





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan orang yang menghafal Al-Qur`ān seperti unta yang diikat. Jika ia menjaganya, ia dapat menahannya. Jika ia melepaskannya, unta itu akan pergi."
Muttafaq 'alaih"Sesungguhnya perumpamaan orang yang menghafal Al-Qur`ān" yakni, orang yang menghafalnya di luar kepala, "seperti pemilik unta yang diikat," yakni, yang diikat dengan tali (pengikat). Beliau menjelaskan segi penyerupaannya dengan sabdanya, "Jika ia menjaganya," dengan mengikatnya selamanya, mengawasi, dan memperhatikannya, "ia dapat menahannya. Jika ia melepaskannya," dengan melepaskan ikatannya, "unta itu akan pergi." Demikian juga orang yang menghafal Al-Qur`ān. Jika ia selalu menjaganya dengan membaca dan mengulang, niscaya Al-Qur`ān kokoh dalam dadanya. Jika ia tidak melakukannya, pasti Al-Qur`ān akan pergi dan terlupakan serta tidak bisa kembali kepadanya kecuali setelah kepayahan dan keletihan. Selama ada penjagaannya, niscaya hafalannya tetap ada. Sebagaimana halnya unta jika tetap diikat dengan tali pengikat, ia pasti terjaga. Dikhususkannya penyebutan unta karena ia merupakan binatang jinak yang larinya kencang, dan menangkap unta yang sudah kabur merupakan pekerjaan sulit.
Dari Abdullah bin Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Ketika Jibril -'alaihi as-salām- duduk di sisi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, ia mendengar bunyi dari atasnya. Lantas Jibril mengangkat kepalanya lalu berkata, 'Ini adalah satu pintu langit yang telah dibuka hari ini, dan pintu itu belum pernah dibuka sebelumnya kecuali hari ini.' Lalu turunlah satu malaikat dari pintu itu. Jibril berkata, 'Ini adalah malaikat yang turun ke bumi, dia belum pernah turun kecuali hari ini.' Malaikat itu mengucapkan salam lalu berkata, 'Bergembiralah (wahai Muhammad) dengan dua cahaya yang telah dikaruniakan kepadamu, yang belum pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelummu, (yaitu): Al-Fātiḥah dan penutup surat Al-Baqarah. Tidaklah engkau membaca satu huruf pun dari ayat-ayat itu (yang berisi permohonan) melainkan engkau akan dikarunai apa yang engkau mohon'."
Diriwayatkan oleh MuslimIbnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Ketika Jibril -'alaihi as-salām- duduk di sisi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, ia mendengar bunyi," yakni, suara keras seperti suara kayu bangunan ketika patah. "dari atasnya", yakni dari arah langit atau dari arah kepalanya. Ada yang mengatakan suara seperti bunyi pintu. "Lantas Jibril mengangkat kepalanya lalu berkata, 'Ini adalah satu pintu langit,' yakni, dunia. "Yang telah dibuka hari ini, dan pintu itu belum pernah dibuka sebelumnya kecuali hari ini." Lalu turunlah darinya," yakni, dari pintu itu, "satu malaikat. "Jibril berkata, 'Ini adalah malaikat yang turun ke bumi, dia belum pernah turun kecuali hari ini.' Pengkhususan dua cahaya ini dengan dua hal yang belum pernah terjadi selain pada keduanya menunjukkan keutamaan keduanya dan keistimewaannya dengan sesuatu yang tidak ada pada selain keduanya. "Malaikat itu mengucapkan salam," yakni, malaikat tersebut, "lalu berkata, 'Bergembiralah (wahai Muhammad) dengan dua cahaya,' dia menamakan keduanya dua cahaya karena masing-masing dari keduanya itu merupakan cahaya yang berjalan di hadapan pemiliknya, atau karena keduanya menunjukkan ke jalan yang lurus dengan merenungkannya dan menghayati maknanya. Cahaya pertama adalah surah Al-Fātiḥah, dan cahaya kedua adalah dua ayat terakhir surah Al-Baqarah. Sesungguhnya siapa saja dari umat ini yang membacanya dalam keadaan beriman, pasti Allah - Ta'āla- memberikan apa yang diminta di dalamnya, "dikaruniakan kepadamu," yakni, diberikan kepadamu keduanya, "yang belum pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelummu."
Dari Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhumā- mengatakan, "Seseorang tengah membaca surah Al-Kahfi sedang di dekatnya terdapat kuda yang diikat dengan dua tali. Lalu awan kecil menutupinya dan mendekat sehingga kudanya lari menjauhi awan ini. Pada pagi harinya, ia mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu menceritakan peristiwa tersebut pada beliau. Maka beliau bersabda, "Itu adalah ketenangan yang turun karena Al-Qur'ān."
Muttafaq 'alaihAl-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhumā- menuturkan kisah aneh yang terjadi di zaman Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di mana ada seseorang yang tengah membaca surat al-Kahfi dan di sampingnya terdapat seekor kuda yang terikat dengan tali. Lalu sesuatu seperti awan datang menaunginya, ia terus mendekat padanya sedikit demi sedikit hingga membuat kuda tersebut terperanjat dan lari lantaran takut dari apa yang dilihatnya. Di pagi harinya, orang tersebut mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu menceritakannya pada beliau. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa itu adalah ketenangan yang turun pada saat Alquran dibaca, sebagai karamah sahabat yang tengah membaca Al-Qur'ān ini dan kesaksian dari Allah bahwa firman-Nya adalah benar. Nama sahabat yang membaca Al-Qur'ān ini adalah Usaid bin Ḥuḍair -raḍiyallāhu 'anhu-.
Dari Abu Musa al-Asy'arī -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda padanya, "Sungguh engkau telah diberi satu seruling (suara indah) dari seruling-serulilng (suara indah) keluarga Dawud." Dalam salah satu riwayat Muslim, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda padanya, "Sekiranya engkau melihatku saat aku mendengarkan bacaanmu tadi malam."
Muttafaq 'alaihDari Abu Musa al-Asy'arī -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda padanya ketika beliau mendengarkan bacaannya yang indah dan bertartil, "Sungguh engkau telah diberi satu seruling (suara indah) dari seruling-seruling (suara-suara indah) keluarga Dawud." Sabda beliau, "laqad ūtīta" artinya sungguh engkau telah diberi, "satu seruling (suara indah) dari seruling-seruling (suara-suara indah) keluarga Dawud", maksudnya Nabi Dawud sendiri. Beliau memang memiliki suara yang sangat merdu, indah dan tinggi, sehingga Allah -Ta'ālā- berfirman, "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud, dan Kami telah melunakkan besi untuknya." (QS. Saba` :10). Kata "ālu fulān" (keluarga seseorang) terkadang diungkapkan dengan maksud orang itu sendiri (bukan seluruh keluarganya), sebab tak seorangpun dari mereka (keluarga Dawud) yang diberi suara merdu seperti yang dianugerahkan pada Nabi Dawud.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- bersabda, “Di antara kandungan Al-Qur`ān ada surah berjumlah 30 ayat yang dapat memberi syafaat bagi seseorang hingga dosanya diampuni”. Yaitu surah "Tabārakallażi biyadihil-mulk". Dalam riwayat Abu Daud; "...akan memberikan syafaat..."
Diriwayatkan oleh Ibnu MājahRasulullah -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- menjelaskan bahwa ada salah satu surah dalam Al-Qur`ān yang terdiri dari 30 ayat, ia bisa memberi syafaat / pertolongan kepada seseorang hingga Allah memberikan ampunan padanya; di mana orang tersebut selalu rutin membaca dan memperhatikan surah ini. Ketika ia meninggal dunia, surah ini memberikan syafaat padanya lalu ia pun terhindarkan dari azab-Nya. Di awal hadis ini, Rasulullah sengaja tidak menyebutkan nama surah tersebut, lalu beliau menyebut namanya di penghujung hadis; dengan tujuan agar lebih mempertegas kemuliaan dan keagungannya dan agar membuat (setiap Muslim) lebih konsisten dalam membacanya.
Dari An-Nawwās bin Sam'ān -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, "Pada hari kiamat, Al-Qur`ān akan didatangkan dan juga para ahli Al-Qur`ān, yaitu orang-orang yang mengamalkannya di dunia. Di depannya ada surat Al-Baqarah dan Ali 'Imrān, keduanya menjadi hujah bagi orang yang membacanya."
Diriwayatkan oleh MuslimHadis An-Nawwās bin Sam'ān -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, "Pada hari kiamat, Al-Qur`ān akan didatangkan dan juga para ahli Alquran, yaitu orang-orang yang mengamalkannya di dunia. Di depannya ada surat Al-Baqarah dan Ali 'Imrān, keduanya menjadi hujah bagi orang yang membacanya." Hanya saja dalam hadis ini Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- mengikat bacaan Al-Qur`ān dengan pengamalannya. Sebab, orang-orang yang membaca Al-Qur`ān itu terbagi dua: Satu kelompok, tidak mengamalkannya, tidak beriman kepada berita-beritanya, dan tidak mengamalkan hukum-hukumnya. Mereka adalah orang-orang yang membuat Al-Qur`ān menjadi hujah atas mereka. Kelompok lainnya, beriman kepada berita-beritanya, membenarkannya, dan mengamalkan hukum-hukumnya. Mereka itu adalah orang-orang yang membuat Al-Qur`ān menjadi hujah bagi mereka. Dia akan menjadi pembela bagi mereka pada hari kiamat. Hadis ini merupakan dalil bahwa hal terpenting mengenai Al-Qur`ān adalah mengamalkannya. Hal ini diperkuat oleh firman Allah -Ta'ālā-, "Kitab (Al-Qur`ān) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran." "Agar mereka menghayati ayat-ayatnya," yakni, memahami maknanya. "dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran" Yakni, mengamalkannya. Diakhirkannya kata "amal" dari "penghayatan" karena tidak mungkin mengamalkan (Al-Qur`ān) tanpa penghayatan. Karena sesungguhnya penghayatan itu dapat mendatangkan ilmu. Sedangkan amal adalah buah dari ilmu. Jadi faedah diturunkan Al-Qur`ān adalah untuk dibaca, diamalkan, dipercayai berita-beritanya, hukum-hukumnya diamalkan, perintahnya dilaksanakan, dan larangannya dijauhi. Pada hari kiamat kelak, Al-Qur`ān akan memberikan pembelaan (hujah) kepada para pembacanya.
Dari Abdullah bin Abu Bakar bin Ḥazm, bahwa di dalam surat yang dikirim oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada `Amru bin Ḥazm terdapat (wasiat), “Janganlah menyentuh Al-Qur`ān kecuali orang yang dalam keadaan suci!”
Diriwayatkan oleh MalikMakna hadis: "Di dalam surat yang dikirim oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada `Amru bin Ḥazm terdapat (wasiat)," Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah mengirim sebuah surat kepada `Amru bin Ḥazm ketika dia sedang menjabat sebagai seorang kadi (hakim) untuk wilayah Najrān. Beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah mengirim surat yang sangat panjang kepadanya berisi tentang banyak sekali dari hukum-hukum syariat, seperti faraid (pembagian warisan), sedekah, diat, dan hukum syariat lainnya. Itu adalah sebuah surat terkenal yang telah sampai dan diterima oleh umat. “Janganlah menyentuh Al-Qur`ān kecuali orang yang dalam keadaan suci!” Yang dimaksud dengan al massu di sini adalah memegangnya dengan tangan secara langsung tanpa ada suatu penghalang. Maka berdasarkan hal tersebut, jika memegangnya dengan memakai suatu penghalang yang memisahkan seperti membawanya didalam sebuah kantong atau tas, atau membuka halamannya dengan menggunakan sebatang ranting dan semacamnya tidaklah termasuk ke dalam larangan ini karena tidak terjadinya sentuhan secara langsung. Dan yang dimaksud dengan Al-Qur`ān di sini adalah sesuatu yang tertulis didalamnya Al-Qur`ān, seperti lembaran-lembaran kertas, kulit dan lainnya. Yang dimaksud dengannya bukanlah kalam (firman Allah); karena firman itu tidak disentuh atau dipegang, melainkan didengarkan. "kecuali orang yang dalam keadaan suci." Lafal ini memiliki makna kolektif antara empat perkara berikut: Pertama, yang dimaksud dengan aṭ-ṭāhiru adalah seorang muslim; sebagaimana firman Allah -Ta'ālā-, “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis.” Kedua, yang dimaksud dengannya adalah orang yang suci dari najis; seperti sabda Nabi-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang kucing, “Sesungguhnya kucing itu bukan hewan yang najis.” Ketiga, yang dimaksud adalah orang yang suci dari janabah. Keempat, yang dimaksud adalah orang yang memiliki wudu. Setiap makna tersebut adalah makna dari taharah (bersuci) menurut syariat yang dimungkinkan sebagai makna yang dimaksud dalam hadis ini, dan kami tidak memiliki suatu (dalil) yang dapat menguatkan salah satu makna dibanding yang lainnya. Yang lebih tepat dan utama adalah memaknainya dengan makna yang paling mendekati, yaitu orang yang suci dari hadas kecil; karena ini adalah yang diyakini dan disepakati oleh jumhur, diantara mereka adalah keempat imam mazhab dan para pengikutnya. Ini adalah bentuk kehati-hatian dan yang afdal.
Dari Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah mengangkat dengan kitab ini (Al-Qur`ān) beberapa kaum dan merendahkan dengannya kaum yang lain."
Diriwayatkan oleh MuslimDari Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah mengangkat dengan kitab ini (Al-Qur`ān) beberapa kaum dan merendahkan kaum dengannya kaum yang lain." Yakni, artinya bahwa Al-Qur`ān ini dibawa oleh orang-orang yang membacanya. Di antara mereka ada yang diangkat oleh Allah di dunia dan akhirat, ada juga yang direndahkan oleh Allah dengan Al-Qur`ān di dunia dan akhirat. Siapa yang mengamalkan Al-Qur`ān karena membenarkan berita-beritanya, melaksanakan segala perintahnya, menjauhi semua larangannya, mengikuti petunjuknya, dan berakhlak dengan akhlak yang dibawanya - dan semuanya adalah akhlak utama - maka sesungguhnya Allah -Ta'ālā- akan mengangkatnya dengan Al-Qur`ān itu di dunia dan akhirat. Sebab, Al-Qur`ān adalah asal ilmu, sumber ilmu dan segala ilmu. Allah -Ta'ālā- berfirman, "niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Adapun di akhirat, Allah akan mengangkat dengan Al-Qur`ān itu beberapa kaum di surga-surga kenikmatan. Sedangkan orang-orang yang direndahkan oleh Allah dengan Al-Qur`ān adalah kaum yang membaca Al-Qur`ān dan memperbagus bacaannya, tetapi mereka menyombongkan diri darinya - kita berlindung kepada Allah-, tidak membenarkan berita-beritanya, tidak mengamalkan hukum-hukumnya. Mereka menyombongkan dirinya secara praktik, menolak beritanya saat datang kepada mereka sesuatu dari Al-Qur`ān, seperti kisah para nabi terdahulu atau lainnya atau mengenai hari akhir atau lain sebagainya. Mereka -kita berlindung kepada Allah- meragukan hal tersebut dan tidak beriman kepadanya. Bahkan keadaan mereka bisa sampai kepada pengingkaran, padahal mereka itu membaca Al-Qur`ān. Mereka menyombongkan diri tentang hukum-hukum. Mereka tidak melaksanakan perintahnya dan tidak berhenti dari larangannya. Mereka adalah orang-orang yang direndahkan oleh Allah di dunia dan akhirat. Kitab berlindung kepada Allah.
Dari Umar bin Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku mendengar Hisyām bin Hakīm membaca surah Al-Furqān pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka aku mendengarkan bacaannya dengan berbagai macam bentuk bacaan yang belum pernah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membacakannya kepadaku. Aku pun hampir menyergapnya di dalam salat, namun aku berusaha menunggunya hingga salam. Setelah salam aku menariknya dengan selendang yang dipakainya atau dengan selendangku sambil berkata, 'Siapakah yang telah membacakan surah ini (dengan bacaan seperti itu) kepadamu?' Hisyām menjawab, 'Rasullullah lah yang telah membacakannya kepadaku.' Aku (Umar) berkata, 'Engkau telah berbohong! Demi Allah, sungguh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah membacakan surah yang engaku baca tersebut kepadaku. Maka akupun membawanya bertolak menghadap kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu aku berkata, 'Ya Rasulullah, sungguh aku telah mendengarnya membaca surah Al-Furqān dengan dialek yang belum pernah engkau bacakan kepadaku, dan engkau telah membacakan surah tersebut kepadaku (dengan dialek yang berbeda).' Lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Lepaskan dia wahai Umar! Bacalah wahai Hisyām!' Maka Hisyām membacakan bacaan dalam surah Al-Furqān sebagaimana yang telah aku dengar tadi. Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Seperti itulah Alquran diturunkan.' Lalu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Bacalah wahai Umar!' Maka aku pun membacanya, lalu beliau bersabda, 'Seperti itulah Alquran diturunkan.' Kemudian beliau bersabda, 'Sesungguhnya Alquran ini diturunkan atas tujuh huruf (dialek), maka bacalah apa yang mudah darinya'."
Muttafaq 'alaihUmar bin Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- menceritakan bahwa dirinya pernah mendengar Hisyām bin Hakīm -raḍiyallāhu 'anhumā- membaca surah Al-Furqān pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan bacaan yang berbeda dengan bacaannya pada banyak lafal. Umar telah membacakan surah tersebut (dengan bacaannya) kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan ia mengira bahwa hal itu adalah sebuah kekeliruan dari Hisyām, sehingga hampir saja dia lompat dan manarik kepalanya ketika salat. Akan tetapi dia mencoba untuk tetap bersabar hingga dia salam, lalu menggenggam selendangnya dan melingkarkannya pada lehernya, seraya berkata, "Siapakah yang telah membacakan surah ini (dengan bacaan seperti itu) kepadamu?" Hisyām menjawab, "Rasullullah lah yang telah membacakannya kepadaku." Umar berkata, "Engkau telah berbohong! Demi Allah, sungguh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah membacakan surah tersebut kepadaku tidak seperti yang engkau baca." Kemudian Umar pergi menarik Hisyām menghadap kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan Umar adalah orang yang paling tegas dalam urusan (agama) Allah -Ta`āla-. Kemudian Umar berkata, "Wahai Rasulullah, sungguh aku telah mendengar Hisyām membaca surah Al-Furqān dengan lafal bacaan yang belum pernah aku dengar engkau membacanya, dan engkau telah membacakan kepadaku (bacaan) surah Al-Furqān tersebut." Lalu Rasulullah menyuruh Umar untuk melepaskannya, dan menyuruh Hisyām untuk membacakan surah Al-Furqān. Ketika Hisyām telah membacakannya, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Seperti itulah Alquran diturunkan." Maksudnya adalah bahwa surah tersebut diturunkan dari sisi Allah sesuai dengan apa yang telah dibacakan oleh Hisyām, dan dia tidak keliru sebagaimana yang disangkakan oleh Umar -raḍiyallāhu 'anhu-. Lalu beliau menyuruh Umar untuk membacakannya, kemudian dia pun membacakannya. Lalu beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Seperti itulah Alquran diturunkan." Maksudnya adalah bahwa Allah telah menurunkan surah tersebut seperti apa yang telah dibacakan oleh Umar sebagaimana halnya juga seperti yang telah dibacakan oleh Hisyām. Lalu beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Alquran ini diturunkan atas tujuh huruf (dialek), maka bacalah apa yang mudah darinya." Umar dan Hisyām keduanya benar dalam hal bacaan surah tersebut. Sebab, Alquran diturunkan lebih dari satu huruf (dialek), namun diturunkan atas tujuh huruf (dialek), dan apa yang ada pada bacaan Hisyām bukanlah sebagai tambahan ayat-ayat pada bacaan Umar, akan tetapi hanya terdapat perbedaan pada huruf-hurufnya saja. Oleh karena itu, beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepada mereka berdua setelah mendengar bacaan keduanya, "Demikianlah Alquran telah diturunkan." Dan hal itu dijelaskan kembali oleh sabdanya, "Sesungguhnya Alquran ini diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah apa yang mudah darinya." Maksudnya adalah janganlah kalian membebani diri atas satu huruf saja, karena sesungguhnya Allah -Ta`āla- telah meringankan dalam hal bacaan Alquran dengan tujuh huruf (dialek) sebagai bentuk kasih sayang dan keutamaan dari-Nya, maka bagi Allah-lah pujian dan sanjungan. Para ulama berbeda pendapat tentang penjelasan ketujuh huruf tersebut. Namun, yang dimaksud dengannya -yang tampak jelas, wallahu a`lam- adalah dialek-dialek dari sekian dialek Bahasa Arab. Alquran turun dengan dialek-dialek tersebut pada awalnya adalah sebagai bentuk keringanan, karena kaum Arab adalah kaum yang terpisah-pisah dan berbeda-beda. Setiap kaum memiliki dialek tersendiri, dialek suatu kabilah tidak sama dengan dialek kabilah lainnya. Akan tetapi setelah Islam menyatukan mereka semua, satu sama lain telah saling terhubung, permusuhan dan kebencian di antara mereka telah sirna karena datangnya Islam, serta setiap dari mereka telah mengenali bahasa atau dialek lainnya, maka Uṡman bin Affān -raḍiyallāhu 'anhu- menyatukan seluruh umat Islam di atas satu huruf (dialek) dari ke tujuh huruf tersebut serta menghilangkan yang lainnya, hingga tidak terjadi perselisihan.