





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Ubadah bin Aṣ-Ṣāmit -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Wahai putraku! Kau tidak akan pernah merasakan manisnya iman sampai kau mengetahui bahwa musibah yang menimpamu belum tentu disebabkan oleh kesalahanmu, dan apa yang luput darimu belum tentu dapat mencelakaimu. Aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah adalah pena. Dia berfirman kepadanya, "Tulislah!" Pena bertanya, "Wahai Tuhanku! Apa yang harus aku tulis?" Allah berfirman, "Tulislah ketentuan segala sesuatu sampai kiamat tiba." Wahai putraku, aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada takdir, maka ia bukan dari golonganku."
Diriwayatkan oleh Ibnu Wahab dalam kitab al-Qadar - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadBahwasannya Ubadah bin Aṣ-Ṣāmit -raḍiyallāhu 'anhu- berwasiat kepada putranya, Al-Walīd agar beriman kepada takdir baik dan buruk. Ia menjelaskan kepada putranya bahwa iman kepada takdir mendatangkan beragam buah yang baik dan hasil yang bagus di dunia dan akhirat. Dan mengingkari takdir dapat menimbulkan berbagai keburukan dan bahaya di dunia dan akhirat. Ia menyampaikan dalil mengenai apa yang diucapkannya itu dengan sunnah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang menetapkan bahwa Allah telah menentukan berbagai ketentuan dan memerintahkan pena untuk menuliskannya sebelum adanya berbagai makhluk ini. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi di alam semesta sampai hari kiamat kecuali dengan ketetapan dan takdir.
Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Allah -'Azza wa Jalla- berfirman, 'Keagungan adalah kain-Ku dan kesombongan adalah selendang-Ku. Siapa yang menandingi Aku pada salah satu dari keduanya, sungguh Aku akan mengazabnya."
Diriwayatkan oleh MuslimKeagungan dan kesombongan adalah dua sifat khusus milik Allah yang tidak boleh makhluk bersekutu dengannya. Sebagaimana kain dan selendang yang dipakai seorang lelaki tidak dapat dipakai bersama oleh orang lain. Siapa yang mengaku memiliki kemuliaan dan kesombongan, sungguh dia telah menandingi Allah dalam kerajaan-Nya dan siapa yang menandingi Allah, Dia akan mengazabnya.
Dari Abu Żarr -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Tidak seorang pun yang mengklaim (nasabnya) kepada selain ayahnya -padahal ia tahu- kecuali ia telah kafir. Dan siapa yang mengklaim sesuatu yang bukan miliknya, maka ia bukan dari golongan kami, dan hendaknya ia menempati tempat duduknya dari api neraka. Dan siapa yang memanggil seseorang dengan sebutan "kafir" atau mengatakan "wahai musuh Allah" sementara orang tersebut tidak seperti itu, maka tuduhan itu kembali kepada penuduh."
Muttafaq 'alaihDalam hadis ini terdapat ancaman keras dan peringatan tegas bagi orang yang mengerjakan salah satu dari tiga perbuatan ini, apalagi orang yang melakukan semuanya! Pertama, orang yang mengetahui ayahnya, menetapkan nasabnya, lalu ia mengingkarinya dan berlagak tidak tahu, serta mengklaim memiliki garis nasab pada selain ayahnya atau selain kabilahnya. Kedua, orang yang mengklaim -padahal ia tahu- sesuatu yang bukan miliknya baik berupa nasab, harta, suatu hak, suatu pekerjaan, suatu ilmu atau mengaku memiliki suatu sifat yang ia pergunakan dan manfaatkan untuk menarik simpati manusia pada dirinya, padahal ia berdusta, maka orang ini akan mendapatkan siksaan yang besar. Sebab Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berlepas diri darinya dan memerintahkannya untuk memilih tempat tinggalnya di neraka karena ia termasuk calon penghuninya. Ketiga, menuduh orang yang tidak bersalah sebagai orang kafir, menganut agama Yahudi, menganut agama Nasrani, atau termasuk musuh Allah. Maka ucapan (tuduhan) seperti ini justru kembali pada penuduh, karena ia lebih layak menyandang sifat-sifat buruk seperti ini dibanding seorang Muslim yang terbebas dari amal-amal dan ucapan-ucapan buruk.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, Allah berfirman, "Anak cucu Adam mendustakan-Ku padahal itu tidak pantas baginya, dan mereka mencaci-Ku padahal itu tidak patut baginya. Adapun pendustaannya terhadap-Ku, yaitu perkataannya, 'Allah tidak akan mengembalikanku sebagaimana Dia menciptakanku pertama kali.' Padahal, tidaklah penciptaan pertama lebih mudah bagi-Ku daripada mengembalikannya. Sedangkan caciannya kepada-Ku, yaitu perkataannya, 'Allah memiliki anak.' Padahal, Aku Yang Maha Esa lagi tempat meminta segala sesuatu, Aku tidak melahirkan maupun dilahirkan, dan Aku tidak memiliki tandingan seorang pun."
HR. BukhariNabi ﷺ mengabarkan dalam hadis qudsi bahwa Allah ﷻ berfirman tentang orang musyrikin dan kafir, bahwa mereka mendustakan-Nya serta menyifati-Nya dengan berbagai kekurangan dan cacat, padahal itu tidak patut mereka lakukan. Pendustaan mereka kepada Allah ialah sangkaan mereka bahwa Allah tidak akan mengembalikan mereka seperti semula setelah mereka mati sebagaimana Dia menciptakan mereka pertama kali dari ketiadaan. Maka Allah membantah mereka bahwa Allah yang telah menciptakan pertama kali dari ketiadaan juga sanggup untuk mengembalikan mereka, bahkan ini lebih ringan. Sekalipun sejatinya perkara itu bagi Allah sama saja, antara menciptakan dan mengembalikan, karena Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Adapun celaan mereka kepada Allah ialah perkataan mereka: Allah memiliki anak. Maka Allah membantah mereka bahwa Dia Maha Esa, yang tunggal dalam semua kesempurnaan terkait nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya, yang disucikan dari segala kurang dan cacat, tempat meminta segala sesuatu, tidak butuh kepada siapa pun, tetapi sebaliknya setiap orang butuh kepada-Nya. Dia bukan ayah bagi siapa pun dan juga bukan anak bagi siapa pun, yang tidak memiliki tandingan seorang pun, Mahasuci lagi Mahatinggi.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', Allah menugaskan untuk rahim satu malaikat, ia berkata, "Wahai Rabbku! Ini adalah setetes mani. Wahai Rabbku! Ini adalah segumpal darah. Wahai Rabbku! Ini adalah segumpal daging. Ketika llah ingin menakdirkan penciptaannya, malaikat berkata, "Wahai Rabbku! Laki-laki atau perempuan? Sengsara atau bahagia? Bagaimana rezekinya? Kapan ajalnya? Kemudian semua itu akan ditulis saat di perut ibunya."
Muttafaq 'alaihNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- menugaskan untuk rahim satu malaikat, maksudnya: Allah -Ta'ālā- menjadikan satu malaikat dari sekian banyak malaikat untuk bertugas mengatur urusan rahim, yaitu tempat tumbuhnya bayi dalam perut ibunya. Lantas ia berkata: "Wahai Rabbku! Setetes mani", maksudnya: wahai Rabbku ini adalah setetes mani. Setetes mani ini adalah air mani seorang laki-laki. Begitu juga kalimat setelahnya, yaitu, "Wahai Rabbku! segumpal darah", maksudnya: wahai Rabbku ini adalah segumpal darah, dan segumpal darah adalah darah yang kental. Kemudian malaikat berkata: "Wahai Rabbku! Segumpal daging", maksudnya: wahai Rabbku ini adalah segumpal daging, maksudnya adalah sepotong daging. Dalam riwayat lain dijelaskan bahwasa masa setiap bagian ini adalah empat puluh hari. Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ketika Allah ingin menakdirkan penciptaannya", maksudnya: segumpal darah karena ia adalah tingkatan terakhir. Adapun maksud dari "qaḍa' (takdir)" disini adalah pelaksanaan penciptaannya dengan tiupan ruh kepadanya, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat lain. Itu terjadi setelah berlalu seratus dua puluh hari. Malaikat berkata, "Wahai Rabbku laki-laki atau perempuan?" Maksudnya: wahai Rabbku apakah dia laki-laki sehingga aku akan menulisnya atau perempuan? "Dia sengsara atau bahagia?" Maksudnya: apakah dia akan sengsara dan termasuk penghuni neraka sehingga aku tulis demikian atau bahagia dan termasuk penghuni surga untuk aku tulis seperti itu? "Bagaimana rezekinya?" Maksudnya: sedikit atau banyak? Berapa jumlahnya? "Kapan ajalnya?" Maksudnya: berapa umurnya? Panjang atau pendek? "Maka semua itu akan ditulis ketika berada di perut ibunya." Maksudnya: semua yang disebutkan itu akan ditulis sebagaimana yang Allah perintahkan, ketika sang anak masih dalam perut ibunya.
Dari Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhuma- secara mauqūf sampai di dia, "Kursi adalah tempat kedua kaki dan 'Arsy tidak ada seorang pun yang mampu mengukurnya."
Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab at-Tauḥīd - Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam kitab as-Sunnah"Kursi adalah tempat kedua kaki," Yakni, kursi yang disandarkan oleh Allah kepada diri-Nya, yaitu tempat kedua kaki Allah -Ta'ālā-. Makna yang dituturkan oleh Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhu-ma tentang kursi adalah pendapat yang popular di kalangan Ahlussunah dan itu yang tercatat darinya. Adapun yang diriwayatkan darinya bahwa kursi adalah ilmu, maka pendapat itu tidak benar. Demikian juga apa yang diriwayatkan dari Al-Hasan bahwa kursi adalah 'Arsy adalah lemah dan tidak benar "dan 'Arsy tidak ada seorang pun yang mampu mengukurnya." Yakni 'Arsy tempat Allah -Ta'ālā- bersemayam di atasnya adalah makhluk yang besar. Adapun ukuran bobot dan luasnya tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali Allah -Ta'ālā-.
Dari Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa ada seorang Yahudi datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata, "Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah memegang langit-langit dengan satu jari-Nya, bumi-bumi dengan satu jari-Nya, gunung-gunung dengan satu jari-Nya, pohon dengan satu jari-Nya, dan makhluk-makhluk dengan satu jari-Nya." Selanjutnya Allah berfirman, "Aku adalah raja." Seketika itu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tertawa hingga tampak gigi-gigi gerahamnya." Setelah itu beliau membaca ayat, "Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya."
Muttafaq 'alaihHadis ini menjadi dalil keagungan Allah -Ta'ālā- di mana Dia meletakkan langit yang berlapis seluruhnya di salah satu jari tangan-Nya yang mulia dan agung. Dia menyebutkan makhluk-makhluk terkenal besar dan agung, dan mengabarkan bahwa setiap jenis makhluk itu diletakkan oleh Allah -Ta'ālā- di satu jari. Seandainya Allah -Ta'ālā- berkehendak, pasti Dia meletakkan langit-langit dan bumi-bumi serta makhluk yang ada di dalamnya di atas satu jari-Nya Allah -Jalla wa 'Alā- saja. Ini merupakan ilmu yang diwariskan dari para nabi yang diperoleh melalui wahyu dari Allah -Ta'ālā-. Untuk itu, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membenarkan ucapan orang Yahudi itu. Bahkan beliau merasa kagum dan senang dengannya. Karena itu, beliau tertawa sehingga tampak gigi-gigi gerahamnya sebagai pembenaran untuknya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Ma'sud dalam riwayat lain darinya, dan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membaca firman Allah -Ta'ālā-, "Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan." Di dalamnya terdapat penegasan dua tangan milik Allah -Ta'ālā- sebagai penguat dan penetapan terhadap apa yang dikatakan oleh orang Yahudi. Dan tidak boleh berpaling kepada ucapan orang yang menganut paham At-Ta'ṭīl (pengosongan) dan penafian sifat jari-jari bagi Allah, karena mereka mengklaim bahwa menetapkan jari-jari untuk Allah merupakan tindakan menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Al-Mu'aṭṭil (orang yang mengosongkan Allah dari sifat) tidak mengetahui bahwa penetapan sifat itu milik Allah -Ta'ālā- tidak menyebabkan adanya penyerupaan, sebagaimana halnya kita menetapkan bagi-Nya kehidupan, kekuasaan, kekuatan, pendengaran dan penglihatan, ini semua tidak menyebabkan adanya penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, karena Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- itu, "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, bahwa Allah berfirman, "Siapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai melebihi apa yang sudah Aku wajibkan kepadanya, dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan ibadah-ibadah sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya dia bertindak, dan kakinya yang dengannya dia berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, sungguh Aku akan memberikannya, dan jika dia berlindung kepada-Ku, sungguh Aku akan melindunginya. Tidaklah Aku ragu pada sesuatu yang Aku kerjakan seperti keraguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang membenci kematian padahal Aku tidak suka menyakitinya."
HR. BukhariNabi ﷺ mengabarkan dalam hadis qudsi bahwa Allah ﷻ berfirman: Siapa yang menyakiti satu di antara wali-wali-Ku, membuatnya marah dan benci, sungguh Aku telah memberi tahu dan mengumumkan permusuhan dengannya. Wali ialah mukmin yang bertakwa; sehingga tingkat kewalian di hadapan Allah akan diperoleh seorang hamba sesuai dengan kadar iman dan takwa yang ia miliki. Tidaklah seorang muslim mendekatkan diri kepada Tuhannya dengan sesuatu yang lebih Dia sukai daripada apa yang telah Allah wajibkan berupa melaksanakan ketaatan dan meninggalkan perbuatan haram. Demikian juga, seorang muslim akan senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhannya dengan amalan-amalan sunah bersama amalan fardu sampai ia meraih cinta Allah. Ketika Allah telah mencintainya, Allah akan memberi bimbingan kepada keempat anggota tubuhnya itu: Allah membimbingnya pada pendengarannya; ia tidak mendengar kecuali yang mendatangkan rida Allah. Allah membimbingnya pada penglihatannya; ia tidak melihat kecuali yang disukai dan diridai oleh Allah untuk dilihat. Allah membimbing tangannya; dia tidak bertindak menggunakan tangannya kecuali untuk melakukan apa yang mendatangkan rida Allah. Allah membimbing kakinya; dia tidak berjalan kecuali menuju apa yang mendatangkan rida Allah dan yang mengandung kebaikan. Bersama hal itu, apabila ia meminta sesuatu kepada Allah, maka Allah akan memberi apa yang ia minta, sehingga ia termasuk pemilik doa mustajab. Apabila ia berlindung kepada Allah dan datang kepada-Nya untuk meminta perlindungan, Allah Ta'ala akan melindungi dan menjaganya dari apa yang ia takutkan. Kemudian Allah Ta'ala berfirman: Tidaklah Aku ragu pada sesuatu yang Aku lakukan seperti keraguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin karena saking sayang kepadanya, sebab ia membenci kematian lantaran menyakitkan, sedangkan Allah tidak suka menyakiti seorang mukmin.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Ada dua perkara yang masih dilakukan oleh manusia, keduanya merupakan wujud kekufuran: mencela nasab dan meratapi orang mati."
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan tentang dua perangai di antara kebiasaan orang kafir dan perangai masyarakat jahiliah yang masih lestari pada manusia, yaitu: Pertama: Mencela nasab orang lain dan menyombongkan diri kepada mereka. - Kedua: Meninggikan suara saat musibah sebagai bentuk murka terhadap takdir atau menyobek-nyobek pakaian akibat sangat terpukul.