





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Aku bermimpi sedang bersiwak dengan sepotong kayu siwak. Tiba-tiba ada dua orang mendatangiku, salah satu dari mereka lebih tua dari yang lain. Aku memberikan kayu siwak kepada orang yang lebih muda. Lantas dikatakan kepadaku, "Dahulukan yang lebih tua!" Aku pun memberikannya kepada orang yang lebih tua."
Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu'allaq dengan ṣigat jazm (bentuk kalimat yang tegas) - Diriwayatkan oleh MuslimNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah bermimpi bahwasanya beliau bersiwak dengan sepotong kayu siwak. Tiba-tiba beliau didatangi dua lelaki, salah satu dari mereka lebih tua dari yang lain. Beliau hendak memberikan kayu siwak kepada orang yang lebih muda. Lantas dikatakan kepada beliau, "Dahulukan orang yang lebih tua dalam pemberian!" Maka beliau memberikan kayu siwak itu kepada orang yang lebih tua.
Aku tidak pernah merasa cemburu terhadap istri-istri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melebihi kecemburuanku terhadap Khadijah -raḍiyallāhu 'anhā- padahal aku tidak pernah berjumpa dengannya. Akan tetapi beliau sering sekali menyebutnya. Terkadang beliau menyembelih kambing lalu memotong-motongnya menjadi beberapa bagian, kemudian mengirimnya kepada teman-teman Khadijah. Sampai pernah aku berkata kepadanya, "Seakan-akan tidak ada wanita lain di dunia ini kecuali Khadijah." Maka beliau menjawab, "Sesungguhnya dia itu wanita begini dan begini, darinya aku dikarunia anak." Dalam salah satu riwayat disebutkan, "Apabila beliau menyembelih kambing, maka beliau selalu menghadiahkan bagian kambing itu kepada sahabat-sahabat Khadijah apa yang dapat mencukupi mereka." Dalam riwayat lain, "Apabila beliau menyembelih kambing, maka beliau mengatakan, "Kirimkanlah daging kambing itu kepada sahabat-sahabat Khadijah." Dan di dalam riwayat lain, Aisyah berkata, "Hālah binti Khuwailid saudari Khadijah pernah meminta izin untuk masuk ke rumah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau mengenal suara minta izinnya mirip dengan suara Khadijah hingga membuat beliau merasa senang. Lalu beliau berkata, "Ya Allah, ternyata Hālah binti Khuwailid."
Muttafaq 'alaih dengan seluruh riwayat-riwayatnyaAisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Aku tidak pernah merasa cemburu terhadap salah seorang dari istri-istri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- seperti kecemburuanku terhadap Khadijah -raḍiyallāhu 'anhā-. Dia adalah istri pertama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan telah wafat sebelum Aisyah menjumpainya. Dahulu tatkala Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyembelih kambing di Madinah, maka beliau mengambil sebagian dagingnya dan menghadiahkannya kepada teman-teman Khadijah -raḍiyallāhu 'anhā-, dan Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- tidak sabar dengan hal itu. Lantas dia berkata, "Wahai Rasulullah, seakan-akan tidak ada wanita lain di dunia kecuali Khadijah." Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyebutkan bahwa dia (Khadijah) dahulu melakukan begini dan begini, beliau menyebutkan sifat-sifat Khadijah -raḍiyallāhu 'anhā-. Dan beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- juga menambahkan rahasia kecintaan, kasih sayang, dan hubungan (keterikatan) mendalam ini (dengan ucapan), "Dan darinya aku dikaruniai anak." Anak-anak beliau ada empat orang perempuan dan tiga orang laki-laki, mereka semua dari Khadijah kecuali satu orang anak laki-laki yaitu Ibrahim -raḍiyallāhu 'anhu-, dia dari Mariyah Al-Qibṭiyah yang dihadiahkan kepada beliau oleh raja Al-Qibṭ (Mesir). Suatu ketika Hālah binti Khuwailid saudari Khadijah -raḍiyallāhu 'anhuma- datang, lalu ia meminta izin, dan cara minta izinnya menyerupai cara minta izin Khadijah karena suara Khadijah mirip dengan suara saudarinya, lantas beliau teringat Khadijah dengan hal itu. Maka beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun gembira dan senang dengan itu.
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Ia pernah berkata kepada Aṭā’ bin Abi Rabāḥ, “Maukah engkau kutunjukkan seorang wanita yang termasuk penghuni surga?” Aṭā’ menjawab, “Iya.” Ibnu 'Abbās berkata, “Wanita berkulit hitam ini. Ia pernah datang kepada Nabi ﷺ dan mengadu, ‘Sesungguhnya aku menderita penyakit ayan. Saat kambuh, auratku terbuka. Mohonkanlah kepada Allah agar aku disembuhkan.’ Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Jika engkau mau, bersabarlah niscaya engkau akan mendapat surga. Namun jika engkau tetap ingin didoakan, aku akan berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu.’ Wanita itu menjawab, ‘Aku akan bersabar.’ Namun ia menambahkan, ‘Hanya saja, auratku terbuka saat penyakitku kambuh. Mohonkanlah kepada Allah agar auratku tidak terbuka.’ Lalu Rasulullah pun mendoakannya.”
Muttafaq 'alaihIbnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata kepada Aṭā’ bin Abi Rabāḥ, "Maukah engkau kutunjukkan seorang wanita yang termasuk penghuni surga?" Aṭā’ menjawab, "Tentu mau." Ibnu 'Abbās berkata, “Ia adalah wanita Habasyah yang berkulit hitam ini. Ia pernah datang kepada Nabi ﷺ dan mengadu, 'Sesungguhnya aku menderita penyakit ayan, dan saat kambuh, auratku terbuka. Sebagian tubuhku tersingkap tanpa aku sadari. Mohonkanlah kepada Allah agar aku disembuhkan.' Nabi ﷺ bersabda, "Jika engkau mau, bersabarlah niscaya engkau akan mendapat surga. Namun jika engkau tetap ingin didoakan, aku akan berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu." Wanita itu menjawab, "Kalau begitu, aku akan bersabar." Kemudian ia berkata, "Tetapi mohonkanlah kepada Allah agar sebagian tubuhku tidak tersingkap saat datang ayan." Lantas Rasulullah pun mendoakannya.
Ummu ad-Dardā` dan Abu ad-Dardā` -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya sesama muslim tanpa sepengetahuannya adalah mustajab karena di dekat kepalanya ada malaikat yang ditugaskan. Setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat yang ditugaskan itu berkata, 'Āmīn, dan untukmu kebaikan yang sama.'"
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan bahwa doa seseorang untuk saudaranya sesama muslim tanpa sepengetahuan orang yang didoakan adalah mustajab karena lebih tinggi dalam hal keikhlasan. Bahkan, di dekat kepala orang yang berdoa terdapat malaikat yang ditugaskan. Setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat yang ditugaskan itu berkata, "Āmīn, dan untukmu kebaikan yang sama seperti yang engkau doakan."
Dari Abu Żar -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Aku menyaksikan apa yang tidak kalian saksikan. Langit bergemuruh dan wajar saja ia bergemuruh. (Sebab) tidak ada tempat (seluas) empat jari pun di langit melainkan satu malaikat meletakkan keningnya bersujud kepada Allah -Ta'ālā-. Demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak menangis. Kalian juga tidak akan bersenang-senang dengan istri-istri di atas kasur, dan kalian pasti akan keluar menuju tanah-tanah lapang sambil memohon pertolongan kepada Allah -Ta'ālā- dengan suara keras."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadRasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya aku melihat dan mengetahui apa yang tidak kalian lihat dan ketahui. Telah terdengar suara seperti suara kendaraan yang dinaiki (benda berat -edit), dan sudah wajar hal itu terjadi. Tidak ada sejengkal tempat pun di langit melainkan di situ ada malaikat yang meletakkan keningnya bersujud kepada Allah -Ta'ālā-. Demi Allah, andai kalian tahu apa yang aku tahu tentang keagungan Allah -Ta'ālā-, tentu kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis karena takut akan keperkasaan Allah -Subahanahu wa Ta'ālā-. Juga kalian tidak akan dapat menikmati wanita di atas ranjang karena sangat ketakutan. Bahkan niscaya kalian akan keluar ke jalan-jalan memekik mohon pertolongan kepada Allah -Ta'ālā-.
Dari Mu'āż bin Anas -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Barangsiapa yang menahan marahnya padahal ia mampu untuk meluapkannya, maka Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- akan menyerunya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sehingga orang itu dipersilakan untuk memilih bidadari yang ia sukai."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadDalam hadis ini disebutkan bahwa apabila seseorang marah kepada orang lain dan ia mampu untuk meluapkan amarahnya kepadanya, tetapi dia meninggalkan hal itu karena mencari keridaan Allah dan bersabar terhadap sebab-sebab marah yang menimpanya, maka baginya pahala yang besar ini. Yaitu dia akan diseru di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat dan dipersilakan untuk memilih bidadari-bidadari Surga yang cantik sesuka hatinya.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- berfirman pada hari kiamat, "Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini aku menaungi mereka dalam naungan-Ku di hari tidak ada naungan selain naungan-Ku."
Diriwayatkan oleh MuslimAllah -Yang Maha Agung dalam keluhuran-Nya- pada hari kiamat menyeru para makhluk yang ada di Mauqif (padang mahsyar). Dia berfirman, "Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku?" Menanyakan keberadaan mereka, padahal Dia tahu tempat mereka dan kondisi mereka lainnya, untuk menyerukan keutamaan mereka di tempat tersebut dan untuk menyatakan secara tegas keagungan-Nya. Yakni, manakah orang-orang yang saling mencintai karena kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, bukan untuk tujuan lainnya dari keuntungan duniawi atau semacamnya. Kemudian Allah -Ta'ālā- mengatakan, "Hari ini Aku menaungi mereka dalam naungan-Ku." Penyandaran naungan pada Allah adalah penyandaran untuk memuliakan, sedang maksudnya naungan 'Arsy. Disebutkan dalam selain riwayat Muslim, "Naungan 'Arsy-Ku". "Di hari tidak ada naungan selain naunganKu", artinya tak ada satu pun naungan pada hari itu kecuali naungan 'Arsy Ar-Rahmān.
Dari Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu-,ia mengatakan, "Seorang rahib yahudi mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, ia berkata, "Wahai Muhammad, kami mendapati bahwa Allah meletakkan langit-langit di satu jari, bumi-bumi di satu jari, pepohonan di satu jari, air di satu jari, debu di satu jari dan makhluk lainnya di satu jari. Lalu Dia mengatakan, "Aku adalah Sang Raja." Lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tertawa hingga nampak gigi-gigi geraham beliau karena membenarkan ucapan rahib tersebut. Kemudian beliau membaca, "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat." (QS. Az-Zumar: 67). Dalam riwayat Muslim, "Gunung-gunung dan pepohonan di satu jari, kemudian Dia menggoyang semuanya dan berfirman, "Aku Sang Raja, Aku adalah Allah." Dalam riwayat Bukhari, "Dia meletakkan langit-langit di satu jari, air dan debu di satu jari, serta makhluk lainnya di satu jari."
Muttafaq 'alaihIbnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan pada kita bahwa seorang rahib yahudi (rabi) datang pada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ia menyebutkan pada beliau bahwa dalam kitab-kitab mereka mendapati bahwa Allah Yang Maha suci di hari kiamat kelak meletakkan langit-langit di satu jari, bumi-bumi di satu jari, pepohonan di satu jari dan debu di satu jari. Dalam riwayat lain: Air di satu jari dan makhluk-makhluk lainnya di satu jari dari jari-jari-Nya -Jallā wa 'Alā- yang berjumlah lima, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat yang sahih, namun tentunya tidak seperti jari-jari makhluk. Dia mempertontonkan sedikit dari kekuasaan dan keagungan-Nya, lalu Dia menggoyang-goyang makhluk-makhluk itu dan menyerukan adanya kerajaan-Nya yang hakiki, kesempurnaan pengaturan-Nya yang tanpa batas dan sifat uluhiyah-Nya yang benar. Lalu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tertawa hingga gigi-gigi geraham beliau terlihat karena membenarkan ucapan rahib itu. Kemudian beliau membaca, "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat."
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū', "Allah akan melipat semua langit kelak di hari kiamat, kemudian Dia menggenggamnya dengan tangan kanan-Nya dan berfirman, "Akulah Maha Raja, di manakah orang-orang yang bertindak sewenang-wenang? Di manakah orang-orang yang sombong?" Kemudian Dia melipat tujuh lapis bumi dan menggenggamnya dengan tangan kiri-Nya seraya berfirman, "Akulah Maha Raja, di manakah orang-orang yang bertindak sewenang-wenang? Di manakah orang-orang sombong?"
Diriwayatkan oleh MuslimIbnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- mengabarkan kepada kita bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahu mereka bahwa Allah -'Azza wa Jalla- akan melipat tujuh lapis langit pada hari kiamat dan menggenggamnya dengan tangan kanan-Nya, dan melipat tujuh lapis bumi serta menggenggamnya dengan tangan kiri-Nya. Setiap kali Dia melipat salah satu darinya, Dia menyeru orang-orang yang sewenang-wenang dan sombong sambil merendahkan keadaan mereka, dan mendeklarasikan bahwa diri-Nya-lah pemilik kerajaan yang sebenarnya, yang sempurna, yang tidak lemah dan tidak lenyap, dan sesungguhnya segala sesuatu selain-Nya dari kalangan raja dan hamba sahaya, orang adil dan orang zalim akan lenyap dan hilang di hadapan Allah -'Azza wa Jalla-. Dia tidak dipertanyakan mengenai apa yang dikerjakan-Nya, sedangkan mereka ditanya (diminta pertanggungjawabannya).