





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Abu Ayyūb Al-Anṣāriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Tidak halal bagi seorang muslim memboikot saudaranya lebih dari tiga hari; keduanya saling bertemu, tetapi yang satu berpaling dan yang lain pun berpaling. Yang paling baik di antara mereka berdua adalah yang memulai ucapan salam."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ melarang seorang muslim memboikot saudaranya seislam lebih dari tiga hari, yaitu masing-masing tidak mau mengucapkan salam dan tidak mau berbicara kepada yang lain. Orang paling baik di antara kedua orang yang bertengkar itu ialah orang yang berupaya menghilangkan boikot tersebut dan memulai salam. Boikot yang dimaksudkan di sini ialah boikot karena kepentingan pribadi. Adapun boikot karena hak Allah Ta'ala, seperti memboikot pelaku maksiat, pelaku bidah dan teman-teman yang buruk maka tidak dibatasi dengan waktu tertentu, melainkan ia terikat dengan maslahat pemboikotan dan akan hilang bersama hilangnya maslahat tersebut.
Abu Ṣirmah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang menimpakan keburukan pada orang lain, niscaya Allah akan menimpakan keburukan pada dirinya. Siapa yang menimpakan kesusahan terhadap orang lain, niscaya Allah akan menimpakan kesusahan terhadap dirinya."
HR. Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah, dan AhmadNabi ﷺ memperingatkan agar tidak menimpakan keburukan dan kesusahan terhadap seorang muslim pada perkara apa pun dalam urusannya; pada diri, harta atau keluarganya. Siapa yang melakukan hal itu, maka Allah akan menimpakan balasan dan hukuman yang sejenis dengan perbuatannya.
Jarīr bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Kami pernah bersama Nabi ﷺ, lalu beliau memandang bulan di malam purnama sembari bersabda, "Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian memandang bulan purnama ini; kalian tidak akan saling berdesakan dalam memandang-Nya. Jika kalian mampu untuk tidak ketinggalan salat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah!" Kemudian beliau membaca (ayat): 'Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam'."
Muttafaq 'alaihPara sahabat sedang bersama Nabi ﷺ di suatu malam, lalu beliau memandang bulan malam tanggal 14 seraya bersabda, Orang-orang mukmin akan melihat Tuhannya secara hakiki dengan mata tanpa kesamaran dan mereka tidak akan berdesakan maupun ditimpa kelelahan dan kesulitan ketika melihat-Nya ﷻ. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila kalian mampu menghindari sebab-sebab yang dapat memalingkan kalian dari salat Subuh dan salat Asar, maka lakukanlah, serta laksanakan keduanya dengan sempurna pada waktunya secara berjemaah, karena hal itu termasuk sebab dapat melihat wajah Allah ﷻ." Kemudian beliau ﷺ membaca ayat: "Bertasbihlah dengan memuji Tuhan-mu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam."
Abū Mūsā -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh Allah menangguhkan orang yang zalim, tetapi apabila Allah telah menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya." Kemudian beliau membaca ayat: "Begitulah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu sangat pedih lagi keras." [QS. Hūd: 102]
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengingatkan agar tidak larut melakukan kezaliman dengan berbuat kemaksiatan, kesyirikan dan menzalimi hak-hak manusia. Allah Ta'ala terkadang menangguhkan orang yang berbuat zalim, memberinya kelebihan umur dan harta dengan tidak segera menyiksanya agar ia bertobat. Akan tetapi, jika ia tidak bertobat, Allah akan menyiksanya, tidak akan melepaskannya, serta tidak membiarkannya lantaran kezalimannya yang banyak. Kemudian beliau ﷺ membaca ayat: "Begitulah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu sangat pedih lagi keras." [QS. Hūd: 102]
Abu Al-Hayyāj Al-Asadiy mengisahkan: Ali bin Abi Ṭālib pernah berkata kepadaku, "Maukah engkau aku utus sebagaimana Rasulullah ﷺ mengutusku? Yaitu jangan biarkan patung kecuali engkau hancurkannya dan (jangan biarkan) kuburan yang tinggi kecuali engkau ratakan."
HR. MuslimNabi ﷺ mengutus sahabat-sahabatnya agar tidak membiarkan timṡāl (patung) -yaitu gambar bernyawa yang berdimensi ataupun yang tidak berdimensi- kecuali mereka hilangkan atau hapus. Mereka juga tidak boleh membiarkan kubur yang tinggi kecuali diratakan dengan tanah sekaligus harus menghancurkan bangunan yang ada di atasnya, atau mereka cukup membuatkannya gundukan yang tidak terlalu tinggi di atas permukaan tanah, hanya ditinggikan seukuran satu jengkal.
'Imrān bin Ḥuṣain -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Bukan termasuk golongan kami orang yang meramal buruk atau minta diramalkan, melakukan perdukunan atau minta bantuan perdukunan, menyihir atau minta bantuan sihir, dan orang yang membuat buhul. Siapa yang mendatangi dukun lalu membenarkan ucapannya, dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ."
HR. BazzarNabi ﷺ mengancam umat beliau yang melakukan sebagian perbuatan buruk dengan sabda beliau: "Bukan termasuk golongan kami", di antaranya: Pertama: Orang yang meramal sial atau minta diramalkan. Makna asal dari taṭayyur ialah melepas burung ketika akan melakukan suatu perbuatan seperti perjalanan, perdagangan atau lainnya; jika ia terbang ke arah kiri, maka orang yang melepasnya jadi pesimis dan tidak jadi melakukan apa yang diinginkannya. Tidak boleh melakukan hal itu untuk diri sendiri atau meminta orang lain agar melakukannya untuk dirinya. Termasuk dalam masalah ini merasa sial dengan apa saja, baik yang didengar atau dilihat, seperti berupa burung, hewan, orang cacat, nomor, hari atau lainnya. Kedua: Orang yang melakukan perdukunan atau dengan meminta bantuan dukun. Siapa yang mengaku mengetahui yang gaib dengan menggunakan bintang dan lainnya atau datang kepada orang yang mengaku mengetahui yang gaib seperti dukun dan semisalnya lalu membenarkan ucapannya tentang klaim mengetahui yang gaib, maka ia telah kafir kepada Al-Qur`an yang diturunkan pada Muhammad ﷺ. Ketiga: Orang yang melakukan sihir atau minta bantuan sihir; yaitu orang yang melakukan sihir sendiri atau dengan meminta bantuan orang lain, untuk memberikan manfaat kepada seseorang atau mencelakakannya, atau membuat suatu buhul dengan mengikat benang dan sihir padanya dengan membacakannya mantra-mantra yang diharamkan dan meniupnya.
Salah seorang istri Nabi ﷺ meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang mendatangi tukang tenung lalu bertanya kepadanya tentang suatu hal, maka salatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari."
HR. MuslimNabi ﷺ memperingatkan agar tidak datang menemui 'arrāf (tukang tenung), yaitu nama yang berlaku umum untuk dukun, ahli nujum, peramal (dengan membuat garis di tanah) dan semisalnya di antara orang-orang yang mengaku mengetahui perkara gaib melalui media-media yang digunakannya; bahwa dengan sebab sebatas bertanya tentang suatu perkara gaib, Allah akan menghalanginya dari pahala salatnya selama empat puluh hari, sebagai hukuman atas dosa besar itu.
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang mempelajari sebagian dari ilmu nujum (perbintangan), sungguh dia telah mempelajari sebagian sihir. Semakin banyak dia mempelajari ilmu nujum, semakin banyak pula dia mempelajari sihir."
HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan AhmadNabi ﷺ menerangkan bahwa siapa yang mempelajari dan mengambil ilmu nujum dan rasi bintang serta berdalil dengan pergerakannya, terbit dan terbenamnya terhadap peristiwa-peristiwa alam seperti kematian seseorang, kehidupannya, sakitnya, dan semisalnya yang akan terjadi di masa depan, maka dia telah mempelajari sebagian sihir. Semakin banyak yang dipelajari seseorang tentang ilmu ini, maka semakin banyak pula dia belajar sihir.
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda, "Dosa yang paling besar adalah berbuat syirik kepada Allah, merasa aman dari murka Allah, dan berputus asa dari rahmat Allah serta putus harapan dari karunia Allah."
Diriwayatkan oleh AbdurrazzāqDalam hadis ini Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyebutkan beberapa dosa yang merupakan dosa besar, yaitu: 1- Menjadikan sekutu bagi Allah; baik dalam hal rubūbiyyah (sifat ketuhanan-Nya) maupun ulūhiyyah (sifat keilahian-Nya). Beliau memulai dengan syirik karena kesyirikan merupakan dosa yang paling besar. 2- Putus asa dan putus harapan dari Allah; karena ini merupakan bentuk berburuk sangka terhadap Allah dan mengingkari keluasan rahmat-Nya. 3- Merasa aman dari murka Allah; karena banyaknya kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepadanya, sehingga Allah mencabutnya saat dalam kondisi lalai. Hadis ini bukan bermaksud mengkhususkan dosa-dosa besar hanya dalam tiga hal ini saja, karena dosa-dosa besar itu sangatlah banyak. Maksud hadis hanyalah menjelaskan yang paling besar di antara dosa-dosa besar lainnya.