





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Uqbah bin 'Āmir berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika beliau di atas mimbar membaca ayat, "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu mampui." (QS. Al-Anfāl: 60). Beliau bersabda, "Ketahuilah! Kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah! Kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah! Kekuatan itu adalah memanah."
Diriwayatkan oleh MuslimHadis ini menerangkan penafsiaran Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang kekuatan yang diperintahkan untuk dipersiapkan dalam rangka memerangi para musuh dan orang-orang kafir, yaitu memanah. Karena memanah lebih mematikan dan sekaligus jauh dari serangan musuh. Memanah pada masa turunnya ayat yang mulia ini ialah dengan menggunakan panah, tetapi ayat ini dengan kemukjizatannya menyebutkan kekuatan secara mutlak sehingga mencakup kekuatan di semua zaman dan tempat. Hadis yang mulia ini juga hadir dengan mukjizat ilmiah lainnya, yaitu dengan menyebutkan memanah secara mutlak yang mencakup memanah dengan semua jenisnya supaya bisa ditafsirkan dengan semua bentuk pemanahan yang terperbaharukan dan dengan senjata modern apa pun.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Kiamat tidak akan terjadi hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya. Ketika matahari terbit dan orang-orang melihatnya, mereka semuanya beriman. Itulah hari ketika 'tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu' (QS. Al-An'ām: 158). Sungguh kiamat akan terjadi padahal dua orang telah menggelar pakaiannya di antara mereka lalu mereka tidak jadi berjual beli dan belum melipatnya. Sungguh kiamat akan terjadi padahal seseorang telah beranjak membawa susu perahannya lalu dia tidak jadi meminumnya. Sungguh kiamat akan terjadi padahal seseorang telah memperbaiki telaganya dan dia belum sempat memasukkan air ke dalamnya. Sungguh kiamat akan terjadi padahal seseorang di antara kalian telah mengangkat makanan ke mulutnya lalu dia tidak jadi menyantapnya."
Muttafaq 'alaihRasulullah ﷺ mengabarkan bahwa di antara tanda besar kiamat ialah matahari terbit dari barat, bukan dari timur. Ketika orang-orang melihatnya, mereka semuanya beriman. Ketika itu, tidak lagi berguna bagi orang kafir keimanannya, tidak juga amal saleh dan tobatnya. Kemudian beliau ﷺ mengabarkan bahwa kiamat datang dengan sangat cepat, sampai-sampai kiamat itu terjadi di saat manusia sedang dalam kerutinan dan urusan kehidupan mereka. Kiamat terjadi di saat penjual dan pembeli telah menggelar pakaian di antara keduanya, lalu mereka tidak jadi bertransaksi dan belum melipatnya. Kiamat terjadi di saat seseorang telah mengambil susu dari unta perahannya, namun dia belum sempat meminumnya. Kiamat terjadi ketika seseorang telah memperbaiki dan melapisi telaganya dengan tanah, lalu dia belum memasukkan air ke dalamnya. Kiamat terjadi pada waktu seseorang telah mengangkat santapannya ke mulut untuk dimakan, namun dia tidak jadi menyantapnya.
Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Kematian didatangkan dalam rupa seekor domba jantan yang berbulu putih bercampur hitam. Lantas seorang penyeru memanggil, 'Wahai penduduk surga.' Mereka pun mendongak seraya melihat. Penyeru itu berkata, 'Apakah kalian mengetahui ini?' Mereka menjawab, 'Ya. Itu adalah kematian.' Mereka semua pernah melihatnya. Kemudian dia memanggil lagi, 'Wahai penduduk neraka.' Mereka pun mendongak seraya melihat. Dia berkata, 'Apakah kalian mengetahui ini?' Mereka menjawab, 'Ya. Itu adalah kematian.' Mereka semua pernah melihatnya. Lantas domba itu disembelih. Kemudian dia berkata, 'Wahai penduduk surga, kekekalan bagimu, tidak ada lagi kematian. Wahai penduduk neraka, kekekalan bagimu, tidak ada lagi kematian.'" Kemudian Nabi membaca, "Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus, sedang mereka dalam kelalaian." (QS. Maryam: 39). -Mereka itu dalam kelalaian, yaitu penduduk dunia- "dan mereka tidak beriman." (QS. Maryam: 39)".
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ menjelaskan bahwa kelak di hari kiamat kematian akan didatangkan dalam rupa domba jantan yang berbulu putih bercampur hitam. Lantas ada yang memanggil: Wahai penduduk surga! Maka mereka menjulurkan leher dan mengangkat kepala seraya melihat. Penyeru itu berkata kepada mereka: Apakah kalian mengetahui ini? Mereka menjawab: Ya, itu adalah kematian. Semua mereka pernah melihatnya dan mengetahuinya. Kemudian penyeru itu kembali memanggil: Wahai penduduk neraka! Maka mereka menjulurkan leher dan mengangkat kepala seraya melihat. Penyeru itu berkata: Apakah kalian mengetahui ini? Mereka menjawab: Ya, itu adalah kematian. Semua mereka telah melihatnya. Lalu domba itu disembelih, kemudian penyeru berkata: Wahai penduduk surga, kekal selama-lamanya, tidak ada lagi kematian. Wahai penduduk neraka, kekal selama-lamanya, tidak ada lagi kematian. Yang demikian itu agar menjadi tambahan kenikmatan bagi orang-orang beriman serta tambahan siksaan orang-orang kafir. Kemudian Nabi ﷺ bersabda, "Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus, sedang mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman." Pada hari kiamat akan dipisahkan antara penghuni surga dan neraka, masing-masing masuk ke tempatnya, dan kekal di dalamnya. Maka orang yang berbuat keburukan akan menyesal, sebab tidak berbuat baik, demikian juga orang yang lalai, sebab tidak menambah kebaikan.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Dahulu ahli kitab membaca Taurat dengan Bahasa Ibrani dan menjelaskannya dengan bahasa Arab kepada pemeluk Islam, maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Jangan kalian mempercayai Ahli Kitab dan jangan pula mendustakan mereka, tetapi katakanlah, 'Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami.' [QS. Al-Baqarah: 136]"
Diriwayatkan oleh BukhariNabi ﷺ mengingatkan umatnya agar tidak teperdaya dengan apa yang diriwayatkan oleh Ahli Kitab dari kitab-kitab mereka. Dahulu orang-orang Yahudi di masa Nabi ﷺ membaca Taurat yang berbahasa Ibrani, yaitu bahasa orang Yahudi, dan mereka menjelaskannya dengan Bahasa Arab, maka beliau ﷺ bersabda: Janganlah kalian membenarkan Ahli Kitab dan jangan pula mendustakannya. Ini pada perkara yang tidak dapat diketahui mana yang benar dan mana yang dusta. Yang demikian itu karena Allah Ta'ala memerintahkan kita untuk mengimani Al-Qur`an yang diturunkan kepada kita serta Al-Kitab yang diturunkan kepada mereka, hanya saja kita tidak memiliki jalan untuk membedakan antara berita yang sahih dan tidak sahih yang mereka riwayatkan dari kitab-kitab tersebut, jika di dalam syariat kita tidak ada keterangan mengenai mana yang benar dan mana yang dusta. Oleh karena itu, kita tidak perlu berkomentar; kita tidak membenarkan mereka, agar tidak ikut serta dalam sesuatu yang mereka selewengkan; dan kita juga tidak mendustakan mereka, karena bisa jadi itu benar, sehingga kita telah mengingkari sesuatu yang diperintahkan untuk mengimaninya. Nabi ﷺ memerintahkan kita agar mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami hanya berserah diri kepada-Nya." [QS. Al-Baqarah: 136].
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, ia berkata, "Nabi ﷺ tidak mengetahui batas surah kecuali setelah turun kepadanya "bismillāhirraḥmānirraḥīm"."
Diriwayatkan oleh Abu DaudIbnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- menjelaskan bahwa surah Al-Qur`an Al-Karīm turun kepada Nabi ﷺ sedangkan beliau tidak mengetahui batas dan ujungnya, hingga turun kepada beliau "bismillāhirraḥmānirraḥīm"; Maka melalui itu beliau mengetahui bahwa surah sebelumnya telah selesai dan ini sebagai pembuka surah yang baru.
Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Kelak akan dikatakan kepada pemilik Al-Qur`an, 'Bacalah dan naiklah (di tingkatan surga); bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya dengan tartil di dunia. Sesungguhnya tingkatanmu adalah di akhir ayat yang engkau baca'."
Diriwayatkan oleh Abu DaudNabi ﷺ mengabarkan, kelak akan dikatakan kepada orang yang membaca Al-Qur`an, yang mengamalkan kandungannya, yang membaca dan menghafalnya secara rutin, ketika ia masuk surga: Bacalah Al-Qur`an, dan naiklah dengan sebab itu di tingkatan-tingkatan surga; bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya dengan tartil dan tenang di dunia. Sungguh tempatmu ialah di ayat terakhir yang engkau baca.
Abu Abdirraḥmān As-Sulami -raḥimahullāh- meriwayatkan, ia berkata, "Sahabat-sahabat Nabi yang mengajari kami Al-Qur`an menceritakan bahwa mereka biasa belajar Al-Qur`an dari Rasulullah ﷺ per sepuluh ayat; mereka tidak akan masuk ke sepuluh ayat lainnya kecuali setelah mereka mengetahui pengetahuan dan pengamalan yang dikandungnya. Mereka mengatakan, 'Kami belajar pengetahuan dan pengamalan.'"
Diriwayatkan oleh AhmadPara sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- biasa belajar Al-Qur`an dari Rasulullah ﷺ per sepuluh ayat; mereka tidak akan masuk ke sepuluh ayat lainnya hingga mereka telah mempelajari pengetahuan yang terkandung di dalamnya serta mengamalkannya, sehingga mereka belajar pengetahuan dan pengamalan sekaligus.
Ubay bin Ka'ab -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai Abu Munżir! Tahukah engkau, ayat manakah yang paling agung dari kitabullah yang engkau hafal?" Aku menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Beliau bersabda, "Wahai Abu Munżir! Tahukah engkau, ayat manakah yang paling agung dari kitabullah yang engkau hafal?" Aku menjawab, "Yaitu, 'Allāhu lā ilāha illā huwal-ḥayyu al-qayyūm ...'." [QS. Al-Baqarah: 255]. Beliau menepuk dadaku dan bersabda, "Demi Allah, semoga ilmu mudah kaupelajari, wahai Abu Munżir."
Diriwayatkan oleh MuslimNabi ﷺ bertanya kepada Ubay bin Ka'ab tentang ayat yang paling agung dalam kitabullah. Saat pertama kali dia ragu untuk menjawab, kemudian dia berkata: Ayat Kursi, Allāhu lā ilāha illā huwal-ḥayyu al-qayyūm. Maka Nabi ﷺ mengukuhkannya; beliau menepuk dadanya sebagai isyarat bahwa dadanya penuh dengan ilmu dan hikmah, serta beliau mendoakan semoga ia diberi kemudahan dalam menerima ilmu.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, "Apabila Nabi ﷺ pergi ke tempat tidurnya di setiap malam, beliau menggabungkan kedua telapak tangannya, kemudian beliau meniup keduanya seraya membaca surah Qul huwallāhu aḥad, Qul a'ūżu bi rabbil-falaq, dan Qul a'ūżu bi rabbin-nās. Lalu beliau mengusap bagian tubuhnya yang terjangkau, dimulai dari kepala dan wajahnya, lalu semua bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan hal tersebut sebanyak tiga kali."
Diriwayatkan oleh BukhariDi antara petunjuk Nabi ﷺ ketika berada di kasurnya untuk tidur adalah beliau menggabungkan kedua telapak tangan dan mengangkatnya -seperti orang yang berdoa- seraya meniupnya dengan tiupan lembut disertai sedikit ludah dan membaca tiga surah: Qul huwallāhu aḥad, Qul a'ūżu bi rabbil-falaq, dan Qul a'ūżu bi rabbin-nās. Kemudian dengan kedua telapak tangannya, beliau mengusap bagian tubuh yang bisa dijangkau, dimulai dari kepala dan wajah serta tubuh bagian depan. Beliau mengulanginya sebanyak tiga kali.