





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Abdullah bin Ja'far -raḍiyallāhu 'anhuma- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberi tempo kepada keluarga Ja'far selama tiga hari, lalu beliau mendatangi mereka. Beliau bersabda, "Janganlah kalian menangisi saudaraku setelah hari ini!" Beliau bersabda kembali, "Panggilkan anak-anak saudaraku!" Kami pun dibawa, seolah-olah kami ini anak-anak burung. Beliau bersabda, "Panggilkan tukang cukur!" Selanjutnya beliau menyuruhnya untuk mencukur kepala kami."
Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadMakna hadis: Ketika Ja'far bin Abi Ṭālib mati syahid di perang Mu`tah, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberi tempo kepada keluarga Ja'far selama tiga hari agar jiwa mereka menjadi tenang dan kesedihan serta nestapa yang ada dalam diri mereka hilang. Selanjutnya beliau bersabda kepada mereka, "Janganlah kalian menangisi saudaraku setelah hari ini!" Yakni, beliau melarang mereka menangis setelah tiga hari karena benturan pertama dan masa kesedihan itu tidak lama dan tidak akan terus-menerus. Larangan di sini untuk tanzih karena memang dibolehkan menangis setelah tiga hari selama tidak diiringi dengan hal-hal haram. Lantas beliau bersabda kembali, "Panggilkan anak-anak saudaraku!" Mereka adalah Muhammad, Abdullah dan Auf, anak-anak Ja'far. Abdullah berkata, "Kami pun dibawa, seolah-olah kami ini anak-anak burung". Al-Farakh adalah anak burung. Dinamakan demikian karena mereka ditimpa kesedihan atas kehilangan ayahnya. Beliau bersabda, "Panggilkan tukang cukur!" Selanjutnya beliau menyuruhnya untuk mencukur kepala kami." Yakni, bahwa Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan tukang cukur untuk mencukur kepala mereka. Kepala mereka dicukur karena beliau melihat kelalaian ibu mereka, Asma` binti Umais -raḍiyallāhu 'anha- dalam merapikan rambut mereka disebabkan musibah yang menimpanya akibat gugurnya suaminya di jalan Allah. Beliau pun merasa kasihan melihat kotoran dan kutu pada mereka. Jika hal itu dihilangkan, maka akan menjadi bermanfaat dan berguna serta rehat bagi ibu mereka yang sedang ditimpa sesuatu yang membuatnya lengah dalam memperhatikan rambut anak-anaknya. Catatan: Sebagaimana diketahui bahwa mencukur rambut ketika ada musibah adalah tidak boleh. Dalam hadis disebutkan, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melaknat Aṣ-Ṣāliqah, Al-Hāliqah, dan Asy-Syāqqah." Al-Hāliqah adalah wanita yang mencukur rambutnya saat terjadi musibah. Asy-Syāqqah adalah wanita yang merobek pakaiannya saat terjadi musibah. Aṣ-Ṣāliqah adalah wanita yang mengangkat suaranya saat terjadi musibah. Mencukur rambut anak-anak Ja'far bukan karena tidak menerima kematiannya, tetapi tujuan mencukur rambut mereka setelah ia meninggal dunia adalah karena ibu mereka lengah dalam memperhatikan kepala mereka sehingga beliau pun khawatir mereka ditimpa gangguan kutu. Untuk itu beliau memerintahkan agar mencukur kepala mereka. Cukur di sini bukan pengaruh dari musibah.
Dari An-Nu'mān bin Basyīr -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, “Abdullah bin Rawāḥah -raḍiyallāhu 'anhu- pernah pingsan hingga membuat saudara perempuannya menangis dan berkata padanya, "Duhai gunung tempatku bernaung, begini dan begitu,” Ia berulang kali katakan hal kepada (saudara)nya. Ketika Abdullah sadar, ia berkata, “Tidaklah kamu katakan sesuatu melainkan dikatakan kepadaku, “Benarkah kamu demikian?!”
Diriwayatkan oleh BukhariAn-Nu'mān bin Basyīr -raḍiyallāhu 'anhumā- memberitahukan bahwa Abdullah bin Rawāḥah -raḍiyallāhu 'anhu- pernah sakit hingga ia pingsan karena kerasnya penyakit tersebut. Tatkala saudara perempuannya -raḍiyallāhu 'anhā- melihat kondisinya tersebut, ia mengira bahwa Abdullah bin Rawāhah -raḍiyallāhu 'anhu- telah meninggal dunia, sehingga ia pun menangis, meratap dan berkata, “wā jabalāh” (Duhai gunung tempatku bernaung), maknanya adalah bahwa Abdullah bin Rawāḥah -raḍiyallāhu 'anhu- baginya bagaikan gunung tempat ia berlindung ketika terjadi berbagai peristiwa, maka ia pun memegangnya dengan erat, menjadikannya sebagai tempat ia bersandar dalam segala urusannya, dan ia sebutkan berbagai kebaikan dan jasanya dengan cara orang-orang jahiliah. Tatkala Abdullah sadar dari pingsannya, ia beritahukan kepada saudarinya itu tentang apa yang telah terjadi atas dirinya (dalam kondisi pingsan), yaitu bahwa telah dikatakan kepadanya, “Apakah kamu bagaikan gunung tempat mereka berlindung? Apakah kamu begini dan begitu seperti apa yang mereka sebutkan tentang dirimu?" Setiap sifat yang ia sebutkan, semua itu diberitahukan kepadanya -raḍiyallāhu 'anhu- dalam kondisi pingsan. Ini adalah sebuah bentuk ejekan dan ancaman yang berat. Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa ketika Abdullah bin Rawāḥah -raḍiyallāhu 'anhu- meninggal dunia, saudarinya tadi tidak lagi meratapinya dan telah mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut.
Dari 'Iyāḍ bin Ḥimār Al-Mujāsyi’ī -raḍiyallāhu ‘anhu-, bahwasanya Rasulullah -șallallāhu ‘alaihi wa sallam- pada suatu hari dalam khutbahnya bersabda, "Ketahuilah, sesungguhnya Rabb-ku telah memerintahkan kepadaku untuk mengajarkan apa saja yang kalian tidak tahu dari apa-apa yang telah Dia ajarkan kepadaku pada hari ini; 'Setiap harta yang Aku berikan kepada hamba-Ku adalah halal. Dan sesungguhnya Aku telah ciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan hanif (beragama tauhid), kemudian setan datang kepada mereka lalu mengeluarkan mereka dari agama mereka, mengharamkan apa saja yang Aku halalkan bagi mereka, dan memerintahkan mereka untuk melakukan menyekutukan-Ku padahal Aku tidak pernah menurunkan keterangan tentangnya.' Sesungguhnya Allah melihat kepada penduduk bumi, maka Dia pun murka kepada mereka, kepada bangsa arab maupun bangsa ajamnya (selain arab), kecuali sebagian dari Ahli Kitab. Dia berfirman, "Sesungguhnya Aku mengutusmu untuk mengujimu dan menguji orang lain denganmu, dan Aku menurunkan kepadamu sebuah kitab yang tidak bisa dihapus dengan air, kamu bisa membacanya tatkala tidur dan terjaga.' Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membakar kaum Quraisy, lalu aku berkata, “Wahai Rabb-ku, jika demikian mereka akan memecahkan kepalaku hingga seperti sepotong roti.” Allah menjawab, “Keluarkan mereka sebagaimana mereka mengeluarkan (mengusir)mu, perangilah mereka, (karena) Kami menjadikanmu untuk berperang, berinfaklah maka Kami akan berinfak untukmu, utuslah pasukan perang, akan Kami utus lima kali pasukan yang engkau utus, dan berperanglah bersama-sama dengan orang yang mentaatimu terhadap orang yang membangkang padamu (bermaksiat kepadamu). Dia berkata, "Penduduk surga ada tiga golongan, yaitu: penguasa yang adil, dermawan dan mendapatkan petunjuk dari Allah; seorang yang penyayang dan lembut hatinya kepada setiap kerabatnya dan setiap Muslim; dan seseorang yang menjaga diri dari kemaksiatan, tidak mengemis meskipun memiliki banyak tanggungan." Dia berkata, "Sedangkan penghuni neraka ada lima golongan: orang lemah yang tiada menggunakan akalnya, mereka hanya menjadi pengikut dan tiada berusaha mencari harta dan mengurus keluarga; pengkhianat yang tamak, biarpun perkara kecil dikhianatinya juga; orang yang di waktu pagi dan petang senantiasa menipumu keluarga dan hartamu; (dan dia menyebutkan) Orang bakhil (pelit) atau pembohong; dan orang yang suka berkata kotor."
Diriwayatkan oleh MuslimSuatu hari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkhutbah di hadapan para sahabatnya, lalu beliau mengabarkan kepada mereka bahwa Allah -Ta'ālā- memerintahkannya untuk mengajarkan mereka tentang apa yang tidak mereka ketahui dari apa yang telah diajarkan oleh Rabb-nya kepada beliau pada hari itu. Di antara perkara yang telah diajarkan Rabb-nya adalah firman-Nya (dalam hadis qudsi): “Setiap harta yang Aku anugerahkan kepada seorang hamba adalah halal”, yakni Allah -Ta'ālā- berfirman bahwa setiap harta Aku berikan kepada salah seorang hamba-Ku maka harta tersebut halal baginya. Hal ini dimaksudkan untuk mengingkari tindakan mereka yang mengharamkan beberapa jenis binatang, dan bahwa tindakan mereka itu tidak menyebabkan binatang-binatang tersebut menjadi haram karena pengharaman mereka. Jadi, setiap harta yang dimiliki oleh seorang hamba, maka halal untuknya sampai ada hak (lain) yang berkaitan dengannya atau ada dalil tertentu yang mengeluarkannya dari keumuman (kehalalan) tersebut. Kemudian Allah -Ta'ālā- berfirman, "Dan sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan beragama hanif (tauhid)", yakni seluruhnya dalam keadaan Muslim (berserah diri). Dikatakan juga bahwa maknanya: dalam keadaan suci dari kemaksiatan. Ada juga yang mengatakan, maknanya: dalam keadaan lurus dan siap untuk menerima hidayah. Dikatakan juga: bahwa maknanya adalah ketika diambil perjanjian atas mereka (di alam ruh) saat Dia berfirman, “Bukankah Aku Rabb kalian.” Mereka menjawab, “Iya benar.” Firman Allah -Ta'ālā-, “Kemudian setan datang kepada mereka mengeluarkan mereka dari agama (tauhid) mereka, mengharamkan apa saja yang Aku halalkan bagi mereka, dan memerintahkan kepada mereka untuk menyekutukan-Ku, padahal Aku tidak pernah menurunkan keterangan tentangnya”, yakni setan datang kepada mereka lalu mempengaruhi mereka, menyesatkan mereka, dan menghilangkan dari mereka apa-apa yang dahulu ada pada diri mereka untuk menjerumuskan mereka kepada kebatilan, kemudian setan mengharamkan bagi mereka apa yang Allah halalkan untuk mereka dan memerintahkan mereka agar berbuat syirik kepada Allah dengan menyembah apa-apa yang tidak pernah Allah perintahkan untuk disembah, serta tidak ada satu dalil pun yang menunjukkan bahwa sesuatu itu berhak diibadahi. Sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, “Sesungguhnya Allah melihat kepada penduduk bumi, Dia pun murka kepada mereka, kepada bangsa arabnya maupun bangsa ajamnya (selain arab), kecuali sebagian dari Ahli Kitab.” Yakni Allah -Ta'ālā- melihat kepada penduduk bumi sebelum pengutusan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu Dia mendapati mereka kompak melakukan kesyirikan dan kesesatan, maka Allah menjadi murka kepada mereka kecuali sebagian dari Ahli Kitab, yaitu orang-orang yang masih berpegang teguh dengan agama mereka yang hak tanpa (adanya) perubahan, dan mayoritas Ahli Kitab berada di atas (agama yang) diselewengkan. Firman Allah -Ta'ālā-, “Sesungguhnya Aku mengutusmu untuk mengujimu dan menguji orang lain denganmu”, maknanya: Sesungguhnya Aku telah mengutusmu kepada manusia untuk mengujimu dengan apa yang tampak darimu dari pelaksanaan apa yang telah Aku perintahkan kepadamu berupa penyampaian risalah kenabian dan selain itu berupa jihad di jalan Allah dengan benar, bersabar di jalan Allah dan lain sebagainya. Dan Aku menguji denganmu orang-orang yang Aku utus engkau kepada mereka, maka di antara mereka ada orang yang tampak imannya dan ikhlas dalam ketaatannya, ada orang yang menyelisihi serta menampakkan permusuhan dan kekufuran, dan ada pula yang berbuat kemunafikan. Maksudnya adalah untuk mengujinya agar hal itu terjadi secara nyata. Karena sesungguhnya Allah -Ta'ālā- menghukum/menyiksa para hamba atas apa yang mereka kerjakan, bukan atas apa yang Dia ketahui sebelum terjadinya, meskipun Allah -Ta'ālā- tentu Maha Mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya. “Dan aku menurunkan sebuah kitab yang tidak bisa terhapus oleh air.” Maknanya: Aku telah menurunkan kepadamu Al-Qur`ān yang terjaga/tersimpan di dalam dada manusia, tidak akan hilang, bahkan akan tetap kekal sepanjang zaman. Firman Allah -Ta'ālā-, “Engkau membacanya tatkala tidur dan terjaga.” Maknanya: Al-Qur`ān itu terjaga untukmu dalam dua keadaan; tidur dan terjaga. Dikatakan pula bahwa maknanya: engkau membacanya dalam keadaan gampang dan mudah. Sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, “Dan sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membakar kaum Quraisy.” Yakni Allah memerintahkanku untuk menghancurkan dan membunuh orang-orang kafir Quraisy. “Lalu aku berkata, “Wahai Rabbku, jika demikian maka mereka akan memecahkan kepalaku lalu membiarkannya sepotong roti.” Yakni mereka akan memecahkan kepalaku sebagaimana mereka memecahkan roti. Allah berfirman, “Keluarkan mereka sebagaimana mereka mengeluarkanmu.” Yakni Allah berkata kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Usirlah orang-orang kafir Quraisy seperti mereka telah mengusirmu sebagai balasan yang setimpal, meskipun di antara kedua bentuk pengusiran tersebut terdapat perbedaan yang jelas, karena sesungguhnya mereka mengusir beliau dengan kebatilan dan beliau mengusir mereka dengan kebenaran. “Perangi mereka niscaya Kami menolongmu untuk berperang.” Yakni berjihadlah melawan mereka niscaya Kami membantu dan menolongmu mengalahkan mereka. “Berinfaklah maka Kami akan berinfak untukmu.” Yakni infakkan apa yang menjadi usahamu di jalan Allah maka Kami akan memberikan untukmu penggantinya di dunia dan akhirat. “Utuslah pasukan perang niscaya akan Kami utus lima kali pasukan seperti yang engkau utus.” Yakni jika engkau mengutus pasukan untuk memerangi orang-orang kafir, maka Kami akan mengutus lima kali pasukan semisalnya dari kalangan Malaikat yang akan membantu kaum Muslimin sebagaimana yang Dia lakukan di (perang) Badr. “Dan berperanglah bersama orang yang mentaatimu terhadap orang yang mendurhakaimu”, yakni perangilah orang-orang yang mendurhakaimu dari kalangan orang-orang kafir bersama orang-orang yang menaatimu dari kalangan kaum Muslimin. Dia berkata, “Penduduk surga ada tiga golongan, yaitu: para penguasa yang adil, dermawan, dan mendapatkan petunjuk dari Allah; seseorang yang penyayang dan lembut hatinya kepada setiap kerabat dan setiap Muslim; dan seseorang menjaga diri dari kemaksiatan dan tidak mengemis meskipun memiliki banyak tanggungan.” Yakni penghuni surga ada tiga golongan, yaitu seseorang yang memiliki hukum dan kekuasaan, namun demikian ia bersikap adil di antara manusia, tidak menzalimi mereka dan ia berbuat baik kepada mereka. Sungguh orang ini telah disiapkan bagi dirinya sebab-sebab kebaikan dan dibukakan bagi dirinya pintu-pintu kebaikan; Orang yang penyayang terhadap anak kecil dan orang tua, lembut hatinya kepada setiap orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengannya secara khusus dan kepada setiap Muslim secara umum; Serta seseorang yang memiliki keluarga (banyak tanggungan) lantas ia menjaga diri (dari kemaksiatan), menjauhi (perkara) yang haram, menjaga diri dari mengemis kepada manusia, dan bertawakal kepada Allah dalam urusannya dan urusan keluarganya. Rasa cintanya kepada keluarga dan rasa takutnya akan rezekinya tidak menyebabkan dirinya meninggalkan sikap tawakal lantas menggantinya dengan mengemis kepada makhluk, mencari harta dengan cara yang haram, dan membuatnya tersibukkan oleh mereka (keluarga) dari ilmu dan amal yang wajib dilakukannya. “Dan penghuni neraka ada lima golongan: Orang lemah yang tidak menggunakan akalnya, mereka hanya menjadi pengikut dan tidak berusaha mencari harta dan mengurus keluarga; pengkhianat yang tamak, meskipun perkara kecil dia tetap mengkhianatinya; orang yang diwaktu pagi dan petang senantiasa menipumu keluarga dan hartamu; Dan beliau menyebutkan juga orang yang bakhil (pelit) atau pembohong dan orang yang suka berkata kotor.” Yakni penghuni neraka itu ada lima golongan: Yang pertama: “Orang lemah yang tidak ada akalnya” yakni orang lemah yang tidak menggunakan akalnya untuk memperingatinya dan menahannya dari sesuatu yang tidak layak. “Mereka hanya menjadi pengikut di antara kalian; tidak berusaha mencari harta dan mengurus keluarga.” Yakni orang-orang yang tidak mencari istri, lalu mereka berpaling dari yang halal dan melakukan yang haram, mereka juga tidak mencari harta yang halal dengan berusaha dan mencari mata pencaharian yang baik. Yang kedua: “Pengkhianat yang tamak, meskipun perkara kecil dia tetap mengkhianantinya.” Yakni tidak ada sesuatupun yang tersembunyi baginya dari suatu hal yang orang bisa tamak dengannya, yang mana hal itu hampir-hampir tidak dapat ditemui, melainkan dia berusaha untuk mengintainya dan mencari-carinya hingga dia mendapatkannya lalu ia mengkhianatinya. Ini adalah bentuk pensifatan yang berlebihan tentang suatu pengkhianatan. Yang ketiga: penipu. Yang keempat: pembohong atau orang yang bakhil (pelit). Yang kelima: orang yang suka berkata keji/kotor lagi buruk akhlaknya.
Dari Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- ia berkata, “Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah berdoa dengan mengucapkan, “Wahai Rabb-ku! Berilah aku pertolongan dan janganlah Engkau menolong (musuh) terhadapku, berilah aku kemenangan dan jangan berikan kemenangan (musuh) atasku, berilah aku taktik/tipu daya (melawan musuh) dan jangan Engkau memberikan tipu daya (musuh) terhadapku! Berilah petunjuk kepadaku, dan mudahkanlah petunjuk untukku, dan tolonglah aku menghadapi orang yang berbuat zalim terhadapku! Ya Allah, jadikanlah aku orang yang bersyukur kepada-Mu, berzikir kepada-Mu, takut kepada-Mu, tunduk kepada-Mu, khusyuk dan kembali kepada-Mu. Wahai Rabb-ku, terimalah taubatku, cucilah dosaku, kabulkanlah doaku, kokohkanlah hujjahku, berilah petunjuk kepada hatiku, luruskanlah lisanku, dan cabutlah dengki dari hatiku.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah berdoa dengan mengucapkan, "Rabbi a'innī," yakni berikanlah kepadaku taufik untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu. "Wa lā tu'in 'alayya," yakni janganlah memenangkan atasku orang yang akan mencegahku dari mentaati-Mu dari kalangan setan manusia dan jin. "Wa unṣurnī wa lā tanṣur 'alayya," yakni tolonglah aku atas orang-orang kafir dan janganlah jadikan mereka menang atasku, atau tolonglah aku menghadapi jiwaku karena sesungguhnya ia musuhku yang paling berbahaya dan janganlah memenangkan jiwa yang memerintahkan kepada keburukan atasku yaitu dengan mengikuti hawa nafsu dan meninggalkan petunjuk. "Wamkur lī wa lā tamkur 'alayya," yakni tipu dayalah musuh-musuhku yang membuat makar/tipu daya dan jatuhkanlah mereka dengan cara yang tidak mereka sadari dan janganlah lakukan hal itu terhadapku. Membuat makar/tipu daya di antara sifat-sifat Allah -Ta’ālā- al-fi’liyyah (yang menunjukkan perbuatan), akan tetapi Dia tidak disifatkan dengannya secara mutlak, namun disifatkan dengannya ketika penyifatan tersebut adalah suatu pujian bagi-Nya, seperti makar-Nya terhadap orang-orang kafir dan orang yang membuat makar terhadap orang-orang Mukmin dan yang semisalnya. Tidak boleh menafikan/meniadakan sifat makar dari Allah -Ta’ālā- karena Dia menetapkannya untuk diri-Nya, maka kita pun harus menetapkannya untuk-Nya sesuai dengan yang pantas bagi-Nya. "Wa ihdinī wa yassir hudāya ilayya," yakni tunjukkan aku kepada kebaikan dan mengikuti hidayah atau jalan-jalan petunjuk sehingga aku tidak berat melakukan ketaatan dan tersibukkan dari menunaikan ibadah. "Wa unṣurnī 'alā man bagā 'alayya," yakni tolonglah aku terhadap orang yang berbuat zalim kepadaku dan menggangguku. "Allāhumma ij'alnī laka syākiran," (Ya Allah, jadikanlah aku orang yang bersyukur kepada-Mu) yakni atas segala nikmat. "Laka żākiran," (berzikir kepada-Mu) pada semua waktu. "Laka rāhiban," (takut kepada-Mu) yakni takut pada waktu senang dan susah. "Laka mithwā'an," (tunduk kepada-Mu) yakni banyak tunduk dan patuh. "Ilaika mukhbitan," yakni tunduk, khusyuk, dan merendahkan diri. "Munīban," yakni kembali kepada-Mu dalam keadaan bertaubat karena taubat itu adalah kembali dari kemaksiatan menuju ketaatan. "Rabbi taqabbal taubatī," yakni jadikan ia (taubatku) benar dengan terpenuhi syarat-syarat dan adab-adabnya agar ia (taubatku) tidak luput dari pengabulan. "Wagsil ḥaubatī," yakni hapuskanlah dosaku. "Wa ajib da'watī," yakni kabulkan doaku. "Wa ṡabbit hujjatī," (kokohkanlah hujjahku) yakni atas musuh-musuh-Mu di dunia, atau kokohkanlah perkataanku dan kejujuranku di dunia dan tatkala menjawab pertanyaan dua malaikat (di kubur). "Wahdi qalbī wa saddid lisānī," yakni benarkan dan luruskan lisanku sehingga tidak mengatakan kecuali kejujuran dan tidak berbicara kecuali dengan kebenaran. "Waslul sakhīmata qalbī," yakni keluarkan sifat menipunya, permusuhannya, kebenciannya, kedengkiannya, dan sifat-sifat buruk semisalnya yang tumbuh dari dada dan tertanam di dalam hati.
Abdullah bin 'Amru -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Sesungguhnya Allah -'Azza wa jalla- menciptakan makhluk-Nya dalam kegelapan, kemudian Allah memberi mereka penerang dari cahaya-Nya. Siapa yang terkena cahaya tersebut, ia memperoleh petunjuk, dan siapa yang meleset darinya maka ia tersesat”. Oleh karena itu aku katakan, “Telah kering pena dalam pengetahuan Allah."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadHadis ini menerangkan bahwa Allah -'Azza wa jalla- menciptakan makhluk-Nya dalam kegelapan dan memberikan kepada mereka penerang dari cahaya-Nya. Siapa yang terkena cahaya tersebut, maka ia akan mendapatkan petunjuk ke jalan surga, dan siapa yang meleset darinya dan cahaya itu tidak sampai kepadanya maka ia akan tersesat dan keluar dari jalan kebenaran; karena petunjuk dan kesesatan itu datang sesuai dengan pengetahuan Allah, dan sesuai dengan apa yang telah ditentukan-Nya sejak zaman azali, tidak berubah dan tidak berganti, dan keringnya pena adalah ungkapannya.
Dari Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Aku melihat Jibril di atas Sidratu al-Muntahā, dan ia memiliki 600 sayap." Perawi berkata, "Aku bertanya kepada 'Āṣim tentang sayap-sayap itu? Namun ia enggan memberitahuku. Lantas sebagian sahabatnya mengabariku bahwa satu sayap (lebarnya) antara timur dan barat."
Diriwayatkan oleh AhmadNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melihat Jibril di tingkatan surga paling tinggi dan ia memiliki 600 sayap. Lalu perawi bertanya kepada 'Āṣim bin Abi Bahdalah tentang bentuk sayap-sayap ini? Namun 'Āṣim tidak memberitahunya. Lantas sebagian sahabatnya memberitahukan bahwa setiap sayap besarnya bisa menutup ruang antara timur dan barat. Ini telah disebutkan dalam beberapa hadis sahih lainnya, "Bentuk ciptaannya yang besar menutupi ruang antara timur dan barat."
Dari Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa dia berkata tentang ayat ini, “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain.” (QS. An-Najm: 13) Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Aku melihat Jibril di Sidratul Muntaha, ia memiliki enam ratus sayap yang berhamburan di bulunya intan dan permata dengan warna yang berbeda-beda."
Diriwayatkan oleh AhmadIbnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- menyebutkan tentang tafsir firman Allah -Ta’ālā-, “Dan sesungguhnya dia (Muhammad) telah melihatnya (Jibril dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain” bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa beliau melihat Jibril -'alaihis salām- di surga yang paling tinggi di Sidratul Muntaha dalam wujud yang Allah ciptakan ia dengannya. Ia (Jibril) memiliki enam ratus sayap yang berhamburan di bulunya intan dan permata dengan warna yang berbeda-beda.
Dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Pada malam di mana aku melakukan Isrā`, aku melewati Jibril di antara para malaikat yang mulia, ia seperti pakaian yang lusuh karena takut kepada Allah -'Azzā wa Jallā-.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi 'Āṣim - Diriwayatkan oleh ṬabarāniDalam hadis ini Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyebutkan bahwa ketika beliau dinaikkan ke langit pada malam Isrā` dan Mi'rāj, beliau melewati Jibril yang tengah bersama para malaikat yang dekat kedudukannya dengan Allah. Beliau melihat Jibril dengan kondisi layaknya pakaian lusuh lagi tipis karena besarnya rasa takutnya kepada Allah -'Azzā wa Jallā-. Ini menunjukan keutamaan ilmu Jibril -'alaihis-salām- terhadap Allah -Ta'ālā- karena siapa yang lebih tahu tentang Allah maka ia lebih takut kepada-Nya.
Dari Abdullah bin Zubair -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda pada saat orang-orang melarikan diri dari sisi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hingga sebagian mereka sampai di perkampungan di gunung arah Madinah. Selanjutnya mereka kembali lagi kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, sedangkan pada saat itu Ḥanẓalah bin Abi 'Āmir sedang berduel dengan Abu Sufyan bin Ḥarb. Saat Ḥanẓalah berhasil mengunggulinya, ternyata Syaddād bin al-Aswad melihatnya, ia pun segera menebaskan pedangnya kepada Ḥanẓalah hingga tewas padahal saat itu ia hampir saja membunuh Abu Sufyan. Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya sahabat kalian, Ḥanẓalah, dimandikan oleh para malaikat. Maka tanyalah istrinya (tentang sebabnya)." Istrinya berkata, "Dia keluar dalam keadaan junub saat mendengar seruan jihad." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu bersabda, "Karena itulah dia dimandikan oleh para malaikat."
Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbān - Diriwayatkan oleh Baihaqi - Diriwayatkan oleh HakimDalam perang Uhud, pada awalnya kaum muslimin mendapatkan kemenangan. Kemudian ketika para pemanah melanggar perintah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka terjadilah suatu kekalahan dan sebagian kaum muslimin kabur meninggalkan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sehingga sebagian mereka sampai ke kampung-kampung di dekat sebuah gunung di arah Madinah. Selanjutnya mereka kembali lagi kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, sedangkan saat itu Ḥanẓalah bin Abi 'Āmir sedang berduel dengan Abu Sufyan bin Ḥarb, panglima perang kaum musyrikin dalam pertempuran. Ketika Ḥanẓalah sudah mengalahkannya dan hampir membunuhnya, tiba-tiba seorang lelaki musyrik, yaitu Syaddād bin al-Aswad, melihatnya lalu menebas Ḥanẓalah dengan pedangnya hingga menewaskannya. Ketika perang usai, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahu para sahabat bahwa para malaikat memandikan jenazah Ḥanẓalah, dan beliau menyuruh mereka untuk bertanya kepada istri Ḥanẓalah mengenai keadaannya. Mereka pun bertanya kepada istrinya. Ia lalu memberitahu mereka bahwa ketika Ḥanẓalah mendengar seruan jihad, ia pun keluar dalam keadaan junub. Dengan demikian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahu mereka bahwa para malaikat telah memandikannya karena dia mati syahid dalam keadaan junub.