





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia mengatakan, "Seseorang datang pada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu ia mengatakan, "Sungguh aku sedang kesulitan." Beliau lantas mengirim seorang utusan pada seorang istri beliau, dan istri ini mengatakan, "Demi Żat yang mengutusmu (Rasulullah) membawa kebenaran, aku hanya punya air." Kemudian beliau mengutusnya ke istri yang lain, yang lain juga menjawab seperti ucapan di atas, hingga semua istri beliau memberikan jawaban seperti itu, "Tidak. Demi Żat yang mengutusmu membawa kebenaran, aku hanya memiliki air." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu bersabda, "Siapa yang mau menjamu orang ini di malam ini?" Seorang dari kaum Anṣar mengatakan, "Aku (yang akan menjamunya), wahai Rasulullah." Lalu ia membawa orang tersebut ke rumahnya. Ia berkata pada istrinya, "Muliakanlah tamu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Dalam riwayat lain, ia berkata pada istrinya, "Apakah engkau punya sesuatu (makanan)?" Istrinya menjawab, "Tidak, selain makanan anak-anakku." Ia berkata, "Sibukkan mereka dengan sesuatu, dan apabila mereka menginginkan makan malam, maka tidurkanlah mereka. Lalu apabila tamu kita masuk, padamkan lampu dan berpura-puralah padanya bahwa kita sedang makan." Mereka pun duduk. Si tamu makan, sementara keduanya melalui malam dalam keadaan lapar. Di pagi harinya, lelaki dari kaum Anṣar ini datang pada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka beliau bersabda, "Sungguh Allah suka pada perbuatan kalian berdua terhadap tamu kalian tadi malam."
Muttafaq 'alaihSeseorang datang pada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata, "Sungguh aku mendapati kesulitan dan rasa lapar." Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengirim utusan pada seorang istrinya yang lalu mengatakan, "Demi Allah, aku tidak memiliki selain air." Beliau lalu mengirim utusan pada istri yang lain dan ternyata memberi jawaban serupa. Beliau melakukan hal ini pada semua istri beliau dan mereka mengatakan seperti jawaban di atas. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa yang mau menjamu orang ini di malam ini?" Seorang laki-laki dari kaum Anṣar menjawab, "Aku akan menjamunya wahai Rasulullah." Kemudian ia membawa tamu tersebut ke rumahnya, dan berkata pada istrinya, "Apakah engkau punya suatu makanan yang bisa kita berikan pada tamu." Si istri menjawab, "Tidak, selain makanan anak-anak." Ia berkata, "Sibukkan mereka dengan sesuatu dan apabila mereka menginginkan makan, tidurkanlah mereka." Ia juga memerintahnya memadamkan lampu sehingga sang tamu mengira keduanya sedang makan juga. Akhirnya tamu itu kenyang, sedang keduanya melewati malam tanpa makan malam demi memuliakan tamu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Keesokan harinya, lelaki Anṣar ini datang pada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan beliau mengabarinya bahwa Allah takjub pada perbuatan keduanya di malam tersebut. Makna takjub di sini sesuai pengertian lahirnya, karena itu perbuatan aneh yang layak dikagumi. Ini merupakan sifat pekerjaan yang ditetapkan oleh Ahlussunnah wal Jamaah tanpa penyerupaan dan juga permisalahan. Ini merupakan ketakjuban karena menganggap baik, bukan mengingkari, artinya; Allah -'Azzā wa Jallā- menilai baik perbuatan keduanya di malam tersebut.
Dari Syaddād bin Aus -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku menghafal dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dua hal, beliau bersabda, 'Sesungguhnya Allah Mahabaik dan mencintai kebaikan dalam segala sesuatu, maka jika kalian membunuh (perang) perbaikilah cara kalian membunuh, dan jika kalian menyembelih maka perbaikilah cara kalian menyembelih, dan hendaklah seseorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan hewan sembelihannya'."
Diriwayatkan oleh Abdurrazzāq - Diriwayatkan oleh MuslimSyaddād bin Aus -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa beliau mempelajari dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dua hal. Pertama, sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Sesungguhnya Allah Maha Baik dan mencintai kebaikan kepada segala sesuatu", maka diantara nama-nama Allah adalah Al-Muḥsin, yaitu: Yang memberi karunia, Pemberi nikmat, maha Pengasih dan Penyantun. Allah yang maha Suci suka memberikan karunia, nikmat, rahmat dan kasih sayang kepada segala sesuatu. Adapun perkara kedua merupakan hasil dari perkara pertama, yaitu sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Jika kalian membunuh maka perbaikilah cara kalian membunuh dan jika kalian menyembelih maka perbaikilah cara kalian menyembelih, dan hendaklah seseorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan hewan sembelihannya". Maksudnya: jika kalian ingin membunuh jiwa yang dibolehkan untuk dibunuh seperti orang kafir harbi, orang murtad, membunuh pembunuh (kisas) atau lainnya, maka wajib bagi kalian memperbaiki cara dan bentuk pembunuhan tersebut. Begitu juga jika kalian menyembelih hewan, maka kalian wajib memperbaiki cara menyembelih dengan memudahkan sembelihan, menajamkan pisau, menyegerakan sembelihan dan sebagainya. Juga disunnahkan untuk tidak mengasah pisau di depan hewan sembelihan, dan tidak menyembelih di hadapan hewan lain, serta tidak menyeretnya menuju tempat penyembelihan.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Seorang muslim yang senantiasa mendatangi masjid untuk salat dan zikir, maka Allah merasa gembira dengannya sebagaimana keluarga yang ditinggalkan pergi merasa gembira dengan kedatangan anggotanya yang merantau."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh AhmadSeorang muslim yang senantiasa mendatangi masjid untuk salat, zikir di dalamnya dan melakukan itu terus-menerus, maka sesungguhnya Allah -Ta'ālā- riang dan gembira dengannya sebagaimana gembiranya keluarga orang yang ditinggalkan saat kedatangan anggotanya yang merantau. Tidak dibolehkan menakwilkan sifat Al-Basybasyah (gembira) dengan kasih atau sayang atau arti lainnya, tetapi harus ditetapkan sebagai salah satu sifat bagi Allah -Ta'ālā- tanpa taḥrīf (merekayasa perubahan), ta'ṭīl (pengosongan) dan tanpa takyīf (mempertanyakan kaifiyatnya), dan tanpa tamṡīl (menyerupakannya). Tentunya dengan mengetahui bahwa di antara konsekwensi Al-Basybasyah ialah kasih dan sayang. Hanya Allah Yang Maha tahu.
Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', Pada hari kiamat nanti Allah menyerahkan seorang Yahudi atau Nasrani kepada setiap Muslim lalu berfirman, "Inilah orang yang menjadi tebusanmu dari neraka." Dalam riwayat lain, "Kelak pada hari kiamat akan datang satu golongan kaum Muslimin membawa dosa-dosa seperti gunung dan Allah memberikan ampunan kepada mereka."
Diriwayatkan oleh MuslimMakna hadis ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, "Setiap orang memiliki tempat tinggal di surga dan tempat tinggal di neraka. Seorang Mukmin apabila masuk surga, maka orang kafir akan menggantikannya di neraka karena ia pantas untuk itu disebabkan kekafirannya." Arti "Fikākuka" sesungguhnya engkau rentan masuk neraka dan orang ini menjadi tebusanmu. Sebab, Allah -Ta'ālā- sudah menakdirkan jumlah tertentu yang memenuhi neraka. Jika orang-orang kafir masuk neraka dengan membawa dosa-dosa dan kekafiran mereka, maka berarti mereka menjadi tebusan bagi kaum Muslimin. Hanya Allah Yang Maha tahu.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dia berkata, "Tidak ada orang yang dapat berbicara saat masih dalam buaian kecuali tiga orang; (Pertama) Isa bin Maryam. (Kedua) Seseorang pada kisah Juraij. Juraij asalnya adalah orang yang taat beribadah. Lalu dia membuat tempat ibadah. Ibunya mendatanginya ketika dia sedang salat dan memanggilnya, "Wahai Juraij." Dia (Juraij) berkata (dalam hati), "Ya Tuhanku! Apakah aku penuhi panggilan ibuku atau aku teruskan salatku. Akhirnya dia teruskan salatnya. Lalu sang ibu pulang. Keesokan harinya sang ibu datang lagi saat Juraij sedang salat. Dia berkata, "Wahai Juraij." Juraij berkata (dalam hati), "Ya Tuhanku! Apakah aku penuhi panggilan ibuku atau aku teruskan salatku. Lalu dia memilih meneruskan salatnya. Keesokan harinya sang ibu datang lagi saat Juraij sedang salat. Dia berkata, "Wahai Juraij." Juraij berkata (dalam hati), "Ya Tuhanku! Apakah aku penuhi panggilan ibuku atau aku teruskan salatku. Lalu dia memilih meneruskan salatnya. Maka berkatalah sang ibu, "Ya Allah! Jangan matikan dia sebelum melihat wajah pelacur." Maka Bani Israel menyebut-nyebut Juraij dan ibadahnya. Kemudian ada seorang wanita pelacur yang terkenal cantik, dia berkata, "Kalau kalian mau, saya akan menggodanya." Lalu dia menggodanya, namun Juraij tak mempedulikannya. Maka wanita pelacur itu mendatangi seorang penggembala yang sedang berteduh di bawah rumah ibadah itu. Lalu dia menggodanya untuk berbuat zina. Maka terjadilah perzinaan di antara mereka. Kemudian wanita itu hamil. Ketika telah melahirkan, dia berkata, 'Ini anak dari Juraij.' Masyarakat pun mendatanginya dan memaksanya turun lalu rumah ibadahnya dirobohkan. Merekapun memukulinya. Dia berkata, 'Ada apa kalian ini?' Mereka berkata, 'Engkau telah berzina dengan wanita pelacur ini sehingga dia melahirkan anak darimu.' Juraij berkata, 'Mana anaknya?' Mereka membawakan bayi tersebut. Dia berkata, "Biarkan aku salat!" Lalu dia salat. Setelah selesai salat dia datangi anak bayi tersebut dan dia tekan perutnya seraya berkata, "Wahai anak kecil, siapa bapakmu?" Anak itu menjawab, "Si penggembala" Maka orang-orang mengerumuni Juraij, mencium dan mengusap-usapnya. Mereka berkata, "Kami akan bangunkan rumah ibadahmu dari emas." Dia berkata, "Tidak, bangunlah kembali dari tanah liat seperti semula!" Lalu mereka kerjakan. (Ketiga) ketika seorang bayi sedang menyusu pada ibunya, lewatlah seseorang yang menunggang kendaraannya yang tampak mewah dan berpenampilan bagus. Sang ibu berkata, "Ya Allah! Jadikanlah anakku seperti orang itu." Lalu sang bayi melepas sedotan dari payudara ibunya dan memandang orang itu seraya berkata, "Ya Allah! Jangan jadikan aku seperti orang itu!" Kemudian dia kembali menyusu kepada ibunya lagi. Aku melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mempraktekkan anak yang sedang menyusu tersebut dengan mememasukkan jari telunjuknya ke mulutnya dan beliau hisap. Kemudian beliau melanjutkan perkataannya, "Lalu lewat lagi seorang budak wanita yang sedang dipukul orang-orang seraya berkata, "Engkau telah berzina dan mencuri, sedangkan wanita tersebut hanya berkata, "Ḥasbiyallāhu wa ni'mal wakīl." Maka sang ibu berkata, "Ya Allah! Jangan jadikan anakku seperti dia." Lalu anak itu melepas susuannya dan memandang ibunya, kemudian dia berkata, "Ya Allah! Jadikanlah aku seperti dia." Maka ibu dan anak itu saling berbicara. Sang ibu berkata, "Ketika ada orang yang berpenampilan bagus, aku berdoa, Ya Allah! Jadikan puteraku seperti dia", engkau katakan, "Ya Allah! Jangan jadikan aku seperti dia." Lalu ketika ada seorang budak wanita yang sedang dipukuli seraya mereka berkata, "Engkau telah berzina dan mencuri" Lalu aku berdoa, "Ya Allah! Jangan jadikan puteraku seperti dia". Lalu engkau berkata, "Ya Allah! Jadikan aku seperti dia?!" Anak itu berkata, "Laki-laki itu adalah orang yang angkuh, maka aku berdoa, "Ya Allah! Jangan jadikan aku seperti dia." Sedangkan terhadap orang yang kalian katakan, "Engkau telah berzina dan mencuri, dia tidak berzina dan tak mencuri. Maka aku berdoa, "Ya Allah! Jadikan aku seperti dia."
Muttafaq 'alaihDari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Tidak ada yang berbicara ketika masih dalam buaian kecuali tiga orang." Maksudnya hari-hari pertama ketika dia masih bayi. Mereka adalah: Pertama: Isa bin Maryam -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Isa bin Maryam adalah salah satu di antara tanda kebesaran Allah, dia dapat berbicara saat berada dalam ayunan. Kedua: Seorang anak pada masa Juraij. Juraij adalah seorang ahli ibadah. Allah bebaskan Juraij dari tuduhan yang hendak dialamatkan kepadanya dengan memperlihatkan karomah padanya yaitu dengan berbicaranya anak bayi yang menjelaskan bahwa dia tidak salah. Dia membuat tempat ibadah. Suatu hari, ibunya datang ketika dia sedang salat, "Wahai Juraij." Dia (Juraij) berkata (dalam hati), "Ya Tuhanku, apakah aku penuhi panggilan ibuku atau aku teruskan salatku. Dia bimbang, apakah memutuskan salat untuk menjawab ibunya atau meneruskan salatnya. Akhirnya dia teruskan salatnya. Lalu sang ibu pulang. Keesokan harinya sang ibu datang lagi saat Juraij sedang salat. Maka kejadian seperti kemaren terulang kembali. Keesokan harinya, sang ibu datang lagi saat Juraij sedang salat, dan kejadian kemaren terulang kembali. Maka sang ibu berdoa, "Ya Allah! Jangan matikan dia sebelum melihat wajah pelacur." Maka Bani Israel menyebut-nyebut Juraij dan ibadahnya. Kemudian ada seorang wanita pelacur yang terkenal cantik, dia berkata, "Kalau kalian mau, saya akan menggodanya, sehingga dia meninggalkan salatnya dan terjerumus ke dalam perzinaan." Lalu dia menggodanya, namun Juraij tak mempedulikannya. Maka wanita pelacur itu mendatangi seorang penggembala dan berzina dengannya. Kemudian wanita itu hamil. Ketika telah melahirkan, dia berkata, 'Ini anak dari Juraij.' Masyarakat pun mendatanginya dan memaksanya turun lalu rumah ibadahnya dirobohkan. Merekapun memukulinya. Dia berkata, 'Ada apa kalian ini?' Mereka berkata, 'Engkau telah berzina dengan wanita pelacur ini sehingga dia melahirkan anak darimu.' Juraij berkata, 'Mana anaknya?' Merekapun membawakan bayi tersebut. Dia berkata, "Biarkan aku salat!" Lalu dia salat. Setelah selesai salat dia datangi anak bayi tersebut dan dia tekan perutnya seraya berkata, "Wahai anak kecil, siapa bapakmu?" Anak itu menjawab, "Si penggembala" Maka orang-orang mengerumuni Juraij, mencium dan mengusap-usapnya. Mereka berkata, "Kami akan bangunkan rumah ibadahmu dari emas." Dia berkata, "Tidak, bangunlah kembali dari tanah liat seperti semula!" Lalu mereka kerjakan. Ketiga: Bayi yang sedang menyusu kepada ibunya. Lalu lewat seorang laki-laki menunggang kudanya yang mewah dengan penampilan yang bagus. Dan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat menyebutkan kisah anak yang menyusu itu dengan praktek memasukkan jari telunjuknya ke mulutnya dan menghisapnya untuk memperjelas masalah. Lalu sang ibu berkata, "Ya Allah! Jadikanlah anakku seperti orang itu." Maka sang anak berkata, "Ya Allah! Jangan jadikan aku seperti dia!" Kemudian mereka mendapati seorang budak wanita yang sedang dipukuli sambil mereka berkata, "Engkau telah berzina dan mencuri." Sementara wanita itu berkata, "Ḥasbunallāhu wa ni'mal wakīl." Maka ibu anak kecil itu berkata sambil menyusui, "Ya Allah! Jangan jadikan anakku seperti dia." Lalu sang anak melepaskan susuannya dan melihat ke orang itu dan berkata, "Ya Allah! Jadikan aku seperti dia?" Lalu ibu dan anak itu terlibat pembicaraan. Sang ibu berkata, "Aku melewati seseorang yang berpenampilan baik, lalu aku berkata, "Ya Allah! Jadikan anakku seperti dia." Kemudian engkau berkata, "Ya Allah! Jangan jadikan aku seperti dia." Sang anak berkata, "Ya. Karena orang itu adalah orang yang keras dan pembangkang, makanya aku mohon kepada Allah agar Dia tidak menjadikan aku sepertinya." Adapun wanita yang kalian katakan, "Engkau berzina dan mencuri" sementara wanita itu berkata, "Ḥasbiyallāhu wa ni'mal wakīl". Maka aku katakan, "Ya Allah! Jadikan aku seperti dia". Maksudnya adalah jadikanlah aku suci dari perbuatan zina dan mencuri sambil menyerahkan urusanku kepada Allah seperti ucapannya, "Ḥasbiyallāhu wa ni'mal wakīl." (Dalil Al-Falihin, 3/81,87, Syarah Riyadhus-Shalihin, Ibnu Utsaimin, 3/70,78.
Dari Sa'īd bin Jubair ia berkata, Aku berkata kepada Ibnu Abbas, "Sesungguhnya Nauf Al-Bakāli mengklaim bahwa Musa (yang bersama Khiḍir) bukanlah Musa (Nabi) Bani Israil, namun dia adalah Musa yang lain." Maka dia (Ibnu Abbas) berkata, "Musuh Allah itu berdusta." Ubay bin Ka'ab menceritakan kepadaku dari Nabi -șallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Suatu ketika Nabi Musa berkhutbah di hadapan Bani Israil, kemudian beliau ditanya, “Siapa orang yang paling berilmu?” Nabi Musa menjawab, “Akulah orang yang paling berilmu.” Allah lalu menegurnya karena ia tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya ( ia tidak menjawab bahwa Allah-lah Yang Maha Mengetahui). Kemudian Allah berfirman kepada Nabi Musa, “Sesungguhnya di pertemuan dua laut sana ada hamba-Ku yang lebih berilmu daripada kamu.” Nabi Musa bertanya, “Ya Rabb, bagaimana aku bisa bertemu dengannya.” Allah berfirman, “Bawalah seekor ikan di dalam keranjang. Jika ikan itu lepas, di situlah hamba-Ku itu berada.” Kemudian Nabi Musa pergi dengan ditemani oleh pelayannya yang bernama Yūsya’ bin Nun dan keduanya membawa seekor ikan di dalam keranjang. Sesampainya di sebuah batu karang besar, mereka berdua berbaring dan tidur. Maka ikan yang mereka bawa itu lepas dari keranjang, kemudian melompat ke laut, dan hal ini membuat Nabi Musa dan pelayannya heran (setelah mengetahuinya). Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan pada sisa malam yang masih ada hingga tiba pagi hari (tanpa menyadari hilangnya ikan tersebut). Ketika pagi harinya, Musa berkata kepada muridnya, “Bawalah kemari makanan kita, sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan ini.” Musa tidaklah merasakan keletihan kecuali setelah melewati tempat yang diperintahkan untuk didatangi. Muridnya kemudian berkata kepadanya, “Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, aku lupa menceritakan tentang ikan itu, dan tidak ada yang membuatku lupa untuk mengingatnya kecuali setan.” Musa berkata, “Itulah (tempat) yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Ketika mereka sampai di batu besar itu, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menyelimuti dirinya dengan kain atau terselimuti dengan kain, lalu Musa memberi salam kepadanya. Kemudian Khiḍir berkata, “Bagaimana bisa ada salam di negerimu?” Musa berkata, “Aku Musa.” Khiḍir berkata, “Apakah Musa (Nabi) Bani Israil?” Ia menjawab, “Ya.” Musa berkata, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk?” Khiḍir berkata, “Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku, wahai Musa! Sesungguhnya aku memiliki ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya, demikian pula engkau memiliki ilmu yang Dia ajarkan kepadamu dan aku tidak mengetahuinya.” Musa berkata, “Engkau akan mendapatiku -insya Allah- sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan membangkang perintahmu.” Keduanya pun pergi berjalan di pinggir laut, sedang mereka berdua tidak memiliki perahu. Lalu ada sebuah perahu yang melintasi mereka berdua, maka keduanya berbicara dengan penumpangnya agar mengangkut mereka berdua dan ternyata diketahui (oleh para penumpangnya) bahwa yang meminta itu adalah Khiḍir, maka mereka pun mengangkut keduanya tanpa upah. Tiba-tiba ada seekor burung pipit yang turun ke tepi perahu kemudian mematuk sekali atau dua kali patukan ke laut. Khiḍir berkata, “Wahai Musa, ilmuku dan ilmumu yang berasal dari Allah tidak lain seperti patukan burung ini ke laut (tidak ada apa-apanya di hadapan ilmu Allah), lalu Khiḍir mendatangi salah satu papan (dinding) perahu kemudian mencabutnya.” (Melihat keadaan itu) Musa berkata, “Mereka ini kaum yang telah membawa kita tanpa imbalan, namun engkau lubangi perahu mereka agar penumpangnya tenggelam?”. Khiḍir berkata, “Bukankah aku telah mengatakan bahwa engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku?.” Musa berkata, “Janganlah engkau hukum aku karena kelupaanku dan janganlah engkau bebankan aku perkara yang sulit!” Kejadian pertama ini terjadi karena Musa lupa. Lalu keduanya melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba ada seorang anak yang sedang bermain dengan anak-anak yang lain, kemudian Khiḍir memegang kepalanya dari atas, lalu mencopot kepala tersebut dengan tangannya. Musa berkata, “Apakah engkau membunuh satu jiwa yang bersih bukan karena ia membunuh orang lain?” Khiḍir berkata, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku?” [Ibnu 'Uyainah berkata, "Teguran Khiḍir (yang kedua ini) lebih tegas." Keduanya pun melanjutkan perjalanan sehingga ketika mereka sampai ke penduduk suatu kampung, keduanya meminta agar penduduk tersebut menjamu mereka, namun mereka tidak mau menjamu keduanya. Lalu keduanya mendapatkan rumah yang hampir roboh di kampung itu, maka Khiḍir menegakkannya, Khiḍir melakukannya dengan tangannya. Musa pun berkata, “Sekiranya engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu.” Maka Khiḍir berkata, “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu.” Nabi -șallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Semoga Allah merahmati Nabi Musa, kita benar-benar mengharapkan seandainya ia bisa bersabar agar bisa dikisahkan kepada kita semua perkara yang terjadi di antara mereka berdua."
Muttafaq 'alaihSa'īd bin Jubair berkata bahwa dia memberitahu Ibnu Abbas bahwa seseorang bernama Nauf Al-Bakāli mengklaim bahwa Musa yang bersama Khiḍir bukanlah Musa yang diutus kepada Bani Israil, namun dia adalah Musa yang lain. Maka Ibnu Abbas berkata, “Musuh Allah telah berdusta.” Ucapan ini beliau ucapkan sebagai teguran keras dan peringatan, bukan celaan terhadap Nauf karena Ibnu Abbas mengatakan hal itu dalam keadaan marah, dan kebanyakan ungkapan kemarahan itu terlontar bukan sesuai makna hakikinya, adapun penyematan kata dusta kepadanya dikarenakan ia mengatakan sesuatu yang menyelisihi fakta serta hal itu tidak berarti ia sengaja berdusta. Kemudian Ibnu Abbas berdalil atas kedustaan Nauf bahwa Ubay bin Ka’ab telah menceritakan dari Nabi -șallallāhu ‘alaihi wa sallam- bahwa Musa berdiri menyampaikan khutbah di hadapan Bani Israil, lalu seseorang bertanya kepadanya, “Siapa manusia yang paling berilmu?” Musa menjawab, “Aku manusia yang paling berilmu.” Ini diucapkan oleh Musa -‘alaihis-salām- sesuai dengan keyakinannya, maka Allah -‘Azzā wa Jallā- menegurnya karena tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya dan tidak mengatakan, “Allah Yang Maha Mengetahui.” Lantas Allah -Ta’ālā- mewahyukan kepadanya bahwa ada seorang hamba di antara hamba-hamba-Ku yang bernama Khiḍir di tempat pertemuan dua lautan, dia lebih berilmu darimu. Musa pun berkata, “Wahai Rabb, bagaimanakah cara untuk menemuinya?” Allah berkata kepadanya, “Bawalah seekor ikan di dalam keranjang, jika ikan itu lepas maka engkau akan menemukan Khiḍir di sana. Lalu Musa berangkat bersama seorang pembantunya yang bernama Yūsya’ bin Nūn dan mereka membawa seekor ikan di dalam keranjang sebagaimana yang Allah perintahkan. Hingga ketika mereka berada di sebuah batu besar di pesisir pantai, mereka berdua merebahkan kepala mereka di atas tanah dan tertidur. Lalu ikan itu keluar dari dalam keranjang dan mengambil jalan (melompat) ke laut, lalu Allah menahan aliran air pada tempat lewatnya ikan itu sehingga menjadi seperti jalan (menyerupai jembatan). Dihidupkannya ikan itu dan ditahannya aliran air tersebut hingga menjadi sebuah jalan, membuat takjub Musa dan pembantunya (setelah mereka menyadarinya suatu saat nanti.) Lalu mereka melanjutkan sisa perjalanan mereka sehari semalam. Tatkala pagi menjelang, Musa berkata kepada pembantunya, “Bawakanlah makanan kita, sungguh kita capek dengan perjalanan ini. Musa -‘alaihis-salām- tidak merasakan lelah hingga dia melewati tempat yang diperintahkan kepadanya, maka ia pun merasa lapar dan letih. Lalu pembantunya berkata kepadanya, “Sesungguhnya ketika kita berada di batu besar tadi aku telah kehilangan ikan itu.” Lantas Musa berkata, “Itulah tempat yang kita cari karena itu adalah tanda keberadaan Khiḍir. Lalu keduanya kembali ke jalan yang mereka datangi sebelumnya sambil mengikuti jejak mereka berdua. Tatkala mereka tiba di batu besar itu tiba-tiba terdapat seorang laki-laki yang menyelimuti dirinya dengan pakaian/kain, lalu Musa mengucapkan salam kepadanya, maka Khiḍir berkata, “Bagaimana bisa ada salam di negerimu?” yakni apakah di negeriku ini ada ucapan salam? Ini adalah kata tanya yang bermakna ‘istib’ād (penafian) yang menunjukkan bahwa penduduk negeri tersebut belum ada pada saat itu yang beragama Islam. Lalu Musa berkata kepada Khiḍir, “Saya adalah Musa.” Maka Khiḍir berkata kepadanya, “Engkau Musa yang diutus kepada Bani Israil?” Musa pun menjawab, “Iya.” Ini menunjukkan bahwa para Nabi dan orang-orang selain mereka tidak mengetahui perkara gaib kecuali apa yang Allah -Ta’ālā- ajarkan kepada mereka, karena seandainya Khiḍir mengetahui setiap perkara gaib pasti dia akan mengenal Musa sebelum menanyakannya. Inilah syāhid (poin pendalilan) yang karenanya Ibnu Abbas menyebutkan hadis ini. Kemudian Musa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang telah diajarkan Allah kepadamu?” Hal ini tentunya tidak menafikan derajat kenabiannya dan keadaannya sebagai pembawa syariat untuk belajar dari selain dirinya selagi itu bukan merupakan syarat (pokok ajaran) di dalam bab-bab agama karena sesungguhnya Rasul seyogyanya lebih berilmu daripada orang yang ia diutus kepadanya dalam perkara risalahnya berupa pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, bukan dalam seluruh perkara secara mutlak. Lalu Khiḍir menjawab dengan ucapannya, “Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku karena sebenarnya aku akan melakukan perkara-perkara yang tampaknya kemungkaran namun hakekatnya engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.” Kemudian ia berkata, “Wahai Musa, sesungguhnya aku memiliki ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya, demikian pula engkau memiliki ilmu yang Dia ajarkan kepadamu dan aku tidak mengetahuinya.” Maka Musa berkata kepadanya, “Engkau akan mendapatiku -insya Allah- sebagai orang yang sabar bersamamu, tidak akan mengingkarimu dan aku tidak akan pernah mendurhakai perintahmu.” Keduanya pun pergi berjalan di pinggir laut, sedang mereka berdua tidak memiliki perahu, lalu ada sebuah perahu yang melintasi mereka berdua, maka keduanya berbicara dengan para pemilik perahu itu agar mengangkut mereka berdua dan ternyata para pemilik perahu itu tahu bahwa yang meminta itu adalah Khiḍir, maka mereka pun mengangkut keduanya tanpa upah. Tiba-tiba ada seekor burung pipit lalu hinggap di tepi perahu kemudian mematuk sekali atau dua kali patukan ke laut. Lalu Khiḍir berkata, “Wahai Musa, ilmuku dan ilmumu yang berasal dari Allah tidak lain seperti patukan burung ini ke laut (tidak ada apa-apanya di hadapan ilmu Allah). Lalu Khiḍir mendatangi papan di antara papan-papan perahu kemudian mencabutnya dengan kapak hingga perahu itu berlubang dan air pun masuk. Lantas Musa -‘alaihis-salām- berkata kepadanya, “Mereka adalah orang-orang yang telah membawa kita tanpa meminta upah, namun engkau malah melubangi perahunya agar penumpangnya tenggelam!” Khiḍir berkata memperingatkannya dengan apa yang ia katakan sebelumnya, “Bukankah aku telah mengatakan bahwa engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku?” Musa berkata, “Janganlah engkau hukum aku karena kelupaanku dan janganlah engkau bebankan padaku perkara yang sulit, karena hal tersebut mempersulitku untuk mengikutimu!” Untuk masalah yang pertama ini, sebabnya adalah karena Musa -‘alaihis-salām- lupa. Selanjutnya keduanya pun melanjutkan perjalanan setelah keluar dari perahu itu, tiba-tiba ada seorang anak yang sedang bermain dengan anak-anak yang lain, kemudian Khiḍir memegang kepala anak itu, lalu ia menarik kepalanya dengan tangannya (mencekiknya). Maka Musa pun berkata kepada Khiḍir -‘alaihis-salām-, “Apakah engkau membunuh satu jiwa yang suci dari dosa-dosa, kita tidak pernah melihatnya melakukan satu dosa yang menyebabkan ia harus dibunuh atau ia membunuh orang lain sehingga ia pun harus dibunuh?!” Khiḍir berkata kepada Musa -‘alaihis-salām-, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku?” Pada lafal teguran kali ini ada tambahan kata “la-ka (kepadamu)” sebagai tambahan penegasan dalam teguran. Oleh karena itu Sufyan bin 'Uyainah yaitu salah satu perawi hadis ini berkata, “Ini (teguran kedua Khiḍir) lebih tegas.” Ia berdalil dengan tambahan kata "la-ka" pada lafal teguran kedua ini. Keduanya pun melanjutkan perjalanan sehingga ketika mereka sampai ke penduduk suatu kampung, keduanya meminta kepada mereka makanan, namun mereka menolak untuk menjamu keduanya, sehingga mereka tidak mendapatkan jamuan di kampung itu dan tidak pula mendapati tempat menginap. Lalu keduanya menemukan rumah yang hampir roboh di kampung tersebut, maka Khiḍir mengisyaratkan dengan tangannya lalu menegakkannya. Musa pun berkata kepada Khiḍir, “Sekiranya engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu sehingga bisa menjadi bekal buat perjalanan kita.” Maka Khiḍir berkata kepada Musa -‘alaihis-salām-, “Interupsi ketiga ini menjadi sebab perpisahan antara aku dan engkau.” Nabi -șallallāhu ‘alaihi wa sallam- lalu bersabda, “Semoga Allah merahmati Musa, sungguh kita benar-benar berkeinginan dan berharap seandainya ia bisa bersabar sehingga kita dapat menambah pengetahuan tentang ilmu dan hikmah yang terjadi di antara mereka berdua.”
Dari Abu Yunus Saliīm bin Jubair, mantan budak sahaya Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku pernah mendengar Abu Hurairah membaca ayat berikut, "Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya..." sampai firman-Nya, "Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. An-Nisā`: 58). Dia berkata, "Aku melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meletakkan ibu jarinya di telinganya dan jari berikutnya di matanya." Abu Hurairah berkata, "Aku pernah melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membaca ayat tersebut dan meletakkan dua jarinya."
Diriwayatkan oleh Abu DaudAbu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- membaca ayat berikut, "Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya..." sampai firman-Nya, "Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. An-Nisā`: 58). Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan bahwa dirinya pernah melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membaca ayat itu dan meletakkan jari kelimanya yang keras (ibu jari) ke telinganya dan jari selanjutnya (telunjuk) ke matanya, untuk menegaskan penetapan sifat mendengar dan melihat bagi Allah -Ta'ālā-. Juga untuk mencegah takwil orang-orang yang menyimpang, dan di dalamnya tidak ada penyerupaan dengan makhluk berdasarkan firman Allah -Ta'ālā-, "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." Iman kepada semua nas-nas ini mengharuskan hal-hal tersebut.
Dari Abu Sulaimān Khālid bin Al-Walīd -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Pada saat perang Muktah, ada sembilan bilah pedang patah di tanganku, maka tidak ada lagi yang tersisa di tanganku kecuali satu pedang Yaman."
Diriwayatkan oleh BukhariKhālid bin Al-Walīd -raḍiyallāhu 'anhu- adalah pedang Allah, tentara kavaleri Islam, singa perang, dan panglima para mujahidin. Ia termasuk tokoh Quraisy pada masa jahiliah. Ia masuk Islam sebelum penaklukan Makkah dan dalam perang Uhud ikut menjadi pasukan musyrikin Quraisy lalu masuk Islam. Ini merupakan bukti kesempurnaan kekuasaan Allah -'Azza wa Jalla- dan kendali segala urusan ada di tangan-Nya. Dia membuat sesat siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. Khālid bin Al-Walīd mengabarkan tentang sembilah bilah pedang yang patah di tangannya dalam perang Muktah pada tahun ke delapan hijriah. Ini bagian dari keberanian Khālid bin Al-Walīd -raḍiyallāhu 'anhu-. Tidak ada pedang yang tinggal bersamanya kecuali sebuah pedang yang lebar dari Yaman.
Dari Abu Mas’ūd Al-Badri -raḍiyallāhu ‘anhu- ia berkata, “Aku pernah memukul budak lelakiku dengan cambuk, lalu aku mendengar suara dari belakangku, “Ketahuilah, wahai Abu Mas’ūd.” Aku tidak memahami suara itu karena larut dalam emosi. Tatkala orang itu mendekat, ternyata ia adalah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu beliau bersabda, “Ketahuilah wahai Abu Mas’ūd, sesungguhnya Allah lebih kuasa menghukummu daripada dirimu menghukum budak lelaki ini.” Lalu aku berkata, “Aku tidak akan memukul seorang budak pun setelah ini selamanya.” Dalam riwayat lain: “Lalu cambuk itu terjatuh dari tanganku karena segan terhadap kewibawaan beliau.” Dan dalam riwayat lain: Maka aku berkata, "Wahai Rasulullah, dia merdeka (bebas) demi mengharap wajah Allah -Ta’ālā-.” Maka beliau bersabda, “Adapun jika engkau tidak melakukan hal itu, niscaya engkau dilahap api neraka atau niscaya api neraka akan memanggangmu.”
Diriwayatkan oleh MuslimDahulu Abu Mas’ūd -raḍiyallāhu ‘anhu- pernah memukul budaknya dengan cambuk, lalu ia mendengar suara yang menegurnya dari belakang, namun dia tidak dapat mengenali suara orang yang berkata tersebut. Tatkala orang yang menegurnya itu mendekat kepadanya, ia pun mengetahui bahwa itu adalah suara Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lalu beliau mengingatkannya dengan kekuasaan Allah -‘Azzā wa Jallā- dengan sabdanya, “Ketahuilah wahai Abu Mas’ūd, sesungguhnya Allah lebih kuasa menghukummu daripada dirimu menghukum budak lelaki ini.” Tatkala ia mendengar sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan peringatan kerasnya dari menyakiti orang yang lemah, cambuk itu pun terjatuh dari tangannya karena segan terhadap Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan ia berjanji kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk tidak menyakiti seorang budak pun setelah itu selamanya. Setelah dia mendengarkandari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-teguran dan peringatan, maka tidak ada pilihan baginya -raḍiyallāhu ‘anhu- kecuali membebaskan budaknya sebagai penebus pukulannya. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, Seandainya engkau tidak membebaskannya niscaya api neraka akan melahapmu pada hari kiamat karena buruknya perbuatanmu.