





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah -'Azza wa Jalla- berfirman pada hari kiamat, ‘Wahai Anak Adam! Aku sakit, namun engkau tak menjenguk-Ku!’" (Anak Adam) berkata, "Wahai Rabb-ku, bagaimana aku menjenguk-Mu, sementara Engkau adalah Rabb seluruh alam semesta?" (Allah) menjawab, "Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku, si fulan, menderita sakit, namun engkau tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau menjenguknya, engkau akan mendapati-Ku di sisinya? Wahai Anak Adam! Aku telah meminta makan kepadamu, namun engkau tak memberi-Ku makan!" (Anak Adam) berkata, "Wahai Rabb-ku, bagaimana aku memberi-Mu makan, sementara Engkau adalah Rabb seluruh alam semesta?" (Allah) menjawab, "Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku, si fulan, telah meminta makan kepadamu, tapi engkau tidak memberinya makan? Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau memberinya makan, engkau pasti akan mendapatkan (balasan) itu di sisi-Ku? Wahai Anak Adam! Aku telah meminta minum kepadamu, namun engkau tak memberi-Ku minum!" (Anak Adam) berkata, "Wahai Rabb-ku, bagaimana aku memberi-Mu minum, sementara Engkau adalah Rabb seluruh alam semesta?" (Allah) menjawab, "Hamba-Ku, si fulan, telah meminta minum kepadamu, namun engkau tak memberinya minum! Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau memberinya minum, engkau pasti akan mendapatkan (balasan) itu di sisi-Ku."
Diriwayatkan oleh MuslimDari Abu Hurairah, ia berkata "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, ‘Sesungguhnya Allah -'Azza wa Jalla- berfirman pada hari kiamat, ‘Wahai Anak Adam! Aku telah sakit, namun engkau tak menjenguk-Ku!’ (Anak Adam) berkata, ‘Wahai Rabb-ku, bagaimana aku menjenguk-Mu, sementara Engkau adalah Rabb seluruh alam semesta? Yakni Engkau tidak butuh kepadaku hingga aku menjengukmu. (Allah) menjawab, "Tidakkah engkau tahu bahwa hambaKu, si fulan, menderita sakit, namun engkau tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau menjenguknya, engkau akan mendapatiKu di sisinya?" Hadis ini tidak bermasalah, berkaitan dengan firman-Nya "Aku telah sakit, namun engkau tak menjenguk-Ku!" mustahil bagi Allah untuk sakit, sebab sakit itu tanda kekurangan sedangkan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- tersucikan dari segala kekurangan. Jadi maksudnya adalah sakitnya hamba-Nya yang saleh dan wali-wali Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- serta pilihan-Nya. Oleh karena itu Dia berfirman: "Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau menjenguknya, engkau akan mendapatiKu di sisinya?" Dia tidak mengatakan, engkau akan dapati itu di sisi-Ku. Begitu pula firman-nya pada makan dan minum. Bahkan Dia berfirman, "engkau akan mendapati-Ku di sisinya" ini menunjukkan kedekatan orang sakit dari Allah -'Azza wa Jalla-. Oleh karena itu para ulama mengatakan: sesungguhnya orang sakit itu lebih cepat dikabulkan doanya, baik ketika mendoakan kebaikan atau keburukan kepada seseorang. "Wahai Anak Adam! Aku telah meminta makan kepadamu, namun engkau tak memberi-Ku makan!" Telah diketahui bersama bahwa Allah -Ta'ālā- tidak meminta makan untuk diri-Nya sendiri berdasarkan firman-Nya -Tabāraka wa Ta'ālā- "dan Dialah yang memberi makan dan tidak diberi makan" (QS.Al-An'ām: 14). Maka Allah Maha Kaya atas segala sesuatu tidak butuh makan atau minum, tetapi telah lapar salah satu hamba-Nya lalu diketahui oleh seseorang namun tak memberinya makan. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau memberinya makan, engkau pasti akan mendapatkan (balasan) itu di sisi-Ku?" yakni engkau akan dapati pahalanya untukmu di sisi-Ku tersimpan, satu kebaikan menjadi sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat sampai tak terhingga. Firman-Nya, "Wahai Anak Adam! Aku telah meminta minum kepadamu, namun engkau tak memberi-Ku minum!’ (Anak Adam) berkata, ‘Wahai Rabbku, bagaimana aku memberi-Mu minum, sementara Engkau adalah Rabb seluruh alam semesta?" yakni Engkau tak butuh makan minum. (Allah) menjawab, "Tidak tahukah engkau, bahwa hamba-Ku si fulan, telah haus meminta minum kepadamu, namun engkau tak memberinya minum! Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau memberinya minum, engkau pasti akan mendapatkan (balasan) itu di sisi-Ku." Memberi minum orang yang meminta minum, itu adalah tabungan bagimu di sisi Allah, satu kebaikan menjadi sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat sampai tak terhingga.
Dari Ibnu Umar -raḍiyyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Kami pernah berbincang-bincang mengenai haji wadak, pada waktu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berada bersama kami. Namun, kami tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan haji wadak, hingga kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkhotbah dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya lalu beliau menyebut-nyebut tentang Al-Masīḥ Ad-Dajjāl, beliau menjelaskannya panjang lebar hingga beliau bersabda, 'Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali dia mengingatkan umatnya (dari bahaya Dajal). Nuh telah mengingatkan umatnya dan juga para Nabi yang datang setelahnya. Ketahuilah bahwa jika Dajal keluar kepada kalian maka kalian tidak akan susah mengetahuinya. Sesungguhnya Rabb kalian tidaklah buta sebelah. Sedangkan Dajal buta mata sebelah kanannya. Matanya seperti buah anggur yang menonjol. Ketahuilah sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepada kalian darah dan harta kalian, sebagaimana haramnya hari ini, di negeri ini dan bulan ini. Ketahuilah apakah aku telah menyampaikan?" Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Ya Allah, saksikanlah! (sebanyak tiga kali). Celakah kalian, janganlah kalian kembali menjadi kafir sepeninggalku, sehingga sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lainnya!"
Muttafaq 'alaihDari Abdullah bin Umar -raḍiyyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Kami mengatakan ketika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masih hidup, "Apa haji wadak itu? Kami tidak tahu apa yang dimaksud haji wadak." Haji wadak adalah haji yang dilaksanakan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pada tahun kesepuluh hijrah. Dalam haji itu beliau menyampaikan selamat tinggal kepada orang-orang, menyebutkan tentang Dajal dan membesarkan perkaranya serta sangat memperingatkannya. Selanjutnya Nabi -'alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām- mengabarkan bahwa setiap Nabi memperingatkan umatnya mengenai Dajal, menakut-nakuti mereka dan membesarkan perkaranya di sisi mereka. Sesungguhnya dia tidak samar bagi kalian karena Rabb kalian itu tidak buta sebelah. Sedangkan dia buta mata kanannya seakan-akan mata itu anggur yang menonjol. Selanjutnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ketahuilah sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepada kalian menumpahkan darah kalian dan mengambil harta kalian tanpa hak, sebagaimana haramnya hari nahr (kurban), negeri Mekah, dan bulan Zulhijah." Selanjutnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian apa yang diperintahkan kepada-Ku untuk menyampaikannya kepada kalian?" Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Ya Allah, saksikanlah kesaksian mereka terhadap penyampaian (risalah) kepada mereka." Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Selanjutnya beliau memerintahkan mereka agar jangan seperti orang kafir setelah beliau, di mana mereka saling membunuh."
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', (Nabi bersabda), "Tidak ada seorang nabi pun melainkan telah memperingatkan umatnya dari dari orang bermata satu lagi pendusta (Dajjal). Ingatlah, ia bermata satu, sedangkan Tuhan kalian tidak bermata satu, dan tertulis di antara kedua matanya Ka fa ra."
Muttafaq 'alaihSetiap nabi yang diutus oleh Allah telah memperingatkan umatnya dan mengingatkannya dari Al-Masīḥ Ad-Dajjāl. Sebab, mereka mengetahui kemunculannya dan kedahsyatan fitnahnya. Mereka juga menjelaskan sebagian sifat-sifatnya. Dalam hadis ini disebutkan bahwa Dajjal itu bermata satu, sedangkan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- bersih dari sifat jelek ini. Di antara sifatnya yang lain adalah bahwa di antara kedua matanya tertulis ka fa ra.
Dari Hużaifah bin al-Yamān dan Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- kelak akan mengumpulkan manusia, kemudian orang-orang mukmin berdiri hingga surga didekatkan kepada mereka. Lantas mereka mendatangi Adam -ṣalawātullāh 'alaihi- seraya berkata, "Wahai bapak kami, minta bukakanlah pintu surga ini untuk kami." Beliau menjawab, "Bukankah yang mengeluarkan kalian dari surga adalah dosa bapak kalian? Aku tidak pantas memintakan hal ini untuk kalian. Pergilah ke tempat anakku, Ibrahim Khalīlullāh." Ia (perrawi) berkata, "Lantas mereka mendatangi Ibrahim. Ibrahim berkata, "Aku tidak pantas memintakan hal ini untuk kalian. Aku hanyalah khalīl (kekasih Allah) yang berada di belakang sekali. Pergilah kepada Musa yang diajak bicara langsung oleh Allah." Mereka mendatangi Musa. Musa berkata, "Aku tidak pantas memintakan hal ini untuk kalian. Pergilah kepada Isa; kalimat dan ruh Allah." Isa berkata, "Aku tidak pantas memintakan hal ini untuk kalian." Selanjutnya mereka mendatangi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau berdiri dan diizinkan untuk membukanya. Kemudian dilepaskanlah amanat dan kasih sayang lalu keduanya berdiri di kedua tepi jembatan; kiri dan kanan lalu orang pertama dari kalian melintasinya secepat kilat." Aku bertanya, "Demi bapak dan ibuku, secepat kilat bagaimana maksud anda?" Beliau menjawab, "Tidakkah kalian melihat bagaimana kilat datang dan pergi hanya dalam sekejap mata? Lalu ada yang melewatinya secepat angin, lalu ada yang secepat burung, dan ada pula yang melintasinya bagaikan orang yang berlari kencang. Semua itu tergantung amal-amal mereka." Sementara itu Nabi kalian berdiri di atas jembatan sambil berdoa, "Wahai Rabbku, selamatkanlah. Selamatkanlah." Sampai pada giliran orang-orang yang amal baiknya sedikit, hingga datang seseorang yang tidak bisa berjalan melainkan dengan merangkak. Dan di kedua tepi jembatan tergantung alat-alat pengait dari besi yang diperintahkan untuk mengambil orang-orang yang harus diambilnya. Diantara mereka ada orang yang terluka tetapi selamat, dan ada pula orang yang tercabik-cabik lalu dilemparkan ke dalam neraka." Demi Zat yang jiwa Abu Hurairah berada di tangan-Nya, sesungguhnya dasar neraka Jahanam itu sejauh perjalanan tujuh puluh tahun."
Diriwayatkan oleh MuslimAllah akan mengumpulkan manusia pada hari kiamat untuk hisab (perhitungan) dan balasan. Lantas orang-orang mukmin berdiri hingga surga didekatkan kepada mereka, namun tidak dibuka karena lamanya waktu berdiri pada hari kiamat. Maka mereka pergi menemui Adam -'alaihi as-salām- meminta kepadanya agar ia memohon kepada Allah untuk membukakan surga bagi mereka. Adam menolak mereka bahwa dirinya bukan orang yang pantas untuk itu. Hal ini disebabkan dosanya yang menjadi sebab keluarnya mereka semua dari surga. Lantas ia mengutus mereka (pergi) kepada Ibrahim, karena ia adalah khalīlullāh (kekasih Allah), dan kekasih merupakan derajat kecintaan yang paling tinggi. Lantas mereka pergi kepada Ibrahim. Ibrahim berkata kepada mereka, "Aku tidak memiliki derajat yang tinggi seperti itu. Pergilah kepada Musa karena Allah -Subḥānahu- telah berbicara kepadanya secara langsung tanpa perantara." Mereka pun mendatangi Musa -'alaihi as-salām-. Lalu Musa berkata kepada mereka, "Aku bukan orang yang pantas untuk itu. Pergilah kepada Isa -'alaihi as-salām- karena Allah telah menciptakannya dengan kalimat dari-Nya." Lantas mereka pergi menemui Isa. Isa berkata kepada mereka, "Aku bukan orang yang pantas untuk itu." Selanjutnya mereka pergi kepada Nabi kita Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu meminta kepada beliau agar memohon kepada Allah untuk menetapkan keputusan di antara mereka dan membukakan surga untuk mereka. Beliau menjawab (permintaan) mereka lalu beliau diberi izin. Lantas datanglah amanat dan kasih sayang, lalu keduanya berdiri di dua tepi jembatan; yaitu jembatan yang membentang di atas Jahanam. Orang-orang melintas di atasnya sesuai dengan amalan-amalan mereka. Orang yang di dunia bersegera melakukan amal saleh maka dia melintas dengan cepat di atas jembatan ini. Demikian pula sebaliknya. Di antara mereka ada yang selamat; ada juga yang jatuh di Jahanam. Sesungguhnya dasar Jahanam tidak dapat dicapai kecuali setelah tujuh puluh tahun perjalanan karena jauhnya. Kita berlindung kepada Allah darinya.
Abu Wāqid Al-Laiṡi meriwayatkan, Ketika Rasulullah ﷺ keluar menuju Hunain lalu beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik yang disebut żātu anwāṭ; tempat mereka menggantung senjatanya. Para sahabat (yang baru masuk Islam) berkata, "Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami żātu anwāṭ sebagaimana mereka memiliki żātu anwāṭ." Nabi ﷺ bersabda, "Subḥānallāh! Ini seperti yang dikatakan oleh kaum Musa, 'Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).' [QS. Al-A'rāf: 138] Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian pasti akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian."
HR. Tirmizi dan AhmadRasulullah ﷺ keluar menuju Hunian, yaitu sebuah lembah antara Taif dan Makkah, dan bersama beliau sebagian sahabat yang baru masuk Islam, Lantas mereka melewati sebuah pohon yang disebut żātu anwāṭ, yaitu pohon yang memiliki banyak tempat gantungan. Orang-orang musyrik mengagungkannya serta menggantungkan senjata mereka dan benda lainnya di sana untuk mendapatkan keberkahan. Mereka minta kepada Rasul ﷺ agar beliau membuatkan mereka pohon yang semisal, tempat mereka menggantung senjata untuk mendapatkan keberkahan, karena mengira hal itu diperbolehkan. Maka Nabi ﷺ bertasbih sebagai bentuk pengingkaran terhadap perkataan tersebut dan pengagungan kepada Allah. Dan beliau mengabarkan bahwa perkataan itu menyerupai perkataan kaum Nabi Musa kepadanya, "Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)." Yaitu, ketika mereka melihat orang-orang menyembah patung, mereka juga minta agar memiliki patung sebagaimana orang-orang musyrik pun memiliki patung. Dan ini bentuk mengikuti jalan mereka. Kemudian beliau ﷺ mengabarkan bahwa umat ini akan mengikuti tradisi orang-orang Yahudi dan Nasrani serta bertindak seperti mereka. Beliau memperingatkan mereka untuk tidak melakukan hal itu.
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Seorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ lalu berbicara kepada beliau tentang sejumlah perkara. Lalu ia berkata, "Atas kehendak Allah dan kehendak Anda." Maka Nabi ﷺ bersabda, 'Apakah engkau ingin menjadikanku sebagai tandingan Allah? Tetapi ucapkanlah, 'Atas kehendak Allah saja'."
HR. Nasai dalam Al-Kubrā, Ibnu Majah, dan AhmadSeorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ lalu berbicara kepada beliau tentang urusannya, kemudian ia berkata, "Atas kehendak Allah dan kehendak Anda." Maka Nabi ﷺ mengingkari perkataannya tersebut dan memberitahukan kepadanya bahwa menyambung kehendak makhluk dengan kehendak Allah menggunakan kata sambung "dan" adalah syirik kecil, seorang muslim tidak boleh mengucapkannya seperti itu. Kemudian beliau membimbingnya kepada perkataan yang benar: "Atas kehendak Allah semata." Yaitu dengan menunggalkan Allah dalam kehendak-Nya dan tidak menyambungnya dengan kehendak siapa pun menggunakan salah satu jenis kata sambung.
Aisyah, ibunda kaum mukminin -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ masuk menemuiku, sementara aku telah menutup lemari kecilku dengan tirai yang bergambar. Ketika beliau melihatnya, beliau melepasnya dan wajah beliau berubah. Beliau bersabda, "Wahai Aisyah, orang yang paling berat siksanya di sisi Allah kelak pada hari kiamat ialah yang membuat sesuatu yang menyerupai ciptaan Allah." Aisyah berkata, "Lalu kami memotongnya dan membuatnya menjadi satu atau dua bantal."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ masuk ke rumah menemui Āisyah -raḍiyallāhu 'anhā- dan beliau mendapatinya menutup lemari kecil tempat menaruh barang dengan kain yang memiliki gambar makhluk bernyawa, sehingga raut wajah beliau berubah karena marah dan melepasnya. Beliau bersabda: "Orang yang paling keras siksanya di hari kiamat ialah yang menyerupai penciptaan Allah melalui gambar-gambar mereka." Aisyah berkata: Lalu kami menjadikannya satu atau dua bantal.
Dari Buraidah bin Ḥuṣaib al-Aslamī -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila menunjuk seorang komandan untuk memimpin pasukan atau sariyyah (pasukan kiriman) beliau berpesan padanya agar bertakwa pada Allah dan berpesan kebaikan pada orang-orang yang bersamanya dari kalangan muslimin. Lalu beliau bersabda, “Berperanglah dengan nama Allah di jalan Allah, perangi orang yang kafir pada Allah! Berperanglah dan jangan menyembunyikan harta rampasan, jangan berkhianat, jangan mencincang dan jangan membunuh anak-anak! Apabila engkau bertemu musuhmu dari orang-orang musyrik serulah mereka pada tiga pilihan -atau tiga perkara-, manakah di antara ketiganya yang mereka penuhi, terimalah dan tahan diri dari memerangi mereka. Kemudian serulah mereka pada Islam, jika mereka memenuhinya terimalah dari mereka. Kemudian ajak mereka agar pindah dari negeri mereka ke negeri kaum muhajirin dan beritahu mereka bahwa apabila mereka melakukannya maka mereka akan mendapatkan hak yang didapatkan kaum muhajirin dan memikul kewajiban yang dipikul kaum muhajirin. Namun jika mereka enggan pindah, beritahukan pada mereka bahwa mereka seperti orang-orang arab badui dari kalangan muslimin, hukum Allah -Ta'ālā- berlaku pada mereka dan mereka tidak memiliki bagian ganimah (harta rampasan perang) dan fai` (harta rampasan yang diraih tanpa perang), kecuali bila mereka berjihad bersama kaum muslimin. Jika mereka enggan (masuk Islam), mintalah mereka membayar jizyah (upeti), jika mereka menyanggupinya terimalah dari mereka dan tahan diri dari memerangi mereka. Namun jika mereka menolak, mintalah pertolongan pada Allah dan perangi mereka! Apabila engkau mengepung penghuni suatu benteng dan mereka meminta padamu memberikan perlindungan Allah dan rasul-Nya pada mereka, maka jangan engkau beri mereka perlindungan Allah dan perlindungan Nabi-Nya, akan tetapi beri mereka perlindunganmu dan perlindungan sahabat-sahabatmu sebab bila kalian merusak pelindungan kalian dan perlindungan sahabat-sahabat kalian maka itu lebih ringan dibanding kalian merusak perlindungan Allah dan perlindungan Nabi-Nya. Apabila engkau mengepung penghuni suatu benteng dan mereka menginginkanmu menghukumi mereka dengan ketetapan Allah maka jangan kamu lakukan, tapi hukumi mereka dengan ketetapanmu, sebab engkau tidak tahu apakah dalam menghukumi mereka itu engkau benar-benar mengenai ketetapan Allah atau tidak.”
Diriwayatkan oleh MuslimBuraidah -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila mengirimkan pasukan besar atau sariyah (pasukan kecil) untuk memerangi kaum kafir beliau mengangkat seseorang sebagai pemimpin mereka yang bertugas menjaga persatuan dan memperbaiki urusan mereka. Kemudian beliau berpesan pada pemimpin ini agar bertakwa pada Allah dan mewasiatkan kebaikan pada orang-orang yang bersamanya. Beliau memberikan arahan tentang apa yang wajib mereka lakukan terhadap musuh dan agar mereka menjauhi perbuatan menyembunyikan ganimah (harta rampasan perang), berkhianat, mencincang/mutilasi dan membunuh orang yang bukan mukallaf. Pula, mereka harus memulai dengan mengajak orang-orang musyrik agar masuk islam, jika mereka memenuhinya, hendaknya mereka dianjurkan untuk hijrah ke Madinah dan diberitahu bahwa mereka mendapatkan hak seperti yang didapatkan oleh orang-orang yang telah hijrah lebih dulu dan menanggung kewajiban seperti yang dibebankan pada mereka. Jika mereka menolak hijrah, maka mereka diperlakukan seperti orang-orang arab badui yang telah masuk islam. Kemudian, jika mereka enggan masuk islam maka mereka dituntut membayar jizyah (upeti) dan jika mereka menolak membayarkannya hendaknya pasukan muslimin memohon pertolongan pada Allah dan memerangi mereka. Apabila pasukan muslimin mengepung penghuni satu benteng janganlah mereka memberikan pada mereka janji Allah dan janji rasul-Nya, tapi mereka memberikan janji mereka sendiri, karena resiko perusakan janji mereka ini lebih ringan dosanya dibanding resiko merusak janji Allah dan janji rasul-Nya. Apabila para penghuni benteng tersebut meminta dihukumi dengan hukum Allah maka pasukan muslimin tidak boleh menetapkan satu hukum yang mereka atas namakan sebagai hukum Allah, sebab bisa jadi keputusan mereka terkait orang-orang ini tidak sesuai dengan ketetapan Allah, akan tetapi mereka harus menyikapi mereka dengan keputusan dan ijtihad diri mereka sendiri.
Dari Ibnu Ad-Dailami, ia berkata, Aku mendatangi Ubay bin Ka'ab lalu berkata, "Dalam diriku ada keraguan mengenai takdir. Ceritakanlah sesuatu kepadaku, mudah-mudahan Allah menghilangkan lintasan itu dari hatiku." Lantas ia berkata, "Seandainya engkau menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, Allah tidak akan menerimanya darimu sampai engkau beriman kepada takdir, dan menyakini bahwa apa saja yang (ditetapkan) menimpamu, maka tidak akan pernah terluput darimu serta apa saja yang (ditetapkan) terluput darimu, maka tidak akan pernah menimpamu. Sekiranya engkau meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada takdir, niscaya engkau termasuk penghuni Neraka." Ibnu Ad-Dailami berkata, "Selanjutnya aku mendatangi Abdullah bin Mas'ūd, Ḥużaifah bin al-Yamān, dan Zaid bin Ṡābit. Semuanya bercerita kepadaku seperti itu dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadAbdullah bin Fairūz ad-Dailami -raḥimahullāh- mengabarkan bahwa dalam dirinya timbul keraguan mengenai takdir. Ia khawatir keraguan ini menyebabkan pengingkarannya. Lantas ia pergi bertanya kepada para ahli ilmu dari kalangan sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk memecahkan keraguan tersebut. Demikianlah seyogyanya seorang Mukmin bertanya kepada para ulama mengenai hal-hal yang meragukannya sebagai implementasi firman Allah - Ta'ālā-, "Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." Seluruh ulama sahabat itu memfatwakan kepadanya bahwa dia harus beriman kepada qadā` dan qadar, dan sesungguhnya mengeluarkan infak yang besar tidak akan diterima dari orang yang tidak beriman kepada takdir, dan orang yang meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada takdir maka ia termasuk penghuni Neraka.