





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang mengerjakan salat kita, menghadap kiblat kita, serta memakan sembelihan kita, maka itulah muslim yang mendapatkan jaminan Allah dan jaminan Rasulullah. Maka, janganlah kalian mengkhianati Allah dalam jaminan-Nya."
HR. BukhariNabi ﷺ memberitahukan bahwa siapa saja yang taat melakukan syiar-syiar agama yang nampak, seperti mengerjakan salat sebagaimana yang kita kerjakan, menghadap Ka'bah kiblat kita, serta memakan sembelihan kita dengan meyakini kehalalannya, maka itulah muslim yang diberi keamanan dan jaminan oleh Allah dan Rasul-Nya. Maka, janganlah kalian melanggar keamanan dan jaminan Allah kepadanya.
Ummul Mukminin Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan apa yang diperintahkan Allah: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn, allāhumma-`jurnī fī muṣībatī wa akhlif lī khairan minhā (Sesungguhnya kami milik Allah dan sungguh kepada-Nyalah kami akan kembali; ya Allah, berilah aku pahala pada musibahku dan berilah aku penggantinya yang lebih baik), kecuali Allah akan memberinya pengganti yang lebih baik." Ummu Salamah berkata, "Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku bertanya, 'Muslim mana yang lebih baik dari Abu Salamah?! Keluarganya adalah yang pertama kali berhijrah kepada Rasulullah ﷺ.' Tetapi kemudian aku tetap membacanya, maka Allah menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai ganti bagiku."
HR. MuslimUmmul Mukminin Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā- menyebutkan bahwa dia pernah suatu kali mendengar Nabi ﷺ bersabda: Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu musibah lalu mengucapkan zikir yang dianjurkan oleh Allah kepadanya: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn. Allāhumma-`jurnī (ya Allah, berilah aku pahala); berilah aku pahala sabarku .. fī muṣībatī (pada musibahku); berilah aku gantinya .. wa akhlif lī khairan minhā (berilah aku penggantinya yang lebih baik), kecuali Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Ummu Salamah bercerita: Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku berkata: Siapa di antara kaum muslimin yang lebih baik dari Abu Salamah? Keluarganya adalah yang pertama kali berhijrah kepada Rasulullah ﷺ. Sungguh, kemudian Allah membantuku sehingga aku mengucapkannya. Maka Allah memberiku pengganti, yaitu Rasulullah ﷺ, yang lebih baik dari Abu Salamah.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ bersabda kepada Bilal ketika salat Subuh, "Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amalan yang paling engkau harapkan pahalanya yang engkau kerjakan dalam Islam. Sungguhnya aku mendengar suara langkah sandalmu di hadapanku dalam surga." Bilal berkata, "Tidaklah ada amalan yang aku kerjakan yang lebih aku harapkan kecuali setiap aku berwudu di suatu waktu, entah ketika malam ataupun siang, melainkan dengan wudu tersebut aku mengerjakan salat sejumlah yang Allah kehendaki bagiku untuk mengerjakannya."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ bermimpi sedang di dalam surga. Lalu keesokannya beliau berkata kepada Bilal bin Rabāḥ, "Beritahukan kepadaku amalan sunah apa yang paling kamu harapkan pahalanya yang kamu kerjakan dalam Islam? Sebab, aku mendengar suara lirih sandalmu saat digerakkan berjalan di depanku di surga." Bilal menjawab, "Aku tidak mengerjakan suatu amalan yang lebih aku harapkan, selain ketika setiap kali berhadas, entah itu di waktu malam atau siang, maka aku akan berwudu kemudian setelah wudu itu aku mengerjakan salat sunnah mutlak sejumlah yang telah tercatat bagiku (dalam takdir)."
Ali -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Apabila aku menyampaikan hadis dari Rasulullah ﷺ kepada kalian, sungguh jatuh dari langit lebih aku sukai daripada berdusta atas nama beliau. Tetapi, apabila aku berbicara kepada kalian terkait urusan antara aku dan kalian, maka sungguh perang itu adalah tipu daya. Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Akan muncul di akhir zaman sekelompok orang yang berusia muda dan memiliki pikiran dangkal. Mereka mengucapkan sebaik-baik ucapan manusia, tetapi mereka melesat keluar dari Islam seperti anak panah yang melesat dari busur. Iman mereka tidak melebihi tenggorokan. Di mana pun kalian bertemu mereka, bunuhlah mereka. Membunuh mereka adalah pahala bagi orang yang membunuh mereka nanti di hari Kiamat."
Muttafaq 'alaihAmirul Mukminin Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan, apabila kalian mendengarku menyampaikan hadis dari Nabi ﷺ, maka aku tidak akan menggunakan kiasan maupun kata-kata sindiran. Tetapi aku akan berkata lugas dan terang. Sungguh, aku jatuh dari langit lebih mudah dan lebih ringan bagiku daripada menyampaikan hadis dari Rasulullah ﷺ dengan cara berdusta atas nama beliau. Namun apabila aku berbicara tentang urusan antara aku dan manusia, maka sungguh perang itu tipu daya sehingga aku mungkin menggunakan kiasan dan kata-kata sindiran. Aku telah mendengar Nabi ﷺ bersabda: Akan muncul di akhir zaman pemuda-pemuda yang berusia muda dan lemah akal. Mereka berbicara dengan Al-Qur`an serta banyak membacanya, tetapi mereka keluar dari Islam dan melampaui batasan-batasannya seperti anak panah yang keluar dari busur. Iman mereka tidak melebihi tenggorokan. Di mana pun kalian bertemu mereka, bunuhlah mereka. Membunuh mereka menjadi sebab adanya pahala bagi orang yang membunuh mereka nanti di hari Kiamat.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh Allah meridai bagi kalian tiga perkara dan membenci bagi kalian tiga perkara. Allah rida bila kalian beribadah kepada-Nya, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan berpegang teguh dengan tali Allah seluruhnya dan tidak berpecah belah. Allah benci bagi kalian berdesas-desus (banyak bicara), banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta."
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah mencintai tiga perkara pada hamba-Nya dan membenci tiga perkara. Yang Allah cintai pada mereka adalah: menauhidkan Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, memegang perjanjian dengan Allah, Al-Qur`an dan Sunnah Nabi-Nya seluruhnya, dan tidak berpecah belah dari jemaah kaum muslimin. Yang Allah benci pada mereka adalah: perbuatan tidak berguna dan perkataan sia-sia pada sesuatu yang tidak ada kepentingannya untuk mereka; menanyakan sesuatu yang tidak terjadi atau meminta-minta harta orang, apa yang ada di tangan mereka dan sesuatu yang tidak dibutuhkan; serta menyia-nyiakan harta, yaitu menggunakannya bukan pada tempatnya yang disyariatkan dan membiarkannya rusak.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- ia menuturkan, "Abu Bakar berkata kepada Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- setelah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat, "Mari kita pergi ke rumah Ummu Aiman -raḍiyallāhu 'anhā- untuk mengunjunginya sebagaimana dulu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa mengunjunginya." Ketika keduanya telah sampai di rumahnya, ia (Ummu Aiman) menangis. Maka keduanya bertanya, "Apa yang membuatmu menangis? Tidak tahukah engkau bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-? Ia menjawab, "Aku menangis bukan karena aku tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah -Ta'ālā- lebih baik bagi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, tetapi aku menangis karena wahyu telah terputus dari langit." Maka ia membuat keduanya terharu untuk menangis, sehingga keduanya menangis bersamanya."
Diriwayatkan oleh MuslimPara sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- adalah manusia yang paling antusias meneladani Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam segala hal yang kecil maupun besar, hingga mereka mencari-cari perjalanan beliau dalam kehidupan, majlis dan tempat berada beliau, serta segala perbuatan yang mereka ketahui beliau melakukannya. Dan hadis ini menegaskan semangat mereka tersebut, serta menuturkan kisah Abu Bakar dan Umar ketika keduanya mengunjungi seorang wanita yang dulu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa mengunjunginya. Keduanya mengunjungi wanita ini karena kunjungan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepadanya. Manakala keduanya telah duduk di hadapannya, wanita tersebut menangis. Keduanya bertanya, "Apa yang membuatmu menangis? Tidak tahukan engkau bahwa apa yang ada di sisi Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- lebih baik bagi Rasulullah?" Yakni lebih baik bagi beliau dibanding dunia. Ia menjawab, "Aku menangis bukan lantaran itu, tapi karena terputusnya wahyu. Sebab ketika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meninggal dunia maka wahyu terputus, sehingga tidak ada wahyu lagi sepeninggal Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Oleh sebab itu, Allah menyempurnakan syariat-Nya sebelum beliau wafat. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agamamu..." Maka Abu Bakar dan Umar menangis, karena wanita tersebut telah mengingatkan keduanya pada apa yang terlupakan oleh keduanya.
Dari Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhuma-, dia berkata, "Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya kepada Jibril, "Apa yang menghalangimu untuk mengunjungi kami lebih dari biasanya engkau berkunjung kepada kami?" Lantas turunlah ayat, "Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali atas perintah Rabbmu. Milik-Nya segala yang ada di hadapan kita, yang ada di belakang kita dan segala yang ada di antara keduanya."
Diriwayatkan oleh BukhariHadis ini mengisahkan kerinduan Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada saudaranya, Jibril -'alaihi as-salam- karena dia datang dari Allah -'Azza wa Jalla-. Saat itu Jibril terlambat turun selama empat puluh hari. Lantas Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya kepada Jibril, "Wahai Jibril, apa yang menghalangimu untuk mengunjungi kami?" Yakni, engkau tidak turun sehingga aku merindukanmu. Lantas Allah mewahyukan kepada Jibril agar ia mengatakan kepada beliau, "Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali atas perintah Rabbmu." Yakni, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Wahai Jibril, katakanlah bahwa kami tidak turun dalam waktu-waktu yang renggang melainkan dengan izin Allah sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, "Milik-Nya segala yang ada di hadapan kita." Yakni, di hadapan kita berupa urusan-urusan akhirat. "Yang ada di belakang kita" berupa urusan-urusan dunia. Kelengkapan ayat, "Dan segala yang ada di antara keduanya" yaitu, yang terjadi dari waktu ini sampai terjadinya kiamat. Yakni, Dia memiliki ilmu tentang semuanya. "Dan Rabbmu tidak lupa", yakni, lupa. Artinya meninggalkanmu dengan mengakhirkan wahyu kepadamu. Kesimpulannya, hadis ini menunjukkan bahwa seharusnya manusia berteman dengan orang-orang baik dan mengunjungi mereka, sebagaimana mereka mengunjunginya karena dalam hal itu terdapat kebaikan.
Dari Abu Said Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', (Nabi bersabda), "Akan ada salah seorang khalifah kalian di akhir zaman yang menaburkan harta dan tidak menghitungnya."
Diriwayatkan oleh MuslimRasul yang mulia -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan kepada kita bahwa di akhir zaman akan ada seorang khalifah kaum muslimin yang menginfakkan harta tanpa bilangan dan tanpa perhitungan karena banyaknya harta benda dan harta rampasan perang disertai kedermawanan dirinya.
Dari Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- ia berkata, "Uyainah bin Ḥishn datang lalu menginap di tempat anak saudara, yaitu Al-Ḥurr bin Qais, dan ia merupakan salah seorang yang dekat dengan Umar. Umar mengangkat orang-orang yang pandai membaca Al-Qur`ān sebagai kawan dan orang yang diajak musyawarah di majlisnya, baik yang tua maupun yang masih muda usianya. 'Uyainah berkata kepada anak saudaranya, "Wahai anak saudaraku, kamu adalah orang yang dekat dengan Amirul Mukminin, maka mintalah izin kepadanya agar aku dapat menemuinya." Anak saudaranya tersebut memintakan izin dan Umar pun mengizinkannya. Ketika 'Uyainah masuk, ia berkata, "Wahai Ibnu Al-Khaṭṭab, demi Allah, engkau tidak berbuat banyak terhadap kami dan engkau tidak menetapkan hukum kepada kami dengan adil." Umar pun marah hingga hampir saja dia memukulnya. Al-Ḥurr berkata kepada Umar, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah -Ta'ālā- telah berfirman kepada Nabi-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Berikanlah maaf, perintahkanlah untuk berbuat baik, dan berpalinglah dari orang-orang jahil." Sesungguhnya orang ini termasuk orang-orang yang jahil. Demi Allah, Umar tidak mengabaikan ayat itu ketika dia membacanya. Sebab, Umar adalah orang yang sangat teliti terhadap Al-Qur`ān."
Diriwayatkan oleh BukhariSahabat yang mulia, Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- menceritakan kepada kita mengenai peristiwa yang terjadi pada Umar bin Al-Khaṭṭab -raḍiyallāhu 'anhu-, yaitu ketika 'Uyainah bin Ḥishn datang dan ia salah seorang tokoh dari kaumnya. Ia memulai pembicaraan kasarnya dengan serangan, pengingkaran dan celaan lalu di akhiri dengan cercaan dengan mengucapkan, "Sesungguhnya engkau tidak berbuat banyak terhadap kami dan tidak menetapkan hukum di antara kami dengan adil." Tentu saja Umar marah sekali hingga hampir saja ia memukulnya. Hanya saja beberapa orang yang pandai membaca Al-Qur`ān berdiri, di antaranya anak dari saudara 'Uyainah, yaitu Al-Ḥurr bin Qais, ia berbicara kepada khalifah yang lurus -raḍiyallāhu 'anhu-, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah -Ta'ālā- berfirman kepada Nabi-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Berikanlah maaf, perintahkanlah untuk berbuat baik, dan berpalinglah dari orang-orang jahil." Sesungguhnya orang ini termasuk orang-orang yang bodoh." Umar diam dan tidak mengabaikan ayat itu karena dia (Umar -raḍiyallāhu 'anhu wa arḍahu-) adalah orang yang teliti terhadap Al-Qur`ān. Dia berhenti dan tidak memukul orang itu demi ayat yang dibacakan ke pendengarannya. Inilah adab para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- di hadapan Al-Qur`ān. Mereka tidak mengabaikannya. Jika dikatakan kepada mereka, "Ini firman Allah," mereka pun diam bagaimanapun keadaannya.