





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Abdullah bin Abi Aufā -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberi kabar gembira kepada Khadijah -raḍiyallāhu 'anhā- berupa sebuah rumah di Surga dari mutiara, tak ada suara gaduh dan kelelahan di dalamnya.
Muttafaq 'alaihNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberi kabar gembira kepada Khadijah -raḍiyallāhu 'anhā-, yang beliau terima melalui Jibril, berupa istana di Surga yang terbuat dari mutiara berongga, tak ada suara-suara gaduh di dalamnya dan tak ada pula kelelahan. Ummul Mukminin Khadijah adalah wanita pertama yang diperistri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau menikahinya saat beliau berusia 25 tahun, sedang ia seorang janda berumur 40 tahun. Ada juga yang mengatakan bahwa umur beliau 28 tahun. Khadijah melahirkan empat putri dan tiga atau dua putra beliau. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak memadunya dengan seorang pun sampai ia meninggal dunia -semoga Allah meridainya-. Khadijah sosok wanita dewasa, cerdas dan bijaksana. Ia memiliki keutamaan-keutamaan yang sangat terkenal.
Dari Jarīr bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia mengatakan, "Kami berada di sisi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di awal siang, lalu datang kepada beliau sekelompok orang setengah telanjang yang berselimutkan pakaian dari bulu domba yang bergaris atau kain panjang dan berselempang pedang. Mayoritas mereka dari suku Muḍar, bahkan semuanya dari suku Muḍar. Maka raut wajah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berubah karena iba melihat kemiskinan mereka. Beliau masuk kemudian keluar. Beliau memerintah Bilal untuk mengumandangkan azan dan iqamat. Rasulullah salat kemudian berkhutbah. Beliau mengucapkan, "Wahai manusia, bertakwalah kalian pada Rabb yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa..." hingga akhir ayat "...sesungguhnya Allah mengawasai kalian." Dan membaca ayat yang lain di akhir surah Al-Ḥasyr, "Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)" Hendaknya seseorang menyedekahkan uang dinarnya, uang dirhamnya, bajunya, ṣā' gandumnya atau ṣā' kurmanya -hingga beliau mengatakan- meskipun dengan saparuh kurma." Lalu seorang laki-laki dari kaum Ansar datang membawa kantong yang hampir tak kuat dibawa tangannya, bahkan tangannya memang tidak kuat. Kemudian orang-orang berturut-turut (bersedekah), hingga aku melihat dua gundukan makanan dan pakaian. Hingga aku melihat wajah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berbinar seperti berlapis emas. Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa mencontohkan (memulai) sunah (perbuatan) yang baik dalam Islam maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkan sunah tersebut setelahnya, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala mereka. Dan siapa mencontohkan sunah yang buruk maka ia menanggung dosa dari perbuatannya dan dosa orang yang melakukannya setelahnya, tanpa berkurang sedikit pun dari dosa mereka."
Diriwayatkan oleh MuslimHadis Jarīr bin Abdillah Al-Bajali -raḍiyallāhu 'anhu- ini merupakan hadis agung yang darinya terlihat jelas perhatian dan kasih sayang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pada umat beliau –ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ketika para sahabat sedang bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di awal siang, tiba-tiba datang serombongan orang yang mayoritas dari suku Muḍar, atau semuanya dari suku Muḍar, dengan berselimut kain dari bulu domba yang bergaris dan berselempang pedang -raḍiyallāhu 'anhum-. Artinya seseorang tidak memiliki kecuali satu pakaian yang ia selimutkan pada tubuhnya untuk menutupi aurat, ia mengikatkannya di tengkuk. Mereka membawa pedang sebagai persiapan jihad yang diperintahkan kepada mereka –raḍiyallāhu 'anhum-. Maka wajah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berubah sedih karena melihat kepapaan mereka. Padahal mereka dari kabilah Muḍar yang termasuk kabilah Arab paling mulia. Namun kemiskinan mereka telah sampai pada kondisi seperti ini. Kemudian beliau masuk ke dalam rumah, selanjutnya keluar lagi. Lantas beliau memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan azan. Kemudian beliau salat, dilanjutkan dengan berkhutbah kepada orang-orang. Beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memuji Allah sebagaimana kebiasaan beliau, kemudian membaca firman Allah -Ta'ālā-, “Hai sekalian manusia! Bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” Dan firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Kemudian beliau menganjurkan sedekah seraya bersabda, “Seseorang bisa bersedekah dengan uang dinarnya, bersedekah dengan dirhamnya, bersedekah dengan bajunya, bersedekah dengan ṣā’ gandumnya, bersedekah dengan ṣā’ kurmanya...” hingga beliau menyebutkan, “...walaupun dengan separuh kurma.” Para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- adalah orang-orang yang paling bersemangat, paling antusias dan paling gemar berlomba dalam kebaikan. Maka mereka menuju rumah masing-masing, lalu kembali membawa sedekah. Hingga ada orang yang datang membawa kantong berisi perak (dirham) di tangannya yang hampir tak kuat membawanya, bahkan memang tidak kuat. Kemudian ia meletakkannya di hadapan Rasulullah –'alaihi aṣsalātu wa as-salām-. Kemudian Jarīr melihat dua gundukan makanan dan pakaian serta lainnya telah terkumpul di dalam masjid. Sehingga wajah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- setelah sebelumnya muram berubah menjadi ceria seperti disepuh emas. Yakni karena sangat berkilau, berbinar dan kebahagiaan beliau -'alaihi aṣsalātu wa as-salām- lantaran perlombaan dalam bersedekah yang terjadi ini, yang dapat memenuhi kebutuhan orang-orang fakir tersebut. Kemudian Rasulullah –ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa mencontohkan (memulai) sunah (perbuatan) yang baik dalam Islam maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkan sunah tersebut setelahnya, tanpa berkurang sedikit pun dari pahala mereka. Dan siapa mencontohkan sunah (perbuatan) yang buruk maka ia menanggung dosa dari perbuatannya dan dosa orang yang melakukannya setelahnya, tanpa berkurang sedikit pun dari dosa mereka." Maksud “sunah” dalam sabda beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- “Siapa mencontohkan sunah yang baik dalam Islam” adalah orang yang memulai melakukan suatu perbuatan sunah, bukan orang yang membuat sunah baru. Sebab orang yang membuat-buat ajaran dalam Islam yang bukan dari ajaran Islam maka itu tertolak, dan tidak dianggap baik. Akan tetapi maksud “orang yang mencontohkan sunah” adalah ia menjadi orang pertama yang mengamalkannya. Seperti orang yang datang membawa kantong (berisi perak) ini -raḍiyallāhu 'anhu-.
Dari Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwasanya beliau bersabda, "Allah berfirman, 'Orang-orang yang saling mencintai karena keagungan- Ku, mereka memiliki mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat iri para Nabi dan orang-orang yang syahid."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadRasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan firman dari Allah tentang sekelompok kaum Mukminin pada hari kiamat kelak memiliki mimbar dan tempat duduk yang tinggi sebagai bentuk pengagungan Allah kepada mereka. Alasannya adalah karena mereka saling mencintai di jalan Allah demi memuliakan-Nya semata. Mereka saling mencintai karena disatukan oleh keimanan, sampai-sampai para Nabi -'alaihim as-salām- iri dengan kedudukan mereka. Namun, ini bukan berarti mereka lebih baik dan lebih mulia daripada para Nabi -'alaihim as-salām-, karena keutamaan khusus tidak akan bisa menandingi keutamaan yang umum.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Tatkala Allah menciptakan Adam -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, Dia berfirman, 'Pergilah dan ucapkan salam kepada mereka -beberapa malaikat yang sedang duduk- lalu dengarkanlah salam penghormatan mereka kepadamu; karena itu sebagai salam penghormatanmu dan keturunanmu!' Maka Adam berkata, “As-Salāmu ‘alaikum.” Mereka menjawab, “As-Salāmu ‘alaika wa rahmatullāh,” mereka menambah “wa rahmatullāh."
Muttafaq 'alaihMakna hadis: Ketika Allah menciptakan Adam, Allah memerintahkannya untuk menemui beberapa (nafar) malaikat. Nafar itu adalah istilah untuk bilangan antara tiga sampai sembilan. Lalu Adam memberi penghormatan kepada mereka dengan salam dan ia (Adam) mendengarkan jawaban mereka kepadanya. Maka jadilah salam penghormatan yang berlangsung antara dirinya dan mereka sebagai salam penghormatan yang disyariatkan untuknya dan untuk keturunannya yang akan datang dari orang-orang yang berada di atas agama para rasul dan mengikuti mereka. Adam berkata, “As-Salāmu ‘alaikum”, maka mereka menjawab, “As-Salāmu ‘alaika wa rahmatullāh,” mereka menambahkan, “wa rahmatullāh” Maka jadilah redaksi ini yang disyariatkan ketika mengucapkan salam dan menjawabnya. Dalam hadis-hadis lain terdapat tambahan "waraḥmatullāhi wa barakātuh", baik ketika memulai ataupun ketika menjawabnya.
Dari Abu Musa Al-Asy‘ari -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata: “Dahulu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- jika didatangi oleh seorang yang berhajat, beliau menghadap kepada para sahabatnya lalu berkata: ‘Berilah syafaat, niscaya kalian akan diberi pahala. Dan Allah pasti akan menetapkan melalui lisan Nabi-Nya apa yang dicintai-Nya.” Dalam riwayat lain: “…apa yang dikehendaki-Nya."
Muttafaq 'alaihHadits ini mengandung sebuah prinsip dan faedah yang besar serta agung, yaitu bahwa sepatutnya seorang hamba berusaha melakukan perkara-perkara kebaikan; entah itu akan membuahkan hasil sepenuhnya, atau hanya membuahkan sebagiannya, atau bahkan tidak membuahkan sama sekali. Contohnya seperti memberikan syafaat kepada orang-orang yang membutuhkannya di hadapan para penguasa dan pembesar, serta pihak-pihak yang hajat mereka berkaitan dengan pihak tersebut; karena banyak orang yang menolak mengupayakan hal itu jika ia belum tahu apakah syafaatnya diterima atau tidak. Akibatnya, ia telah melewatkan dirinya dari kebaikan yang berlimpah dari Allah, serta kebajikan pada saudara muslimnya. Karena itu, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan para sahabatnya untuk membantu orang-orang yang butuh dengan memberikan syafaat kepada mereka di sisi beliau, agar mereka segera mendapatkan pahala di sisi Allah, berdasarkan sabda beliau: “Berilah syafaat, niscaya kalian akan diberi pahala.” Karena syafaat yang baik dicintai dan diridhai oleh Allah. Allah -Ta‘âlâ- berfirman, “Barang siapa yang memberi syafa’at yang baik, niscaya akan ada bagian untuknya dari (syafa’at) itu.” Di samping mendapatkan pahala di masa sekarang, ia juga berarti menyegerakan kebaikan dan kebajikan untuk saudaranya, dan dengan begitu ia memiliki satu sumbangsih/jasa padanya. Juga, bisa jadi syafaatnya itu dapat menjadi jalan saudaranya mendapatkan apa yang diinginkannya atau sebagiannya. Maka mengupayakan perkara-perkara kebaikan dan kebajikan yang mungkin terpenuhi dan mungkin pula tidak terpenuhi adalah suatu kebaikan yang disegerakan, serta upaya pembiasaan diri untuk menolong dalam kebaikan, serta membuka jalan untuk memberikan syafaat dalam hal-hal yang dipastikan atau diduga akan diterima. Sabda beliau: “Dan Allah pasti akan menetapkan melalui lisan Nabi-Nya apa yang dikehendaki-Nya” maksudnya: apa yang dikehendakiNya dari ilmu-Nya yang terdahulu tentang terjadi atau tidaknya sesuatu. Jadi yang diminta adalah memberikan syafaat, dan pahala akan dibalaskan untuknya; baik syafaat yang diberikan terpenuhi atau terhalangi hingga tak terwujud.
Dari Abu Abdurraḥmān Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Seakan-akan aku sedang melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bercerita tentang seorang Nabi yang dipukul oleh kaumnya hingga ia terluka dan berdarah, kemudian ia mengusap darah tersebut dari wajahnya sambil berdoa, Ya Allah ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui (kebenaran)."
Muttafaq 'alaihNabi kita -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menceritakan tentang seorang Nabi yang dipukuli oleh kaumnya kemudian ia mengusap darah di wajahnya dan mendoakan ampunan untuk mereka. Ini adalah puncak kesabaran dan kelembutan, bahkan ia tidak sekedar mendoakan kebaikan untuk mereka akan tetapi ia juga memberikan uzur untuk mereka disebabkan rasa kasihan atas mereka yang tidak mengetahui hakikat kebenaran yang sesungguhnya.
Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bersabda, "Jika Allah menghendaki rahmat bagi satu umat, Dia mewafatkan Nabi umat itu sebelum mereka, lalu menjadikannya sebagai simpanan pahala dan pendahulu bagi umat tersebut. Jika Allah menghendaki kebinasaan suatu umat, Dia menyiksanya sedang Nabinya masih hidup. Selanjutnya Allah membinasakannya sedangkan Nabi itu hidup dan menyaksikan. Dengan demikian Allah menjadikan matanya sejuk dengan kebinasaan umat saat mereka mendustakan nabi tersebut dan mendurhakai perintahnya."
Diriwayatkan oleh MuslimMakna hadis: Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- jika menghendaki kebaikan bagi satu umat, Dia mencabut nyawa Nabi mereka, dan umat itu masih tetap hidup setelahnya. Dengan demikian, Nabi itu menjadi simpanan pahala yang didahulukan bagi umatnya di surga dan menjadi pemberi syafaat bagi mereka. Asal arti Al-Faraṭu ialah orang yang mendahului tamu yang mengambil air untuk menyediakan apa yang mereka butuhkan saat singgah di rumah-rumah mereka. Selanjutnya kata ini digunakan untuk orang yang memberi syafaat kepada orang-orang setelahnya. Dalam hadis yang lain disebutkan sabda beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Aku yang mendahului kalian di Hauḍ" yakni aku mendahului untuk menghadirkan air kalian. "Jika Allah menghendaki kebinasaan suatu umat, Dia menyiksanya sedang Nabinya masih hidup. Selanjutnya Allah membinasakannya sedangkan Nabi itu hidup dan menyaksikan," seperti yang terjadi pada Nuh -‘alaihissalām- dengan kaumnya dan Nabi-nabi selainnya. Di sini, Nabi seolah mengabari mereka tentang rahmat Allah terhadap umat ini, dan memang beliau -ṣalawātullāhi wa salāmu 'alaihi- adalah rahmat yang didedikasikan bagi umat ini. Allah berfirman, "Dan Kami tidak mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta". Allah telah menjanjikan umat ini untuk tidak diazab selama beliau hidup, bahkan Allah tambah karunia dan pemberian-Nya. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Dan Allah tidak akan mengazab mereka sementara engkau ada bersama mereka, dan Allah tidaklah mengazab mereka sedangkan mereka senantiasa beristigfar."
Dari Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Ketika perang Ḥunain, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberi bagian lebih hasil rampasan perang untuk beberapa sahabat. Beliau memberi Al-Aqra' bin Ḥābis seratus unta. Memberi 'Uyainah bin Ḥiṣn juga seperti itu. Dan memberi bagian lebih kepada beberapa pemuka Arab. Lantas seseorang berkata, "Demi Allah, ini pembagian yang tidak adil dan tidak diridai Allah." Maka aku berkata, "Demi Allah, aku akan melaporkannya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Aku pun melaporkan apa yang dia katakan tadi. Maka wajah beliau berubah dan memerah. Kemudian beliau bersabda, "Lalu siapa yang bisa adil jika Allah dan Rasul-Nya tidak adil?!" Lantas beliau melanjutkan, "Semoga Allah merahmati Nabi Musa; beliau disakiti lebih dari ini, dan dia tetap bersabar." Maka aku pun berkata, "Tidak ada dosa, bila saya tidak melaporkan lagi kepada beliau suatu pembicaraan setelahnya."
Muttafaq 'alaihAbdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- menceritakan bahwa saat para sahabat usai perang Ḥunain, yaitu perang Ṭā`if setelah pembebasan kota Makkah. Rasulullah memerangi penduduk Ṭā`if dan berhasil menghimpun harta rampasan perang yang sangat banyak sekali, berupa unta, kambing, dirham dan dinar. Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- singgah di Ji'rānah, yaitu daerah ujung tanah Haram dari arah Ṭā`if. Beliau singgah di sana dan membagikan ganimah kepada orang-orang yang turut berperang. Beliau memberi Al-Aqra' bin Ḥābis seratus unta. Dan memberi 'Uyainah bin Ḥiṣn juga seratus unta, serta memberi para pemuka Arab bagian untuk menundukkan hati-hati mereka dalam menerima Islam. Jika mereka menjadi baik islamnya sebab pemberian itu, maka akan banyak orang yang tertarik masuk Islam dari pengikut mereka. Yang demikian itu merupakan kekuatan dan keagungan bagi agama Islam. Adapun para sahabat lain yang telah kokoh keimanannya, maka beliau tidak memberi apa-apa karena yakin akan keimanan mereka. Pemberian harta rampasan perang kepada para pemimpin dan pemuka kaum ini dikritisi oleh seseorang seraya berkata, "Demi Allah, pembagian ini tidak adil dan tidak diridai Allah." Ketika Abdullah bin Mas'ūd mendengar kata-kata ini, maka dia segera menemui Nabi dan sebelumnya bersumpah untuk melaporkan ucapannya itu. Ketika Ibnu Mas'ūd memberitahukan omongan orang itu, seketika wajah beliau memerah dan bersabda, "Siapa yang bisa adil jika Allah dan Rasul-Nya tidak adil?" Ini sebagai bentuk pengingkaran terhadap perkataan tersebut. Kemudian beliau meneruskan, "Semoga Allah merahmati Nabi Musa, beliau disakiti lebih dari ini, tetapi tetap bersabar." Saat Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- melihat kemarahan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka dia berkata, "Jika sekali lagi saya mendengar ucapan-ucapan kritis dan jelek dari orang-orang itu, maka aku tidak akan melaporkannya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- selama tidak membahayakan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan Islam.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Zakariya -'alaihissalām- adalah tukang kayu."
Diriwayatkan oleh MuslimDi dalam hadis ini Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyebutkan bahwa profesi yang digeluti oleh Nabi Zakariya -'alaihissalām- untuk mendapatkan kasab (penghasilan)nya ialah tukang kayu.