agar dia tidak mengangkat kuali dan tidak mengangkat roti dari tungku sampai aku datang." Beliau bersabda, "Berdirilah kalian!" Orang-orang Muhajirin dan Ansar pun berdiri. Aku menemui istriku lalu berkata, "Celakalah engkau! Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sudah datang bersama kaum Muhajirin, Ansar, dan orang-orang yang bersama mereka!" Istrinya bertanya, "Apakah beliau bertanya kepadamu?" Aku jawab, "Ya." Beliau bersabda, "Masuklah dan jangan saling berdesak-desakan!" Lantas beliau membelah roti dan meletakan daging di atasnya serta menutupi kuali dan tungku saat mengambil darinya. Beliau mendekatkannya kepada para sahabatnya lalu menariknya. Beliau terus-menerus memecah roti dan mencelupkannya sampai para sahabat kenyang dan makanan masih tersisa." Beliau bersabda (kepada istri Jābir), "Santaplah makanan ini dan hadiahkan! Sesungguhnya orang-orang menderita kelaparan." Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Jābir berkata, "Saat menggali parit, aku melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sangat lapar, lalu aku pulang ke istriku dan bertanya, "Apakah engkau memiliki sesuatu? Sesungguhnya aku melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sangat lapar." Lantas istriku mengeluarkan kantong berisi satu ṣā' gandum dan kami mempunyai seekor kambing yang jinak. Selanjutnya aku menyembelih kambing itu dan ia menumbuk gandum. Ia selesai ketika aku telah selesai juga, dan saya memotong-motong kambing itu di kuali. Kemudian aku pun pergi menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Istriku berkata, "Engkau jangan membuatku malu di hadapan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersama para sahabatnya." Aku pun mendatangi beliau dan berbisik kepadanya. Aku katakan, "Wahai Rasulullah, kami sudah menyembelih kambing kami dan aku sudah menumbuk satu ṣa' gandum. Kemarilah engkau dan beberapa orang bersamamu!" Tiba-tiba Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berteriak, "Wahai pasukan Khandaq, sesungguhnya Jābir sudah membuat hidangan untuk kalian. Marilah kita ke sana!" Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Engkau jangan sekali-kali menurunkan kualimu dan memotong-motong rotimu sampai aku datang." Aku datang dan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang mendahului para sahabat. Aku mendatangi istriku. Ia berkata, "Ini gara-gara engkau! Ini gara-gara engkau!" Aku katakan, "Aku sudah melakukan apa yang engkau pesankan." Lantas aku keluarkan adonan roti lalu beliau meludah di dalamnya dan mendoakan keberkahan. Selanjutnya beliau menuju ke kuali kami lalu meludahinya dan mendoakan keberkahan. Selanjutnya beliau bersabda, "Panggillah tukang roti lalu suruh dia membuat roti bersama kamu, dan nyalakan kuali kalian serta jangan kalian turunkan." Padahal yang datang sebanyak seribu orang. Aku bersumpah demi Allah, ternyata mereka makan hingga mereka meninggalkannya (tersisa) dan pergi. Sementara itu kuali kami tetap penuh berisi seperti semula, dan adonan itu juga masih seperti sedia kala."
Muttafaq 'alaihJābir -raḍiyallāhu 'anhu- bercerita bahwa para sahabat pada perang Khandaq menggali parit sekeliling Madinah untuk menghalangi antara mereka dengan musuh. Lantas muncul sebongkah tanah keras yang tidak dapat digali dengan kapak. Mereka pun mengadukan kesulitan tanah tersebut kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Selanjutnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- turun ke parit dalam keadaan perutnya diikat dengan batu karena sangat lapar. Beliau mengambil cangkul, yaitu sepotong besi untuk melubangi gunung-gunung. Beliau memukul tanah keras itu dengan cangkul hingga terbelah dan menjadi pasir yang lembut." Jābir berkata, "Selanjutnya aku pergi ke rumahku lalu aku bertanya kepada istriku, "Apakah kita masih memiliki makanan?" Dia menceritakaan keadaan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang terlihat sangat lapar. Lantas istrinya mengeluarkan sebuah kantong kulit berisi gandum. Mereka juga mempunyai anak kambing betina -anak kambing pertama yang dilahirkan induknya- yang jinak berada di rumah lalu ia menyembelihnya kemudian menumbuk gandum dan meletakkan daging di atas periuk dari tanah. Setelah itu Jābir pergi menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan memberitahukannya secara rahasia bahwa dirinya sudah membuat makanan sederhana untuk beliau yang tidak cukup bagi semua orang yang hadir bersama beliau. Dia menyilahkan Nabi dan beberapa orang sahabat untuk mendatanginya. Tiba-tiba Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berseru, "Wahai orang-orang yang ada di parit, Jābir sudah membuat makanan! Segeralah pergi ke rumahnya." Setelah itu Rasulullah pergi ke rumah Jābir dan meminta adonan lalu beliau meludahinya. Demikian juga beliau meludah di dalam kuali, serta mendoakan keberkahan untuk keduanya. Ini termasuk kekhususan dan keberkahan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan beliau meminta para sahabat untuk membantu istri Jābir dalam membuat makanan. Kaum Muslimin datang lalu makan kemudian pergi dalam keadaan makanan tetap seperti sediakala; kuali mendidih dan adonan buat roti seakan-akan tidak ada sesuatu pun yang kurang."
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwasannya dia mendengar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil; yang berpenyakit sopak (belang kulitnya), botak, dan buta. Kemudian Allah hendak menguji mereka, lalu Allah mengutus seorang malaikat kepada mereka. Malaikat itu mendatangi orang yang sopak lalu bertanya, "Apa yang paling engkau inginkan?" Orang itu menjawab, "Warna yang indah dan kulit yang bagus serta hilangnya penyakit yang kuderita yang membuat orang-orang menjauhiku." Nabi bersabda, "Lantas malaikat itu mengusapnya lalu lenyaplah penyakit tersebut dan ia diberi warna yang indah dan kulit yang bagus." Malaikat bertanya, "Apa harta yang paling engkau senangi?" Orang itu menjawab, "Unta atau sapi." Ishaq (perawi) ragu-ragu (menyebutkan yang tepat). Lantas orang itu dikaruniai seekor unta yang sedang bunting sepuluh bulan. Malaikat berkata, "Semoga Allah memberimu keberkahan dalam unta ini." Nabi bersabda, "Lantas malaikat itu mendatangi orang botak lalu bertanya, "Apa yang paling kau senangi?" Orang itu menjawab, "Rambut indah dan hilangnya penyakit yang membuat orang-orang menjauhiku." Malaikat itu mengusapnya lalu hilanglah penyakitnya dan ia dianugerahi rambut yang indah. Malaikat bertanya, "Apa harta yang paling engkau sukai?" Orang itu menjawab, "Sapi atau unta." Lantas ia diberi seekor sapi bunting. Malaikat berkata, "Semoga Allah memberimu keberkahan dalam sapi ini." Malaikat itu mendatangi orang buta lalu bertanya, "Apa yang paling engkau senangi?" Orang itu menjawab, "Allah mengembalikan pandanganku sehingga aku bisa melihat manusia." Dia pun mengusapnya lalu Allah mengembalikan pandangannya kepadanya. Malaikat bertanya, "Apa harta yang paling engkau inginkan?" Orang itu menjawab, "Kambing." Orang itu pun dikaruniai kambing yang tengah mengandung. Selang beberapa waktu, unta, sapi dan kambing itu melahirkan anaknya sehingga orang yang tadinya sopak memiliki satu lembah unta, orang yang tadinya botak mempunyai satu lembah sapi, dan orang yang tadinya buta mempunyai satu lembah kambing. Nabi bersabda, "Lantas malaikat tersebut mendatangi si sopak dengan (merubah) rupanya (seperti rupa si sopak) pada saat ia mendatanginya pertama kali, lalu berkata, "Aku adalah lelaki miskin yang kehabisan bekal di tengah perjalanan. Sampai hari ini tidak ada yang memberi pertolongan kepadaku kecuali dengan pertolongan Allah kemudian dengan pertolonganmu. Aku memohon kepadamu atas nama Żat yang telah memberimu warna yang indah dan kulit yang bagus serta harta. Aku minta seekor unta untuk bekal melanjutkan perjalananku." Orang itu menjawab, "Keperluan-keperluanku masih banyak sekali." Malaikat itu bertanya, "Kalau tidak salah, aku mengenalmu. Bukankah engkau dahulu seorang yang berpenyakit sopak yang dijauhi manusia? Dulu engkau miskin lalu Allah memberimu harta?" Orang itu menjawab, "Harta ini warisan dari nenek moyangku." Malaikat tersebut berkata, "Jika engkau berdusta, semoga Allah mengembalikanmu kepada keadaanmu semula." Selanjutnya malaikat itu mendatangi orang botak dengan (merubah) rupanya (seperti rupa si botak) di saat ia mendatanginya pertama kali lalu berkata kepadanya sebagaimana yang dikatakan kepada orang sopak. Orang buta itu menjawab sebagaimana jawaban orang sopak. Malaikat berkata, "Jika engkau berdusta, semoga Allah mengembalikanmu kepada keadaanmu semula." Nabi bersabda, "Malaikat itu mendatangi orang buta dengan (merubah) rupanya (seperti rupa si buta) di saat ia mendatanginya pertama kali lalu berkata, "Aku adalah lelaki miskin yang kehabisan bekal di tengah perjalanan. Sampai hari ini tidak ada yang memberi pertolongan kepadaku kecuali dengan pertolongan Allah kemudian dengan pertolonganmu. Aku memohon kepadamu atas nama Żat yang telah mengembalikan pandanganmu. Aku minta seekor kambing untuk bekal melanjutkan perjalananku." Orang itu berkata, "Dulu aku buta lalu Allah mengembalikan pandanganku. Ambillah (kambing-kambing itu) sesukamu dan sisakan sesukamu. Demi Allah, sekarang aku tidak akan memberatkanmu dengan sesuatu yang engkau ambil karena Allah." Malaikat itu berkata, "Peganglah hartamu. Sesungguhnya kalian telah diuji dan Allah telah meridaimu dan murka kepada dua sahabatmu (si sopak dan si botak)."
Muttafaq 'alaihNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menceritakan tentang kisah tiga orang dari Bani Israil yang masing-masing menderita cacat di tubuh dan kekurangan harta. Mereka itu orang sopak yang menderita penyakit dan kelainan warna di kulitnya, orang botak yang kehilangan rambut di seluruh kepalanya atau sebagiannya, dan orang buta. Allah hendak mencoba dan menguji iman dan sikap syukur mereka. Lantas Allah mengutus seorang malaikat kepada mereka dalam wujud manusia. Malaikat itu mendatangi orang sopak. Dia mendahulukan orang sopak karena penyakitnya sangat buruk, jelek dan berat lalu bertanya kepadanya, "Apa yang paling engkau inginkan?" Orang itu menjawab, "Warna indah dan kulit bagus serta dihilangkan penyakit yang telah menyebabkan orang-orang menjauhiku." Ia tidak hanya meminta warna yang baik karena kulit orang sopak dapat mengerut, mengisut dan kasar yang menambah buruk dan cacat pemiliknya. Malaikat bertanya, "Harta apa yang paling engkau inginkan?" Orang itu menjawab, "Unta" atau dia mengatakan, "Sapi". Perawi ragu-ragu, apakah dia mendengarnya dengan lafal 'unta atau sapi', namun yang benar adalah unta karena sudah dibatasi oleh perkataannya, "Selanjutnya orang itu dikaruniai seekor unta yang sedang bunting sepuluh bulan, dan itu merupakan unta paling berharga." Malaikat berkata, "Semoga Allah memberkahimu dalam unta ini." Doa malaikat tersebut dikabulkan sebagaimana dalam lanjutan hadis ini. Nabi bersabda, "Malaikat itu mendatangi orang botak lalu bertanya, "Apa yang paling engkau inginkan?" Orang itu menjawab, "Rambut bagus dan hilangnya botak yang kuderita yang membuat orang membenciku." Nabi bersabda, "Lantas malaikat itu mengusapnya," baik pada bagian penyakit saja, dan ini pendapat paling dekat, atau seluruh tubuhnya supaya keberkahannya menyeluruh. Kebotakan pun hilang dari orang itu dan ia dianugerahi rambut yang indah. Malaikat bertanya kepadanya, "Harta apa yang paling engkau inginkan?" Orang itu menjawab, "Sapi." Orang itu pun dikaruniai sapi bunting. Malaikat berkata, "Semoga Allah memberkahimu dalam sapi ini." Doa malaikat itu dikabulkan sebagaimana dalam kelanjutan hadis ini. Nabi bersabda, "Lantas malaikat itu mendatangi orang buta lalu bertanya, "Apa hal yang paling engkau inginkan?" Orang itu menjawab, "Allah mengembalikan pandanganku sehingga aku bisa melihat manusia." Nabi bersabda, "Lantas malaikat itu mengusapkan tangannya ke kedua matanya," dan mungkin saja ke seluruh tubuhnya, namun pendapat pertama lebih mendekati kebenaran sebagaimana yang sudah dipaparkan. Allah pun mengembalikan pandangannya. Malaikat bertanya, "Harta apa yang paling engkau sukai?" Orang itu menjawab, "Kambing." Lantas orang itu dianugerahi seekor kambing beranak. Ada yang berpendapat seekor kambing bunting. Para pemilik unta dan sapi (si sopak dan si botak) kemudian mengurusi kelahirannya. Demikian juga pemilik kambing (si buta) tersebut. Selanjutnya orang sopak memiliki satu lembah unta, orang botak memiliki satu lembah sapi, dan orang buta memiliki satu lembah kambing. Al-'Ainī berkata, "Beliau memperhatikan kebiasaan penggunaan (kata) di mana beliau bersabda mengenai unta dan sapi dengan ungkapan, "Antaja," (berkembangbiak) dan mengenai kambing dengan ungkapan, "Walada" (beranak). Nabi bersabda, "Selanjutnya malaikat tersebut mendatangi orang sopak dalam wujud orang sopak tersebut ketika pertama kali ia mendatanginya dan mengenakan pakaian jelek. Setelah orang sopak itu sembuh dan kaya, malaikat mendatanginya dalam rupa (orang sopak sebelumnya) saat malaikat pertama kali datang kepadanya, lalu berkata, "Aku lelaki miskin yang membutuhkan makanan. Aku sudah kehabisan bekal dan sarana untuk melanjutkan perjalananku. Sekarang aku tidak bisa lagi sampai ke tempat yang aku inginkan kecuali atas pertolongan Allah kemudian pertolonganmu karena penampilanmu yang baik dan kaya. Ungkapan dari malaikat ini mengandung sindiran yang tujuannya memahamkan suatu maksud dengan ungkapan yang dipahami bukan sesuai hakekatnya. Ia berkata, "Aku bersumpah kepadamu dengan meminta belas kasihan Żat yang telah memberimu warna indah dan kulit bagus serta harta setelah diuji dengan kefakiran dan penyakit. Aku minta satu ekor unta yang cukup untuk perjalananku." Orang sopak menjawab, "Kebutuhan-kebutuhanku sangat banyak sehingga tidak ada kelebihan harta yang bisa aku berikan kepadamu. Carilah pada selainku." Malaikat berkata, "Tampaknya aku mengenalmu. Bukankah dulu engkau sopak sehingga manusia membencimu lalu Allah menyembuhkanmu? Dulu engkau fakir lalu Allah memberimu harta?" Orang itu berkata, "Sesungguhnya aku mewarisi harta ini dari nenek moyangku." Ringkasnya, orang itu memungkiri keadaan dirinya yang buruk tersebut sebelumnya, dan mengklaim bahwa harta itu berkembang dalam situasi dirinya yang baik, alias harta itu bukan hal yang baru bagi dirinya. Tentunya ini termasuk sikap mengingkari nikmat dan kufur terhadap pemberi nikmat tersebut, faktornya adalah sifat kekikirannya. Malaikat berkata, "Jika engkau berdusta dalam pengakuanmu, semoga Allah mengembalikanmu kepada kondisimu yang semula." Nabi bersabda, "Malaikat tersebut mendatangi orang botak dalam wujud orang botak tersebut sebelumnya, yang dijauhi manusia dan rupanya yang dihina karena keadaannya yang compang-camping. Meskipun malaikat mendatangi orang itu dengan wujud dan rupa (orang botak itu sendiri) saat dia mendatanginya pertama kali yang kemudian ia memperoleh kesembuhan dan kekayaan, namun ternyata orang botak itu mengklaim tidak mengenalnya, pura-pura tidak mengetahuinya, dan bahkan membanggakan diri kepadanya bahwa harta tersebut berasal dari warisan bapaknya. Selain berdusta, orang ini juga menampakkan berbagai sikap buruk yang mengisyaratkan bahwa dia telah mencapai puncak celaan dan ketololan yang tidak pernah dicapai selainnya. Lantas malaikat itu berkata kepadanya sebagaimana yang dikatakannya kepada orang sopak. Orang botak itu pun menjawab sebagaimana jawaban orang sopak. Malaikat berkata, "Jika engkau berdusta, semoga Allah menjadikanmu kembali kepada kondisimu yang semula yaitu botak dan fakir." Nabi bersabda, "Malaikat tersebut mendatangi orang buta dengan merubah wujud menjadi manusia buta dan dalam rupa si buta yang pertama kali bertemu dahulu. Malaikat itu berkata, "Aku lelaki miskin dan musafir yang telah kehabisan bekal perjalanan. Sekarang aku tidak bisa sampai ke tempatku kecuali dengan pertolongan Allah kemudian pertolonganmu. Aku memohon kepadamu dengan nama Żat yang telah mengembalikan pandanganmu. Aku minta seekor kambing yang cukup untuk perjalananku." Orang itu menjawab dengan mengingat nikmat Allah kepadanya dan kondisinya yang baik setelah ditimpa kemelaratan, "Dulu aku buta lalu Allah mengembalikan pandanganku. Ambillah harta sesukamu dan tinggalkan sesukamu. Demi Allah, sekarang aku tidak akan memberatkanmu untuk mengembalikan apa yang telah engkau ambil." Malaikat tersebut berkata, "Peganglah hartamu! Sesungguhnya aku hanya menguji kalian, dan Allah Yang mengetahui segala urusan memperlakukanmu dengan perlakuan seorang penguji supaya menghasilkan jejak-Nya pada amal kalian. Sebab, balasan itu hanya Allah berikan berdasarkan apa yang tampak di alam nyata bukan apa yang sudah diketahui-Nya. Dia telah rida kepadamu dan murka kepada kedua sahabatmu yang sopak dan botak."
Dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa ia berperang bersama Nabi –ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ke arah Nejd. Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pulang, ia pulang bersama mereka. Ketika tiba tengah hari mereka telah berada di sebuah lembah yang banyak pohon berdurinya. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu turun (dari tunggangannya), dan orang-orangpun berpencar mencari naungan pohon. Adapun Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka beliau singgah beristirahat di bawah pohon Samurah (salah satu jenis pohon berduri). Beliau menggantungkan pedang di pohon ini dan kami pun tidur sesaat. Tiba-tiba Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memanggil kami, dan ternyata di depannya ada seorang arab badui. Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang ini menghunus pedangku untuk mencelakaiku saat aku tidur, lalu aku bangun sedang pedang terhunus di tangannya. Ia berkata, “Siapa yang bisa melindungimu dariku?” Aku menjawab, “Allah”. -Ini terjadi tiga kali-. Beliau tidak menghukum orang tersebut, dan beliau duduk.” (Muttafaq 'Alaih). Dalam riwayat lain, Jābir menuturkan, “Kami bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam perang Żātu ar-Riqā’. Kami mendatangi sebuah pohon rindang yang kami tinggalkan untuk tempat istirahat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lalu seorang laki-laki dari kaum musyrik datang, sementara pedang Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tergantung di pohon itu. Orang itu menghunusnya, lalu berkata, “Engkau takut padaku?” Beliau menjawab, “Tidak.” Ia berkata, “Siapa yang bisa melindungimu dariku?” Beliau menjawab, “Allah.” Dalam riwayat Abu Bakar al-Ismā'īlī dalam kitab Ṣaḥiḥ-nya disebutkan, “Orang itu berkata, “Siapa yang bisa melindungimu dariku?” Beliau menjawab, “Allah.” Ia menuturkan, “Maka pedang itu jatuh dari tangannya, lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengambilnya dan berkata, “Siapa yang bisa melindungimu dariku?” Orang itu berkata, “Jadilah sebaik-baik orang yang membalas?” Beliau bersabda, “Engkau bersedia bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku utusan Allah?” Ia menjawab, “Tidak, tapi aku berjanji tidak memerangimu dan tidak bekerjasama dengan orang-orang yang memerangimu.“ Lalu beliau melepaskannya. Lantas orang itu mendatangi kawan-kawannya dan berkata, “Aku datang pada kalian dari sisi sebaik-baik manusia.”
Muttafaq 'alaihDalam hadis ini, Jābir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa ia berperang bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Di kalangan ahli sirah, peperangan ini dikenal dengan perang Ẓātu ar-Riqā'. Di tengah kepulangan mereka dari perang ini, tepat pada pertengahan hari, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berhenti di satu tempat yang banyak pohon berdurinya. Orang-orangpun berpencar meninggalkan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk mencari tempat bernaung dari terik matahari, sedangkan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- istirahat di bawah sebatang pohon yang rindang bernama Samurah. Beliau menggantungkan pedang di pohon tersebut, kemudian beliau dan para sahabatnya tidur. Selanjutnya salah seorang arab badui yang diperangi oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam perang ini menyelinap masuk di tengah mereka tanpa mereka sadari. Orang itu mengambil pedang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan sembunyi-sembunyi. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu terbangun. Beliau menceritakan, “Orang ini menghunus pedangku untuk mencelakaiku saat aku tidur, lalu aku bangun.” Orang arab badui itu mengambil pedang dan menggunakannya sebagai senjata untuk membunuh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ia mengatakan, “Siapa yang bisa melindungimu dariku bila aku ingin membunuhmu?” Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, “Allah.” Ia mengulangi perkataan ini tiga kali (dan selalu mendapat jawaban sama). Maksudnya, Allah akan melindungi kami dari kejahatanmu. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengucapkan jawaban ini dengan penuh kepercayaan pada Allah, berserah diri pada-Nya dan yakin pada janji-Nya. Lantas pedang itu terjatuh dari tangan orang kafir itu, lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memungutnya, dan balik berkata padanya, “Siapa yang melindungimu dariku (apabila aku ingin membunuhmu)?”. Orang kafir itu menjawab, “Jadilah pembalas yang paling baik.” Maksudnya adalah jadilah orang yang memaafkan, mengampuni dan membalas keburukan dengan kebaikan. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkata padanya, “Engkau bersedia bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku utusan Allah?” Orang itu menjawab, “Tidak.” Akan tetapi ia berjanji pada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk tidak lagi memerangi beliau dan tidak bergabung dengan orang-orang yang memerangi beliau. Lantas Nabi -'alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām- melepaskannya. Orang itu kembali pada sahabat-sahabatnya, lalu berkata, “Aku datang pada kalian dari hadapan sebaik-baik manusia.” Faktanya memang seperti yang diucapkan orang kafir ini sebab Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah manusia paling baik akhlaknya. Hal ini cukup dibuktikan oleh rekomendasi Allah untuk beliau dalam firman-Nya, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Dari Abu al-Faḍal Al-'Abbās bin Abdul Muṭṭalib -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku mengikuti perang Hunain bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Aku dan Abu Sufyān bin al-Ḥariṡ bin Abdul Muṭṭalib senantiasa bersama menemani Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Kami tidak pernah berpisah dari beliau, sementara Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menunggang bigal (peranakan kuda dengan keledai) yang berwarna putih. Ketika pasukan Islam dan pasukan musyrik bertemu, pasukan Islam pun mundur. Lantas, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- segera bergerak memacu bigal beliau menuju pasukan kafir, sedang aku yang memegang tali kendali bigal tersebut. Aku tahan tali kendali tersebut agar bigalnya tidak terlalu kencang, sedangkan Abu Sufyan menahan pijakan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Hai 'Abbās, panggillah orang-orang yang pernah mengikuti Baiat Ridwan di dekat pohon Samurah!" Maka 'Abbās - dan dia memang seorang lelaki yang bersuara lantang- berteriak. Dia ('Abbās) berkata, "Aku memanggil dengan suaraku yang paling keras: "Di manakah orang-orang yang pernah mengikuti Baiat Ridwan di dekat pohon Samurah?!" Demi Allah, ketika mendengar suaraku, mereka segera tanggap dan simpatik, bagaikan rasa sayang induk sapi terhadap anak-anaknya. Mereka segera berkata, "Labbaik, labbaik (Kami penuhi panggilanmu)." Mereka pun bertempur menyerang orang-orang kafir. Sementara itu, seruan kaum Anṣār berbunyi, "Wahai kaum Anṣār, wahai kaum Anṣār." Kemudian seruan itu terdengar sampai kepada Bani al-Ḥāriṡ bin al-Khazraj. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memperhatikan dari atas bigal beliau peperangan yang sedang berkecamuk, beliau bersabda, "Inilah waktu berkobarnya api pertempuran!" Setelah itu, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengambil beberapa batu kerikil lalu melemparkannya ke wajah orang-orang kafir. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdoa, "Semoga mereka kalah, demi Rabb Muhammad." Aku pun pergi untuk melihatnya, ternyata pertempuran itu berjalan sebagaimana layaknya sebuah peperangan yang pernah aku lihat. Meskipun demikian, demi Allah, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hanya melempari mereka dengan batu-batu kerikil, maka mereka pun kalah. Sementara itu, aku terus melihat kekuatan mereka (orang-orang kafir) semakin melemah, sampai akhirnya mereka mundur."
Diriwayatkan oleh MuslimDari Abu Al-Faḍal Al-'Abbās bin Abdul Muṭṭalib -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku mengikuti perang Ḥunain bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ketika pasukan Islam dan pasukan musyrik bertemu, lalu terjadilah peperangan sengit di antara mereka, sebagian kaum muslimin beranjak mundur dari kaum musyrikin. Lantas, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- segera bergerak memacu bigal (peranakan kuda dengan keledai) beliau dengan kakinya menuju pasukan kafir, sedang aku yang memegang tali kendali bigal Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, aku menahannya agar bigal tersebut tidak terlalu kencang ke arah musuh, sedangkan Abu Sufyān menahan pijakan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Wahai 'Abbās, panggillah orang-orang yang pernah berbait di bawah pohon Samurah pada hari Ḥudaibiyah pada tahun keenam -'Abbās adalah orang yang lantang suaranya- maka aku memanggil dengan suaraku yang paling keras, "Wahai orang-orang yang pernah mengikuti Baiat Riḍwan di dekat pohon Samurah?!" Yakni janganlah melupakan baiat kalian yang terjadi di bawah pohon dan apa konsekuensi dari baiat tersebut. Lalu 'Abbās berkata, "Demi Allah, ketika mereka mendengar suaraku memanggil mereka, mereka segera bergegas datang sebagaimana induk sapi bergegas untuk mencari anak-anaknya saat hilang." Lantas mereka menjawab bersama-sama atau satu per satu: "Ya labbaik, ya labbaik (Kami penuhi panggilanmu)." Maka kaum muslimin dan orang-orang kafir pun bertempur. Sementara itu, seruan untuk kaum Anṣār, "Wahai kaum Anṣār, wahai kaum Anṣār." Kemudian seruan itu terdengar sampai kepada Bani al-Ḥāriṡ bin al-Khazraj, lalu mereka diseru: Wahai Bani al-Ḥāriṡ. Mereka adalah kabilah/suku besar. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memperhatikan dari atas bigal beliau (peperangan yang sedang berkecamuk), seakan-akan beliau menjulurkan lehernya tinggi-tinggi untuk melihat peperangan antara orang-orang kafir tersebut. Beliau bersabda, "Inilah waktu berkobarnya api pertempuran." Setelah itu beliau mengambil beberapa batu kerikil lalu melemparkannya ke wajah-wajah orang kafir. Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda -untuk memberikan rasa optimis atau untuk mengabarkan, "Semoga mereka kalah, demi Rabb Muhammad." Aku pun pergi untuk melihatnya, ternyata pertempuran itu berjalan sebagaimana layaknya sebuah peperangan yang pernah aku lihat. Meskipun demikian, demi Allah, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hanya melempari mereka dengan batu-batu kerikil. Sementara itu, aku terus melihat kekuatan mereka (orang-orang kafir) semakin melemah dan keadaan mereka menjadi terhina.