





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Buraidah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang bersumpah atas nama amanah, maka dia bukan termasuk golongan kami."
HR. Abu Daud dan AhmadNabi ﷺ melarang dan mengingatkan agar tidak bersumpah atas nama amanah dan bahwa orang yang melakukan hal itu bukan termasuk golongan kita.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Kami pernah duduk di sekeliling Rasulullah ﷺ. Bersama kami ada Abu Bakar, Umar, dan sejumlah sahabat lainnya. Lalu Rasulullah ﷺ berdiri dan pergi dari tengah-tengah kami kemudian lama tidak kembali. Kami pun khawatir ada sesuatu yang menimpa beliau, sehingga kami merasa cemas lalu bangkit mencari beliau. Aku adalah orang yang pertama merasakan kecemasan itu. Aku segera keluar mencari Rasulullah ﷺ, sampai aku mendatangi salah satu kebun milik kaum Ansar dari Bani an-Najjār. Aku mengelilingi kebun itu, barangkali aku menemukan pintunya, namun aku tidak menemukannya. Ternyata ada selokan sempit -saluran air yang kecil- yang masuk ke dalam kebun dari sumur di luarnya. Aku berusaha menyelinap masuk dan menemui Rasulullah ﷺ. Beliau berkata, "Abu Hurairah?" Aku menjawab, "Ya, wahai Rasulullah." Beliau bertanya, "Ada apa denganmu?" Aku menjawab, "Engkau tadi ada di tengah-tengah kami, kemudian engkau pergi meninggalkan kami dan lama tidak kunjung kembali. Kami khawatir engkau ditimpa sesuatu, sehingga kami merasa cemas, dan aku adalah orang pertama yang merasakannya. Oleh karena itulah, aku mendatangi kebun ini lalu berusaha menyelinap masuk seperti serigala, sedangkan orang-orang itu ada di belakangku." Beliau berkata, "Wahai Abu Hurairah!" Beliau memberikan kedua sandalnya lalu bersabda, "Bawalah kedua sandalku ini! Siapa saja yang engkau jumpai di balik kebun ini, yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dengan yakin sepenuh hati, maka berilah ia kabar gembira berupa surga." Ternyata orang pertama yang aku jumpai adalah Umar, maka ia bertanya, "Ada apa dengan kedua sandal itu, wahai Abu Hurairah?" Aku menjawab, "Ini adalah dua sandal Rasulullah ﷺ. Beliau menyuruhku untuk membawanya; siapa yang aku jumpai, yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dengan yakin sepenuh hati, maka aku akan memberinya kabar gembira berupa surga." Umar memukulkan tangannya pada kedua dadaku sampai aku jatuh terduduk ke belakang." Umar berkata, "Kembalilah, wahai Abu Hurairah." Aku pun kembali kepada Rasulullah ﷺ dengan wajah siap menangis sedang Umar mengikutiku di belakang. Rasulullah ﷺ bersabda, "Apa yang menimpamu, wahai Abu Hurairah?" Aku berkata, "Aku bertemu Umar, lalu aku mengabarinya dengan pesan yang engkau tugaskan kepadaku untuk menyampaikannya, tetapi ia memukul di antara kedua dadaku dengan pukulan yang membuatku jatuh duduk ke belakang dan mengatakan: Kembalilah." Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai Umar, apa yang membuatmu melakukan perbuatanmu itu?" Umar berkata, "Wahai Rasulullah! Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu. Apakah engkau telah mengutus Abu Hurairah membawa kedua sandalmu, siapa yang dijumpainya yang bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah dengan yakin sepenuh hati, maka ia memberinya kabar gembira berupa surga?" Beliau menjawab, "Ya." Dia berkata, "Janganlah engkau lakukan. Aku khawatir manusia akan bersandar pada hal itu. Biarkan mereka beramal." Rasulullah ﷺ bersabda, "Ya, biarkan mereka beramal."
HR. MuslimPada suatu saat, Nabi ﷺ sedang duduk bersama sejumlah sahabatnya. Di antara mereka ada Abu Bakar dan Umar. Lantas beliau ﷺ pergi dan lama tidak kunjung kembali sehingga mereka khawatir beliau mendapatkan keburukan dari musuh Islam, berupa penawanan atau lainnya. Sebab itu, para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- bangkit penuh cemas untuk mencari beliau. Orang pertama yang mencarinya adalah Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, hingga dia datang ke sebuah kebun milik Banī Najjār, lalu mengelilinginya untuk menemukan pintu yang terbuka, tetapi dia tidak temukan. Dia hanya menemukan lubang kecil di pagar jalur masuk air lalu menghimpun badannya supaya bisa masuk, dan dia pun berhasil menemukan Nabi ﷺ. Beliau berkata kepadanya: Engkau Abu Hurairah? Dia menjawab: Ya. Beliau bertanya: Apa urusanmu? Abu Hurairah berkata: Engkau tadi ada di tengah-tengah kami lalu engkau pergi dan lama tidak kunjung kembali sehingga kami khawatir ada sesuatu yang menimpamu. Kami merasa cemas dan aku adalah orang yang pertama mencarimu. Lalu aku datang ke kebun ini dan menyelinap seperti serigala menyelinap, sedangkan orang-orang itu ada di belakangku. Lantas Nabi ﷺ memberinya kedua sandalnya sebagai bukti dan tanda dia jujur. Beliau berkata: Bawalah pergi kedua sandalku ini; siapa yang engkau jumpai di balik kebun ini yang bersaksi lā ilāha illallāh, bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah, dengan penuh yakin dalam hatinya; siapa yang memenuhi kriteria itu maka ia termasuk penghuni surga. Orang paling pertama yang dia jumpai adalah Umar. Umar berkata: Sandal apa ini, wahai Abu Hurairah? Dia menjawab: Ini dua sandal milik Rasulullah ﷺ; beliau mengutusku dengan membawa keduanya kepada setiap orang yang bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah dengan penuh yakin dalam hatinya, aku akan memberinya kabar gembira berupa surga. Maka Umar mendorong dada Abu Hurairah dengan tangannya sehingga dia jatuh ke belakang dan mengatakan: Kembalilah, wahai Abu Hurairah. Aku pun kembali kepada Nabi ﷺ dengan penuh cemas, muka berubah dan mau menangis, sementara Umar mengikutiku dengan berjalan di belakangku. Beliau ﷺ berkata: Ada apa denganmu, wahai Abu Hurairah? Aku menjawab: Aku berjumpa dengan Umar lalu aku mengabarinya dengan pesan yang engkau tugaskan kepadaku, tetapi dia memukulku hingga jatuh ke belakang dan mengatakan: Kembalilah. Beliau ﷺ bersabda: Wahai Umar, apa yang mendorongmu melakukan perbuatanmu itu? Umar menjawab: Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu. Apakah benar engkau telah mengutus Abu Hurairah dengan membawa kedua sandalmu untuk menyampaikan kepada setiap orang yang dia jumpai, yang bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah dengan penuh yakin dalam hati, yaitu dia memberinya kabar gembira surga? Beliau menjawab: Ya. Umar berkata: Jangan lakukan itu. Aku khawatir manusia akan mencukupkan diri pada mengucapkannya saja tanpa amal. Biarkan mereka beramal. Maka beliau ﷺ bersabda: Kalau begitu, biarkan mereka.
Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Seorang muslim adalah orang yang tidak menyakiti kaum muslimin lainnya, entah dengan lisan ataupun tangannya. Orang yang berhijrah itu adalah yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan bahwa muslim yang sempurna keislamannya adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari lisannya sehingga ia tidak mencaci, melaknat, dan menggunjing mereka, serta tidak melakukan upaya apa pun yang menyakiti dengan lisannya. Demikian juga mereka selamat dari tangannya, ia tidak menzalimi mereka dan tidak mengambil harta mereka tanpa alasan yang benar dan lain sebagainya. Sedangkan orang yang berhijrah ialah yang meninggalkan semua yang diharamkan oleh Allah Ta'ala.
Dari Mugīrah bin Syu'bah -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Musa -'alaihi as-salām- bertanya kepada Rabbnya, 'Bagaimana kedudukan penduduk surga yang paling rendah?' Allah berfirman, 'Yaitu seseorang yang datang setelah semua penduduk surga masuk ke dalam surga. Lantas dikatakan padanya, 'Masuklah ke dalam surga.' Ia bertanya, 'Wahai Rabb, bagaimana aku dapat masuk sedangkan mereka telah menempati kediamannya mereka dan mengambil jatah mereka?' Maka dikatakan kepadanya lagi, 'Apakah engkau rida jika diberikan untukmu seperti kerajaan seorang raja di dunia? Ia menjawab, aku rida wahai Rabb.' Lantas Allah berfirman, 'Engkau dapat memperoleh yang demikian itu dan yang seperti itu, lagi seperti itu, seperti itu pula, dan seperti itu pula. Hingga kelima kalinya ia berkata, 'Aku rida, wahai Rabb.' Lantas Allah berfirman, 'Inilah milikmu dan sepuluh kali lipatnya, dan bagimu kenikmatan yang kamu inginkan dan sedap dipandang matamu.' Maka ia berkata, 'Aku rida ya Rabb.' Musa bertanya lagi, 'Wahai Rabb, bagaimanakah dengan mereka yang memiliki kedudukan tertinggi di surga?' Allah berfirman, 'Mereka adalah orang-orang yang Aku kehendaki. Aku tanamkan kemuliaan mereka dengan tangan-Ku dan Aku akhiri di atas kemulian itu. Maka, (kenikmatan mereka) tidak pernah terlihat oleh mata dan tidak pernah terdengar oleh telinga, serta tidak pernah terbesit dalam hati manusia." Dan dari Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sungguh aku mengetahui orang yang paling akhir keluar dari neraka dan paling akhir masuk surga. Yaitu seorang yang keluar dari neraka dengan merangkak. Lalu Allah berfirman kepadanya, "Pergi dan masuklah ke dalam surga." Maka dia pergi ke surga. Dia berkhayal seolah-olah surga telah penuh sesak. Maka dia segera kembali dan berkata, "Wahai Rabb, surga telah penuh sesak." Lalu Allah berfirman kepadanya, 'Pergi dan masuklah ke dalam surga!' Maka dia pergi ke surga. Dia berkhayal seolah-olah surga telah penuh sesak. Maka dia segera kembali dan berkata, 'Wahai Rabb, surga telah penuh sesak.' Allah berfirman, 'Pergi dan masuklah ke dalam surga dan bagianmu adalah seperti dunia seisinya ditambah sepuluh kali lipatnya.' Atau dikatakan kepadanya, 'Bagimu seperti sepuluh kali lipat dunia.' Orang itu berkata, 'Apakah Engkau ingin memperolokku, atau menertawakanku padahal Engkau adalah Penguasa?' Perawi (Abdullah bin Mas'ud) berkata, 'Sungguh aku melihat Rasulullah tertawa hingga gerahamnya terlihat'. Beliau bersabda, 'Itulah orang yang paling rendah kedudukannya di surga."
Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq 'alaihHadis ini menjelaskan tentang kedermawanan Allah dan keluasan rahmat-Nya, penjelasan tentang kedudukan penduduk surga, bahwa yang paling rendah kedudukannya bisa menikmati berlipat-lipat kenikmatan yang dimiliki oleh seorang raja di dunia.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Mereka (para sahabat) bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat?" Beliau balik bertanya, "Apakah kalian saling mencelakakan (saling berdesakan) saat melihat matahari di siang terik yang tidak ada awannya?" Mereka menjawab, "Tidak." Beliau bertanya lagi, "Apakah kalian saling mencelakakan (saling berdesakan) saat melihat bulan di malam purnama yang tidak ada awannya?" mereka menjawab, "Tidak." Beliau bersabda, "Demi Żat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidak saling mencelakakan (saling berdesakan) saat melihat Rabb kalian sebagaimana kalian tidak saling mencelakakan (saling berdesakan) saat melihat salah satunya." Beliau meneruskan, "Lalu Dia menemui hamba kemudian bertanya padanya, "Hai fulan, bukankah Aku telah memuliakanmu, menjadikanmu pemimpin, menikahkanmu, Aku tundukkan kuda dan unta untukmu, Aku membiarkanmu menjadi pemimpin dan ditaati?" Ia menjawab, "Benar wahai Rabb." Dia bertanya lagi, "Apa kau mengira akan bertemu denganKu?" Ia menjawab, "Tidak." Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku melupakanmu seperti kau melupakan-Ku." Setelah itu Dia menemui orang yang kedua, lalu Allah berfirman, "Hai fulan, bukankah Aku telah memuliakanmu, menjadikanmu pemimpin, menikahkanmu, Aku tundukkan kuda dan unta untukmu, Aku membiarkanmu menjadi pemimpin dan ditaati?" Ia menjawab, "Benar." Dia bertanya lagi, "Apa kau mengira akan bertemu denganKu?" Ia menjawab, "Tidak." Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku melupakanmu seperti kau melupakan-Ku." Setelah itu Dia menemui orang yang ketiga, lalu Allah berfirman padanya seperti itu, ia berkata, 'Wahai Rabb, aku beriman kepada-Mu, kitab-Mu, rasul-Mu, aku salat, puasa, dan bersedekah," Lalu ia memuji dirinya semampunya, kemudian Allah berfirman, "(Berhentilah) di sini kalau begitu." Setelah itu dikatakan padanya, "Sekarang, Kami mengutus saksi Kami untukmu." Ia lalu berfikir dalam dirinya, siapa gerangan yang akan bersaksi untuknya. Kemudian mulutnya ditutupi dan dikatakan kepada paha, daging, dan tulangnya, "Berbicaralah." Lalu paha, daging, dan tulangnya mengucapkan perbuatannya. Demikian itu supaya menjadi alasan untuk dirinya. Itulah orang munafik, itulah orang yang dimurkai Allah."
Diriwayatkan oleh MuslimSebagian sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat?", Maka Rasulullah bersabda kepada mereka, "Apakah kalian saling mencelakakan (saling berdesakan) saat melihat matahari di siang terik yang tidak ada awannya?", Yakni apakah kalian akan mengalami kemacetan, keramaian, dan berdesak-desakan yang karenanya sebagian di antara kalian akan mencelakakan sebagian lainnya demi melihat matahari pada waktu ia menyingsing dan sinarnya menyebar ke seluruh alam serta tidak ada awan yang menutupinya dari kalian? Lalu mereka menjawab, "Tidak." Beliau bertanya lagi, "Apakah kalian saling mencelakakan (satu sama lain) saat melihat bulan di malam purnama yang tidak ada awannya?" Yakni apakah kalian akan mengalami kemacetan, keramaian, dan berdesak-desakan yang karenanya sebagian di antara kalian akan mencelakakan sebagian lainnya demi untuk melihat bulan pada malam saat ia tampak secara sempurna (bulan purnama) di langit dan tidak ada awan yang menutupinya dari kalian? Mereka menjawab, "Tidak." Beliau bersabda, "Demi Żat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidak akan mencelakakan (satu sama lain) saat melihat Rabb sebagaimana kalian tidak saling mencelakakan (satu sama lain) saat melihat salah satunya." Yakni melihatnya dengan terang dan jelas, tidak ada perdebatan dan keraguan padanya sehingga sebagian di antara kalian menyelisihi sebagian lainnya dan mendustainya, sebagaimana tidak ada keraguan pada saat melihat matahari dan bulan serta tidak ada penyelisihan padanya. Penyerupaan ini berlaku dalam hal melihatnya dari segi tampaknya secara jelas yang mana tidak ada keraguan padanya, bukan pada keseluruhan kaifiatnya (cara munculnya Rabb) dan bukan pula pada Żat yang dilihat, karena Allah -Subḥānahu wa Ta’ālā- disucikan dari penyerupaan dengan makhluk. Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan tentang salah satu peristiwa pada hari Akhir yaitu bahwa Rabb -Subḥānahu wa Ta’ālā- menjumpai salah seorang hamba-Nya, lalu Dia menanyainya tentang nikmat-nikmat-Nya dan berkata kepadanya, "Wahai fulan, bukankah Aku telah mengutamakanmu dan menjadikanmu pemimpin pada kaummu, Aku berikan untukmu pasangan dari jenismu sendiri dan Aku tundukkan ia untukmu, serta Aku jadikan antara kamu dan dia rasa cinta dan kasih sayang, Aku tundukkan bagimu kuda dan unta, dan Aku jadikan kamu pemimpin atas kaummu, kamu mengambil seperempat ganimah (harta rampasan perang); di mana dahulu raja-raja pada zaman Jahiliah mengambil ganimah untuk diri mereka sendiri." Maka hamba tersebut pun mengakui nikmat-nikmat itu semuanya. Lalu Rabb berkata, "Apakah kamu tahu bahwa kamu akan bertemu dengan-Ku?", Ia menjawab, "Tidak." Maka Allah -Ta’ālā- berfirman, “Sesungguhnya Aku melupakanmu seperti kau melupakan-Ku.” Yakni Aku akan meninggalkanmu pada hari ini dari rahmat-Ku sebagaimana kamu meninggalkan ketaatan kepada-Ku di dunia. Lupa disini maksudnya adalah meninggalkan secara sadar, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah melupakan kamu pula dan rasakanlah siksa yang kekal.” Kemudian Rabb menjumpai hamba kedua, lalu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyebutkan seperti apa yang beliau sebutkan pada hamba yang pertama tentang pertanyaan Allah -Ta’ālā- dan jawabannya. Kemudian Dia menjumpai yang ketiga, lalu Dia mengatakan seperti yang sebelumnya, lantas hamba tersebut menjawab, "Ya Rabb aku beriman kepada-Mu, kitab-Mu, dan para Rasul-Mu, aku salat, aku puasa, dan aku bersedekah." Kemudian ia terus memuji dirinya dengan segala sesuatu yang ia mampu, maka Rabb menjawab, “(Berhentilah) disini kalau begitu!” Yakni jika engkau memuji dirimu dengan pujian yang telah engkau sebutkan, maka berdirilah di sini agar Kami dapat memperlihatkan kepadamu perbuatan-perbuatanmu dengan menghadirkan saksi atasnya. Kemudian dikatakan kepadanya, "Sekarang Kami mengutus saksi untukmu," Lalu hamba itu berfikir dalam dirinya, siapa gerangan yang akan bersaksi untukku?! Lalu Allah menutup mulutnya, dan dikatakan kepada paha, daging, dan tulangnya, "Berbicaralah." Maka paha, daging, dan tulangnya berbicara tentang perbuatannya. “Demikian itu supaya menjadi hujah atas dirinya.” Yakni Allah membuat anggota badannya berbicara untuk menanggalkan uzurnya terhadap dirinya sendiri dengan banyaknya dosa dan persaksian anggota badannya, di mana sudah tidak tersisa lagi uzur yang dengannya ia dapat membela diri. Hamba yang ketiga ini adalah orang munafik yang dimurkai oleh Allah.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dalam salah satu riwayat (secara marfū'), (Nabi) bersabda, “Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, tidaklah seseorang menghafalnya melainkan ia akan masuk surga. Allah itu ganjil dan menyukai yang ganjil.”
Muttafaq 'alaihSesunguhnya Allah -Ta'ālā- memiliki sembilan puluh sembilan nama, tidaklah seseorang menghafalnya melainkan dia akan masuk surga. Yang dimaksud dengan menghafal disini adalah melafalkannya di luar kepala. Disebutkan juga bahwa maksudnya adalah keimanan terhadap nama-nama tersebut, pengamalan, mentaati kandungan makna setiap nama tersebut, dan berdoa kepada Allah -Ta'ālā- dengan nama-nama tersebut. Dalam hadis ini dijelaskan tentang ketetapan nama-nama tersebut, serta tidak menunjukkan penafian terhadap nama-nama lain selain dari nama-nama tersebut. Adapun pengkhususan nama-nama tersebut adalah karena nama-nama itu adalah nama-nama yang sangat masyhur dan jelas maknanya. Hal ini senada dengan perkataanmu, "Sesungguhnya Zaid memiliki seratus dirham yang ia sediakan untuk bersedekah." Ucapan ini tidak menunjukkan bahwa dia tidak memiliki jumlah dirham yang lebih banyak dari yang disebutkan tersebut, akan tetapi menunjukkan bahwa yang disediakannya untuk bersedekah adalah dengan jumlah tersebut saja. Di antara dalil yang menunjukkan makna penafsiran seperti ini adalah hadis Ibnu Masud, “Aku mohon kepada-Mu dengan perantaraan semua nama milik-Mu yang Engkau namakan sendiri, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada seseorang dari hamba-Mu, atau Engkau rahasiakan dalam ilmu gaib disisi-Mu”. Ini menunjukkan bahwa Allah memiliki nama-nama yang tidak Dia turunkan dalam kitab-Nya, dan Dia rahasiakan dari seluruh makhluk-Nya. “Wa huwa witrun” maksudnya adalah Allah itu Esa tidak ada sekutu bagi-Nya. “Yuḥibbul-witra”, yakni Dia mengutamakan bilangan ganjil dalam berbagai amalan dan ketaatan. Oleh karena itu Allah mewajibkan salat sebanyak lima waktu, tawaf sebanyak tujuh putaran, dan menganjurkan pelaksanaan berbagai amalan lainnya sebanyak tiga kali, serta Dia juga menciptakan langit dan bumi sebanyak tujuh lapisan dan lain sebagainya.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Di setiap sisi kota Madinah ada malaikat. Dajjal dan ṭā'ūn tidak akan masuk ke dalamnya."
Muttafaq 'alaihNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menuturkan dalam hadis ini bahwa di antara keutamaan Madinah adalah keberadaan para malaikat di berbagai jalur masuk Madinah dan jalan-jalannya dengan misi menjaganya. Dengan demikian, Madinah tidak akan dimasuki Ṭā'ūn -yaitu kematian mengerikan yang epidemi- dan al-Masih Dajjal.
Jābir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang ketika (selesai) mendengar azan membaca doa, 'Allāhumma rabba hāżihid-da'watit-tāmmah waṣ-ṣalātil-qā`imah, āti muḥammadan al-wasīlata wal-faḍīlah, wa-b'aṡhu maqāman maḥmudan al-lażī wa'adtahu (artinya: Ya Allah! Tuhan pemilik seruan yang sempurna dan salat yang akan ditegakkan ini. Berikanlah kepada Muhammad al-waṣīlah dan keutamaan, dan bangkitkanlah dia pada tempat terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya),' niscaya dia mendapatkan syafaatku kelak di hari Kiamat."
HR. BukhariNabi ﷺ menerangkan bahwa siapa yang mendengar muazin, kemudian setelah ia selesai azan membaca: Allāhumma rabba hāżihid-da'wah (Ya Allah, Tuhan pemilik seruan ini), yaitu kalimat-kalimat azan yang digunakan sebagai panggilan menuju ibadah kepada Allah dan salat .. at-tāmmah (yang sempurna), yaitu seruan tauhid dan kerasulan .. waṣ-ṣalātil-qā`imah (dan salat yang akan ditegakkan), yaitu yang terus tegak dan yang akan ditegakkan .. āti muḥammadan al-wasīlata (berikanlah kepada Muhammad al-wasīlah), yaitu kedudukan tinggi dalam surga yang tidak patut didapatkan kecuali oleh beliau ﷺ.. wal-faḍīlah (dan keutamaan), yaitu kedudukan yang lebih di atas kedudukan semua makhluk .. wa-b'aṡhu maqāman maḥmudan (dan bangkitkanlah dia pada kedudukan terpuji); siapa yang ada di sana terpuji, yaitu syafaat uzma di hari Kiamat .. al-lażī wa'adtahu (yang telah Engkau janjikan kepadanya), yaitu dalam firman-Mu: "Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." Yaitu dengan syafaat itu menjadi milik beliau ﷺ. Siapa yang membaca doa ini, maka ia berhak mendapatkan syafaat Nabi ﷺ pada hari Kiamat.
Dari Abu Sa'id Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Bumi itu semuanya adalah masjid, selain kuburan dan kamar mandi."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh DārimiBumi itu semuanya adalah tempat salat, kecuali tempat dikuburkannya orang-orang yang meninggal. Ini meliputi semua area yang dikelilingi pagar kuburan. Dan tempat untuk pemandian air panas sebagai terapi penyembuhan. An-Nawawi -rahimahullāh- mengatakan, "Salat di tempat setan hukumnya makruh menurut konsensus ulama. Hal ini seperti tempat-tempat minum khamar, kedai/remang-remang, tempat pemungutan cukai, dan tempat-tempat maksiat besar lainnya, serta gereja, sinagog, Al-Husyusy dan tempat semisalnya." Al-Husyusy adalah tempat buang hajat.