





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, "Beberapa orang datang menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meminta agar diutus bersama mereka orang-orang yang akan mengajarkan mereka Al-Qur`ān dan Sunah, maka Nabi mengirim untuk mereka tujuh puluh orang dari kaum Anṣār, mereka disebut: Qurrā' (para penghafal Al-Qur`ān), diantara mereka pamanku yang bernama Harām, mereka rajin membaca Al-Qur`ān, mengulang-ulanginya pada malam hari dan mempelajari isinya, dan pada siang hari mereka mengambil air dan menaruhnya di masjid, mereka juga bekerja mencari kayu bakar untuk mereka jual dan hasilnya mereka belikan makanan untuk orang-orang ṣuffah dan orang fakir. Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutus mereka, akan tetapi di perjalanan mereka dihadang dan dibunuh sebelum sampai ke tujuan, maka mereka pun berdoa, " Ya Allah sampaikanlah (kabar) tentang kami kepada Nabi kami bahwa kami telah berjumpa dengan-Mu, kami rida dengan-Mu dan Engkau pun rida kepada kami". Kemudian datang seorang laki-laki kepada paman Anas yang bernama Haraam dari belakangnya, kemudian ia menusuknya dengan tombak dari belakang sampai tembus. Lalu Harām pun berkata, "Aku telah menang demi Rabb pemilik Kakbah." Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya saudara-saudara kalian telah dibunuh dan sesungguhnya mereka mengatakan, "Ya Allah sampaikanlah tentang kami kepada Nabi kami, bahwasanya kami telah berjumpa dengan-Mu dan kami rida kepada-Mu dan Engkau pun rida kepada kami."
Muttafaq 'alaihUtusan beberapa kabilah Arab mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, mereka mengaku telah masuk Islam dan meminta dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- agar mengirim kepada mereka orang-orang yang akan mengajarkan Al-Qur`ān kepada mereka, maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengirimkan tujuh puluh orang yang disebut: Qurrā; karena banyaknya mereka mempelajari Al-Qur`ān. Meskipun mereka sibuk membaca dan mempelajari Al-Qur`ān, namun hal tersebut tidak menghalangi mereka untuk tetap bekerja, oleh karena itu Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Mereka pada siang hari mengambil air dan menaruhnya di masjid, mereka juga mencari kayu bakar lalu menjualnya dan hasilnya mereka belikan makan untuk orang-orang ṣuffah dan orang fakir", maksudnya: pada siang hari mereka mengambil air dan menaruhnya di masjid sebagai wakaf bagi siapapun yang ingin menggunakannya untuk bersuci, minum, atau selainnya. "mereka juga mencari kayu bakar lalu menjualnya dan hasilnya mereka belikan makan untuk orang-orang ṣuffah dan orang fakir". Maksudnya mereka mengumpulkan kayu bakar untuk mereka jual dan hasilnya mereka belikan makanan serta mereka sedekahkan untuk orang-orang fakir termasuk orang-orang ṣuffah. Orang-orang ṣuffah ialah: orang-orang fakir pendatang yang tinggal di masjid Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, mereka punya tempat khusus di bagian belakang masjid, yaitu tempat yang ada atapnya terpisah dari masjid, mereka tidur disitu. Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengirim para Qurrā` tersebut beserta utusan dari kabilah Arab tadi. Ketika sampai di "Bi`r Ma'ūnah", sebelum sampai di tempat tujuan mereka yaitu rumah Abu al-Barā` bin Mulā'ib al-Asinnah, mereka dihadang oleh 'Āmir bin Ṭufail bersama sekelompok laki-laki dan mereka pun menyerang utusan tadi. " Ya Allah sampaikanlah (kabar) tentang kami kepada Nabi kami, bahwasanya kami telah berjumpa dengan-Mu dan kami rida kepada-Mu dan Engkau pun rida kepada kami". Dalam riwayat lain: "Sampaikanlah (kabar) tentang kami untuk kaum kami bahwasanya kami telah menemui Rabb kami dan Dia telah meridai kami dan membuat kami rida". Kemudian Malaikat Jibril pun menyampaikan kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "bahwa mereka sudah menemui Tuhan mereka (meninggal), Dia meridai mereka dan telah membuat mereka rida juga," sebagaimana disebutkan dalam riwayat Bukhari. Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda: "bahwasanya saudara-saudara kalian telah dibunuh dan mereka mengatakan, " Ya Allah sampaikanlah (kabar) tentang kami kepada Nabi kami, bahwasanya kami telah berjumpa dengan-Mu dan kami rida kepada-Mu dan Engkau pun rida kepada kami". Maksudnya: Allah -Ta'ālā- telah rida kepada mereka dengan ketaatan mereka dan mereka pun telah rida kepada Allah atas kemulian dan kebaikan-kebaikan yang Allah berikan kepada mereka. Rida Allah adalah: limpahan kebaikan dan rahmat dari-Nya.
Dari Zaid bin Arqam -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Kami keluar bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam suatu perjalanan yang sulit bagi peserta rombongan. Lantas Abdullah bin Ubay berkata kepada rekan-rekannya, "Janganlah kalian berinfak kepada orang-orang yang bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sampai mereka bercerai-berai meninggalkannya!" Ia berkata, "Jika kita kembali ke Madinah, pastilah orang yang lebih mulia akan mengusir orang yang lebih hina dari Madinah." Aku datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mengabarkan kepada beliau tentangnya. Selanjutnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutus orang kepada Abdullah bin Ubay untuk menanyakan kabar tersebut. Abdullah bin Ubay lalu mengerahkan segala usahanya untuk bersumpah (mengingkari) atas apa yang telah dilakukannya. Mereka berkata, "Zaid telah berdusta kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Aku pun merasa sesak karena apa yang mereka katakan itu, sampai Allah menurunkan ayat yang membenarkanku, "Apabila orang-orang munafik datang kepadamu." Mmaka Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memanggil mereka guna memintakan ampunan untuk mereka. Namun mereka malah memalingkan kepalanya."
Muttafaq 'alaihZaid bin Al-Arqam -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan bahwa ia bersama Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam suatu perjalanan, pesertanya terdiri dari orang-orang mukmin dan orang-orang munafik. Lantas orang-orang ditimpa kesulitan dan kesusahan karena kurangnya bekal yang ada pada mereka. Ketika itulah, Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong kekufuran dan kemunafikan, berkata, "Janganlah kalian berinfak kepada orang-orang yang bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sampai mereka bercerai-berai meninggalkannya." (QS. Al-Munafiqun: 7). Yakni janganlah kalian memberi mereka nafkah sedikit pun sampai mereka lapar, bercerai-berai dan meninggalkan Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-!" Ia juga berkata, "Jika kita kembali ke Madinah, pastilah orang yang lebih mulia akan mengusir orang yang lebih hina dari Madinah." (QS. Al-Munafiqun: 8). Yang dimaksud dengan orang-orang mulia adalah dirinya dan kaumnya. Sedangkan orang yang lebih hina adalah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. "Berita ini terdengar oleh Zaid bin Al-Arqam -raḍiyallāhu 'anhu-, ia pun mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu melaporkan kepada beliau bahwa Abdullah bin Ubay bin Salul telah mengatakan begini dan begitu, hingga mengingatkan beliau darinya. Selanjutnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutus orang kepada Abdullah bin Ubay untuk menanyakan kabar tersebut. Abdullah bin Ubay bersumpah dan sangat keras dalam bersumpah bahwa ia tidak mengatakan itu. Inilah kebiasaan orang-orang munafik. Mereka bersumpah atas dusta padahal mereka mengetahuinya. Ia bersumpah bahwa dirinya tidak mengatakan hal itu. Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menerima keterangan mereka dan membiarkan rahasia hatinya kepada Allah. Saat hal itu sampai kepada Zaid bin Al-Arqam, ia pun merasa berat dengan hal itu karena orang tersebut (Abdullah bin Ubay) telah bersumpah di hadapan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan mengerahkan segala kemampuannya untuk bersumpah. Orang-orang berkata, "Zaid bin Al-Arqam telah berdusta kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Yakni Zaid bin Al-Arqam telah menyampaikan berita bohong kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Tentu saja itu membuat Zaid bin Al-Arqam merasa sesak sampai Allah menurunkan sesuatu yang membenarkannya dengan firman-Nya, "Apabila orang-orang munafik datang kepadamu," yakni surah Al-Munāfiqūn. Lalu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memanggil orang-orang munafik, terutama pemimpinnya Abdullah bin Ubay guna memintakan ampunan untuk mereka atas ucapan keji yang keluar dari mulut mereka. Ternyata mereka berpaling dari itu karena sifat sombong pada diri mereka sekaligus penghinaan terhadap Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, karena beliau hendak memohonkan ampun untuk mereka kepada Allah -Ta'ālā-.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-bersabda, "Aku tidak yakin si fulan dan si fulan tahu sedikit pun tentang agama kita." Al-Laiṡ bin Sa'ad, salah seorang perawi hadis ini berkata, "Kedua orang tersebut adalah dua orang dari kaum munafik."
Diriwayatkan oleh BukhariAisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengabarkan bahwa Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bercerita kepadanya mengenai dua orang lelaki dan kedua orang itu tidak tahu sedikit pun tentang agama Islam, karena keduanya menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran. Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menuturkan bahwa ghibah tentang kedua orang ini tidak termasuk gibah yang dilarang. Justru termasuk hal-hal yang diharuskan agar tampilan luar orang itu tidak mengecoh orang yang tidak mengenalnya. Sabda beliau, "Aku tidak yakin..." Aẓ-Ẓannu di sini artinya yakin. Sebab, Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengetahui orang-orang munafik dengan sebenarnya berkat pemberitahuan Allah kepadanya tentang mereka dalam surat Bara'ah. Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhu-ma berkata, "Kami menamakan surat Barā`ah dengan nama Al-Fāḍiḥah (yang menyingkap). Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhu-ma berkata, "Surat itu terus menurunkan (keterangan), "Dan di antara mereka, dan di antara mereka," hingga kami takut (termasuk dari mereka)."
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertolak bersama para sahabatnya hingga mereka mendahului orang-orang musyrikin ke Badar, lalu datanglah orang-orang musyrikin. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidak boleh ada seorang pun dari kalian yang mengambil keputusan hingga aku berada di depannya." Tiba-tiba orang-orang musyrikin mendekat. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Berdirilah kalian menuju surga seluas langit dan bumi." Anas berkata, "Umair bin Al-Ḥumām Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, 'Wahai Rasulullah, surga seluas langit dan bumi?' Beliau bersabda, 'Ya.' Ia berkata, 'Hebat, hebat.' Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Apa yang mendorongmu untuk mengucapkan hebat, hebat?' Ia menjawab, 'Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah, selain harapan agar aku menjadi bagian dari penghuninya.' Beliau bersabda, 'Engkau termasuk penghuninya.' Lantas dia mengeluarkan beberapa kurma dari kantongnya lalu makan sebagiannya. Kemudian dia berkata, 'Seandainya aku masih hidup hingga aku makan kurma ini, sesungguhnya itu merupakan kehidupan yang panjang.' Lantas dia melemparkan kurma yang ada padanya lalu memerangi mereka (musuh) hingga gugur."
Diriwayatkan oleh MuslimAnas -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- keluar bersama para sahabatnya dari Madinah untuk menemui kafilah Abu Sufyān yang datang dari Syām hendak ke Makkah. Mereka tidak keluar untuk berperang, tetapi Allah menghimpun antara mereka dengan musuhnya tanpa ada perjanjian. Karena itu banyak sahabat yang tidak mengikuti pertempuran ini dan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak mencela seorang pun dari mereka. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertolak kemudian singgah di Badar sebelum orang-orang kafir Quraisy menyinggahinya, dan beliau mengambil posisi di sana. Selanjutnya datanglah orang-orang kafir Quraisy. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidak boleh ada seorang pun dari kalian maju sampai aku sendiri berada di depannya." Artinya bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang mereka untuk maju sehingga beliau sendiri -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjadi yang paling dekat kepadanya daripada mereka, agar tidak luput sesuatu pun dari kemaslahatan yang tidak mereka ketahui. Selanjutnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Berdirilah menuju surga seluas langit dan bumi." Yakni bersegeralah dan janganlah kalian terlambat mengorbankan ruh-ruh kalian di jalan Allah. Sebab, kesudahan itu adalah surga seluas langit dan bumi. Ini merupakan dorongan dan motivasi bagi mereka untuk memerangi orang-orang kafir. Ia (perawi) berkata, "Umair bin Al-Ḥumām Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Wahai Rasulullah, surga seluas langit dan bumi?" Beliau menjawab, "Ya." Ia berkata, "Hebat, hebat." Maksudnya membesarkan urusan tersebut dan mengagungkannya. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Apa yang mendorongmu mengucapkan hebat, hebat?" Yakni, apa motivasimu mengucapkan kata tersebut, apakah karena ketakutan?" Ia menjawab, "Tidak, demi Allah wahai Rasulullah selain harapan agar aku menjadi bagian dari penghuninya." Yakni, yang membuatku mengucapkan kata-kata itu karena orientasiku untuk masuk surga. Beliau bersabda, "Engkau termasuk penghuninya." Ini merupakan kabar gembira dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk para sahabatnya supaya menjadi motivasi bagi mereka dan mencurahkan usaha dalam bekerja. Selanjutnya ketika Umair bin Al-Ḥumām -raḍiyallāhu 'anhu- mendengar kabar gembira dari orang yang jujur dan terpercaya, yang tidak berbicara dari hawa nafsu, ia pun mengeluarkan beberapa kurma dari Qarannya. "Qaran" adalah sesuatu yang biasanya dijadikan tempat untuk menyimpan makanan dan dibawa oleh mujahid lalu dia makan. Selanjutnya dia --raḍiyallāhu 'anhu-- merasa kehidupan ini terlalu panjang, dan berkata, "Seandainya aku masih hidup hingga makan beberapa kurma ini, sungguh itu merupakan kehidupan yang panjang." Lantas dia melemparkan kurma yang ada padanya lalu maju berperang hingga dia -raḍiyallāhu 'anhu- gugur.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, “Rasulullah -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- mengutus sepuluh orang pasukan mata-mata dan mengangkat 'Āṣim bin Ṡābit al-Anṣārī -raḍiyallāhu 'anhu- sebagai pemimpin mereka. Mereka pun berangkat hingga ketika sampai di Had`ah, sebuah daerah antara 'Usfān dan Makkah, ada yang membocorkan keberadaan mereka kepada komunitas kabilah Hużail bernama Bani Liḥyān. Mereka pun segera mengerahkan sekitar 100 orang pasukan pemanah, lalu mereka menelusuri jejak para sahabat. Ketika 'Āṣim dan para sahabatnya mengetahui makar mereka, para sahabat pun segera berlindung di sebuah tempat, namun kaum Hużail tersebut segera mengepung mereka dan berkata pada mereka, “Turun dan menyerahlah kalian, kami jamin dan berjanji pada kalian bahwa kami tidak akan membunuh seorang pun dari kalian.” Namun 'Āṣim bin Ṡābit berkata, “Wahai kaumku, adapun saya, maka tidak mengkitui jaminan orang kafir. Ya Allah, beritahukanlah berita keberadaan kami kepada Nabi-Mu.” Lalu mereka pun menghujani para sahabat dengan anak panah hingga membunuh 'Āṣim. Maka saat itu tiga sahabat (yang masih hidup) langsung menyerah dan masuk dalam jaminan mereka, di antaranya Khubaib, Ibnu Ad-Diṡinah dan satu orang lainnya. Ketika mereka berhasil menangkap ketiganya, mereka segera melepas tali busur panah mereka dan mengikat ketiga sahabat tadi dengan tali tersebut. Maka berkatalah lelaki yang ketiga, “Ini adalah awal pengkhianatan kalian, demi Allah, aku tidak akan mau mengikuti kalian, sungguh sikap mereka (7 sahabat yang syahid) cukup sebagai teladan bagiku (maksudnya ia lebih memilih mati).” Mereka pun segera menyeretnya dan memaksanya untuk ikut, tetapi dia terus beruntak, maka mereka pun membunuhnya. Lalu mereka pergi membawa Khubaib dan Ibnu Ad-Diṡinah kemudian menjualnya di kota Makkah setelah perang Badar. Khubaib dibeli oleh anak keturunan Al-Ḥāriṡ bin 'Āmir bin Naufal bin Abdu Manāf karena Khubaib sendiri adalah orang yang telah membunuh Al-Ḥāriṡ bin 'Āmir pada waktu perang Badar. Khubaib menjadi tawanan beberapa waktu hingga mereka sepakat untuk membunuhnya. Lalu suatu ketika Khubaib meminjam sebuah pisau cukur untuk mencukur bulu kemaluannya dari sebagian putri Al-Ḥāriṡ, kemudian perempuan itu meminjaminya. Tiba-tiba salah seorang anaknya yang masih kecil mendatangi Khubaib tanpa disadarinya, ia lalu mendapati anaknya tersebut duduk di pangkuan Khubaib yang sedang memegang pisau cukur. Maka ia pun tersentak kaget dan ketakutan, yang segera disadari oleh Khubaib. Khubaib lalu bertanya, “Apakah kamu takut aku akan membunuhnya?. Sungguh aku tidak akan melakukan hal itu.” Wanita itu mengisahkan, “Demi Allah, aku belum pernah melihat tawanan sebaik Khubaib. Demi Allah, aku pernah memergokinya suatu hari sedang makan setangkai anggur dengan tangannya, padahal dia sedang diborgol besi dan ketika itu tidak ada buah-buahan di Makkah.” Wanita ini menyatakan, "Buah-buahan itu tidak lain adalah rezeki dari Allah untuk Khubaib." Ketika mereka membawanya keluar dari lingkaran Tanah Haram untuk mengeksekusi pembunuhannya di luar Tanah Haram, Khubaib berkata kepada mereka, “Biarkan aku salat dua rakaat.” Mereka pun membiarkannya salat dua rakaat, kemudian ia berkata, “Kalau bukan khawatir kalian mengira bahwa aku merasa takut mati, niscaya aku akan memanjangkannya (salat)." Lalu ia berdoa, “Ya Allah, binasakanlah mereka semua, bunuhlah mereka semua terpisah-pisah dan jangan tinggalkan satupun dari mereka.” Kemudian Khubaib mengubah dua bait syair; "Aku tak peduli saat aku terbunuh sebagai seorang Muslim, Dalam kondisi apapun kematianku di jalan Allah. Itu semua demi Żat Allah jika Dia menghendaki, Maka Dia memberkahi setiap anggota tubuh yang tercabik-cabik." Khubaib adalah orang pertama yang mengajarkan salat dua rakaat untuk setiap Muslim yang akan dibunuh (dieksekusi). Pada hari terjadinya peristiwa tersebut, Nabi -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- mengabarkan kepada para sahabat tentang berita yang menimpa mereka. Beberapa orang kafir Quraisy mengirim pasukan untuk mencari jenazah 'Āṣim bin Ṡābit ketika mendengar bahwa beliau telah terbunuh agar mereka bisa mendatangkan suatu bukti yang bisa dikenali dari 'Āṣim (bahwa dialah yang benar-benar terbunuh), karena beliau telah membunuh salah seorang pembesar mereka pada waktu perang Badar. Lalu Allah mengirim sekelompok lebah seperti awan agar dapat melindungi jenazah 'Āṣim dari para utusan Quraisy tersebut, sehingga mereka sama sekali tidak mampu memotong bagian tubuh beliau.
Diriwayatkan oleh BukhariDalam kisah 'Āṣim bin Ṡābit Al-Anṣārī dan para sahabatnya -raḍiyallāhu 'anhum- ini terdapat karamah yang luar biasa dan nyata yang dimiliki sebagian sahabat Nabi -ṣallallāhu 'alahi wa sallam-. Nabi -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- mengutus mereka yang berjumlah sepuluh orang untuk memata-matai musuh agar bisa membawa berita dan rahasia mereka. Ketika mereka sampai di suatu perkampungan dekat Makkah, sekelompok orang dari kalangan Bani Hużail mengetahui mereka. Maka Bani Hużail segera menghimpun seratus ahli panah untuk mencari dan mengejar mereka hingga akhirnya bisa mengepung mereka. Orang orang Hużail ini kemudian meminta mereka segera menyerahkan diri dengan jaminan keamanan dan janji tidak akan membunuh mereka. Namun 'Āṣim berkata, “Demi Allah, saya tidak akan mengikuti jaminan orang kafir, karena orang kafir telah berkhianat kepada Allah -'Azzā wa Jallā-, dan orang yang berani mengkhianati Allah pasti mengkhianati hamba-hamba Allah.” Maka mereka pun menghujani para sahabat dengan anak panah hingga membunuh 'Āṣim bersama enam sahabat lainnya. Dan tersisa tiga sahabat yang terpaksa menerima tawaran menyerah dari Bani Hużail. Orang-orang Hużail menangkap ketiganya dan mengikat mereka. Maka berkatalah lelaki yang ketiga, “Ini adalah awal pengkhianatan kalian, demi Allah, aku tidak akan mau mengikuti kalian!”. Mereka pun membunuhnya. Lalu mereka membawa Khubaib dan sahabatnya kemudian menjualnya di kota Makkah. Khubaib -raḍiyallāhu 'anhu- dibeli oleh beberapa orang penduduk Makkah yang pemuka mereka dibunuh oleh Khubaib di Badar dan mereka menganggap saat itulah kesempatan untuk melakukan balas dendam terhadapnya. Merekapun menawannya. Suatu hari seorang anak bayi di rumah mereka mendekat ke Khubaib -raḍiyallāhu 'anhu-, seakan-akan anak tersebut mengasihani Khubaib. Lantas Khubaib mengambil anak itu dan mendudukkannya di pangkuannya, dan tepat saat itu Khubaib sedang memegang pisau cukur yang ia pinjam dari penghuni rumah tersebut, sedangkan ibu sang anak tersebut tidak sadar dengan kejadian tersebut. Tatkala ibunya melihat kejadian itu, ia tersentak kaget dan sangat khawatir bila Khubaib membunuh anaknya. Ketakutan wanita itu segera diketahui oleh Khubaib. Maka Khubaib berkata, “Demi Allah, aku tidak akan membunuhnya." Dahulu wanita ini sering menceritakan, “Demi Allah, aku belum pernah melihat tawanan sebaik Khubaib. Demi Allah, aku pernah memergokinya suatu hari sedang makan setangkai anggur dengan tangannya, padahal ketika itu di Makkah tidak ada buah-buahan. Saya mengerti itu merupakan karamah Khubaib -raḍiyallāhu 'anhu-; di mana Allah -'Azzā wa Jallā- memuliakannya dengan menurunkan setangkai buah anggur yang dia makan saat diborgol.” Kemudian mereka -anak cucu dari orang tua yang telah dibunuh Khubaib tersebut- sepakat untuk membunuhnya, namun karena mereka sangat memuliakan Tanah Haram maka mereka pun saling berkata, "Mari kita membunuhnya di luar Tanah Haram," Ketika mereka membawanya ke luar Tanah Haram untuk dieksekusi, Khubaib pun meminta izin kepada mereka untuk salat. Ketika selesai salat, ia berkata, "Seandainya aku tidak khawatir kalian akan menuduhku sebagai orang yang takut mati, maka aku pasti menambah salat." Khubaib -raḍiyallāhu 'anhu- hanya salat dua rakaat, kemudian mendoakan kebinasaan atas mereka dengan tiga permintaan, “Ya Allah, binasakanlah mereka semua, bunuhlah mereka semua terpisah-pisah dan jangan tinggalkan satupun dari mereka.” Doa yang ia panjatkan ini kemudian dikabulkan oleh Allah, sehingga tidaklah tahun itu berlalu melainkan seluruh orang yang bersekongkol membunuhnya juga terbunuh, tentunya ini merupakan salah satu karamahnya. Kemudian Khubaib menggubah dua bait syair: "Aku tak peduli saat aku terbunuh dalam sebagai seorang Muslim Dalam kondisi apapun kematianku di jalan Allah. Itu semua demi Żat Allah jika Dia menghendaki, Maka Dia memberkahi setiap anggota tubuh yang tercabik-cabik." Adapun 'Āṣim bin Ṡābit -raḍiyallāhu 'anhu- yang terbunuh sedari awal, maka berita kematiannya sampai ke telinga kaum Quraisy, di mana ia telah membunuh salah seorang pemuka mereka. Ketika mendengar kabar ini, mereka mengirim beberapa orang untuk mengambil anggota tubuh 'Āṣim bin Ṡābit sebagai bukti penguat bagi mereka bahwa ia benar-benar telah terbunuh. Ketika mereka hendak mengambil anggota tubuh 'Āṣim, maka Allah mengirim sekelompok lebah seperti gumpalan awan yang dengannya Allah melindungi jenazahnya dari para utusan Quraisy tersebut, sehingga mereka sama sekali tidak mampu mendekatinya dan terpaksa pulang dengan tangan hampa. Hal ini merupakan salah satu karamah yang Allah anugrahkan pada 'Āṣim -raḍiyallāhu 'anhu-, yaitu Allah melindungi jenazahnya setelah meninggal dari musuh-musuh yang ingin memutilasinya.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Waktu salat sudah tiba, lantas orang yang rumahnya dekat (masjid) masuk ke rumahnya dan tersisa sekelompok orang. Selanjutnya dibawakanlah satu wadah air dari batu kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ternyata wadah itu terlalu kecil bagi beliau untuk membentangkan telapak tangan beliau di dalamnya. Selanjutnya orang-orang itu seluruhnya berwudu. Orang-orang bertanya, "Berapa jumlah kalian saat itu?" Anas bin Malik menjawab, "Delapan puluh orang lebih." Dalam riwayat lain disebutkan, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meminta wadah berisi air. Lantas dibawakanlah wadah air yang lebar tapi isinya sedikit. Lantas beliau meletakkan jari-jarinya di dalam wadah itu". Anas berkata, "Selanjutnya aku melihat air memancar dari sela-sela jari-jemari beliau. Aku pun menaksir (jumlah) orang yang berwudu antara tujuh puluh sampai delapan puluh orang".
Muttafaq 'alaih dengan riwayat-riwayat yang beragamAnas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Waktu salat sudah tiba," yakni, ketika para sahabat sedang bersama Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di Madinah, tiba-tiba masuklah waktu salat ashar. "lantas orang yang rumahnya dekat dengan masjid berdiri" yakni, orang-orang yang rumahnya dekat dengan mesjid pergi dari tempat itu menuju rumahnya untuk berwudu. "dan tersisa sekelompok orang." Yakni, yang tersisa adalah orang-orang yang rumahnya jauh dari Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. "Selanjutnya dibawalah satu wadah air dari batu kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Yakni, didatangkanlah kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebuah wadah kecil dari batu yang berisi sedikit air. Dalam satu riwayat disebutkan wadah itu digambarkan lebar. "Ternyata wadah itu terlalu kecil bagi beliau untuk membentangkan telapak tangannya di dalamnya." Yakni, wadah kecil itu sempit bagi telapak tangan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika beliau hendak membentangkan telapak tangannya di tengah-tengah wadah itu. Anas berkata, "Selanjutnya orang-orang itu seluruhnya berwudu. Orang-orang bertanya, "Berapa jumlah kalian saat itu?" Anas bin Malik menjawab, "Delapan puluh orang lebih." Yakni, di atas delapan puluh.
Dari Nafi’, Bahwa Umar bin Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu-pernah menetapkan (bagian) untuk kaum Muhajirin generasi pertama sebesar 4000, dan menetapkan untuk putranya 3500. Lalu ia ditanya, “Ia termasuk kaum Muhajirin, mengapa engkau kurangi bagiannya?” Ia menjawab, “Ia berhijrah karena dibawa ayahnya. Ia tidak sama dengan orang yang berhijrah dengan dirinya sendiri.”
Diriwayatkan oleh BukhariUmar memberikan gaji 4000 kepada kaum Muhajirin namun kepada anaknya -yang juga termasuk kaum Muhajirin- ia hanya memberikan 3500, karena dialah yang membawanya hijrah saat ia belum balig, sehingga (Umar) tidak menghitungnya sama dengan orang-orang yang telah balig. Karena itu, ia mengurangi bagiannya dari kalangan Muhajirin yang berhijrah sendiri. Setelah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan Abu Bakr Ṣiddiq, tidak ada penguasa yang zuhud dan wara’ terhadap harta kekayaan umat seperti beliau (Umar) -raḍiyallāhu 'anhu-. Demikianlah seharusnya sikap orang yang mendapatkan amanah mengurus urusan kaum muslimin; tidak mengistimewakan kerabat karena hubungan kekerabatan, orang kaya karena kekayaannya, atau orang miskin karena kemiskinannya. Namun ia menempatkan setiap orang sesuai dengan kedudukannya. Ini merupakan bagian dari sikap wara’ dan adil.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Ketika Ayyub -'Alaihissalām- mandi dengan telanjang, tiba-tiba belalang emas jatuh menimpa tubuhnya. Ayyub pun memasukkannya ke dalam bajunya. Maka Rabb 'Azza wa Jalla menyerunya, "Wahai Ayub! Bukankah aku telah mencukupkanmu dari apa yang engkau lihat?" Ia menjawab, "Tentu, demi kemuliaan-Mu, akan tetapi aku tidak pernah merasa cukup dari berkah-Mu."
Diriwayatkan oleh BukhariSuatu saat Nabi Ayyub -'Alaihissalām- mandi dengan telanjang. Lalu emas yang banyak dalam bentuk belalang berjatuhan pada dirinya. Nabi Ayyub -'Alaihissalām- kemudian mengambil dan melemparkannya ke dalam bajunya. Maka Rabb 'Azza wa Jalla memanggilnya, "Bukankah aku telah mencukupkanmu dari barang ini?" Ia menjawab, "Tentu, demi kemuliaan-Mu, tetapi aku mengambilnya bukan karena rakus dan tamak dengan dunia, namun karena itu adalah keberkahan dari-Mu."
Dari Fuḍālah bin Ubaid -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- jika mengimami salat, sering kali ada orang-orang yang jatuh tersungkur ketika salat karena lapar, -mereka adalah ahli ṣuffah- sehingga orang-orang Arab badui berkata, "Mereka adalah orang-orang gila." Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- selesai salat, beliau mendekati mereka dan bersabda, "Andaikan kalian mengetahui pahala yang telah disediakan Allah untuk kalian, niscaya kalian akan senang jika kalian lebih miskin dan papa lagi."
Diriwayatkan oleh TirmiżiDalam hadis ini disebutkan bahwa ada orang-orang yang jatuh tersungkur saat mendirikan salat karena lapar dan lemah -mereka adalah ahli ṣuffah; yaitu para sahabat yang zuhud, fakir dan asing/perantau, jumlah mereka tujuh puluh orang, kadang berkurang dan kadang bertambah. Mereka mendiami beranda masjid tanpa tempat tinggal, harta dan anak- sehingga orang-orang Arab badui mengira bahwa mereka adalah orang-orang gila. Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepada mereka, "Seandainya kalian mengetahui pahala yang telah disediakan Allah untuk kalian, niscaya kalian akan senang jika kalian semua lebih miskin dan papa lagi."