





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "JJika bagian lingkar luar matahari mulai terbit, janganlah kalian salat hingga terang (sempurna terbitnya), dan jika bagian lingkar luar matahari mulai terbenam, janganlah kalian salat hingga benar-benar telah hilang! Dan janganlah kalian menunggu untuk salat saat terbit atau saat terbenam matahari, karena sesungguhnya matahari terbit di antara dua tanduk setan."
Muttafaq 'alaihNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan kita apabila bagian lingkar luar matahari yang pertama kali muncul telah terbit, hendaknya kita tidak melakukan salat hingga matahari terbit seluruhnya dan meninggi. Jika bagian lingkar luar matahari terbenam, hendaknya kita tidak melakukan salat sampai matahari terbenam secara total. Beliau juga melarang kita mendirikan salat saat terbit dan terbenam matahari. Sebab larangan ini karena matahari terbit dan terbenam di antara dua tanduk setan, yakni di antara dua sisi kepalanya karena setan itu berdiri tegak di hadapan matahari saat terbit agar ketika matahari mulai memancarkan cahaya ia tepat berada di antara kedua tanduknya. Dengan demikian ia menjadi kiblat bagi orang yang sujud kepada matahari. Demikian juga saat terbenam. Salat dilarang pada waktu tersebut agar tidak menyerupai mereka dalam ibadah.
Dari 'Āmir, ia berkata, aku bertanya kepada 'Alqamah, "Apakah Ibnu Mas'ūd ikut hadir bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pada malam terjadinya pertemuan dengan jin?" Dia berkata, lalu 'Alqamah menjawab, aku bertanya kepada Ibnu Mas'ūd, "Apakah salah seorang dari kalian ikut hadir bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pada malam terjadinya pertemuan dengan Jin?" Ibnu Mas'ūd menjawab, "Tidak, namun suatu hari kami berkumpul bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, tiba-tiba kami kehilangan beliau, lalu kami cari-cari di lembah-lembah dan kampung-kampung. Kami lalu berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah diculik atau dibunuh." Dia berkata, "Pada malam itu, tidur kami betul-betul terusik. Ketika pagi hari tiba, tampak Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berjalan menuju kami dari arah Hirā`. Ibnu Mas'ud berkata, lalu kami berkata, "Ya Rasulullah, malam tadi kami betul-betul kehilangan anda, lalu kami cari-cari, akan tetapi kami tidak menemukan anda. Lalu kami tidur dengan perasaan menegangkan." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kemudian bersabda, "Malam tadi aku didatangi oleh utusan dari kelompok jin, lalu aku pergi bersamanya (menemui kaumnya) dan mengajarkan Al-Qur`ān kepada mereka." Ibnu Mas'ūd kemudian berkata kembali, "Lalu kami diajak oleh Rasulullah untuk melihat bekas-bekas tempat dan perapian mereka (kelompok jin)." Para jin itu juga bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengenai makanan mereka. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Makanan halal untuk kalian adalah semua tulang hewan yang kamu temui yang disembelih dengan menyebut nama Allah. Ketika tulang itu kalian ambil, akan penuh dengan daging. Dan kotoran binatang menjadi makanan bagi hewan kalian." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kemudian melanjutkan sabdanya, "Oleh karena itu, janganlah kalian beristinja dengan keduanya, karena keduanya itu adalah makanan sudara kalian (golongan jin)."
Diriwayatkan oleh MuslimĀmir Asy-Sya'bi -raḥimahullāh- bertanya kepada 'Alqamah -raḥimahullāh-. Keduanya termasuk tabiin yang mulia, "Apakah Abdullah bin Mas'ūd ikut hadir bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pada malam di mana beliau bertemu dengan bangsa jin?" Lalu 'Alqamah memberitahunya bahwa dirinya telah bertanya kepada Ibnu Mas'ūd tentang hal tersebut, dan dia memberitahukan bahwa tidak ada seorangpun di antara mereka yang ikut menghadiri kejadian tersebut, akan tetapi pada suatu malam mereka pernah bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, namun mereka tiba-tiba kehilangan beliau, lalu mencarinya di lembah-lembah, jalan-jalan, dan di antara pegunungan, akan tetapi mereka tidak menemukannya. Para sahabat merasa khawatir jika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah dibunuh secara diam-diam atau diculik oleh bangsa jin. Pada malam itu, mereka tidur dalam keadaan sedih dan gelisah. Ketika pagi hari tiba, tampak Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang dari arah gunung Hirā`. Lalu para sahabat memberitahunya bahwa mereka kehilangan beliau dan telah mencarinya kesana kemari akan tetapi tidak berhasil menemukan beliau. Merekapun tidur dengan sangat tidak menyenangkan. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahu bahwa telah datang kepadanya utusan dari kelompok jin, lalu beliau pergi bersamanya (menemui kaumnya) dan mengajarkan Al-Qur`ān kepada mereka. Lalu Rasulullah pergi bersama para sahabat untuk melihat bekas-bekas tempat dan perapian mereka, dan kemudian beliau memberitahukan bahwa para jin itu telah bertanya kepadanya mengenai makanan mereka. Lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahu mereka bahwa makanan halal untuk mereka adalah semua tulang hewan yang mereka dapatkan yang disembelih dengan menyebut nama Allah, ketika tulang itu mereka ambil, akan penuh dengan daging. Sementara kotoran binatang menjadi makanan bagi hewan mereka. Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang umatnya agar tidak beristinja dengan keduanya (tulang dan kotoran binatang), karena keduanya itu adalah makanan sudara mereka dari golongan jin.
Dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air kemudian mengutus pasukannya. Prajurit yang kedudukannya paling dekat dengannya adalah prajurit yang paling besar kejahatannya. Seorang prajuritnya datang lalu berkata, "Aku sudah melakukan ini dan itu." Iblis berkata, "Engkau belum melakukan apa-apa." Nabi bersabda, "Lantas prajurit yang lain datang lalu berkata, "Aku tidak meninggalkan (manusia) sampai aku memisahkan antara dia dengan istrinya." Nabi bersabda, "Selanjutnya iblis mendekatkan prajurit itu kepada dirinya dan berkata, "Ya, engkau telah melakukannya." Al-A'masy berkata, "Aku mengira beliau bersabda, "Lantas Iblis mendekapnya."
Diriwayatkan oleh MuslimIblis meletakkan singgasananya -yaitu tahta kerajaannya- di atas air kemudian mengutus pasukannya dari bangsa Jin untuk menggoda manusia dan menyesatkan mereka. Jin yang paling dekat kedudukannya dengan Iblis adalah Jin yang paling besar tindakan penyesatannya kepada manusia. Salah satu setan datang lalu berkata kepada Iblis, "Aku sudah melakukan ini dan itu." Maksudnya, aku menyuruh mencuri dan minum khamar, misalnya. Iblis berkata kepadanya, "Engkau tidak melakukan perkara besar, atau sesuatu yang dapat diperhitungkan." Hingga datanglah salah satu setan dan berkata kepada Iblis, "Aku tidak meninggalkan fulan sampai aku memisahkan antara dia dengan istrinya dan menjadikannya menceraikan istrinya." Iblis pun mendekatkan setan kepada dirinya, mendekapnya, dan memeluknya serta berkata kepadanya, "Ya, engkau telah melakukannya." Yakni, engkaulah yang telah melaksanakan keinginanku dan mewujudkan angan-anganku dalam menyesatkan dan merusak manusia.
Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sungguh yang aku khawatirkan pada kalian ialah seseorang yang membaca Al-Qur`ān, hingga ketika keindahan Al-Qur`ān terlihat padanya dan ia menjadi pembela bagi Islam, ternyata ia mengubahnya kepada yang dikehendaki Allah, kemudian ia meninggalkannya dan membuang (tidak mengamalkan)nya serta ia membunuh tetangganya dengan pedang dan menuduhnya dengan kesyirikan." Ḥużaifah bertanya, "Wahai Nabi utusan Allah! Siapakah yang lebih patut dengan kesyirikan, yang dituduh atau yang menuduh?" Beliau bersabda, "Yang menuduh."
Diriwayatkan oleh Ibnu HibbānDi antara perkara yang paling banyak dikhawatirkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- terhadap umatnya ialah seseorang yang membaca Al-Qur`ān lalu manusia melihat padanya cahaya dan keindahan Al-Qur`ān serta efek baiknya dan ia menjadi pembela bagi Islam dan pemeluknya, ternyata kemudian ia mengubah hal itu; ia memisahkan diri dari Islam, meninggalkan Al-Qur`ān, membunuh tetangganya dan menuduhnya dengan kesyirikan. Lantas para sahabat bertanya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Siapakah yang lebih patut pada kesyirikan; orang yang membunuh tetangganya ini dan menuduhnya berbuat syirik, ataukah tetangganya tersebut?" Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa penuduh tetangganya dengan kesyirikan dan pembunuhnya itulah yang lebih patut dan lebih pantas dengan kesyirikan tersebut.
Abu Umāmah Al-Bāhiliy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah Adam seorang nabi?" Beliau menjawab, "Ya." Laki-laki itu bertanya lagi, "Berapa jarak antara Adam dengan Nuh?" Beliau menjawab, "Sepuluh abad." Dia bertanya lagi, "Berapa jarak antara Nuh dengan Ibrahim?" Beliau menjawab, "Sepuluh abad." Dia bertanya, "Wahai Rasulullah! Berapakah jumlah para rasul?" Beliau menjawab, "Jumlah mereka: 315."
Diriwayatkan oleh Hakim - Diriwayatkan oleh ṬabarāniDi dalam hadis ini, Abu Umāmah -raḍiyallāhu 'anhu- bercerita bahwa ada seorang laki-laki datang menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu bertanya tentang Adam, "Apakah ia seorang nabi?" Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawabnya, "Ya, ia seorang nabi." Kemudian laki-laki itu bertanya tentang selisih waktu antara Adam dengan Nuh; maka beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyebutkan bahwa jarak waktu antara keduanya ialah sepuluh abad. Kemudian dia bertanya lagi tentang jarak waktu antara Nuh dengan Ibrahim; maka beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberikannya jawaban yang sama, yaitu sepuluh abad. Kemudian dia bertanya tentang jumlah para rasul; maka beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberikannya jawaban bahwa mereka berjumlah 315 orang.
Wāṡilah bin Al-Asqa' -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sungguh Allah telah memilih Kinānah di antara anak keturunan Ismail, lalu Allah memilih Quraisy di antara kabilah Kinānah, lalu memilih Bani Hāsyim di antara kabilah Quraisy, lalu memilihku di antara anak keturunan Hāsyim. Aku adalah pemimpin anak keturunan Adam, tanpa ada kesombongan. Aku adalah yang paling pertama dibangkitkan dari kubur, pemberi syafaat pertama, dan paling pertama diterima syafaatnya."
Diriwayatkan oleh Ibnu HibbānDalam hadis ini disebutkan bahwa Allah -Ta'ālā- telah memilih Kinānah dan mengutamakan mereka di atas anak keturunan Ismail dari kalangan Arab. Lalu Allah memilih dan mengutamakan Quraisy di atas kabilah-kabilah turunan Kinānah. Lalu Allah memilih dan mengutamakan Bani Hāsyim di antara suku-suku Quraisy lainnya. Lalu Allah memilih dan memuliakan Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di atas anak keturunan Hāsyim. Maka beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah pemimpin anak keturunan Adam seluruhnya dan yang paling mulia di antara mereka. Namun kendati demikian beliau tidak menyombongkan diri atas siapa pun. Beliau hanya menyampaikan wahyu yang Allah wahyukan kepadanya. Begitu juga, beliau adalah orang pertama yang akan dibangkitkan pada hari Kiamat, yang paling pertama memberi syafaat, dan paling pertama syafaatnya dikabulkan.
Jubair bin Muṭ'im -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Aku memiliki lima nama. Aku adalah Muhammad dan Ahmad. Aku juga Al-Māḥī (penghapus) yang dengan perantaraku Allah menghapuskan kekafiran. Aku juga Al Ḥāsyir (penghimpun) karena manusia akan dibangkitkan setelahku, dan aku juga Al-'Āqib (penutup)."
Muttafaq 'alaihHadis ini memberikan pelajaran bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memiliki lima nama, yaitu: Muhammad, Ahmad, Al-Māḥī; yang dengan perantara beliau Allah melenyapkan kekafiran dan penganutnya, Al-Ḥāsyir; yang akan dibangkitkan pada hari Kiamat sebelum seluruh manusia, dan Al-'Āqib; yang tidak ada lagi nabi setelahnya. Sehingga beliau adalah nabi terakhir dan penutup para nabi. Namun ini bukan berarti bahwa beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak memiliki nama selain nama-nama yang lima ini. Beliau masih memiliki nama-nama lainnya sebagaimana yang ada dalam hadis-hadis yang sahih; seperti Al-Muqaffī, Nabi Ar-Raḥmah, Nabi At-Taubah, dan lain sebagainya.
Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah menyebutkan pada kami nama-nama bagi dirinya, sebagiannya kami hafal. Beliau bersabda, "Aku adalah Muhammad, Ahmad, Al-Muqaffī, Al-Ḥāsyir, dan Nabi Ar-Raḥmah." Yazid berkata, "Juga Nabi At-Taubah dan Nabi Al-Malḥamah."
Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh MuslimAbu Musa Al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menamakan dirinya dengan sejumlah nama, di antaranya yang dia hafal: Muhammad, Ahmad, dan Al-Muqaffī; yang memiliki arti nabi terakhir dan penutup. Di antaranya Al-Ḥāsyir; yaitu yang berarti orang pertama yang dibangkitkan. Kemudian Nabi Ar-Raḥmah yang berarti pemilik kelembutan dan kasih sayang kepada alam semesta secara umum melalui syariat yang beliau bawa dan kepada orang-orang beriman secara khusus dengan keistimewaan-keistimewaan yang diberikan kepada mereka. Di antaranya Nabi At-Taubah yang berarti nabi yang diutus membawa penerimaan tobat dengan niat dan ucapan, lantaran tobat sebagian umat-umat sebelum beliau adalah dengan mereka membunuh diri. Atau artinya nabi yang di tengah umatnya banyak terdapat tobat dan tersebar, yaitu manakala umat beliau adalah umat yang paling banyak maka tobat mereka lebih banyak dari tobat umat yang lain. Di antaranya juga ialah Nabi Al-Malḥamah, artinya nabi peperangan. Beliau dinamakan demikian karena kegigihan beliau untuk berjihad demi meninggikan kalimat Allah -Ta'ālā-.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidak seorang pun dari keturunan Adam yang dilahirkan kecuali dia ditusuk oleh setan saat dilahirkan, sehingga dia berteriak menangis karena tusukan setan tersebut, kecuali Maryam dan putranya." Kemudian Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- membaca firman Allah Ta'ālā, "Dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk." (QS. Āli 'Imrān: 36)
Muttafaq 'alaihSetiap anak yang dilahirkan akan ditusuk oleh setan di lambungnya sehingga dia menangis dengan suara tinggi dan berteriak langsung setelah lahir disebabkan oleh tusukan setan tersebut, kecuali Maryam dan putranya, Isa -'alaihimas-salām-. Allah melindungi keduanya dari gangguan setan ketika dilahirkan berkat doa ibundanya Maryam, "Dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak keturunannya dari (gangguan) setan yang terkutuk." (QS. Āli 'Imrān: 36). Maka Allah mengabulkan doa ibundanya Maryam dengan menjaga Maryam dan putranya, Isa -'alaihis-salām-, dari tusukan setan yang terusir dari rahmat Allah -Ta'ālā-. Sementara Maryam tidak memiliki keturunan kecuali Isa -'alaihis-salām-. Tusukan setan ini bermakna hakiki, bukan bermakna kegigihan setan untuk menyesatkan manusia sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian Muktazilah. Tetapi hal ini wajib diimani menurut makna hakikinya, sebagaimana hal itu adalah mazhab Ahli Sunnah wal Jamaah.