





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Tatkala Allah menciptakan Adam, Dia mengusap punggungnya, maka berjatuhanlah semua ruh yang bakal Dia ciptakan dari anak keturunannya sampai hari kiamat. Dan Dia letakkan di antara kedua mata setiap orang dari mereka seberkas cahaya, kemudian Dia tunjukkan kepada Adam. Adam pun bertanya, “Duhai Rabb-ku, siapakah mereka ini?” Allah berfirman, “Mereka ini adalah keturunanmu.” Lalu dia melihat salah seorang dari mereka yang cahaya di antara kedua matanya menakjubkannya, lantas ia berkata, “Duhai Rabb-ku, siapakah dia ini?” Kata Allah, “Dia salah seorang keturunanmu di kalangan umat belakangan, namanya Dawud.” Lalu ia berkata, “Duhai Rabb-ku, berapakah Engkau jadikan umurnya?” Kata Allah, “Enam puluh tahun.” Adam berkata, “Duhai Rabb-ku, tambahkanlah untuknya dari umurku sebanyak empat puluh tahun.” Ketika umur Adam telah habis, Malaikat Maut mendatanginya. Beliau pun berkata, “Bukankah usiaku ini masih tersisa empat puluh tahun lagi?” Malaikat berkata, “Bukankah telah engkau berikan untuk putramu Dawud?” Beliau (Rasulullah) besabda, "Adam melakukan pengingkaran, maka anak cucunya juga melakukan pengingkaran, Adam lupa, maka anak cucunya juga lupa, dan Adam bersalah, maka anak cucunya juga bersalah."
Diriwayatkan oleh TirmiżiTatkala Allah menciptakan Adam, Dia mengusap punggungnya, maka keluarlah dari punggungnya (Adam) setiap orang yang Dia-lah Penciptanya dari anak keturunannya sampai hari Kiamat. Proses usapan-Nya dan keluarnya setiap orang ini adalah secara hakiki, tidak boleh ditakwilkan dengan makna yang merubah makna teks lahirnya sebagaimana dalam mazhab Ahlus Sunah. Ketika Allah mengeluarkan mereka dari punggung Adam, Dia menjadikan di antara kedua mata setiap orang dari mereka kilatan dan kilauan dari cahaya, kemudian Dia menunjukkan mereka kepada Adam, lalu Adam berkata, "Wahai Rabb, siapakah mereka?" Allah -Ta’ālā- berfirman, "Mereka adalah keturunanmu." Lantas dia melihat seorang laki-laki di antara mereka yang kilatan cahaya di antara kedua matanya membuatnya takjub. Lalu ia berkata, "Wahai Rabb-ku, siapakah ini?", Allah -Ta’ālā- berfirman, "Dia Daud." Maka Adam berkata, "Rabb-ku, berapakah Engkau jadikan umurnya?", Kata Allah, "Enam puluh tahun." Adam berkata lagi, "Rabb-ku, tambahkan umurnya dari umurku sebanyak empat puluh tahun." Maka tatkala umur Adam telah habis dan tersisa hanya empat puluh tahun, Malaikat Maut pun mendatanginya untuk mencabut nyawanya. Adam pun berkata, "Sungguh masih tersisa dari umurku empat puluh tahun." Maka Malaikat berkata kepadanya, "Sungguh engkau telah memberikannya kepada putramu Daud." Sungguh Adam telah mengingkari hal itu karena dia (Daud) masih di alam ruh, sehingga ia tidak menyangka kedatangan Malaikat Maut, sehingga anak keturunannya pun mengingkari hal itu. Adam juga lupa, maka anak keturunannya juga lupa, dan Adam melanggar, maka anak keturunannya juga melanggar karena seorang anak pasti menyerupai bapaknya. Adapun Dawud ini, dulu umurnya yang tertulis empat puluh tahun kemudian Allah menjadikannya enam puluh tahun dan Allah Maha Mengetahui apa yang telah terjadi, yang akan terjadi, dan apa yang belum terjadi jika ia terjadi; bagaimana keadaannya sebelum terjadi dan setelah terjadi. Dia Maha Mengetahui apa yang Ia tuliskan/tetapkan untuknya dan apa yang Dia tambahkan untuknya setelah itu. Sedangkan para malaikat tidak memiliki ilmu kecuali apa yang telah Allah ajarkan kepada mereka dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya dan setelah terjadinya. Oleh karena itu, para ulama berkata, "Sesungguhnya penghapusan dan penetapan (takdir) terdapat di dalam suhuf (buku catatan) para malaikat, adapun ilmu Allah -Ta’ālā- maka tidak berbeda-beda, dan tidak ada yang tidak diketahui bagi Allah tentang sesuatu yang seolah-olah sebelumnya Dia tidak mengetahuinya, dan dalam ilmu Allah ini tidak ada penghapusan dan tidak ada pula penetapan (setelah dihapuskan).
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Iman itu berada di Yaman dan hikmah (bersama penduduk) Yaman. Aku mendapati solusi dari Ar-Rahmān (dari kesempitan dan permasalahan) dari arah Yaman. Ketahuilah, sesungguhnya kekufuran, kefasikan dan kerasnya hati itu berada pada orang-orang yang berlomba-lomba memperbanyak harta yaitu pemilik kambing dan unta."
Diriwayatkan oleh Ṭabarāni - Diriwayatkan oleh AhmadSabda beliau: (الإيمان يمان والحكمة يمانية) terdapat perbedaan pendapat tentang maksudnya. Pendapat pertama mengatakan bahwa maknanya adalah penisbahan iman ke Makkah, karena permulaan Yaman dimulai dari Makkah, dan Makkah itu adalah Yaman bagi Madinah. Pendapat kedua mengatakan bahwa yang dimaksud adalah penisbahan iman ke Makkah dan Madinah, karena keduanya adalah Yaman bagi negeri Syam, hal ini jika sabda ini diucapkan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika beliau sedang berada di Tabuk. Pendapat ketiga mengatakan bahwa yang dimaksud adalah kaum Ansar, karena mereka berasal dari Yaman. Dan iman dinisbahkan kepada mereka karena mereka adalah orang-orang yang pertama memberikan pertolongan kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Tidak ada yang menghalangi untuk memaknai perkataan tersebut sesuai dengan lahirnya bahwa yang dimaksud adalah keutamaan penduduk Yaman dibanding penduduk masyriq (Timur). Hal itu disebabkan karena ketundukan mereka terhadap keimanan tanpa menyulitkan kaum Muslimin. Berbeda dengan penduduk Timur dan yang lainnya. Siapa yang memiliki karakteristik tertentu yang kuat, maka dia dinisbahkan kepada karakter itu, untuk menunjukkan kesempurnaan mereka dalam hal tersebut. Namun hal ini tidak berarti meniadakan keimanan dari selain mereka. Kemudian yang dimaksud adalah mereka (penduduk Yaman) yang hidup pada saat itu dan bukan seluruh penduduk Yaman pada setiap zaman; karena lafal hadis tidak menunjukkan hal tersebut. Dan yang dimaksud dengan hikmah adalah pengetahuan yang mencakup ma'rifatullah (mengenal Allah). Sabda beliau: (وأجد نفس الرحمن من قبل اليمن) maknanya adalah bahwa aku dalam kesulitan, penderitaan dan kesedihan dari (berdakwah) kepada penduduk Makkah, lalu Allah melapangkanku dengan bantuan kaum Ansar, maksudnya adalah bahwa beliau mendapatkan solusi dari kalangan Ansar yang berasal dari Yaman. Dengan demikian maka hadis ini bukanlah termasuk hadis-hadis tentang sifat-sifat Allah. Dan sabda beliau: (ألا إن الكفر والفسوق وقسوة القلب في الفدّادين أصحاب المعز والوبر) maknanya adalah bahwa kekufuran, kefasikan dan kerasnya hati itu berada pada orang-orang yang memperbanyak unta dan harta benda di mana suara-suara mereka lantang di antara hewan-hewan ternaknya. Mereka adalah pemilik kambing dan unta. Tetapi penyebutan kambing di sini berlawanan dengan apa yang terdapat dalam kitab saḥīḥain yang menyatakan bahwa ini adalah sifat pemiliki unta dan kuda, sementara ketenangan ada pada pemilik kambing. Ini mencakup kambing biasa dan domba. Apa yang disebutkan dalam saḥīḥain lebih sahih.
Dari Masrūq ia berkata, “Aku pernah duduk bersandar di dekat Aisyah. Aisyah berkata, “Wahai Abu Aisyah! Ada tiga hal, siapa yang berkata dengan salah satu di antaranya sungguh ia telah membuat kebohongan yang besar terhadap Allah.” Aku bertanya, “Apa itu?” Aisyah berkata, “Siapa yang mengklaim bahwa Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah melihat Rabb-nya, sungguh ia telah membuat kebohongan yang besar terhadap Allah.” Aku yang semula duduk bertelekan, langsung duduk tegak, dan kemudian berkata, “Wahai Ummul Mukminin! Tunggulah sebentar, jangan tergesa-gesa. Bukankah Allah telah berfirman, “Sesungguhnya Muhammad telah melihatnya di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwīr: 23). “Sesungguhnya Muhammad telah melihatnya dalam rupanya yang asli pada waktu yang lain.” (QS. An-Najm: 13). Aisyah berkata, “Aku adalah orang pertama dari kalangan umat ini yang menanyakan hal itu kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka beliau menjawab, “Sesungguhnya yang aku lihat itu adalah Jibril. Tidaklah aku pernah melihatnya dalam rupa yang asli selain dua kali itu. Aku melihatnya ketika turun dari langit, yang besar fisiknya memenuhi antara langit dan bumi.” Lalu Aisyah berkata, “Tidakkah kamu pernah mendengar Allah berfirman, “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An'ām: 103). Tidakkah kamu pernah mendengar Allah berfirman, “Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (Malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (QS. Asy-Syūra: 51). Aisyah berkata, “Dan siapa yang mengklaim bahwa Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah menyembunyikan sesuatu dari Kitabullah, sungguh ia telah membuat kebohongan yang besar terhadap Allah. Allah berfirman, “Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (QS. Al-Mā`idah: 67). Aisyah berkata, “Siapa yang mengklaim bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mampu memberitahukan tentang apa yang akan terjadi pada esok hari, sungguh ia telah membuat kebohongan yang besar terhadap Allah. Allah berfirman, “Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah.” (QS. An-Naml: 65)
Muttafaq 'alaihSuatu waktu seorang tabiin yang mulia yaitu Masrūq duduk bersandar di dekat Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-. Lalu Aisyah berkata kepadanya, “Ada tiga hal, barangsiapa yang berkata dengan salah satu di antaranya sungguh ia telah membuat kebohongan yang besar terhadap Allah.” Dia bertanya, “Apa itu?”. Aisyah berkata, “Pertama, siapa yang menyangka bahwa Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah melihat Rabb-nya, sungguh ia telah membuat kebohongan yang besar terhadap Allah.” Masrūq yang semula duduk bertelekan, kemudian duduk tegak, dan kemudian berkata, “Bagaimana bisa engkau berkata bahwa Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak pernah melihat Rabb-nya, bukankah Allah telah berfirman: “Sesungguhnya Muhammad telah melihatnya di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwīr: 23). “Sesungguhnya Muhammad telah melihatnya dalam rupanya yang asli pada waktu yang lain.” (QS. An-Najm: 13)?.” Lalu Aisyah memberitahunya bahwa dirinya adalah orang yang pertama menanyakan kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkaitan dengan kedua ayat tersebut. Maka beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab bahwa yang dilihatnya itu adalah Jibril –'alaihissalām-. Beliau tidak pernah melihatnya dalam rupa yang asli selain dua kali itu. Pertama beliau melihatnya di bumi di arah terbitnya matahari di mana segala sesuatu tampak terlihat sangat jelas. Kedua di surga tertinggi, beliau melihatnya ketika turun dari langit, fisiknya memenuhi antara langit dan bumi.” Kemudian Aisyah berdalil bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- belum pernah melihat Rabb-nya dengan firman Allah -Ta'ālā-, “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An'ām: 103). Dan firman Allah -Ta'ālā-, “Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (Malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (QS. Asy-Syūra: 51). Perkara yang kedua adalah siapa yang menyangka bahwa Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah menyembunyikan sesuatu dari Kitabullah, sungguh ia telah membuat kebohongan yang besar terhadap Allah, Allah berfirman, “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (QS. Al-Mā`idah: 67). Ketiga, “Siapa yang menyangka bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mampu memberitahukan tentang apa yang akan terjadi di masa depan berdasarkan pendapat dari dirinya sendiri tanpa berdasarkan wahyu dari Allah -Ta'ālā-, sungguh ia telah membuat kebohongan yang besar terhadap Allah. Allah berfirman: “Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah”. (QS. An-Naml: 65).
Dari Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Bagaimana mungkin aku bersenang-senang, sementara malaikat peniup sangkakala telah meletakkan sangkakala di mulutnya, menundukkan dahinya, dan menyiapkan pendengarannya menanti perintah untuk meniup agar ia segera meniup." Kaum muslimin bertanya, "Apa yang harus kami ucapkan, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Ucapkanlah, "Ḥasbunallāhu wa ni'mal-wakīl. Tawakkalnā 'alallāhi rabbinā" (Cukuplah Allah bagi kami dan sebaik-baik penolong. Kami bertawakal kepada Allah, Rabb kami). Mungkin saja Sufyan mengatakan, "Alallāhi tawakkalnā" (Kepada Allah kami bertawakal)."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda dalam hadis tersebut, "Bagaimana mungkin aku senang dan bahagia di dunia, serta menikmatinya, sedangkan urusan kiamat sudah dekat, dan malaikat yang bertugas meniup sangkakala -yaitu Israfil- telah meletakkan sangkakala di mulutnya, menundukkan kepalanya, dan bersiap siaga menanti perintah untuk meniup sangkakala agar ia segera meniupnya hingga semua yang ada di langit dan di bumi pingsan, dan terjadilah kiamat?" Tampaknya hal ini -yaitu dekatnya kejadian kiamat- memberatkan dan membebani perasaan para sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mereka bertanya, "Apa yang harus kami ucapkan wahai Rasulullah?" Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepada mereka, "Katakanlah: Ḥasbunallāhu wa ni'mal-wakīl. Tawakkalnā 'allallāhi rabbinā" Yakni, ucapkanlah, "Allah yang mencukupkan kita, dan Dia penanggung kami dan Dia sebaik-baik penanggung, serta kami bertawakal kepada-Nya -subḥānahu-.
Dari Jābir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhumā- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Saya diizinkan menceritakan tentang salah satu Malaikat Allah yang memikul ‘arasy, bahwa jarak antara bagian bawah telinganya dengan pundaknya sejauh jarak perjalanan tujuh ratus tahun."
Diriwayatkan oleh Abu DaudNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan di dalam hadis Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Allah -Ta’ālā- mengizinkan dan memperkenankan beliau untuk menceritakan kepada umatnya tentang sifat salah satu Malaikat yang agung dari malaikat-malaikat Allah -Ta’ālā- yaitu malaikat yang memikul ‘arsy Ar-Rahmān yang merupakan makhluk yang paling besar, bahwa jarak antara tempat yang lembut di bagian bawah telinganya sampai ke bagian bawah tengkuknya dapat dilalui oleh kuda cepat selama tujuh ratus tahun.
Dari Aisyah, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sedang berbaring di rumahku dalam keadaan menyingkapkan kedua pahanya atau kedua betisnya. Lantas Abu Bakar minta izin (untuk masuk), beliau pun memberinya izin dalam kondisi beliau demikian. Lalu ia berbicara. Selanjutnya Umar meminta izin, beliau pun memberinya izin dalam kondisi beliau demikian. Lalu ia berbicara. Selanjutnya Usman minta izin. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- duduk dan merapikan pakaiannya -Muhammad (perawi) berkata, "Aku tidak mengatakan hal itu terjadi dalam satu hari-. Usman masuk lalu berbicara. Setelah ia keluar, Aisyah berkata, "Abu Bakar masuk tapi engkau tidak menyambutnya dan memperhatikannya. Lantas Umar masuk tapi engkau pun tidak menyambut dan memperhatikannya. Selanjutnya Usman masuk lalu engkau duduk dan merapikan pakaianmu." Beliau bersabda, "Tidakkah aku malu kepada seseorang yang para malaikat malu kepadanya?!"
Diriwayatkan oleh MuslimAisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menuturkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sedang berbaring di rumahnya dalam keadaan menyingkap kedua pahanya atau kedua betisnya. Lalu Abu Bakar datang meminta izin untuk masuk. Beliau mengizinkannya dalam kondisi seperti itu, yaitu berbaring dan kedua pahanya atau betisnya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tersingkap. Lantas Abu Bakar bercakap-cakap bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Selanjutnya Umar datang meminta izin. Beliau pun mengizinkannya dalam keadaan seperti itu. Umar pun berbincang-bincang dengan beliau. Lantas datang Usman memohon izin untuk masuk. Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- langsung duduk tegak, merapikan pakaiannya, dan menutup kedua pahanya atau betisnya lalu mengizinkannya masuk. Usman masuk dan berbicara dengan beliau. Setelah ia keluar, Aisyah bertanya, "Abu Bakar datang tapi engkau tidak menyambutnya dan memperhatikan masuknya, lalu Umar masuk tapi engkau tidak menyambutnya dan memperhatikan masuknya. Lantas Usman masuk kemudian engkau duduk tegak, merapikan pakaian, dan menutup kedua paha atau betismu?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Tidakkah aku malu kepada seseorang yang para malaikat malu kepadanya?!" Yakni, para malaikat Allah saja malu kepada Usman, maka bagaimana mungkin aku tidak malu kepadanya?! Hadis ini tidak bisa dijadikan dalil bahwa paha bukan aurat karena yang tersingkap dalam hadis tersebut diragukan, apakah kedua betis atau kedua paha. Dengan demikian tidak bisa ditetapkan sebagai dalil bolehnya memperlihatkan paha. Juga karena hadis-hadis yang berkenaan dengan membuka paha bersumber dari perbuatan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bukan dari sabdanya, dan diriwayatkan oleh para sahabat yang junior. Sedangkan hadis-hadis yang mengandung (keterangan) bahwa paha itu aurat adalah hadis-hadis yang sangat memberikan kehati-hatian dan diriwayatkan oleh para sahabat senior, serta berasal dari sabdanya. Tentunya sabda lebih didahulukan dari perbuatan, sebab perbuatan itu memiliki berbagai kemungkinan, juga karena penyingkapan tersebut terjadi dengan orang-orang khusus dan tidak bersifat umum di setiap tempat. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa paha itu aurat, maka merupakan fatwa dari Komite Tetap Fatwa dan Riset Kerajaan Arab Saudi.
Dari Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang berkelana di bumi untuk menyampaikan kepadaku ucapan salam dari umatku."
Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh DārimiNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan dalam hadis ini bahwa Allah -Ta'ālā- memiliki para malaikat yang banyak berkelana di muka bumi. Jika ada seorang dari umat ini mengucapkan salam kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka mereka menyampaikannya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan berkata kepada beliau, "Sesungguhnya si fulan menyampaikan salam kepadamu."
Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Inilah orang yang membuat 'Arasy bergetar karenanya, pintu-pintu langit dibukakan untuknya, dan dia disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat. Dia dihimpit (kuburan) satu kali himpitan lalu dilapangkan untuknya."
Diriwayatkan oleh Nasā`iDalam hadis ini Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memuji sahabat yang mulia, Sa'ad bin Mu'āż -raḍiyallāhu 'anhu- yang membuat 'Arasy Allah Yang Maha Pengasih bergetar karena senang dengan kedatangannya, dan pintu-pintu langit dibuka baginya untuk turunnya rahmat dan turunnya para malaikat, serta untuk menghiasi (guna menyambut) kedatangannya dan keluarnya ruhnya. Sebab, tempat ruh orang-orang mukmin adalah surga yang berada di atas langit ketujuh. Sebagaimana juga di antara keutamaan sahabat agung ini bahwa jenazahnya dihadiri oleh tujuh puluh ribu malaikat sebagai bentuk penghormatan baginya. Selanjutnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- disamping menjelaskan keutamaan Sa'ad bin Mu'āż dan kedudukannya yang agung di sisi Allah (beliau juga menjelaskan) bahwa kuburan telah menghimpitnya satu himpitan lalu Allah melapangkan baginya. Himpitan ini tidak ada seorang pun yang selamat darinya. Seandainya ada seorang saja yang selamat darinya, niscaya Sa'ad selamat darinya sebagaimana sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Zaid bin Ṡābit -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Kami sedang bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyusun Al-Qur`ān dari potongan-potongan kain, maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Kebaikan bagi Syam." Kami bertanya, "Apa yang menyebabkan hal itu, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Karena malaikat-malaikat Ar-Raḥmān membentangkan sayapnya di atasnya."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadZaid bin Ṡābit -raḍiyallāhu 'anhu- bercerita bahwa mereka sedang bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyusun Al-Qur`ān dari potongan-potongan kain tempat mereka menulisnya, lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Kebaikan bagi Syam." Maksudnya, kehidupan yang tenang dan baik diperoleh oleh negeri-negeri Syam dan penduduknya. Maka para sahabat bertanya, "Apa yang menyebabkan engkau mengatakan demikian, wahai Rasulullah?" Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Karena malaikat-malaikat Ar-Raḥmān membentangkan sayapnya di atasnya." Yaitu karena para malaikat membentangkan sayapnya di atas negeri Syam dan penduduknya sehingga mereka menaunginya lalu keberkahan turun padanya serta mereka menghalau kebinasaan dan keburukan darinya serta menjaganya dari kekufuran dan berbagai fitnah. Apakah hal ini berlanjut hingga masa kita sekarang ini, ataukah maksud hadis ini ialah perkara yang terjadi di masa awal setelah kenabian? Hadis ini bersifat mutlak dan tidak melazimkan keberlangsungannya secara terus menerus. Wallāhu a'lam.