





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ berkata kepada pamannya, "Ucapkanlah "lā ilāha illallāh" yang bisa aku jadikan sebagai persaksian untuk membelamu pada hari kiamat." Dia menjawab, "Kalaulah bukan karena kekhawatiranku terhadap orang-orang Quraisy yang akan mencelaku; mereka akan mengatakan, 'Penyebab ia melakukan hal itu tidak lain adalah rasa takut', niscaya aku akan membahagiakanmu dengan mengucapkannya." Maka Allah menurunkan, "Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki." [QS. Al-Qaṣaṣ: 56].
HR. MuslimNabi ﷺ meminta pamannya, Abu Ṭālib, di saat dia sedang sekarat agar mengucapkan kalimat lā ilāha illallāh sebagai alasan beliau untuk memberinya syafaat kelak di hari kiamat, serta memberinya kesaksian Islam. Akan tetapi dia enggan untuk mengucapkan kalimat syahadat, karena khawatir orang-orang Quraisy akan mencacinya dan mengatakan bahwa dia masuk Islam karena takut kematian dan kelemahan! Lantas dia berkata kepada Nabi ﷺ: Kalau bukan karena hal tersebut, aku akan memasukkan kebahagiaan pada hatimu dengan mengucapkan kalimat syahadat dan aku akan mewujudkan harapanmu hingga kamu rida! Lantas Allah Ta'ala menurunkan ayat yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak memiliki hidayah taufik kepada Islam, namun Allah -'Azza wa Jalla- semata yang memberi taufik kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan tugas Nabi ﷺ hanya memberi hidayah kepada orang berupa: arahan, penjelasan, bimbingan, dan ajakan kepada jalan yang lurus.
Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Suatu saat, Nabi ﷺ mencari-cari Ṡābit bin Qais. Maka seorang laki-laki berkata, "Wahai Rasulullah! Aku akan memberitahukanmu beritanya." Lantas dia pergi menemuinya dan menemukannya sedang duduk di rumahnya dengan menundukkan kepala. Dia bertanya, "Ada apa denganmu?" Ṡābit menjawab, "Sangat buruk." Yaitu lantaran dia mengangkat suara melebihi suara Nabi ﷺ, sehingga menyangka amalannya telah terhapus dan dia termasuk penghuni neraka. Laki-laki itu segera kembali dan mengabari beliau bahwa dia mengatakan begini dan begini. Kemudian dia pergi menemuinya sekali lagi dengan membawa berita besar; beliau bersabda, "Pergilah! Temui dia. Sampaikan kepadanya: Engkau tidak termasuk penghuni neraka, tetapi Engkau penghuni surga."
Muttafaq 'alaihSuatu saat, Nabi ﷺ tidak melihat Ṡābit bin Qais -raḍiyallāhu 'anhu-, lalu menanyakannya. Seorang laki-laki berkata: Aku akan menemukan beritanya untukmu dan sebab ketidakhadirannya. Lantas dia pergi menemuinya, ternyata dia menemukannya di rumahnya sedang bersedih menundukkan kepala. Dia bertanya, "Ada apa denganmu?" Maka Ṡābit mengabarinya tentang keburukan dirinya, yaitu dia biasa mengangkat suara melebihi suara Nabi ﷺ, sementara Allah telah mengancam orang yang melakukan hal itu akan dibatalkan amalnya dan termasuk penghuni neraka! Laki-laki itu segera kembali menemui Nabi ﷺ dan mengabarkan hal tersebut. Maka Nabi ﷺ memerintahkannya agar kembali menemui Ṡābit dan mengabarinya bahwa dia bukan termasuk penghuni neraka, tetapi dia adalah penghuni surga. Hal itu, karena suaranya yang tinggi adalah sifat bawaan dan dia merupakan juru bicara Rasulullah ﷺ dan juru bicara orang-orang Ansar.
Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa dia mendengar Nabi ﷺ bersabda, "Jika kalian mendengar muazin (mengumandangkan azan), maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan, kemudian berselawatlah kepadaku. Sesungguhnya siapa yang berselawat kepadaku satu kali, Allah akan membalas selawatnya itu sepuluh kali. Kemudian mintakanlah kepada Allah untukku al-waṣīlah. Sesungguhnya al-waṣīlah itu kedudukan dalam surga yang tidak pantas kecuali untuk salah satu hamba Allah. Aku berharap akulah hamba itu. Siapa pun yang meminta al-waṣīlah untukku, maka ia berhak mendapatkan syafaatku."
HR. MuslimNabi ﷺ mengarahkan orang yang mendengar muazin mengumandangkan azan salat agar mengikuti lafaz azannya dengan mengucapkan seperti yang diucapkan muazin, kecuali pada dua hai'alah, yaitu setelahnya ia mengucapkan: lā ḥaula walā quwwata illā billāh. Lalu berselawat kepada Nabi ﷺ setelah azan selesai, karena siapa yang berselawat kepada beliau satu selawat, Allah akan membalas selawatnya itu sepuluh kali. Arti selawat Allah kepada hamba-Nya ialah Allah memuji mereka di sisi para malaikat. Kemudian beliau memerintahkan agar meminta al-wasīlah kepada Allah untuk beliau ﷺ, yaitu sebuah kedudukan dalam surga yang merupakan surga paling tinggi. Kedudukan tersebut tidak akan pantas dan tidak akan diberikan kecuali kepada satu orang hamba di antara semua hamba Allah Ta'ala. Beliau bersabda: Aku berharap, akulah hamba itu. Beliau ﷺ mengatakan demikian sebagai bentuk tawaduk, karena jika kedudukan tinggi itu hanya pantas untuk satu orang, maka satu orang itu tidak lain kecuali beliau ﷺ lantaran beliau adalah makhluk paling mulia. Kemudian Nabi ﷺ menerangkan bahwa siapa yang berdoa memintakan al-wasīlah untuk beliau, maka ia akan mendapatkan syafaat beliau ﷺ.
Uṡmān bin Abil-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Dia pernah datang menemui Nabi ﷺ seraya berkata, "Wahai Rasulullah! Setan telah menghalangiku dari salatku dan bacaanku; ia merancukannya padaku." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Itu adalah setan yang disebut Khinzab. Apabila engkau merasakannya, maka berlindunglah kepada Allah dan meludahlah ke sebelah kirimu tiga kali." Lantas aku melakukannya, maka Allah menghilangkannya dariku.
HR. MuslimUṡmān bin Abil-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhu- datang menemui Nabi ﷺ seraya bertanya, "Wahai Rasulullah, setan telah menghalangiku dari salatku; menghalangiku dari khusyuk, merancukan bacaanku dan membuatku ragu di dalamnya." Rasulullah ﷺ bersabda, "Itu adalah setan yang disebut Khinzab. Apabila engkau merasakannya, maka berlindunglah kepada Allah darinya dan meniuplah ke sebelah kirimu disertai dengan sedikit ludah sebanyak tiga kali." Uṡmān berkata, "Lantas aku melakukan apa yang diperintahkan Nabi ﷺ kepadaku, maka Allah menghilangkannya dariku."
Al-'Abbās bin Abdul Muṭṭalib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Pasti akan mengecap kenikmatan iman, siapa yang rida Allah sebagai tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasulnya."
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan bahwa mukmin yang jujur dalam keimanannya serta hatinya tenteram dengan keimanan itu akan menemukan dalam hatinya kelapangan, kebahagiaan, kenikmatan dan kepuasan dekat dari Allah ﷺ, jika ia rida dengan tiga perkara: - Pertama: dia rida Allah sebagai tuhannya. Yaitu apabila dadanya lapang dengan semua yang datang dari Allah dalam hal rububiyah seperti pembagian rezeki dan keadaan, ia tidak menemukan dalam hatinya perlawanan terhadap satu pun dari hal tersebut serta tidak menginginkan tuhan selain Allah ﷻ. - Kedua: dia rida Islam sebagai agamanya. Yaitu apabila dadanya lapang dengan semua pembebanan dan kewajiban dalam agama Islam dan ia tidak berjalan di selain jalan Islam. - Ketiga: dia rida Muhammad ﷺ sebagai rasulnya. Yaitu apabila dadanya lapang dan bahagia dengan semua yang beliau bawa tanpa ragu-ragu dan syak, ia tidak menempuh kecuali yang sesuai dengan petunjuk beliau ﷺ.
Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Ada empat sifat, siapa yang memiliki keempatnya maka dia seorang munafik sejati, namun siapa yang memiliki salah satunya maka dalam dirinya terdapat satu sifat kemunafikan hingga dia meninggalkannya, yaitu: jika dia berbicara maka dia berdusta, jika dia membuat perjanjian maka dia melanggarnya, melanggarnya, jika dia berjanji maka dia menyelisihinya, dan ketika berdebat maka dia berlaku curang."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengingatkan dari empat sifat, jika keempatnya terkumpul pada seorang muslim maka dia sangat mirip dengan orang munafik lantaran adanya sifat-sifat itu. Ini terkait orang yang secara dominan memiliki keempat sifat ini. Adapun orang jarang melakukan sifat tersebut, maka ia tidak termasuk di dalamnya. Keempat sifat itu adalah: Pertama: Ketika berbicara, dia sengaja berdusta dan tidak jujur dalam ucapannya. - Kedua: ketika membuat sebuah perjanjian, ia tidak memenuhinya dan mengkhianati rekannya. - Ketiga: ketika membuat sebuah janji, ia tidak menepatinya, bahkan menyelisihinya. - Keempat: ketika berseteru dan berselisih dengan seseorang, serangannya keras dan keluar dari kebenaran, ia curang dalam membantah dan menyanggah, dan ia menyampaikan kebatilan dan kedustaan. Kemunafikan ialah menampakkan suatu kebalikan dari yang disembunyikan. Hakikat ini ada pada pemilik sifat-sifat ini. Kemunafikannya adalah pada orang yang ia ajak bicara, orang yang ia beri janji, orang yang mengamanahinya, orang yang ia lawan berseteru, dan orang yang ia beri perjanjian. Ini bukan munafik dalam Islam dengan menampakkan keislaman tetapi menyembunyikan kekafiran. Siapa yang memiliki salah satu sifat ini maka dalam dirinya terdapat satu sifat kemunafikan hingga ia meninggalkannya.
Dari Abu Wāqid al-Hāriṡ bin Auf -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sedang duduk di masjid dan orang-orang bersamanya, tiba-tiba datanglah tiga orang. Dua orang menghampiri Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sedangkan yang satu pergi. Lantas kedua orang itu berdiri di hadapan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Salah satunya melihat tempat yang kosong di halaqah (perkumpulan) itu, lalu ia duduk di tempat kosong tersebut. Sedangkan yang satu lagi, duduk di belakang mereka. Adapun orang yang ketika pergi. Saat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- selesai (bicara), beliau bersabda, "Maukah kalian aku beritahukan tentang tiga orang? Yang pertama, ia berlindung kepada Allah, maka Allah pun melindunginya. Yang kedua, ia malu, maka Allah pun malu terhadapnya. Sedangkan yang ketiga, ia berpaling, maka Allah pun berpaling darinya."
Muttafaq 'alaihDalam hadis ini (dijelaskan) bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sedang duduk di masjid dan orang-orang bersamanya. Tiba-tiba datang tiga orang laki-laki. Dua orang menghampiri Rasulullah - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan yang satu pergi. Kedua orang itu berdiri di sisi halaqah (perkumpulan) Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu salah satunya melihat tempat kosong di halaqah itu, maka ia pun duduk di tempat kosong tersebut. Halaqah adalah orang-orang yang duduk dalam bentuk lingkaran di hadapan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Sedangkan yang satu lagi duduk di belakang mereka. Adapun orang yang ketiga pulang. Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- selesai dari pembicaraan yang disampaikannya, beliau bersabda kepada para sahabat, "Maukah kalian aku beritahukan mengenai tiga orang? Yang pertama, ia berlindung kepada Allah, maka Allah pun melindunginya. Yakni, dia duduk di tempat kosong untuk menyimak zikir kepada Allah lalu Allah pun memuliakannya dengan keutamaan majelis yang penuh berkah itu. Sedangkan yang kedua malu, maka Allah pun malu terhadapnya. Yakni, dia tidak mau berdesak-desakkan sehingga ia duduk di belakang halaqah tanpa terhalang dari keberkahan majelis. Sedangkan orang yang lainnya berpaling, maka Allah pun berpaling darinya. Yakni, dia pergi tanpa ada uzur sehingga terhalang dari keberkahan majelis.
Dari Ḥużaifah bin Al-Yamān -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menceritakan pada kami tentang dua peristiwa yang salah satunya aku telah saksikan terjadi dan aku sedang menanti terjadinya yang kedua. Beliau bercerita pada kami bahwa sifat amanah turun di dasar hati orang-orang, kemudian diturunkanlah Al-Qur`ān sehingga merekapun memahami Al-Qur`ān dan sunnah. Kemudian beliau bercerita pada kami tentang diangkatnya sifat amanah. Beliau menuturkan, "Seseorang tidur sekali, lalu sifat amanah dicabut dari hatinya hingga bekasnya tinggal seperti bintik-bintik. Kemudian ia tidur sekali lagi lalu sifat amanah dicabut dari hatinya hingga bekasnya menjadi seperti bekas lepuhan, laksana bara api yang engkau gelindingkan ke kakimu hingga ia melepuh, sampai-sampai engkau melihatnya mengembung namun tak ada apa-apa di dalamnya." Kemudian beliau mengambil kerikil dan menggelindingkannya pada kakinya. "Maka orang-orangpun berjual beli, tapi tak seorangpun yang nyaris menunaikan amanah, hingga dikatakan, "Di bani fulan ada orang yang amanah". Sampai-sampai dikatakan pada orang itu, "Alangkah sabarnya ia! Alangkah cerdiknya ia! Alangkah dewasanya ia!" Padahal sebenarnya di hatinya tak ada seberat biji sawipun dari keimanan." Sungguh telah datang padaku satu zaman yang aku tidak peduli siapa diantara kalian yang aku berjual beli dengannya, jika ia seorang muslim pasti agamanya akan mengembalikannya padaku dan jika ia seorang nasrani atau yahudi pasti penguasanya akan mengembalikannya padaku, adapun hari ini aku tidak melakukan jual beli dengan kalian selain dengan fulan dan fulan."
Muttafaq 'alaihHadis ini menjelaskan bahwa sifat amanah lenyap dari hati manusia sedikit demi sedikit. Apabila bagian pertamanya hilang, sirnalah cahayanya dan diganti kegelapan seperti bintik-bintik, yakni berbentuk warna yang berbeda dengan warna asalnya. Bila bagian lainnya hilang, bekasnya menjadi seperti melepuh, yakni bekas yang kuat dan hampir tidak hilang kecuali setelah beberapa waktu. Kegelapan ini lebih pekat dibanding sebelumnya. Kemudian beliau menyerupakan hilangnya cahaya sifat amanah tersebut -setelah berada di hati dan keluarnya darinya setelah tertanam di dalamnya dan digantikan dengan kegelapan- seperti bara api yang digelindingkan pada kaki hingga melepuhkannya, kemudian bara itu hilang sementara lepuhan masih ada. Perbuatan beliau mengambil kerikil dan menggelindingkannya dimaksudkan untuk lebih memperjelas permisalan yang beliau sabdakan. “Maka orang-orangpun” -setelah bangun dari tidur yang di dalamnya sifat amanah itu dicabut- “berjual beli, tapi tak seorangpun” dari mereka “yang nyaris” yakni hampir “menunaikan amanah”, apalagi bila benar-benar menunaikannya. “Sampai-sampai dikatakan” karena langkanya sifat ini dan populernya orang yang menyandangnya, "Di bani fulan ada orang yang amanah" yakni, memiliki sifat amanah. “Hingga dikatakan pada orang itu, "Alangkah sabarnya ia” dalam beramal, “mā aẓrafahu” (Alangkah cerdiknya ia!), berasal dari kata aẓ-ẓarf (kecerdikan). “Alangkah dewasanya ia!" Yakni, alangkah kuat kesadaran dan kecerdikannya. “Padahal sebenarnya di hatinya tak ada seberat biji sawipun dari keimanan." Apalagi sifat amanah yang merupakan cabang dari keimanan, tentu tidak ada. “Sungguh telah datang padaku satu zaman yang aku tidak peduli siapa di antara kalian yang aku berjual beli dengannya.” Yakni, aku tidak peduli dengan orang yang aku ajak jual beli karena aku tahu amanah belum terangkat dan manusia masih menunaikan janji. Sehingga aku memilih berjual beli dengan orang yang aku temui tanpa meneliti sisi amanahnya karena aku masih percaya pada manusia dan sifat amanah mereka. “Adapun hari ini” maka sifat amanah telah hilang kecuali hanya sedikit. Karenanya ia mengatakan, “aku tidak melakukan jual beli dengan kalian kecuali dengan fulan dan fulan." Yakni, beberapa person yang aku kenal dan aku mempercayai mereka.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa ada seorang lelaki yang sedang berada di sisi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Tiba-tiba ada orang yang melintasinya. Orang (yang berada di sisi beliau) berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mencintai orang ini." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya kepadanya, "Apakah engkau sudah memberitahukan padanya tentang itu?" Orang itu menjawab, "Belum." Beliau bersabda, "Beritahukan kepadanya!" Lantas orang itu menemuinya lalu berkata, "Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah." Orang itu menjawab, "Semoga Allah mencintaimu, Zat yang menjadikanmu mencintai aku karena-Nya."
Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadHadis nabawi yang mulia ini dikemukakan sebagai penerapan dari perintah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa seseorang hendaknya memberitahu saudaranya jika dia mencintainya. .Tatkala seorang laki-laki yang duduk disamping beliau berkata, "Sesungguhnya aku mencintai pria ini." Maksudnya laki-laki lain yang lewat di hadapan mereka berdua. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya kepada Anas, "Apakah engkau sudah memberitahukan kepadanya tentang itu." Ini menunjukkan bahwa termasuk sunah, apabila seorang Muslim mencintai seseorang, hendaknya ia mengucapkan, "Sesungguhnya aku mencintaimu." Hal ini dilakukan karena kata-kata tersebut memasukkan kecintaan dalam hatinya. Sebab, manusia itu apabila mengetahui bahwa saudaranya mencintainya, dia pun mencintai saudaranya itu. Juga karena hati itu memiliki rasa saling mengenal dan berdekatan meskipun tidak diucapkan oleh lisan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Sesungguhnya roh-roh itu pasukan yang saling bersatu. Roh-roh yang saling kenal (simpati) akan bersatu dan roh-roh yang saling antipati, pasti akan berselisih." Tetapi jika manusia mengucapkan kecintaanya dengan lisannya, maka hal ini akan menambah kecintaan dalam hati dengan mengatakan, "Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah."