





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Abdullah bin Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menemui seorang badui untuk menjenguknya (karena sakit). Biasanya jika beliau menemui orang yang dijenguknya, maka beliau mengucapkan, “Lā ba`sa ṭahūrun in syā`Allāh" (Tidak mengapa, akan menyucikan [dari dosa-dosa] insya Allah).
Diriwayatkan oleh BukhariDari Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah masuk ke rumah seorang arab badui untuk menjenguknya karena sakit. Biasanya jika beliau menjenguk orang yang sakit, beliau mengucapkan, “Lā ba`sa ṭahūrun in syā`Allāh" (tidak mengapa, akan menyucikan [dari dosa-dosa] insya Allah), yakni tidak ada kesusahan dan gangguan atasmu, dan semoga sakitmu ini menjadi pembersih dosamu, penutup aibmu, dan menjadi sebab terangkatnya derajatmu di akhirat.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdoa, "Ya Allah! Aku berlindung diri kepada-Mu dari penyakit lepra, gila, kusta dan penyakit-penyakit jelek lainnya."
Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadDalam hadis ini Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meminta perlindungan dari penyakit-penyakit tertentu. Hal tersebut menunjukkan bahaya dan besarnya pengaruh jelek penyakit-penyakit tersebut. Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meminta keselamatan dan perlindungan dari semua penyakit-penyakit jelek secara umum. Doa ini mencakup permintaan khusus dan permintaan umum. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meminta perlindungan dengan berdoa, "Ya Allah! Aku berlindung diri kepada-Mu dari penyakit lepra," yaitu penyakit putih yang tampak di badan, menyebabkan orang lain menjauh, dan penderitanya merasa terkucilkan sehingga menyebabkan dia marah dengan takdir, semoga Allah melindungi kita semua. "dan gila," yaitu hilangnya akal. Akal merupakan dasar pemberian tanggung jawab, dengannya seorang manusia menyembah Rabbnya, dengannya seseorang mentadaburi dan memikirkan makhluk-makhluk dan firman Allah -Ta'ālā- yang agung. Dengan hilangnya akal maka berarti manusia itu juga sirna. "Penyakit kusta," yaitu penyakit yang membuat anggota badan penderitanya berjatuhan -semoga Allah melindungi kita semua-. "Dan penyakit-penyakit jelek lainnya," yaitu segala penyakit jelek seperti penyakit-penyakit yang membuat penderitanya merasa hina di antara manusia dan dibenci secara tabiat seperti penyakit lumpuh, buta, kanker dan lainnya, karena penyakit-penyakit tersebut sangat berbahaya dan penyembuhannya membutuhkan banyak harta, juga kesabaran yang kuat yang tidak sanggup dijalani kecuali orang yang diberi kesabaran dan kekuatan hati oleh Allah -Ta'ālā-. Disinilah nampak keagungan agama ini yang menjaga dan memperhatikan kesehatan badan seorang muslim bersama agamanya.
Ali -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- datang menemui Nabi ﷺ untuk mengeluhkan bekas batu penggilingan di tangannya karena ia mendapat berita ada budak yang sampai kepada beliau. Akan tetapi, ia tidak menemukan beliau sehingga ia menyebutkan hal itu kepada Aisyah. Ali melanjutkan: Beliau kemudian datang menemui kami sementara kami telah bersiap-siap di tempat tidur, sehingga kami segera bangun, tetapi beliau bersabda, "Tetaplah kalian di tempat kalian." Lantas beliau masuk lalu duduk antara aku dengan Fatimah sampai aku merasakan dinginnya telapak kaki beliau di perutku. Beliau bersabda, "Maukah kalian berdua kutunjuki sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kalian minta? Apabila kalian hendak tidur -atau apabila kalian berdua telah berbaring-, maka bertasbihlah 33 kali, bertahmidlah 33 kali, dan bertakbirlah 34 kali. Hal itu lebih baik bagi kalian dari seorang pelayan (budak)."
Muttafaq 'alaihFatimah -raḍiyallāhu 'anhā-, putri Nabi ﷺ, mengeluhkan bekas alat penggilingan yang dirasakannya di tangannya karena menggiling. Ketika para tawanan dibawa kepada Nabi ﷺ, ia datang menemui beliau untuk meminta seorang pelayan dari para tawanan tersebut agar ia menggantikannya melakukan pekerjaan rumah. Akan tetapi, ia tidak menemukan beliau di rumahnya, ia hanya menemukan Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, sehingga ia menyampaikan hal itu kepadanya. Ketika beliau ﷺ datang, Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menyampaikan kedatangan Fatimah yang hendak menemuinya untuk meminta seorang pelayan. Nabi ﷺ kemudian datang menemui Fatimah dan Ali -raḍiyallāhu 'anhumā- di rumah keduanya saat mereka sedang bersiap-siap untuk tidur. Beliau duduk di antara keduanya sampai Ali -raḍiyallāhu 'anhu- merasakan dinginnya kedua telapak kaki Nabi ﷺ di perutnya. Beliau ﷺ bersabda: Maukah kalian kuajari sesuatu yang lebih baik dari pelayan yang kalian minta? Keduanya menjawab: Tentu. Beliau ﷺ bersabda: Apabila kalian telah bersiap-siap untuk tidur malam, maka bertakbirlah 34 kali dengan mengucapkan: Allāhu akbar. Bertasbihlah 33 kali dengan mengucapkan: Subḥānallāh. Bertahmidlah 33 kali dengan mengucapkan: Alḥamdulillāh. Zikir ini lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang budak.
Abdullah bin Khubaib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Kami keluar di suatu malam yang hujan dan sangat gelap untuk mencari Rasulullah ﷺ; agar beliau mengimami kami salat sampai aku mendapati beliau. Beliau bersabda, "Katakanlah?" Tetapi aku tidak mengucapkan apa-apa. Kemudian beliau berkata lagi, "Katakanlah." Tetapi aku tetap tidak mengucapkan apa-apa. Beliau bersabda, "Katakanlah." Aku bertanya, "Apa yang aku akan katakan?" Beliau bersabda, "Bacalah qul huwallāhu aḥad dan Al-Mu'awwiżatān ketika memasuki petang dan pagi sebanyak tiga kali, maka ia akan mencukupkanmu dari segala sesuatu."
HR. Abu Daud, Tirmizi, dan NasaiSahabat yang mulia Abdullah bin Khubaib -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa mereka pernah keluar di suatu malam ketika hujan lebat dan sangat gelap untuk mencari Rasulullah ﷺ agar berkenan mengimami mereka dalam salat sampai akhirnya mereka pun menemukan beliau. Nabi ﷺ berkata kepadanya, "Katakanlah." Maksudnya, bacalah. Akan tetapi ia tidak membaca apa-apa. Lalu Nabi ﷺ mengulangi lagi permintaannya, dan Abdullah berkata, "Apa yang akan aku baca, wahai Rasulullah?" Nabi ﷺ bersabda, "Bacalah Surah Al-Ikhlāṣ (qul huwallāhu aḥad) dan Al-Mu'awwiżatān (qul a'ūżu bi rabbil falaq dan qul a'ūżu bi rabbinnās) ketika petang dan ketika pagi sebanyak tiga kali, maka ia akan menjagamu dari segala kejahatan dan melindungimu dari segala keburukan."
Abān bin Uṡmān meriwayatkan, Aku mendengar Uṡmān bin Affān -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang membaca: Bismillāhillaẓī lā yaḍurru ma'asmihī syai`un fil-arḍi walā fis-samā`i wa huwas-samī'ul-'alīm (Dengan nama Allah yang tidak akan berbahaya sesuatu pun di bumi dan di langit bersama nama-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui), sebanyak tiga kali, tidak akan ditimpa keburukan secara tiba-tiba hingga memasuki waktu subuh. Siapa yang membacanya ketika pagi tiga kali, tidak akan ditimpa keburukan yang tiba-tiba hingga memasuki waktu sore." Ternyata Abān bin Uṡmān ditimpa stroke sebelah, sehingga laki-laki yang mendengar hadis itu menatapnya, maka ia berkata, "Ada apa engkau menatapku? Demi Allah! Aku tidak pernah berdusta atas nama Uṡmān, tidak juga Uṡmān berdusta atas nama Nabi ﷺ. Akan tetapi, pada hari ketika aku ditimpa musibah itu, aku sedang marah lalu lupa membaca doa ini."
HR. Abu Daud, Tirmizi, Nasai dalam Al-Kubrā, Ibnu Majah, dan AhmadNabi ﷺ menjelaskan bahwa orang yang membaca di setiap pagi hari setelah terbit fajar serta di setiap sore hari sebelum tenggelam matahari sebanyak tiga kali: Bismillāh (dengan nama Allah) aku memohon pertolongan dan melindungi diri dari semua yang menyakiti .. allaẓī lā yaḍurru ma'a (yang tidak akan berbahaya sesuatu apa pun di langit dan di bumi bersama) menyebut .. ismihī (nama-Nya) .. syai`un (sesuatu pun) fil-arḍi (di bumi); yaitu keburukan yang keluar dari bumi .. walā fis-samā`i (dan di langit); yaitu keburukan yang turun dari langit .. wa huwas-samī' (dan Dia Maha Mendengar), ucapan-ucapan kita .. al-'alīm (Maha Mengetahui) keadaan kita. tidak akan ditimpa keburukan secara tiba-tiba hingga memasuki waktu pagi. Siapa yang membacanya pagi hari, tidak akan ditimpa keburukan secara tiba-tiba hingga memasuki waktu sore. Ternyata perawi hadis, Abān bin Uṡmān, ditimpa stroke sebelah, yaitu salah satu sisi badannya lemah, laki-laki yang mendengar hadis itu menatap Abān keheranan! Sehingga Abān berkata kepada laki-laki tersebut: Kenapa engkau menatapku?! Demi Allah, aku tidak pernah berdusta atas nama Uṡmān, dan Uṡmān tidak pernah berdusta atas nama Nabi ﷺ. Akan tetapi, pada hari aku ditimpa musibah itu, Allah tidak takdirkan aku membacanya, aku sedang marah lalu lupa membaca doa-doa yang disebutkan.
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, ia mengatakan, Seseorang berkata, "Wahai Rasulullah! Seseorang dari kami bertemu saudara atau kawannya, apakah ia boleh membungkukkan badan padanya?" Beliau menjawab, "Tidak." Ia bertanya lagi, "Apakah ia boleh memeluknya dan menciumnya?" Beliau bersabda, "Tidak." Ia bertanya lagi, "Apakah ia boleh memegang tangannya dan menjabatnya?" Beliau menjawab, "Ya."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ditanya tentang menundukkan badan ketika seseorang bertemu saudaranya, beliau menjawab, "Ia tidak perlu menundukkan badan padanya." Penanya berkata, "Apakah ia mendekap dan memeluknya, dan tidak menunduk padanya?" Beliau menjawab, "Tidak." Penanya berkata lagi, "Apakah ia menjabat tangannya?" Beliau menjawab, "Ya."
Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Seorang Arab badui datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata, "Ajarkanlah kepadaku satu perkataan yang akan (selalu) aku ucapkan." Beliau bersabda, "Ucapkanlah, Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīkalah, allāhu akbar kabīra, wal-ḥamdu lillāhi kaṡīra, subḥānallāhi Rabbil-'ālamīn, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhi al-'azīzil-ḥakīm (Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Mahabesar dengan segala kebesaran-Nya, segala puji yang banyak milik Allah, Mahasuci Allah Tuhan alam semesta, tidak ada daya serta kekuatan melainkan dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Mahabijaksana)." Ia berkata, "Itu semua untuk Tuhanku. Lantas apa untukku?" Beliau bersabda, "Ucapkanlah, 'Allāhummagfirlī warḥamnī wahdinī warzuqnī (Ya Allah! Ampunilah aku, rahmatilah aku, berilah aku petunjuk, dan berilah aku rezeki)'."
HR. MuslimSeorang penduduk badui meminta kepada Rasulullah ﷺ agar diajari sebuah zikir yang akan selalu ia baca, maka beliau ﷺ bersabda: Bacalah, "Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīkalah." Nabi memulai dengan kesaksian tauhid, artinya: Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah. "Allāhu akbar kabīrā." Maksudnya: Allah yang paling besar dan paling agung dari segala sesuatu. "Wal-ḥamdu lillāh kaṡīrā." Maksudnya: Aku memuji Allah dengan pujian yang banyak atas terkait semua sifat, perbuatan, dan nikmat-Nya yang tidak terhitung. "Subḥānallāh rabbil-'ālamīn." Maksudnya: Dia Mahasuci dari kekurangan. "Lā ḥaula walā quwwata illā billāh al-'azīzil-ḥakīm." Maksudnya: Tidak ada perubahan dari satu keadaan ke keadaan lainnya kecuali dengan pertolongan Allah, bantuan, dan taufik-Nya. Orang tersebut berkata, "Kalimat-kalimat itu adalah untuk Tuhanku, untuk berzikir, dan mengagungkan-Nya, lantas doa apa untuk diriku sendiri?" Maka beliau ﷺ bersabda: Bacalah, "Ya Allah, ampunilah aku" dengan menghapus kesalahan dan menutupinya. "Rahmatilah aku" dengan memberikan kebaikan dan kemaslahatan agama dan dunia untukku. "Tunjukilah aku" kepada keadaan yang paling baik dan ke jalan yang lurus. "Berilah aku rezeki" berupa harta yang halal, kesehatan, dan segala bentuk kebaikan dan keselamatan.
Dari Syakl bin Ḥumaid -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku katakan, Wahai Rasulullah, ajarilah aku sebuah doa." Beliau bersabda, "Ucapkanlah: Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pendengaranku, dari keburukan pandanganku, dari keburukan lisanku, dari keburukan hatiku dan dari keburukan maniku (kemaluanku)."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadDalam hadis ini, Syakl bin Ḥumaid -raḍiyallāhu 'anhu- datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk mencari kebaikan dunia dan akhirat. Dia tidak mencari dunia fana, segenggam harta, satu sha' makanan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, tetapi dia pergi meminta doa. Dia ingin Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengajarinya doa yang dapat bermanfaat baginya dalam agama dan dunianya. Inilah hakekat sahabat yang mencari keutamaan dan keridaan Allah. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengajarkannya doa yang agung dan mulia ini. Beliau bersabda kepadanya, "Ucapkanlah: "Ya Allah, sesungguhnya aku...," Dia berdoa kepada Allah dan menghadapkan wajah kepada-Nya dengan menyebut nama-Nya yang mencakup seluruh nama Allah yang baik, "Allah". "aku berlindung kepadamu dari keburukan pendengaranku," "Aku berlindung," yakni, aku berlindung kepada Allah -Ta'ālā- dari keburukan pendengaran. Yaitu segala hal haram yang didengar oleh pendengaran manusia, seperti kesaksian palsu, ucapan kufur dan bohong, melecehkan agama dan berbagai hal haram yang sampai ke pendengaran manusia. "dari keburukan pandanganku," yaitu menggunakannya untuk melihat hal-hal yang diharamkan berupa film asusila dan berbagai pemandangan yang buruk. "dari keburukan lisanku," Yakni, dari segala yang diharamkan yang keluar dari lisan, seperti kesaksian palsu, celaan, laknat, meremehkan agama dan pemeluknya, berbicara tentang sesuatu yang tidak berguna bagi manusia, atau meninggalkan perkataan yang berguna baginya, dan seterusnya. "dari keburukan hatiku," yaitu, memakmurkan hati dengan selain zikir kepada Allah -Ta'ālā- atau menghadapkan wajah kepada selain Allah -Ta'ālā- dengan berbagai ibadah hati berupa harapan, rasa khawatir, takut dan pengagungan, atau meninggalkan apa yang diwajibkan kepadanya berupa mengarahkan berbagai ibadah hati kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. "dan dari keburukan maniku." Yakni, dari keburukan kemaluan. Yaitu terperosok ke dalam hal yang diharamkan Allah atau menyebabkan aku jatuh ke dalam permulaan-permulaan zina berupa pandangan, sentuhan, berjalan, keinginan dan hal-hal seperti itu. Doa yang penuh berkah ini mengandung perlindungan terhadap anggota-anggota tubuh yang merupakan karunia Allah -Ta'ālā-. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyuruhnya agar memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan berbagai kenikmatan itu. Beliau tidak menyuruhnya untuk memohon perlindungan dari berbagai kenikmatan itu, seperti mengucapkan, "Aku memohon perlindungan kepada Allah dari pendengaranku," Sebab, itu semua adalah nikmat, dan dengan kenikmatan itu manusia menyembah Allah -Ta'ālā-. Kenikmatan itu bukan keburukan yang murni sehingga harus memohon perlindungan darinya, tetapi memohon perlindungan dari keburukan yang timbul darinya. Adapun menjaganya dengan cara memelihara apa yang telah diciptakan untuknya dan tidak melakukan kemaksiatan dengannya serta tidak menebarkan kehinaan dengannya. Sebab, ia akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat tentang berbagai kenikmatan itu, sebagaimana dibenarkan oleh firman Allah -Ta'ālā-, "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggung jawabannya." (Al-Isra: 36)
Dari Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sifat sombong walaupun sebesar biji sawi." Seorang lelaki bertanya, "Sesungguhnya ada orang yang senang jika pakaiannya bagus dan sandalnya pun bagus." Beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Kesombongan itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia."
Diriwayatkan oleh MuslimDari Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sifat sombong walaupun sebesar biji sawi." Hadis ini termasuk hadis ancaman, dan membutuhkan rincian sesuai dengan dalil-dalil syariat. Orang yang di dalam hatinya ada kesombongan; apabila kesombongan itu adalah kesombongan terhadap kebenaran dan ketidaksukaan padanya, maka pelakunya adalah kafir yang kekal di neraka dan tidak masuk surga. Hal ini berdasarkan firman Allah -Ta'ālā-, "Yang demikian itu karena mereka membenci apa (Al-Qur'an) yang diturunkan Allah, maka Allah menghapus segala amal mereka." Sedangkan sombong kepada manusia dan takabur kepada makhluk, tetapi ia tidak menyombongkan diri dari ibadah kepada Allah, maka ancamannya adalah dia tidak akan masuk surga bersama rombongan pertama. Saat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyampaikan hadis tersebut, seorang lelaki berkata, "Wahai Rasulullah, ada orang yang senang jika pakaiannya bagus dan sandalnya pun bagus. Yakni, apakah ini termasuk kesombongan?" Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan." Maha Indah dalam Zat-Nya, Maha Indah dalam segala perbuatan-Nya, dan Maha Indah dalam segala sifat-Nya. Segala sesuatu yang berasal dari Allah -'Azza wa Jalla- adalah indah tidak jelek." Sabda beliau, "Mencintai keindahan," Yakni, menyukai berhias. Artinya Allah suka jika manusia memperindah dirinya dalam pakaiannya, sandalnya, tubuhnya, dan segala urusannya. Sebab, berhias atau memperindah diri dapat menarik hati manusia dan menjadikan manusia suka kepadanya. Ini berbeda dengan perbuatan memperburuk diri di mana manusia menjadi jelek rambutnya, pakaiannya atau bajunya.