





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya Al-Khaḍir dinamakan demikian karena dia pernah duduk di atas tanah gersang berwarna putih, lalu tiba-tiba bergetar dari belakangnya dan berubah menjadi hijau."
Diriwayatkan oleh BukhariDi dalam hadis ini Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa Al-Khaḍir dinamakan demikian karena dia pernah duduk di atas tanah kering yang tidak memiliki tumbuhan, tiba-tiba tanah tersebut bergetar dari belakangnya dan berubah menjadi hijau, yaitu ketika tumbuh padanya tumbuhan yang hijau. Al-Khaḍir disebutkan kisahnya dalam Al-Qur`ān pada kisah Nabi Musa di dalam surah Al-Kahf. Para ulama berbeda pendapat apakah dia seorang nabi ataukah wali yang saleh, dan pendapat yang benar bahwa dia seorang nabi.
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda, "Orang mulia putra orang mulia putra orang mulia putra orang mulia ialah Yusuf bin Ya'qūb bin Isḥāq bin Ibrahim -'alaihimus-salām-."
Diriwayatkan oleh BukhariSosok mulia yang menggabungkan akhlak mulia dan kemuliaan sebagai nabi, di samping juga merupakan keturunan dari tiga orang nabi secara berurutan, ditambah lagi dengan kemuliaan ilmu takbir mimpi dan kekuasaan yang dikuasainya serta kemampuan memimpin rakyat dengan perilaku yang bagus dan rupa yang elok, ialah Nabi Yusuf bin Nabi Ya'qūb bin Nabi Isḥāq bin Nabi Ibrahim -'alaihimus-salām-.
Zaid bin Arqam -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdoa, "Ya Allah! Ampunilah Ansar, anak-anak Ansar, dan cucu-cucu Ansar."
Muttafaq 'alaihDi dalam hadis ini, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendoakan orang-orang Ansar agar Allah -Ta'ālā- mengampuni mereka, anak-anak mereka, dan cucu-cucu mereka. Ini mengandung keutamaan yang nyata bagi mereka dan anak keturunan mereka setelahnya.
Dari Al-Miswar bin Makhramah -raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū', "Fatimah adalah bagian dari diriku; siapa yang membuatnya marah maka ia telah membuatku marah."
Muttafaq 'alaihRasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahukan bahwa putrinya, Fatimah adalah bagian dari diri beliau. Untuk itu, barangsiapa yang membuatnya marah, berarti telah membuat marah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Dari Ibnu Abi Na'am, ia berkata, "Aku pernah menjadi saksi bagi Ibnu Umar, dan ada seorang lelaki bertanya kepadanya mengenai darah nyamuk. Ibnu Umar bertanya, "Dari penduduk mana engkau?" Orang itu menjawab, "Dari penduduk Irak." Ibnu Umar berkata, "Perhatikanlah oleh kalian orang ini. Dia bertanya kepadaku mengenai darah nyamuk, padahal mereka telah membunuh putra (cucu) Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan aku pernah mendengar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Keduanya (Hasan dan Husain) wewangianku dari dunia."
Diriwayatkan oleh BukhariSeorang lelaki penduduk Irak bertanya kepada Ibnu Umar -raḍiyyallāhu 'anhumā-, "Apakah seseorang yang sedang ihram boleh membunuh serangga-serangga kecil yang berbahaya seperti nyamuk atau tidak?" Umar menjawab dengan heran dan kaget terhadap perhatian orang seperti ini kepada hal-hal yang remeh, padahal mereka berani melakukan dosa-dosa besar. Ia berkata, "Perhatikanlah oleh kalian orang ini. Dia bertanya kepadaku mengenai darah nyamuk, padahal mereka telah membunuh putra (cucu) Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-," yakni, mereka melakukan dosa-dosa besar dan berani membunuh cucu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Setelah itu mereka memperlihatkan kesempurnaan takwa dan warak dalam ibadahnya. Mereka bertanya tentang membunuh nyamuk. Selanjutnya Ibnu Umar berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Keduanya (Hasan dan Husain) wewangianku dari dunia." Yakni, keduanya adalah putra-putraku; aku menciumnya dan mengecupnya. Seakan-akan keduanya merupakan wewangian yang dihirup oleh manusia.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di salah satu pasar Madinah. Beliau pergi, maka aku juga pergi. Lalu beliau bersabda, "Dimanakah anak kecil itu? -tiga kali-. Panggilkan Hasan bin Ali." Maka Hasan bin Ali berjalan sedang di lehernya ada kalung. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berisyarat dengan tangannya begini. Lalu Hasan berisyarat dengan tangannya begini. Beliau memeluknya lalu berkata, "Ya Allah! Sesungguhnya aku mencintainya maka cintailah ia dan cintailah orang yang mencintainya." Abu Hurairah berkata, "Maka tak ada seorang pun yang lebih aku cintai dibanding Hasan bin Ali setelah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengucapkan perkatakan tersebut."
Muttafaq 'alaihAbu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di salah satu pasar Madinah. Lalu beliau pergi dari pasar itu dan Abu Hurairah pun pergi bersama beliau. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendatangi rumah Faṭimah -raḍiyallāhu 'anhā-, lalu menayakan tentang Hasan -raḍiyallāhu 'anhu-. Beliau bertanya, "Di mana luka'." Yakni, di mana anak kecil itu? Panggilkan ia untukku. Lalu Hasan bin Ali berjalan sedang di lehernya ada kalung. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengulurkan tangan beliau untuk memeluk Hasan, dan Hasan mengulurkan tangannya. Keduanya pun berpelukan. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai Hasan maka cintailah ia, dan cintailah setiap orang yang mencintainya." Abu Hurairah berkata, "Maka tak seorang pun yang lebih aku cintai dibanding Hasan bin Ali -raḍiyallāhu 'anhumā- setelah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengucapkan perkataan tersebut"
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkata suatu hari, "Wahai 'Ā`isy! Ini Jibril menyampaikan salam kepadamu." Aku menjawab, "Wa 'alaihis-salām wa raḥmatullāhi wa barakātuh. Engkau bisa melihat apa yang tidak aku lihat." Maksudnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Muttafaq 'alaihNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabari Aisyah bahwa Jibril menyampaikan salam kepadanya. Maka Aisyah menjawab, "Wa 'alaihis-salām wa raḥmatullāhi wa barakātuh. Sesungguhnya engkau, wahai Rasulullah, dapat melihat apa yang tidak dapat aku lihat." Maksudnya, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dapat melihat Jibril, sementara dia tidak dapat melihatnya.
Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Laki-laki yang sempurna banyak jumlahnya, namun dari kalangan wanita tidak ada yang sempurna kecuali Āsiyah istri Firaun dan Maryam binti 'Imrān. Sesungguhnya kelebihan Aisyah di atas para wanita seperti kelebihan ṡarīd (roti yang ditambahkan kuah dan daging) atas semua makanan."
Muttafaq 'alaihDari kalangan laki-laki yang mencapai tingkatan sempurna dalam keutamaan agama dan akhlak jumlahnya banyak. Sebagian mereka mencapai tingkat kesempurnaan yang biasa seperti para ulama, orang-orang saleh, dan para wali. Sebagian yang lain mencapai tingkat kesempurnaan paling tinggi seperti para nabi. Adapun yang mencapai kesempurnaan dari kalangan perempuan, maka jumlah mereka sedikit sekali. Yang paling pertama adalah Āsiyah istri Firaun. Yaitu Āsiyah binti Muzāḥim yang telah Allah jadikan sebagai permisalan dalam hal kesempurnaan iman; Allah berfirman, "Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Firaun." (QS. At-Taḥrīm: 11). Yang demikian itu disebabkan ia beriman kepada Musa manakala dia menaklukkan para penyihir Firaun, lalu ketika Firaun mengetahuinya telah beriman maka dia menyiksanya dengan siksaan yang berat sampai ia meninggal dalam keadaan tetap berpegang teguh dengan keimanannya. Adapun perempuan kedua ialah Maryam binti 'Imrān yang telah Allah jadikan sebagai permisalan dalam hal menjaga kesucian dirinya dan kesempurnaan ibadahnya. Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sungguh kelebihan Aisyah di atas semua perempuan seperti kelebihan ṡarīd di atas semua makanan." Ṡarīd adalah makanan paling disenangi oleh bangsa Arab, yaitu terbuat dari roti dan daging. Sehingga, Aisyah dalam hal keutamaannya di atas semua perempuan seperti keutamaan ṡarīd yang merupakan makan paling lezat di atas semua jenis makanan.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Sesungguhnya setiap umat itu memiliki orang kepercayaan, dan sesungguhnya orang kepercayaan kita, wahai umatku adalah Abu 'Ubaidah bin al-Jarrāḥ."
Muttafaq 'alaihDi setiap umat ada orang terpercaya yang dikenal lebih amanah di banding orang lain, dan sosok dari umat ini yang paling terkenal amanahnya adalah Abu 'Ubaidah 'Amir bin al-Jarrāḥ -raḍiyallāhu 'anhu-. Sebab, meskipun amanah adalah sifat yang sama-sama dimilikinya dan para sahabat -semoga Allah meridai mereka- akan tetapi konteks hadis ini menandakan Abu 'Ubaidah melebihi mereka dalam sifat ini.