





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah ﷻ berfirman, 'Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Jika ia menyebut-Ku dalam dirinya, Aku akan menyebutnya dalam diri-Ku. Jika ia menyebut-Ku di tengah sekumpulan orang, Aku akan menyebutnya di tengah makhluk yang lebih baik dari kumpulan itu. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal, Aku mendekat kepadanya satu hasta. Jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta, Aku mendekatinya satu depa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan biasa, Aku datang kepadanya dengan berlari.'"
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah Ta'ala berfirman: Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku akan memperlakukan hamba-Ku sesuai dengan prasangkanya kepada-Ku terkait harapan dan keinginannya mendapatkan ampunan. Aku akan lakukan padanya sepertinya yang ia harapkan dari-Ku, berupa kebaikan atau sebaliknya. Aku akan bersamanya dengan rahmat, taufik, petunjuk, perhatian dan dukungan jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya saat sendiri dengan bertasbih, bertahlil atau lainnya, maka Aku akan menyebutnya dalam diri-Ku. Jika ia menyebut-Ku di hadapan banyak orang, Aku akan menyebutnya di tengah makhluk yang lebih banyak dan lebih baik. Siapa yang mendekatkan diri kepada Allah seukuran satu jengkal, Allah akan memberinya tambahan dengan mendekatinya satu hasta. Jika ia mendekat kepada-Nya seukuran satu hasta, Allah akan mendekat kepadanya seukuran satu depa. Jika ia datang kepada Allah dengan berjalan biasa, Allah datang kepadanya dengan berlari. Sebab itu, ketika seorang hamba mendekatkan diri kepada Tuhannya dengan menaati-Nya dan menghadap-Nya, Allah Ta'ala akan memberinya tambahan kedekatan kepadanya sebagai balasan yang setimpal dengan amalnya. Semakin sempurna penghambaan seorang mukmin kepada Tuhannya, maka Allah Ta'ala akan dekat kepadanya. Pemberian dan pahala Allah lebih banyak daripada amal dan usaha hamba tersebut. Kesimpulannya, balasan dari Allah lebih unggul daripada amal hamba dari segi kualitas maupun kuantitas. Oleh karena itu, seorang mukmin harus berbaik sangka, beramal, bersegera dalam kebaikan, dan terus meningkatkan amal saleh hingga ia berjumpa dengan Allah.
Ṭalḥah bin 'Ubaidillah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Seorang laki-laki dari penduduk Nejd dengan rambut acak-acakan datang kepada Rasulullah ﷺ. Kami mendengar kerasnya suaranya, tetapi tidak memahami apa yang dikatakannya, sampai dia mendekat kepada Rasulullah ﷺ. Ternyata dia bertanya tentang Islam. Maka Rasulullah ﷺ menjawab, "Yaitu salat lima waktu sehari semalam." Ia bertanya, "Apakah ada salat lainnya yang wajib atasku?" Beliau menjawab, "Tidak ada, kecuali jika kamu mengerjakan salat sunah." Beliau meneruskan, "Juga puasa pada bulan Ramadan." Ia bertanya, "Apakah ada puasa lainnya yang wajib atasku?" Beliau menjawab, "Tidak ada, kecuali jika kamu berpuasa sunah." Kemudian Rasulullah ﷺ menyebutkan zakat. Ia bertanya, "Apakah ada sedekah lainnya yang wajib atasku?" Beliau menjawab, "Tidak ada, kecuali jika kamu bersedekah sunah." Lantas laki laki itu pergi sambil berkata, "Demi Allah! Saya tidak akan melakukan lebih dari ini dan juga tidak akan menguranginya." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Dia beruntung jika jujur.”
Muttafaq 'alaihSeorang laki-laki penduduk Nejd datang menemui Nabi ﷺ dengan rambut acak-acakan dan berbicara dengan nada tinggi, namun ucapannya tidak dapat dipahami. Kemudian ia merapat ke arah Nabi ﷺ lalu bertanya tentang kewajiban-kewajiban dalam Islam. Nabi ﷺ memulai dengan menyebutkan salat. Beliau mengabarinya bahwa Allah telah mewajibkan padanya lima kali salat dalam sehari semalam. Lantas laki-laki itu bertanya: Apakah ada salat lain selain kelima salat ini yang wajib atasku? Beliau menjawab: Tidak ada, kecuali engkau sukarela melakukan salat sunah. Kemudian beliau ﷺ menyebutkan: Di antara yang Allah wajibkan atasmu ialah puasa bulan Ramadan. Laki-laki itu bertanya: Apakah ada puasa lain selain puasa Ramadan yang wajib atasku? Beliau menjawab: Tidak ada, kecuali engkau sukarela melakukan puasa sunah. Kemudian beliau ﷺ menyebutkan kepadanya zakat. Lantas laki-laki itu bertanya: Apakah ada sedekah lain selain zakat fardu yang wajib atasku? Beliau menjawab: Tidak ada, kecuali engkau melakukan sedekah sunah. Setelah laki-laki itu mendengar kewajiban-kewajiban tersebut dari Nabi ﷺ, dia beranjak pergi seraya bersumpah dengan nama Allah Ta'ala akan melaksanakannya tanpa ditambah maupun dikurangi. Maka Nabi ﷺ bersabda setelah itu: Jika laki-laki itu jujur pada sumpah yang diucapkannya, niscaya ia termasuk di antara orang-orang yang beruntung.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Sebaik-baik hari padanya matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke dalam surga, dan pada hari itu ia dikeluarkan darinya. Di samping itu, hari Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat."
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan bahwa sebaik-baik hari padanya matahari terbit ialah hari Jumat. Di antara kekhususannya: pada hari itu Allah menciptakan Adam -'alaihissalām-, pada hari itu ia dimasukkan ke dalam surga, dan pada hari itu ia dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke bumi. Selain itu, hari Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, ia bersabda, “Sesungguhnya kelak akan datang seseorang yang sangat besar dan gemuk pada hari kiamat, akan tetapi timbangannya di sisi Allah tidak seberat sayap nyamuk."
Muttafaq 'alaihSesungguhnya orang besar yang memiliki ukuran badan sangat besar, yang sombong terhadap makhluk Allah di dunia, yang angkuh dan sombong dengan perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapannya, maka sungguh pada hari kiamat nanti timbangannya di sisi Allah tidak seberat sayap nyamuk dan dia tidak memiliki nilai serta kedudukan sama sekali.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Tidaklah seorang hamba menutupi aib hamba lainnya di dunia melainkan Allah akan menutupi aibnya pada hari Kiamat."
HR. MuslimNabi Muhammad ﷺ menerangkan bahwa tidaklah seorang muslim menutup aib saudaranya sesama muslim dalam suatu urusan kecuali Allah ﷻ akan menutupi aibnya kelak di hari Kiamat karena balasan semisal dengan perbuatan. Penutupan aibnya oleh Allah ini ialah dengan menutupi kekurangan dan kemaksiatannya, yaitu tidak menyiarkannya kepada penduduk Mahsyar dan bisa juga dengan tidak menghisab dan menyebutnya.
Abu Muslim Al-Khaulāni meriwayatkan, ia berkata, "Al-Ḥabīb Al-Amīn bercerita kepadaku; bagiku ia merupakan sosok orang tercinta dan dia di sisiku orang yang amanah, bahwasanya Auf bin Mālik Al-Asyja'i -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Kami sedang duduk bersembilan, berdelapan, atau bertujuh bersama Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda, 'Apakah kalian tidak mau membaiat Rasulullah?' Padahal kami baru saja berbaiat. Kami berkata, 'Bukankah kami sudah membaiatmu, wahai Rasulullah?' Beliau kembali bersabda, 'Tidakkah kalian membaiat Rasulullah?' Lantas kami mengulurkan tangan sambil berkata, 'Kami membaiatmu, wahai Rasulullah. Untuk hal apa kami berbaiat kepadamu?' Beliau bersabda, 'Kalian akan menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, menunaikan salat lima waktu, melakukan ketaatan -beliau membisikkan satu kalimat-, dan tidak meminta sesuatu pun kepada manusia!' Sungguh, aku melihat sebagian orang-orang itu, cambuk milik seorang mereka jatuh dan ia tidak mau meminta bantuan kepada orang lain untuk mengambilkan cambuknya."
HR. MuslimNabi ﷺ sedang bersama sejumlah orang sahabat, lalu beliau meminta mereka agar berbaiat dan berjanji sebanyak tiga kali untuk berkomitmen terhadap sejumlah perkara: Pertama: Beribadah kepada Allah semata, dengan melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya serta tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Kedua: Mendirikan salat fardu lima kali dalam sehari semalam. Ketiga: Mendengar dan taat terkait hal yang makruf kepada pimpinan kaum muslimin. Keempat: Mengembalikan semua kebutuhan mereka kepada Allah dan tidak memintanya sedikit pun kepada manusia, dan Nabi ﷺ melirihkan suaranya saat menyampaikannya. Para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- telah melaksanakan baiat mereka itu, sampai perawi hadis mengatakan: Sungguh aku melihat beberapa orang dari mereka, dan ada cambuk milik salah satu dari mereka jatuh, lalu pemiliknya tidak meminta bantuan kepada siapa pun untuk mengambilkannya, melainkan ia turun dan mengambilnya sendiri.
Dari Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa didera kefakiran, lalu mengadukannya kepada manusia, maka kefakirannya tidak akan terpenuhi. Dan siapa mengadukan kefakirannya kepada Allah, maka pasti Allah akan segera memberinya rezeki, cepat atau lambat."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadIbnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa didera kesulitan," yaitu kebutuhan yang mendesak. Kata tersebut banyak digunakan untuk menunjukkan kefakiran dan kesempitan hidup. "lalu mengadukannya kepada manusia," yakni memperlihatkan dan menampakkannya dengan cara mengadu kepada mereka serta meminta agar mereka menghilangkannya. Hasilnya, "maka kefakirannya tidak akan terpenuhi." Yakni, kebutuhannya tidak akan terpenuhi dan akan tetap dalam kefakiran. Setiap kali kebutuhannya terpenuhi, maka datang kebutuhan lain yang lebih dahsyat lagi. Sedangkan "Siapa mengadukan kefakirannya kepada Allah," dengan cara bersandar kepada Tuhannya, maka pasti Allah akan memberinya rezeki yang cepat (di dunia) dengan harta dan kekayaan, atau lambat di akhirat.
Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Seorang muslim ketika ditanya di kubur, ia akan bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Itulah (makna) firman Allah Ta'ala: 'Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat.'" (QS. Ibrāhīm: 27)
Muttafaq 'alaihSeorang mukmin pasti akan ditanya di kuburnya. Dua malaikat yang ditugaskan untuk itu akan bertanya kepadanya. Mereka berdua adalah Munkar dan Nakir, sebagaimana nama keduanya disebutkan di sejumlah hadis. Maka dia bersaksi bahwa tidak tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Nabi ﷺ menyebutkan, inilah ucapan teguh yang disebutkan oleh Allah: "Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat." (QS. Ibrāhīm: 27)
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, dan menunaikan zakat. Apabila semua itu telah dilakukan, darah dan harta mereka terlindungi, kecuali dengan hak Islam. Sedangkan perhitungan amalan mereka terserah kepada Allah."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah memerintah beliau untuk memerangi orang-orang musyrik sampai mereka bersaksi tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bersaksi Muhammad ﷺ sebagai pembawa risalah, serta mengamalkan konsekuensi dari kesaksian itu berupa menjaga salat lima waktu dalam sehari semalam dan membayar zakat yang diwajibkan kepada yang berhak. Apabila mereka melaksanakan perkara-perkara ini, maka Islam melindungi darah dan harta mereka, sehingga mereka tidak boleh dibunuh kecuali karena melakukan kejahatan atau pidana yang konsekuensinya hukuman mati berdasarkan hukum Islam, kemudian kelak di hari kiamat Allah Ta'ala yang akan menangani perhitungan amal mereka, di mana Allah mengetahui rahasia mereka.