





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah mengampuni kesalahan dari umatku akibat keliru, lupa, serta karena dipaksa."
HR. Ibnu Majah, Baihaqi dan lainnyaNabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah mengampuni umatnya dalam tiga kondisi: Pertama: Keliru, yaitu sesuatu yang berasal dari seseorang tanpa disengaja. Contohnya: Seorang muslim hendak melakukan satu perbuatan, namun secara tidak disengaja perbuatannya itu mengenai sesuatu lainnya. Kedua: Lupa, yaitu seorang muslim mengingat-ingat sesuatu, tetapi ia justru lupa saat hendak mengerjakannya, maka ia tidak berdosa juga dalam kondisi ini. Ketiga: Terpaksa. Terkadang seorang hamba dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan, namun ia tidak mampu mengelak atau melawannya, maka kala itulah ia tidak dikenai dosa atau status bersalah. Namun yang harus diperhatikan adalah bahwa tema hadis ini hanya berlaku antara hamba dengan Tuhannya yang berkaitan dengan perbuatan terlarang. Adapun bila berkenaan dengan meninggalkan perintah karena lupa, maka kewajibannya tidak gugur. Bahkan, jika perbuatannya tersebut mengakibatkan kerugian, maka hak sesama makhluk pun tidak gugur begitu saja. Contohnya: Jika seseorang membunuh karena keliru, ia harus membayar diat, atau merusak mobil orang lain karena keliru, ia harus tetap mengganti kerugian.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhumā- dia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat sedangkan di rumahku tidak ada sesuatu yang dapat dimakan oleh makhluk hidup kecuali sedikit gandum di rak ku. Maka akupun memakannya dalam waktu cukup lama. Lalu aku menimbangnya (untuk disedekahkan), sampai habis.
Muttafaq 'alaihAisyah -raḍiyallāhu 'anhumā- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat sedangkan di rumahnya tidak ada sesuatu pun selain sedikit gandum. Dia senantiasa memakan gandum yang ditinggalkan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tersebut beberapa waktu. Ketika dia menimbangnya (untuk dibagikan), gandum itupun habis. Ini menunjukkan keberlanjutan keberkahan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-di makanan yang sedikti tersebut tanpa perlu ditakar yang menunjukkan tawakal yang penuh kepada Allah. Takaran dibutuhkan untuk jugal beli, karena terkait dengan hak orang lain. Adapun takaran untuk beriinfak, maka tidak dianjurkan.
Ṣafwān bin Muḥriz meriwayatkan, Ada seseorang berkata kepada Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, "Apa yang pernah engkau dengar dari Rasulullah ﷺ tentang najwā (pembicaraan tertutup)?" Ibnu Umar menjawab: Aku mendengar beliau bersabda, "Pada hari kiamat, orang mukmin didekatkan kepada Allah ﷻ lalu Dia meletakkan tabir-Nya kepadanya dan mengingatkannya dosa-dosanya. Allah bertanya, 'Apakah kamu mengetahuinya?' Dia menjawab, 'Tentu, wahai Tuhanku! Aku tahu.' Allah berfirman, 'Sungguh Aku telah menutupinya padamu di dunia dan sungguh hari ini Aku mengampuninya untukmu.' Lantas ia diberikan catatan kebaikan-kebaikannya. Adapun orang kafir dan munafik, mereka dipanggil di hadapan makhluk: Mereka itu adalah orang-orang yang mendustakan Allah."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan tentang pembicaraan tertutup Allah kepada hamba-Nya yang beriman kelak di hari Kiamat. Beliau bersabda: Kelak di hari Kiamat, orang mukmin akan didekatkan kepada Tuhannya, lalu Dia meletakkan tirai-Nya untuk penghuni Mahsyar agar tidak ada selain-Nya yang melihat rahasianya. Kemudian Allah bertanya kepadanya: Apakah kamu mengenal dosa ini dan ini ... Dia mengingatkannya pada dosa-dosa antara hamba dengan Tuhannya. Dia menjawab: Ya, wahai Tuhanku. Hingga ketika orang mukmin itu gemetaran dan takut, Allah Ta'ala berfirman: Sungguh Aku telah menutupinya untukmu di dunia, maka hari ini Aku mengampuninya untukmu. Lalu ia diberikan catatan kebaikan-kebaikannya. Adapun orang kafir dan munafik, ia dipanggil di hadapan banyak saksi: Mereka itu adalah orang-orang yang mendustakan Tuhannya. Ketahuilah, laknat Allah terhadap orang-orang yang zalim.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Allah menjadikan rahmat itu seratus bagian. Sembilan puluh sembilan Dia tahan di sisi-Nya, sedangkan satu bagian ia turunkan ke bumi. Dari satu bagian itulah semua makhluk saling menyayangi hingga seekor binatang mengangkat kakinya karena khawatir menginjak anaknya." Dalam satu riwayat disebutkan, "Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- mempunyai seratus rahmat dan ia menurunkan satu di antara seratus rahmat itu untuk jin, manusia, binatang dan serangga. Dengan satu rahmat itulah mereka saling menyayangi dan dengan satu rahmat itulah binatang buas mempunyai rasa kasih sayang terhadap anaknya. Adapun rahmat yang sembilan puluh sembilan, Allah masih menyimpannya untuk diberikan pada hari kiamat, sebagai rasa sayang terhadap hamba-hamba-Nya." Dari Salmān Al-Fārisi -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- mempunyai seratus rahmat, satu di antaranya adalah rahmat yang menjadikan makhluk itu saling menyayangi. Dan yang sembilan puluh sembilan akan diberikan pada hari kiamat." Dalam riwayat lain disebutkan, "Sesungguhnya Allah pada hari Dia menciptakan langit dan bumi, Dia juga menciptakan seratus rahmat. Setiap rahmat memenuhi antara langit dan bumi. Satu di antaranya Dia jadikan rahmat di muka bumi. Dengan satu rahmat itulah seorang ibu mempunyai rasa sayang terhadap anaknya. Demikian pula binatang dan burung, mereka saling menyayangi. Apabila hari kiamat tiba, Dia menyempurnakan rahmat itu."
Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq 'alaihAllah -Tabarāka wa Ta'ālā- menjadikan rahmat seratus bagian. Lalu Dia menurunkan rahmat di dunia dan menahan sembilan puluh sembilan (rahmat) untuk hari kiamat. Dari satu rahmat itulah makhluk-makhluk, saling menyayangi seluruhnya dari bangsa manusia, jin, binatang buas dan berbagai serangga yang merugikan hingga kuda yang terkenal dengan ketangkasan (gerak) dan ringan berpindah akan berusaha menghindarkan bahaya sampai kepada anaknya. Dia mengangkat kuku kakinya karena khawatir menimpanya. Dengan rahmat itu maka binatang buas menyayangi anaknya. Dan Allah -Tabarāka wa Ta'ālā- menunda sembilan puluh sembilan rahmat untuk menjadi rahmat bagi hamba-hamba-Nya pada hari kiamat." hadis Kedua: "Sesungguhnya Allah -Tabarāka wa Ta'ālā- pada hari penciptaan langit dan bumi menciptakan seratus rahmat. Setiap rahmat memenuhi antara langit dan bumi. Dia menjadikan rahmat itu satu di bumi. Dengan rahmat itu seorang ibu mengasihi anaknya dan hewan-hewan serta burung saling menyayangi satu dengan lainnya. Selanjutnya pada hari kiamat kelak Allah Tuhan semesta alam akan menyempurnakan rahmat itu menjadi sembilan puluh sembilan. Jika di dunia yang tegak di atas berbagai kekeruhan ini manusia mendapatkan berbagai kenikmatan Allah -'Azza wa Jalla- karena satu rahmat, bagaimana kiranya dengan rahmat Allah di perkampungan akhirat, tempat abadi dan negeri balasan.
Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku pernah bersama Nabi ﷺ dalam suatu perjalanan. Suatu hari saat kami berjalan, aku mendekat dari beliau. Lantas aku berkata, "Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku amalan yang dapat memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka." Beliau bersabda, "Sungguh, engkau telah menanyakan perkara besar. Tetapi, hal itu akan mudah bagi orang yang dimudahkan Allah Ta'ala untuk melakukannya. Amalan itu adalah engkau beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, menegakkan salat, membayar zakat, berpuasa Ramadan, dan berhaji ke Baitullah." Beliau melanjutkan, "Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, sedekah merupakan penghapus dosa sebagaimana air memadamkan api, dan salatnya seseorang di tengah malam." Lalu beliau membaca (firman Allah), "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya ... hingga firman-Nya, "...apa yang mereka kerjakan." (QS. As-Sajdah: 16) Lantas beliau bertanya, "Maukah aku beritahukan kepadamu seluruh pokok agama, tiangnya, dan puncaknya?" Aku menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Pokok agama adalah Islam (dua kalimat syahadat), tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah jihad." Selanjutnya beliau bertanya, "Maukah aku beritahukan kepadamu kunci semua perkara ini?" Aku menjawab, "Tentu, wahai Nabi Allah." Lantas beliau memegang lidahnya dan bersabda, "Jagalah ini!" Aku bertanya, "Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa karena apa yang kita ucapkan?" Beliau menjawab, "Semoga ibumu kehilangan kamu (ungkapan pengingkaran). Bukankah manusia itu tidak akan tersungkur dalam neraka di atas mukanya -atau di atas hidungnya- melainkan karena hasil panen lidah mereka?!"
HR. Tirmizi, Ibnu Majah, dan AhmadMu'āż -raḍiyallāhu 'anhu- mengisahkan: Aku pernah bersama Nabi ﷺ dalam suatu perjalanan. Suatu hari dalam perjalanan tersebut, aku berjalan dekat dari beliau, lalu aku berkata, "Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku amalan yang akan memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka." Beliau menjawab, "Engkau telah bertanya kepadaku tentang amalan yang berat dikerjakan jiwa, tetapi itu mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah." Amalan itu adalah menunaikan kewajiban-kewajiban Islam, yaitu: - Pertama: engkau beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. - Kedua: engkau menegakkan salat lima waktu yang diwajibkan dalam sehari semalam, yaitu: salat Subuh, Zuhur, Asar, Magrib dan Isya lengkap dengan syarat-syarat, rukun-rukun, dan wajib-wajibnya. - Ketiga: engkau menunaikan zakat yang wajib, yaitu ibadah harta yang diwajibkan pada semua harta yang mencapai kadar yang ditentukan oleh agama, lalu diberikan kepada para mustahiknya. - Keempat: engkau berpuasa Ramadan, yaitu menahan diri dari makan, minum dan pembatal-pembatal lainnya dengan niat beribadah sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. - Kelima: engkau berhaji ke Baitullah di Kota Makkah untuk menunaikan manasik haji dalam rangka beribadah kepada Allah ﷻ. Kemudian beliau ﷺ berkata, "Maukah aku beritahukan kepadamu jalan yang dapat mengantarkan pada pintu-pintu kebaikan?" Yaitu menyempurnakan kewajiban-kewajiban itu dengan melakukan amalan-amalan sunah berikut: - Pertama: puasa sunah. Dia merupakan penghalang yang dapat mencegah dari terjerumus ke dalam maksiat, yaitu dengan memecah syahwat dan melemahkan kekuatan. - Kedua: sedekah sunah. Dia menggugurkan dosa setelah melakukannya serta menghilangkan dampaknya dan menghapusnya. - Ketiga: salat tahajud di sepertiga akhir malam. Beliau ﷺ membaca firman Allah Ta'ala, "Lambung mereka jauh -yaitu: renggang- dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya -melalui salat, zikir, baca Al-Qur`an dan doa- dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa (jenis-jenis nikmat) yang menyenangkan hati -yaitu nikmat-nikmat pada hari Kiamat dan di surga yang akan menjadikan hati mereka senang- sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan." Kemudian beliau ﷺ berkata, "Maukah engkau kukabari fondasi agama, tiangnya yang menjadi tumpuan, dan puncaknya?" Mu'āż -raḍiyallāhu 'anhu- menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Nabi ﷺ bersabda, "Fondasi agama Islam adalah dua kalimat syahadat." Yaitu dengan mengucapkan keduanya seseorang telah memiliki pondasi agama. Lalu tiangnya adalah salat. Tidak ada Islam tanpa ada salat, sebagaimana rumah tidak ada tanpa tiang. Sebab itu, orang yang mengerjakan salat, agamanya kuat dan menjulang tinggi. Sedangkan puncak punuk dan ketinggiannya ialah dengan jihad dan mengerahkan kemampuan dalam memerangi musuh-musuh agama demi meninggikan kalimat Allah. Kemudian beliau ﷺ bertanya, "Maukah engkau kukabari, bagaimana menjaga dan menguatkan semua perkara yang telah saya sebutkan itu?" Beliau lantas memegang lidahnya dan bersabda, "Cegah organ ini agar tidak berbicara dengan hal tidak bermanfaat bagimu." Mu'āż bertanya, "Apakah Tuhan kita akan menghukum dan menghisab kita terkait semua yang kita bicarakan?!" Nabi ﷺ bersabda: Semoga ibumu kehilangan dirimu! Ungkapan tidak bermakna mendoakan keburukan baginya. Melainkan itu adalah ungkapan biasa bangsa Arab untuk mengingatkannya perkara yang patut ia perhatikan dan ketahui. Beliau kemudian bersabda: Bukankah yang melontarkan manusia dan menjerumuskan mereka di atas muka-muka mereka ke dalam neraka tidak lain adalah hasil panen lidah mereka seperti kekufuran, tuduhan, cercaan, gunjingan, adu domba, kebohongan dan semisalnya?!
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik, tidak menerima kecuali perkara yang baik. Sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rasul. Allah berfirman, 'Wahai para rasul, makanlah yang baik-baik dan kerjakanlah amal saleh, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.' (QS. Al-Mu`minūn: 51). Allah juga berfirman, 'Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.' (QS. Al-Baqarah: 172). Kemudian beliau mengisahkan seorang laki-laki yang mengadakan perjalanan jauh dalam keadaan kusut dan berdebu, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit (sembari berkata), "Ya Tuhanku, ya Tuhanku," sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia dikenyangkan dengan yang haram, lantas bagaimana doanya bisa dikabulkan?"
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah itu Mahabaik lagi Mahasuci dari seluruh kekurangan dan cacat sekaligus memiliki sifat-sifat kesempurnaan. Allah tidak menerima perbuatan, perkataan, dan keyakinan kecuali yang baik, yaitu yang murni ditujukan kepada Allah dan sesuai dengan petunjuk Nabi ﷺ. Tidak patut kita mendekatkan diri kepada Allah kecuali dengan yang memenuhi kriteria itu. Di antara faktor paling besar untuk mendapatkan amal yang baik bagi seorang mukmin ialah makanannya harus baik dan berasal dari rezeki yang halal. Dengan hal itu, amalnya akan menjadi baik. Oleh karena itulah, Allah memerintahkan orang beriman dengan perintah yang sama kepada para rasul berupa memakan yang halal dan amal yang baik (amal saleh). Allah berfirman, "Wahai para rasul! Makanlah yang baik-baik dan kerjakanlah amal saleh, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mu`minūn: 51). Allah juga berfirman, "Wahai orang-orang beriman! Makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu." (QS. Al-Baqarah: 172) Kemudian beliau ﷺ mengingatkan dari makan haram yang akan merusak amal dan menghalanginya diterima sekalipun mengerahkan semua sebab penerimaannya yang di antaranya: - Pertama: perjalanan jauh dalam rangka ketaatan seperti haji, jihad, silaturahmi, dan lain sebagainya. - Kedua: rambut kusut karena tidak pernah disisir serta warna rambut dan pakaiannya berubah akibat debu yang menunjukkan bahwa ia adalah orang yang sedang kesulitan. - Ketiga: berdoa dengan mengangkat kedua tangan. - Keempat: bertawasul kepada Allah dengan nama-nama-Nya serta mengulang-ulangnya: ya Tuhanku, ya Tuhanku! Bersamaan dengan sebab-sebab pengabulan doa itu, doanya tidak dikabulkan karena makanannya, minumannya, dan pakaiannya haram serta diberikan asupan dengan yang haram. Jauh kemungkinan orang yang seperti ini gambarannya akan dikabulkan karena bagaimana mungkin ia dikabulkan?!
Al-Miqdād bin 'Amr Al-Kindiy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Dirinya pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Bagaimana menurutmu, apabila aku bertemu dengan seseorang dari kalangan kafir lalu kami saling serang, dan ia menebas salah satu tanganku dengan pedang hingga putus, lalu ia berlindung dariku di sebuah pohon seraya mengatakan, 'Aku masuk Islam karena Allah', apakah aku tetap membunuhnya setelah ia mengucapkan itu, wahai Rasulullah?" Rasulullah ﷺ bersabda, "Jangan membunuhnya." Ia berkata, "Wahai Rasulullah! Dia telah memotong salah satu tanganku, kemudian ia mengucapkan itu setelah memotongnya?" Rasulullah ﷺ bersabda, "Jangan membunuhnya. Jika engkau tetap membunuhnya, ia berada pada posisimu sebelum engkau membunuhnya, sedangkan engkau ada pada posisinya sebelum ia mengucapkan kalimat yang diucapkannya."
Muttafaq 'alaihAl-Miqdād bin Al-Aswad -raḍiyallāhu 'anhu- bertanya kepada Nabi ﷺ: Apabila aku bertemu dengan seseorang dari kalangan kafir dalam perang lalu saling serang dengan pedang hingga orang kafir tersebut menebas salah satu tanganku dengan pedang hingga putus, lalu orang kafir tersebut melarikan diri dan berlindung di sebuah pohon, kemudian dia mengatakan "lā ilāha illallāh", apakah aku boleh membunuhnya setelah dia memotong tanganku? Nabi ﷺ bersabda kepadanya: Janganlah engkau membunuhnya! Ia bertanya: Wahai Rasulullah, dia telah memotong tanganku. Apakah meskipun demikian, aku tetap tidak boleh membunuhnya?! Rasulullah ﷺ bersabda: Janganlah engkau membunuhnya karena darahnya sudah terlindungi. Apabila engkau membunuhnya setelah dia masuk Islam, dia ada pada posisimu yang terlindungi darahnya dengan keislamannya, sedangkan engkau ada pada posisinya yang halal darahnya lantaran berhak mendapat kisas karena engkau membunuhnya.
Dari Usamah bin Zaid -raḍiyallāhu 'anhu-ma, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutus kami ke daerah Huraqah dari suku Juhainah. Kami serang mereka secara mendadak di pagi buta di pusat air mereka. Aku dan seorang lelaki dari Anshar bertemu dengan seorang lelaki dari golongan mereka. Setelah kami dekat dengannya, ia mengucapkan, "Lā ilāha illallāh". Orang Anshar tersebut menahan dirinya dari membunuhnya. Sedangkan aku menusuknya dengan tombakku hingga ia terbunuh. Sesampainya kami di Madinah, berita tersebut sampai kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu beliau bertanya kepadaku, "Wahai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan, "Lā ilāha illallāh"? Aku berkata, "Wahai Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya ingin mencari perlindungan saja." Beliau bersabda, " Apakah kamu membunuh dia setelah mengucapkan, "Lā ilāha illallāh"? Beliau terus-menerus mengulangi perkataan itu kepadaku hingga aku berangan-angan andai diriku belum masuk Islam sebelum hari itu." Dalam satu riwayat, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bukankah ia telah mengucapkan, "Lā ilāha illallāh", mengapa engkau tetap membunuhnya?" Aku katakan, "Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu semata-mata karena takut dari senjata." Beliau bersabda, "Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau dapat mengetahui, apakah ia mengucapkannya karena takut senjata atau tidak?" Beliau mengulang-ulang ucapannya itu hingga diriku menghayal lebih baik aku masuk Islam mulai hari itu saja." Dari Jundub bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengirimkan pasukan dari kaum muslimin kepada suatu golongan dari kaum musyrikin dan mereka bertemu (kontak senjata -edit). Kemudian jika seorang lelaki dari kaum musyrikin mengincar seorang dari kaum muslimin ia membunuhnya. Lantas ada seseorang dari kaum muslimin mengincar orang itu di waktu lengahnya. Kita semua menduga bahwa orang itu adalah Usamah bin Zaid. Setelah orang itu mengangkat pedangnya, tiba-tiba orang musyrik tadi mengucapkan, "Lā ilāha illallāh"? Namun, ia tetap dibunuh olehnya?" Selanjutnya datanglah seorang pembawa berita gembira kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau bertanya kepadanya dan orang itu bercerita sampai akhirnya orang itu memberitahukan pula tentang orang yang membunuh. Orang itu lalu dipanggil oleh beliau dan menanyakan hal tersebut kepadanya. Beliau bersabda, "Mengapa engkau membunuh orang itu?" Orang itu menjawab, "Wahai Rasulullah, orang itu telah banyak menyakiti kaum muslimin dan telah membunuh si fulan dan si fulan." Orang itu menyebutkan nama beberapa orang yang dibunuhnya. Ia melanjutkan, "Aku menyerangnya, tetapi setelah melihat pedang, ia mengucapkan, "Lā ilāha illallāh." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya, "Apakah ia engkau bunuh?" Ia menjawab, "Ya." Kemudian beliau bersabda, "Lalu apa yang akan engkau lakukan terhadap Lā ilāha illallāh, jika kalimat itu datang pada hari kiamat?" Orang itu berkata, "Wahai Rasulullah, mohonkanlah ampunan (kepada Allah) untukku." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Lalu apa yang akan engkau lakukan terhadap Lā ilāha illallāh, jika kalimat itu datang pada hari kiamat?" Beliau tidak menambahkan sabdanya lebih dari kata-kata, "Lalu apa yang engkau lakukan terhadap ia (Lā ilāha illallāh), jika kalimat itu datang pada hari kiamat?"
Diriwayatkan oleh Muslim dengan dua riwayatnya - Muttafaq 'alaihNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutus Usāmah bin Zaid bersama satu pasukan ke Al-Ḥuraqah dari suku Juhainah. Saat mereka sampai ke kaum tersebut dan mendekati mereka, tiba-tiba ada seorang lelaki musyrik yang kabur lalu dikejar oleh Usāmah dan seorang lelaki dari Ansar. Keduanya mengikuti orang itu hendak membunuhnya. Saat keduanya berhasil menemukan orang itu, ternyata orang itu mengucapkan, "Lā ilāha illallāh." Lelaki Ansar itu membiarkannya saat orang itu mengucapkan, "Lā ilāha illallāh," sedangkan Usāmah membunuhnya. Saat mereka kembali ke Madinah dan berita tersebut sampai kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda kepada Usāmah, "Apakah engkau membunuhnya setelah dia mengucapkan, "Lā ilāha illallāh?" Usāmah menjawab, "Ya, wahai Rasulullah. Sesungguhnya dia mengucapkan kalimat itu demi melindungi diri dari pembunuhan dan mencari perlindungan dengannya." Beliau bersabda, "Apakah engkau membunuhnya setelah dia mengucapkan "Lā ilāha illallāh?" Usāmah menjawab, "Ya. Dia mengucapkan kata-kata itu untuk berlindung dari pembunuhan. Padahal dia sudah menyakiti kaum muslimin dan membunuh si fulan dan si fulan." Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau meyakininya dan memastikannya. Lantas apa yang akan engkau lakukan, jika kalimat Lā ilāha illallāh datang pada hari kiamat? Siapa yang akan memberi syafaat kepadamu? Siapa yang akan membelamu dan mendebat jika kalimat tauhid didatangkan dan dikatakan kepadamu, "Kenapa engkau membunuh orang yang mengucapkan kalimat itu?' Usamah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Hingga aku berharap bahwa diriku belum masuk Islam sebelum hari ini." Sebab, jika dia masih kafir lalu masuk Islam, pasti Allah memaafkannya. Tetapi dia sekarang melakukan tindakan tersebut saat sudah menjadi muslim."
Abu Barzah Al-Aslami -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat kelak hingga ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan? Tentang ilmunya, untuk apa ia manfaatkan? Tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan? Dan tentang tubuhnya, untuk apa ia pergunakan?."
HR. TirmiziNabi ﷺ mengabarkan bahwa seorang manusia tidak akan melewatkan tempat hisab kelak di hari kiamat menuju surga atau neraka hingga ditanya tentang beberapa perkara: - Pertama: hidupnya, untuk apa ia habiskan? - Kedua: ilmunya, apakah ia mempelajarinya karena Allah? Apakah ia mengamalkannya? Apakah ia menyampaikannya kepada yang berhak? - Ketiga: hartanya, dari mana ia peroleh. Apakah statusnya halal ataukah haram? Untuk apa ia belanjakan; untuk perkara yang mendatangkan rida Allah ataukah murka-Nya? - Keempat: badannya, kekuatannya, kesehatannya, dan masa mudanya, untuk apa ia manfaatkan dan mempergunakannya?