





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidaklah Allah mendengarkan sesuatu sebagaimana Allah mendengarkan suara indah Nabi-Nya yang melagukan bacaan Al-Qur'ān dan mengeraskan suaranya."
Muttafaq 'alaihHadis ini mengandung anjuran memperindah suara ketika membaca Al-Qur'ān dalam salat dan lainnya, yakni seseorang mesti memperbagus suaranya ketika membaca Al-Qur'ān sembari mengeraskannya dengan melagukan bacaannya seperti sedang bersedih, merasa cukup dengan Al-Qur'ān tanpa membutuhkan berita-berita yang lain, mencari kekayaan jiwa dengannya dan mengharapkan rezeki melalui (berkah) Al-Qur'ān. Maksud melagukan dalam hadis ini adalah memperindah suara, bukan menjadikannya seperti irama musik.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa ditanya tentang suatu ilmu kemudian ia menyembunyikannya, maka pada hari kiamat ia akan dipasangkan kendali dari neraka."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadHadis ini mengandung peringatan keras tentang menyembunyikan ilmu dan bahwasanya orang yang ditanya tentang suatu ilmu yang dibutuhkan oleh penanya dalam urusan agamanya sedangkan yang ditanya harus menjawabnya; lalu dia tidak menerangkan ilmu tersebut dengan tidak memberi jawaban atau dengan melarang pemberian buku, maka Allah -Ta'ālā- menghukumnya pada hari kiamat dengan cara memasukkan tali kendali dari neraka di mulutnya sebagai balasan baginya karena dia mengekang dirinya untuk diam, dan tentunya balasan ini sesuai jenis amal yang dilakukan. Ancaman keras dalam hadis ini ditimpakan kepada orang yang mengetahui bahwa penanya bertanya untuk meminta bimbingan. Adapun jika diketahui bahwa penanya bertanya untuk menguji dan bukan bertujuan untuk meminta bimbingan lalu mengetahuinya dan mengamalkannya; maka orang yang ditanya memiliki dua pilihan antara menjawab dan tidak, sedang dia tidak ditimpakan ancaman yang disebutkan dalam hadis ini.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang bersumpah, lalu mengatakan dalam sumpahnya, 'Demi Lāt dan 'Uzzā', maka hendaklah dia mengucapkan, 'Lā ilāha illallāh!' Siapa yang berkata kepada temannya, 'Kemarilah, ayo kita berjudi!', maka hendaknya dia bersedekah!"
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mewanti-wanti jangan sampai bersumpah dengan selain Allah karena orang beriman itu tidak akan bersumpah kecuali dengan Allah. Beliau mengabarkan bahwa orang yang bersumpah dengan selain Allah, seperti orang yang bersumpah dengan Lāt dan 'Uzzā yang merupakan berhala yang disembah di masa jahiliah sebelum Islam, maka ia wajib memperbaikinya dengan membaca: Lā ilāha illallāh, sebagai bentuk pembebasan diri dari kesyirikan sekaligus sebagai kafarat terhadap sumpahnya itu. Kemudian beliau ﷺ mengabarkan bahwa orang yang mengatakan kepada temannya, "Mari, kita berjudi", maka dianjurkan agar ia bersedekah dengan sesuatu sebagai kafarat atas ajakannya itu. Judi adalah tindakan dua orang atau lebih untuk saling taruhan harta di antara mereka, lalu diambil oleh yang menang, dan masing-masing tidak lepas dari kemungkinan untung atau rugi.
Dari Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, "Hampir datang masanya bahwa sebaik-baik harta seorang Muslim itu adalah kambing yang digembalakannya di puncak gunung serta tempat-tempat subur, karena menjauhi berbagai fitnah yang mengganggu agamanya."
Diriwayatkan oleh BukhariDalam hadis ini terdapat keutamaan uzlah pada saat terjadi berbagai fitnah, kecuali jika orang tersebut memiliki kemampuan untuk menghilangkan fitnah, maka ia wajib berusaha untuk menghilangkannya, baik fardu 'ain ataupun fardu kifayah sesuai dengan keadaan dan tempat. Sedangkan di selain hari-hari yang penuh fitnah, para ulama berbeda pandangan mengenai uzlah dan berbaur dengan manusia lain, mana yang paling utama?" Pendapat yang kuat adalah: keutamaan berbaur bagi orang yang merasa dirinya tidak akan terjatuh ke dalam kemaksiatan. "menjauhi berbagai fitnah yang mengganggu agamanya." Yakni, melarikan diri karena khawatir urusan agamanya terjatuh ke dalam berbagai fitnah. Untuk itu, manusia diperintahkan agar berhijrah dari negeri syirik ke negeri Islam, dari negeri fasik ke negeri istikamah. Demikian juga ketika terjadi perubahan pada manusia dan zaman.
Dari Abu Darda' -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', Jika seorang hamba melaknat sesuatu, maka laknat itu akan naik ke langit, lalu tertutuplah pintu-pintu langit. Kemudian laknat itu akan turun lagi ke bumi, namun pintu-pintu bumi telah tertutup. Laknat itu kemudian bergerak ke kanan dan ke kiri, jika tidak mendapatkan tempat sasaran, dia akan menghampiri orang yang dilaknat, jika ia layak dilaknat. Namun jika tidak, maka laknat itu akan kembali kepada orang yang melaknat."
Diriwayatkan oleh Abu DaudSeorang hamba jika melaknat sesuatu dengan lisannya maka sungguh laknatnya itu akan naik ke langit. Akan tetapi pada saat itu pintu-pintu langit tertutup, lantas laknat tersebut kembali ke bumi, namun pintu-pintu bumi juga tertutup saat itu sehingga laknat tersebut tidak dapat memasukinya. Kemudian laknat tersebut bergerak ke kanan dan ke kiri, jika ia tidak mendapati suatu jalan atau tempat, maka ia kembali kepada objek yang dilaknat itu. Apabila objek itu layak mendapatkan laknat maka laknat tersebut menimpanya dan berhenti di situ, namun jika tidak maka laknat tersebut kembali kepada orang yang melaknat dan akan menimpanya.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, ia berkata, "Sesungguhnya Allah -Ta'ālā- memiliki malaikat yang berkeliling di jalan-jalan mencari ahli zikir. Jika mereka menemukan satu kaum yang sedang mengingat Allah -'Azza wa Jalla-, mereka berseru, "Marilah kalian menuju kebutuhan kalian." Lantas para malaikat meliputi mereka dengan sayap-sayapnya sampai langit dunia. Kemudian Rabb mereka bertanya -dan Dia lebih tahu- kepada mereka, "Apa yang dikatakan hamba-hamba-Ku?" Nabi bersabda, "Para malaikat menjawab, "Mereka bertasbih (mensucikan-Mu), bertakbir (mengagungkan-Mu), bertahmid (memuji-Mu), dan memuliakan-Mu." Allah bertanya, "Apakah mereka melihat-Ku?" Para malaikat menjawab, "Tidak, demi Allah, mereka tidak melihat-Mu." Allah bertanya lagi, "Bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?" Nabi bersabda, "Para malaikat menjawab, "Seandainya mereka melihat-Mu, pasti mereka sangat bersungguh-sungguh beribadah kepada-Mu, sangat sungguh-sungguh memuliakan-Mu, dan lebih banyak bertasbih kepada-Mu." Allah bertanya, "Lalu apa yang mereka minta dari-Ku?" Nabi bersabda, "Para malaikat menjawab, "Mereka meminta surga dari-Mu." Nabi bersabda, "Allah bertanya, "Apakah mereka melihat surga?" Nabi bersabda, "para malaikat menjawab, "Tidak, demi Allah, wahai Rabb, mereka tidak melihatnya." Nabi bersabda, "Allah bertanya, "Bagaimana seandainya mereka melihatnya?" Nabi bersabda, "Para malaikat menjawab, "Seandainya mereka melihatnya, mereka pasti sangat bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya, sangat bersungguh-sungguh untuk memintanya, dan sangat menginginkannya." Allah bertanya, "Lalu dari apa mereka meminta perlindungan?" Nabi bersabda, "Para malaikat menjawab, "Mereka meminta perlindungan dari neraka." Nabi bersabda, "Allah bertanya, "Apakah mereka melihatnya?" Nabi bersabda, "Para malaikat menjawab, "Tidak, demi Allah, mereka tidak melihatnya." Allah bertanya, "Bagaimana seandainya mereka melihatnya?" Nabi bersabda, "Para malaikat menjawab, "Seandainya mereka melihatnya, pasti mereka sangat bersungguh-sungguh lari darinya dan sangat takut kepadanya." Nabi bersabda, "Allah berfirman, "Aku persaksikan kepada kalian sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka." Nabi bersabda, "Salah satu malaikat pun berkata, "Namun, di antara mereka ada si fulan dan ia bukan bagian dari mereka. Ia datang hanya karena ada keperluan." Allah menjawab, "Mereka semua adalah teman duduk, dan tidak ada yang sengsara orang yang duduk (bermajelis) bersama dengan mereka." Dalam riwayat dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah mempunyai para malaikat yang memiliki keutamaan, mereka selalu berjalan mencari majelis-majelis zikir. Apabila mereka menemukan suatu majelis yang berisi zikir di dalamnya, mereka lalu duduk bersama mereka dan mereka saling membentangkan sayap-sayap mereka sehingga memenuhi antara mereka dengan langit dunia. Apabila majelis itu bubar, mereka naik ke langit lalu Allah -'Azza wa Jalla- bertanya -dan Dia lebih tahu- kepada mereka, "Dari mana kalian?" Para malaikat menjawab, "Kami datang dari hamba-hamba-Mu di bumi. Mereka bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid, dan meminta kepada-Mu." Allah bertanya, "Apa yang mereka minta dari-Ku?" Para malaikat menjawab, "Mereka meminta surga-Mu." Allah bertanya, "Apakah mereka melihat surgaku?" Para malaikat menjawab, "Tidak, wahai Rabb-ku." Allah bertanya, "Bagaimana seandainya mereka melihat surga-Ku?" Para malaikat berkata, "Mereka juga meminta perlindungan kepada-Mu." Allah bertanya, "Dari apa mereka meminta perlindungan kepada-Ku?" Mereka menjawab, "Dari neraka-Mu, wahai Rabb-ku." Allah bertanya, "Apakah mereka melihat neraka-Ku?" Mereka menjawab, "Tidak." Allah bertanya, "Bagaimana seandainya mereka melihat neraka-Ku?" Para malaikat berkata, "Mereka juga memohon ampunan kepada-Mu?" Allah berfirman, "Aku telah mengampuni mereka. Aku beri kepada mereka apa yang mereka minta dan Aku beri mereka perlindungan dari apa yang mereka mintai perlindungan kepada-Ku." Nabi bersabda, "Para malaikat berkata, "Wahai Rabb-ku, di kalangan mereka ada seorang hamba yang banyak sekali kesalahannya. Ia hanya melewati saja lalu ikut duduk bersama mereka." Lantas Allah berfirman, "Aku pun mengampuninya. Mereka adalah satu kaum yang tidak akan sengsara orang yang duduk bersama mereka."
Muttafaq 'alaihHadis ini menceritakan salah satu bentuk mengagungkan majelis-majelis zikir, di mana Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling di jalan-jalan mencari ahli zikir." Yakni, Allah menugaskan satu kelompok khusus dari kalangan malaikat selain para malaikat penjaga, untuk berkeliling di bumi. Mereka berkeliling di jalan-jalan kaum Muslimin dan masjid-masjid serta rumah-rumah mereka untuk mencari majelis-majelis zikir. Mereka mengunjunginya, menyaksikannya, dan mendengarkan ahli zikir. Al-Hafiz (Ibnu Hajar) berkata, "Yang lebi tepat pengkhususan itu dengan majelis-majelis tasbih dan sejenisnya. "Jika mereka menemukan satu kaum yang sedang mengingat Allah -'Azza wa Jalla-," dalam riwayat Muslim disebutkan, "Apabila mereka menemukan suatu majelis yang berisi zikir di dalamnya-, mereka berseru," yakni, sebagian mereka menyeru sebagian yang lain, "Kemarilah menuju kebutuhan kalian." Dalam satu riwayat disebutkan, "Kepada tujuan kalian." Yakni, kemarilah menuju apa yang kalian cari di majelis zikir, sampai kepada ahli zikir untuk mengunjungi mereka, dan menyimak zikir mereka." Nabi -'alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām- bersabda mengenai gambaran malaikat saat mereka berada di majelis-majelis zikir, "Lantas para malaikat meliputi mereka," yakni, meliputi mereka seperti liputan gelang di pergelangan tangan. "Lantas para malaikat meliputi mereka dengan sayap-sayapnya," yakni, mengelilingi mereka dengan sayap-sayapnya. "Sampai langit dunia." Yakni, hingga mereka sampai ke langit. Selanjutnya Nabi -'alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām- menceritakan dialog yang berlangsung antara Rabb Pemilik kemuliaan dan keagungan dengan para malaikat mulia. Allah –Jalla wa ‘Alā- berfirman, "Kemudian Rabb mereka bertanya -dan Dia lebih tahu-, yakni, Dia lebih mengetahui keadaan mereka. Ini sebagai pujian terhadap mereka di Al-Mala' al-A'lā untuk membanggakan mereka kepada para malaikat, "Apa yang dikatakan hamba-hamba-Ku?" Para malaikat menjawab, "Mereka bertasbih (mensucikan-Mu), bertakbir (mengagungkan-Mu), bertahmid (memuji-Mu), dan memuliakan-Mu." Yakni, para malaikat berkata, "Orang-orang yang berzikir mengucapkan, "Mahasuci Allah, segala puji hanya milik Allah, tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar." Adapun bentuk memuliakan ialah ucapan 'tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah' karena di dalamnya mengandung pengagungan kepada Allah -Ta'ālā- dengan tauhid ulūhiyyah. "Allah –Jalla wa ‘Alā- bertanya, "Apakah mereka melihat-Ku?" Para malaikat menjawab, "Tidak, demi Allah, mereka tidak melihat-Mu." Allah bertanya lagi, "Bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?" Para malaikat yang mulia menjawab, "Seandainya mereka melihat-Mu, pasti mereka sangat bersungguh-sungguh beribadah kepada-Mu, sangat sungguh-sungguh memuliakan-Mu, dan lebih banyak bertasbih kepada-Mu." Sebab, bersungguh-sungguh dalam ibadah sesuai dengan tingkat pengetahuan. Selanjutnya Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- bertanya, "Lalu apa yang mereka minta kepada-Ku?" Yakni, apa yang mereka mohon dari-Ku. Para malaikat menjawab, "Mereka meminta surga kepada-Mu." Yakni, mereka mengingat-Mu dan beribadah kepada-Mu karena ingin memperoleh surga-Mu. Para malaikat menjawab, "Seandainya mereka melihatnya, mereka pasti sangat menginginkannya," yakni, pasti mereka akan sungguh-sungguh berusaha kepadanya. Sebab, berita berbeda dengan melihat langsung. Allah - Jalla Jalāluhu- bertanya, "Lalu dari apa mereka meminta perlindungan?" Yakni, apa yang mereka takutkan sehingga mereka memohon kepada Allah agar melindungi mereka darinya. Para malaikat menjawab, "Mereka meminta perlindungan dari neraka." Yakni, mereka mengingat dan menyembah Rabbnya karena takut dari neraka dan memohon kepada Allah -'Azza wa Jalla- agar melindungi mereka darinya. Allah -Jalla Jalāluhu- bertanya, "Bagaimana seandainya mereka melihatnya?" Para malaikat menjawab, "Seandainya mereka melihatnya, pasti mereka sangat bersungguh-sungguh lari darinya," yakni, mereka pasti berusaha bersungguh-sungguh memperbanyak amal saleh yang menjadi sebab selamat dari neraka. Allah -Jalla Jalāluhu- berfirman, "Aku persaksikan kepada kalian sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka." Yakni, Aku telah mengampuni dosa-dosa mereka. "Salah satu malaikat pun berkata, "Namun, di antara mereka ada si fulan dan ia bukan bagian dari mereka. Ia datang hanya karena ada keperluan." Yakni, ada di antara orang-orang yang berzikir itu "fulan" yang bukan bagian dari mereka. Ia datang untuk satu kebutuhan yang akan dilakukannya, lalu duduk bersama mereka. Apakah dia diampuni? Allah –Jalla a ‘Alā- berfirman yang maknanya, "Mereka semua adalah teman duduk, dan tidak ada yang sengsara dan rugi orang yang duduk (bermajelis) bersama dengan mereka."
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', Allah berfirman, "Apabila hamba-Ku hendak melakukan keburukan, janganlah kalian (malaikat) mencatatnya sampai dia mengerjakannya! Apabila ia mengerjakannya, tulislah (dosa) seperti keburukan itu! Jika dia meninggalkan keburukan tersebut demi Aku, catatlah baginya satu kebaikan!"
Muttafaq 'alaihSeruan dari Allah -Ta'ālā- ini untuk para malaikat yang bertugas menjaga dan mencatat amal manusia. Ini menunjukkan karunia Allah kepada manusia dan ampunan-Nya baginya. Sabdanya, "Apabila hamba-Ku hendak melakukan keburukan, janganlah kalian (malaikat) mencatatnya sampai dia mengerjakannya!" Perbuatan di sini bisa dimaksudkan perbuatan hati dan anggota badan, inilah makna yang tampak. Sebab, ada keterangan yang menunjukkan bahwa perbuatan hati mendapatkan siksaan dan balasan. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Dan siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan secara zalim di dalamnya, niscaya akan Kami timpakan kepadanya siksa yang pedih." Dalam hadis sahih disebutkan, "Apabila dua orang muslim saling bertemu dengan membawa pedang, maka pembunuh dan yang dibunuh berada di neraka." Para sahabat bertanya, "Ini (vonis) pembunuh, bagaimana dengan yang dibunuh?" Beliau bersabda, "Tadinya dia juga berkeinginan keras untuk membunuh saudaranya." Nas-nas ini layak untuk mengkhususkan keumuman sabda beliau, "Apabila hamba-Ku hendak melakukan keburukan, janganlah kalian (malaikat) mencatatnya sampai dia mengerjakannya!" Ini tidak bertentangan dengan sabdanya tentang keburukan, "Tidak dicatat." Sebab, tekad dan kehendak hati adalah suatu perbuatan. Sabdanya, "Apabila ia mengerjakannya, maka tulislah (dosa) seperti keburukan itu." Yakni, satu keburukan. Allah -Ta'ālā- berfirman, "Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi)." Allah -Ta'ālā- berfirman, "Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia akan dibalas sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tak terhingga." Sabda beliau, "Jika dia meninggalkan keburukan tersebut demi Aku, catatlah baginya satu kebaikan." Beliau itu mensyaratkan tindakan meninggalkan keburukan karena Allah -Ta'ālā-, yakni karena takut dan malu kepada-Nya. Adapun bila ia meninggalkan keburukan itu karena tidak mampu melakukannya atau takut kepada manusia atau karena sebab lain, maka hal itu tidak dicatat sebagai satu kebaikan baginya, tetapi mungkin saja dicatat sebagai satu keburukan baginya. Sabda beliau, "Apabila ia hendak melakukan kebaikan lalu tidak mengerjakannya, tulislah satu kebaikan baginya! Jika ia melaksanakannya, tulislah baginya sepuluh kebaikan seperti itu sampai tujuh ratus kali lipat!" Ini merupakan karunia dari Allah -Ta'ālā- Yang Maha Pemurah dan Pemberi karunia kepada hamba-hamba-Nya. Dengan demikian, segala puji dan karunia hanya milik-Nya. Kemurahan hati yang manakah lebih besar dari ini? Dia mendapatkan ilham untuk melakukan kebaikan maka Allah mencatat kebaikan yang sempurna baginya dan bila ia mengerjakan satu kebaikan, maka dicatat baginya sepuluh sampai tujuh ratus kebaikan. Dalam hadis ini Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyandarkan sabdanya kepada Allah -Ta'ālā- dengan sabdanya, "Allah berfirman, "Apabila hamba-Ku hendak." menggambarkan hal itu bagi-Nya. Firman ini merupakan bagian dari syariat-Nya yang mengandung janji bagi hamba-hamba-Nya dan karunia-Nya kepada mereka. Firman tersebut bukan Al-Qur`ān dan bukan pula makhluk. Perkataan Allah -Ta'ālā- bukan makhluk-Nya.
Abu Sa'īd Al-Khudriy dan Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Seorang penyeru akan mengatakan, 'Bagi kalian sehat selalu; kalian tidak akan sakit selamanya. Bagi kalian hidup selalu; kalian tidak akan mati selamanya. Bagi kalian muda selalu; kalian tidak akan tua selamanya. Bagi kalian senang selalu; kalian tidak akan menderita selamanya.'" Itulah makna firman Allah ﷻ: "Diserukan kepada mereka, 'Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu karena apa yang telah kamu kerjakan.'" (QS. Al-A'rāf: 43)
HR. MuslimNabi ﷺ menyebutkan bahwa ada penyeru yang akan memanggil penghuni surga yang di dalamnya sedang menikmati berbagai kenikmatan: Sungguh, bagi kalian sehat selalu; kalian tidak akan sakit di dalam surga selamanya, walau sedikit pun. Bagi kalian hidup selalu; kalian tidak akan mati di dalamnya selamanya, walau hanya tidur sebentar yang merupakan kematian kecil. Bagi kalian muda selalu; kalian tidak akan tua di dalamnya selamanya. Bagi kalian kenikmatan selalu; kalian tidak akan susah di dalamnya selamanya. Itulah makna firman Allah ﷻ: "Diserukan kepada mereka, 'Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu karena apa yang telah kamu kerjakan.'" (QS. Al-A'rāf: 43)
Ṣuhaib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, 'Apakah kalian menginginkan sesuatu untuk Aku tambahkan bagi kalian?' Lantas mereka menjawab, 'Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?' Kemudian Allah membuka hijab, maka tidaklah mereka diberi sesuatu yang lebih mereka sukai daripada kenikmatan melihat Tuhan mereka ﷻ."
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan bahwa ketika penghuni surga telah masuk ke dalam surga, Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman pada mereka: Apakah kalian menghendaki sesuatu untuk Aku tambahkan pada kalian? Seluruh penghuni surga menjawab: Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka? Lantas Allah menghilangkan hijab-Nya dan mengangkatnya. Hijab-Nya ialah cahaya. Tidaklah mereka diberikan sesuatu yang lebih mereka sukai daripada melihat Tuhan mereka ﷻ.