





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Kiamat tidak akan terjadi hingga kalian memerangi bangsa Turk yang bermata sipit, berwajah merah dan berhidung pesek. Wajah mereka seperti perisai besi yang dilapisi kulit. Dan kiamat tidak akan terjadi hinggga kalian memerangi satu kaum yang sandal mereka terbuat dari bulu."
Muttafaq 'alaihKiamat tidak akan terjadi hingga kaum Muslimin memerangi bangsa Turk, yang di antara kriteria mereka adalah bermata sipit, berwajah putih kemerah-merahan karena tubuh mereka lebih sering kedinginan, hidung mereka pendek lebar dan wajah mereka menyerupai perisai dalam hal lebar dan bentuknya yang bundar, serta menyerupai perisai besi yang dilapisi kulit karena keras dan banyak dagingnya. Dan kiamat tidak akan terjadi hingga kaum Muslimin memerangi satu kaum yang berjalan dengan sandal dari bulu. Mereka ini adalah bangsa Turk itu sendiri, akan tetapi beliau menyebut mereka dengan kriteria lain.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Kiamat tidak akan terjadi sampai kalian memerangi negeri Khuz dan Karman dari bangsa 'Ajam (non-Arab); berwajah kemerah-merahan, berhidung pesek dan bermata sipit. Wajah mereka seperti perisai yang dilapisi kulit. Sandal mereka dari bulu."
Muttafaq 'alaihKiamat tidak akan terjadi sampai kaum Muslimin memerangi penduduk Khuz dan Karman dari negeri bangsa 'Ajam. Sebagian ciri-ciri mereka adalah memiliki wajah putih kemerah-merahan karena cuaca dingin lebih sering menyelimuti tubuh mereka, hidung mereka pesek, mata mereka sipit, dan wajah mereka lebar dan bulat seperti perisai, dan menyerupai lapisan kulit karena tebal dan banyak dagingnya. Mereka berjalan dengan memakai sandal dari bulu.
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki. Beliau bersabda, 'Keluarkanlah mereka dari rumah kalian.'" Ibnu 'Abbās melanjutkan, "Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengeluarkan si polan, serta Umar mengeluarkan si polan."
Diriwayatkan oleh BukhariDi dalam hadis ini Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendoakan keburukan untuk laki-laki yang menyerupakan dirinya dengan perempuan dan perempuan yang menyerupakan dirinya dengan laki-laki. Yaitu beliau mendoakan untuk mereka laknat dan pengusiran dari rahmat Allah; karena perbuatan mereka tersebut mengandung pengubahan ciptaan Allah. Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan agar mereka dikeluarkan dari rumah dan masyarakat untuk menjauhkan keburukan mereka dari manusia serta menjaga kesucian rumah.
Khālid bin 'Urfuṭah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah berkata kepadaku, "Wahai Khālid! Sungguh akan terjadi sepeninggalku berbagai peristiwa, fitnah dan perselisihan. Bila engkau mampu menjadi hamba Allah yang terbunuh, bukan yang membunuh, maka lakukanlah."
Diriwayatkan oleh AhmadNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan kepada Khālid bin 'Urfuṭah bahwa ke depan akan terjadi perselisihan serta berbagai peperangan dan fitnah; misalnya umat ini sama sekali tidak memiliki seorang imam yang memerintah mereka, atau di setiap negeri ada seorang penguasa lalu terjadi di antara mereka banyak fitnah dan peperangan. Lalu beliau memerintahkannya supaya menjauhi fitnah tersebut serta menahan diri dan tidak ikut serta masuk di dalamnya. Sekiranya dia terbunuh dalam keadaan terzalimi, hal itu lebih baik baginya daripada dia membunuh seorang muslim. Yaitu dengan berdiam di rumahnya atau pindah dari negeri tempat terjadinya fitnah. Namun, dalil-dalil yang ada menunjukkan bahwa dia boleh membela diri ketika terjadi fitnah, juga membela keluarga dan hartanya; dia mendapatkan uzur seandainya dia membunuh atau terbunuh jika tidak akan mendatangkan kerusakan dan fitnah. Adapun ketika umat Islam bersatu dan mereka menyepakati seorang imam (pemimpin), baik dia seorang yang adil ataupun zalim, kemudian sekelompok orang yang memiliki kekuatan memberontak kepadanya untuk membatalkan ketaatan dan memberontak kepada penguasa, maka penguasa wajib mengirim utusan untuk menasihati mereka. Bila dia telah menasihati mereka namun mereka tetap enggan untuk tunduk, bahkan mereka menakut-nakuti kaum muslimin, maka dia wajib memerangi mereka untuk meredam keburukan mereka, dan rakyat pun wajib bangkit bersamanya dan memerangi orang-orang yang memberontak supaya mereka kembali kepada perintah Allah dan kepada ketaatan, baik mereka itu kelompok pemberontak ataupun Khawarij.
Abdullah bin Waqdān As-Sa'diy berkata, Aku pernah datang menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersama satu rombongan utusan, masing-masing kami menanyakan satu keperluan, dan aku adalah yang paling terakhir masuk menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Aku bertanya, "Wahai Rasulullah! Aku meninggalkan kaumku sedangkan mereka meyakini bahwa hijrah telah terputus." Beliau bersabda, "Hijrah tidak terputus selama orang-orang kafir masih diperangi."
Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh AhmadSahabat yang mulia ini datang bersama rombongan kaumnya untuk menanyakan berbagai keperluan, dan dia adalah yang paling terakhir masuk menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Di antara pertanyaannya, bahwa sebagian orang di kaumnya mengatakan, syariat hijrah telah terputus. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan kepadanya bahwa hijrah dari negeri kafir menuju negeri Islam tidak terputus selama kaum muslimin masih memerangi orang-orang kafir. Adapun hijrah dari Mekah menuju Madinah, maka itu telah terputus; berdasarkan hadis: "Tidak ada hijrah setelah pembebasan Mekah." (Muttafaq 'Alaih).
Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang bertemu Allah sementara dia tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, maka tidak ada dosa yang akan mencelakakannya. Sebaliknya, siapa yang mati sementara dia menyekutukan Allah, maka tidak ada kebaikan yang bermanfaat baginya."
HR. AhmadNabi ﷺ mengabarkan bahwa siapa saja yang meninggal dan bertemu Allah kelak dalam keadaan bertauhid, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, maka ia termasuk penghuni surga, meskipun setelah disiksa di neraka karena dosanya. Sebaliknya, siapa saja yang meninggal dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka tidak bermanfaat satu pun kebaikannya bersama kesyirikan itu, dan surga haram baginya.
Abu Mūsā -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ berdiri di hadapan kami menyampaikan lima kalimat. Beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah ﷻ tidak tidur, dan tidak pantas bagi-Nya untuk tidur. Allah merendahkan al-qisṭ (timbangan) dan mengangkatnya, kepada-Nya amalan malam dinaikkan sebelum amalan siang dan amalan siang sebelum amalan malam. Tirai-Nya adalah cahaya -di dalam riwayat lain, 'Api'- , sekiranya Allah membukanya niscaya sinar wajah-Nya akan membakar seluruh makhluk sejauh penglihatan-Nya."
HR. MuslimNabi ﷺ berdiri menyampaikan khotbah di hadapan para sahabatnya menyampaikan lima kalimat sempurna, yaitu: Pertama: Allah ﷻ tidak tidur. Kedua: Mustahil bagi-Nya tidur, karena kesempurnaan sifat qayyūm dan sifat hidup-Nya. Ketiga: Allah Ta'ala merendahkan timbangan dan menaikkannya beserta semua yang ditimbang berupa amalan hamba yang naik kepada-Nya, dan berupa rezeki mereka yang turun ke bumi. Rezeki yang merupakan bagian setiap makhluk, Allah ﷻ akan merendahkannya dengan menguranginya atau mengangkatnya dengan melapangkannya. Keempat: Semua yang dilakukan hamba di malam hari akan diangkat kepada Allah sebelum kedatangan siang setelahnya, demikian juga amalan mereka di siang hari sebelum amalan malam setelahnya. Para malaikat pencatat amal akan naik membawa catatan amalan malam hari setelah malam itu berakhir di awal siang, dan mereka akan naik membawa catatan amalan siang hari setelah siang itu berakhir di awal malam. Kelima: Tirai Allah ﷻ yang melindungi sehingga Dia tidak dapat dilihat adalah cahaya atau api, jika Allah menyingkapnya, niscaya sinar wajah-Nya akan membakar semua makhluk yang dijangkau oleh penglihatan-Nya. Sinar wajah-Nya adalah cahaya, kemuliaan, dan keindahannya. Maksudnya, jika Allah menghilangkan dan membuka tirai yang menjadi penghalang melihat-Nya, lalu Dia menampakkan diri kepada makhluk-Nya, niscaya sinar wajah-Nya akan membakar semua makhluk sejauh jangkauan penglihatan-Nya, dan itu adalah seluruh makhluk; karena penglihatan Allah ﷻ menjangkau seluruh alam.
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, "Apabila Rasulullah ﷺ memerintahkan sesuatu kepada para sahabat, maka perintah tersebut adalah amalan yang terjangkau. Mereka berkata, 'Kondisi kami tidak seperti Anda, wahai Rasulullah! Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa Anda yang lalu dan yang akan datang.' (Mendengar itu) beliau marah sampai terlihat kemarahan beliau pada raut wajahnya. Kemudian beliau bersabda, 'Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling tahu tentang Allah di antara kalian.'"
HR. BukhariUmmul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- memberitahukan bahwa Nabi ﷺ tatkala memerintahkan suatu amalan kepada orang-orang, maka beliau memerintahkan amalan yang ringan dan tidak memberatkan mereka, karena khawatir mereka tidak mampu untuk merutinkannya, dan beliau juga mengerjakan amalan yang ringan seperti yang beliau perintahkan kepada mereka. Akan tetapi, mereka justru meminta kepada beliau beban yang berat, sebab mereka meyakini bahwa mereka butuh amalan yang lebih guna mengangkat derajat mereka di bawah beliau. Mereka berkata, "Sesungguhnya keadaan kami tidaklah sama dengan keadaan Anda, wahai Rasulullah, karena Allah telah mengampuni dosa Anda yang telah lalu dan yang akan datang." Mendengar itu, beliau marah sampai terlihat kemarahan beliau pada raut wajahnya. Kemudian beliau bersabda, "Sesungguhnya aku orang yang paling takut dan paling tahu tentang Allah di antara kalian, maka kerjakanlah apa yang aku perintahkan."
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Kita adalah umat terakhir, namun umat pertama yang akan dihisab. Akan dikatakan, 'Manakah umat yang buta huruf itu beserta nabinya?' Kita adalah umat yang terakhir, tetapi yang paling pertama (dihisab dan masuk surga)."
HR. Ibnu MajahNabi ﷺ memberitahukan bahwa umatnya adalah umat terakhir dari sisi keberadaan dan waktu, namun menjadi umat yang paling pertama dihisab pada hari kiamat. Akan dikatakan pada hari kiamat, "Manakah umat yang buta huruf itu serta nabinya?" Yaitu disandarkan kepada kondisi ummiyyah (buta huruf) beliau ﷺ yang tidak bisa membaca dan menulis. Mereka dipanggil paling pertama untuk dihisab. Maka kita secara wujud dan waktu (di dunia) adalah yang terakhir, tetapi yang pertama dalam hal hisab hari kiamat dan masuk surga.