





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- jika menghampiri tempat tidurnya berdoa (dengan mengucapkan), "Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, minum, kecukupan dan perlindungan. Betapa banyak orang yang tidak memiliki kecukupan dan perlindungan."
Diriwayatkan oleh MuslimNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila menghampiri tempat tidurnya, beliau mengucapkan, "Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, minum, kecukupan dan perlindungan. Betapa banyak orang yang tidak memiliki kecukupan dan perlindungan." Beliau memuji Allah -'Azza wa Jalla- yang telah memberinya makan dan minum, seandainya Allah -'Azza wa Jalla- tidak memudahkan bagimu makanan dan minuman ini, tentu aku tidak akan makan dan minum. Karena itu, engkau harus memuji Allah yang telah memberimu makan dan minum. Sabda beliau, "Yang telah memberi kami makan, minum, kecukupan dan perlindungan." Memberi kecukupan maksudnya: Dia telah memudahkan urusan-urusan kita dan mencukupkan perbekalan. "Dia memberi perlindungan," yakni, Dia telah menjadikan tempat berlindung bagi kita di mana kita berlindung kepadanya. Betapa banyak orang yang tidak memiliki kecukupan dan perlindungan atau perbekalan. Karena itu, hendaknya bila engkau mendatangi tempat tidurmu, engkau harus mengucapkan zikir ini."
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Ada tiga doa yang tak diragukan akan dikabulkan; Doa orang yang dizalimi, doa musafir, doa orang tua terhadap anaknya."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadAda tiga doa, maksudnya tiga golongan yang doanya tak diragukan akan dikabulkan; Doa orang yang dizalimi, bahkan walaupun orang yang dizalimi itu kafir, kemudian dia berdoa kepada Allah, maka Allah akan mengabulkan doanya. Doa musafir, yaitu jika dia berdoa kepada Allah saat dia safar. Doa orang tua, bapaknya atau ibunya, doa untuk kebaikannya atau keburukannya.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Tiga golongan yang tidak disapa Allah pada hari kiamat, tidak disucikan dan tidak dipandang dan bagi mereka azab yang pedih; Orang tua yang berzina, raja pendusta serta orang miskin yang sombong."
Diriwayatkan oleh MuslimTiga golongan manusia yang tidak diajak bicara oleh Allah di hari kiamat, tidak dipandang dan tidak disucikan dari dosa-dosa mereka dan bagi mereka azab yang pedih. Orang yang sudah tua renta berzina, pemimpin pendusta dan orang fakir yang sombong dan melecehkan orang lain.
Ali -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku, "Berdoalah (dengan mengucapkan), 'Ya Allah! Tunjukilah aku dan berilah aku ketepatan dalam bertindak.' Ingatlah tentang petunjuk itu seperti engkau mengikuti jalan dan tentang ketepatan seperti tepatnya anak panah."
HR. MuslimNabi ﷺ memerintahkan Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- agar berdoa dan memohon kepada Allah dengan mengatakan: Allāhumma-hdinī (ya Allah! Berilah aku petujuk); bimbinglah aku dan tunjuki diriku .. wa saddidnī (dan berilah aku ketepatan dalam bertindak); yaitu berikan aku taufik dan jadikan aku konsisten dalam seluruh urusanku. Petunjuk atau hidayah adalah mengenal kebenaran secara rinci dan global serta taufik untuk mengikutinya secara lahir dan batin. Sedangkan sadād (ketepatan) adalah taufik dan keistikamahan dalam semua urusan secara tepat di atas kebenaran, yaitu jalan yang lurus dalam perkataan, perbuatan dan keyakinan. Karena sesuatu yang maknawi (abstrak) akan menjadi jelas dengan sesuatu yang dapat diindra, maka ingatlah saat engkau memanjatkan doa ini bahwa petunjuk itu seperti engkau mengikuti jalan. Hadirkan dalam hati saat engkau meminta suatu petunjuk seperti halnya orang musafir yang mengikuti jalan, yaitu ia tidak berbelok dari jalan ke kanan ataupun ke kiri, hal itu agar ia bisa selamat dari ketersesatan, dan dengan itu ia akan memperoleh keselamatan serta akan sampai ke tujuannya dengan cepat. Kemudian "ketepatan seperti tepatnya anak panah"; yaitu engkau perhatikan saat menepatkan anak panah dalam kecepatan sampainya dan ketepatannya terhadap sasaran. Orang yang memanah ketika memanah suatu sasaran, ia akan menepatkan anak panahnya ke arah sasaran. Demikian halnya ketika engkau memohon kepada Allah Ta'ala, ketepatan yang engkau niatkan seperti keadaan anak panah. Sebab itu, di dalam permintaanmu, engkau sedang meminta puncak petunjuk dan puncak ketepatan. Hadirkan makna ini dalam hatimu sehingga engkau meminta ketepatan agar apa yang engkau niatkan persis seperti yang engkau gunakan dalam memanah.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Sesungguhnya nama paling hina di sisi Allah adalah seseorang yang diberi nama dengan Raja Diraja. Tidak ada raja selain Allah." Dalam riwayat lain disebutkan, "Orang yang paling dimurkai Allah pada hari kiamat, paling buruk, dan paling dimurkai-Nya adalah seseorang yang diberi nama Raja Diraja. Tidak ada raja selain Allah." Sufyān berkata, "Seperti Syāhān Syāh." Ahmad bin Hanbal berkata, "Aku pernah bertanya kepada Abu 'Amru mengenai arti akhna'?" Ia menjawab, "Paling hina."
Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq 'alaihNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa manusia paling hina di sisi Allah -'Azza wa Jallā- adalah seseorang yang diberi nama dengan nama yang mengandung makna kebesaran dan kesombongan yang hanya layak bagi Allah -Ta'āla-, seperti Raja Diraja. Sebab, nama ini mengandung tandingan terhadap Allah, dan pelakunya mengklaim untuk dirinya atau diklaim bahwa dia tandingan bagi Allah. Karena itu, orang yang menyandang nama tersebut adalah orang yang paling dibenci di sisi Allah dan paling buruk di sisi-Nya. Bisa juga mengandung makna bahwa dia adalah manusia paling dibenci. Selanjutnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa tidak ada raja yang sebenarnya bagi alam semesta termasuk raja dan budak di dalamnya kecuali Allah -'Azza wa Jallā-. Hadis ini mengandung nasihat dan peringatan bagi orang-orang yang menyandangkan nama atau gelar kepada para tokoh tanpa memahami maknanya dan maksudnya sehingga mereka tidak terperosok kepada apa yang dilarang oleh hadis ini. Hanya Allah tempat meminta pertolongan.
Dari Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Maukah kalian aku sampaikan tentang apakah kedustaan? Itulah namimah (yang) banyak menyebarkan pembicaraan di tengah masyarakat."
Diriwayatkan oleh MuslimNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hendak mengingatkan umatnya untuk tidak berjalan di tengah manusia sambil bernamimah, dengan menukilkan pembicaraan satu pihak kepada yang lain dengan tujuan untuk merusak (hubungan) di antara mereka. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membuka hadisnya dengan bentuk pertanyaan agar dapat lebih menghunjam dalam jiwa dan lebih menarik perhatian. Beliau bertanya kepada mereka: “Apakah kedustaan itu?” Maksudnya: apakah kebohongan dan mengada-ada itu? (Kata tersebut) juga ditafsirkan sebagai: sihir. Kemudian beliau menjawab pertanyaan ini: bahwa “kedustaan” itu adalah menyebarkan permusuhan di tengah manusia; karena hal itu berakibat seperti akibat yang dimunculkan oleh sihir, berupa: kerusakan, membahayakan orang lain, memisahkan 2 hati yang padu, memutus hubungan antar 2 pihak yang akrab, dan memenuhi dada dengan dendam kesumat serta kedengkian; sebagaimana yang dapat disaksikan di tengah masyarakat.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Celakalah hamba dinar, hamba dirham, hamba khamīṣah (kain dari sutra atau campuran sutra dan wol), dan hamba khamīlah (kain beludru). Jika diberi maka ia rida, dan jika tidak diberi maka ia murka. Celakalah dan merugilah ia; apabila tertusuk duri maka ia tidak dapat mengeluarkannya. Sebaliknya, berbahagialah seorang hamba yang memegang kekang kudanya dalam rangka berjihad di jalan Allah; rambutnya kusut dan kedua kakinya berdebu; bila ditugaskan berjaga maka ia berada di bagian berjaga, dan bila ditugaskan di barisan belakang maka ia berada di barisan belakang; bila meminta izin maka ia tidak akan diizinkan, dan bila memberi syafaat (rekomendasi) maka rekomendasinya tidak dikabulkan."
Bukhari meriwayatkannya seperti iniDi dalam hadis ini Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menerangkan bahwa sebagian orang ada yang menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesarnya dan ujung dari ilmunya serta tujuannya yang pertama dan terakhir. Bila ada orang yang seperti ini keadaannya maka kesudahannya adalah kebinasaan dan kerugian. Ciri kelompok orang ini ialah sangat tamak terhadap dunia; bila dunia diberikan kepadanya maka dia rida, namun bila tidak diberikan maka dia murka. Sebaliknya, sebagian orang ada yang menjadikan rida Allah dan negeri akhirat sebagai tujuannya, sehingga dia tidak mengangankan kedudukan dan tidak mengejar ketenaran, melainkan dia meniatkan amalannya dalam rangka ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ciri kelompok orang ini ialah tidak memperhatikan penampilannya, rida di tempat mana pun dia ditempatkan, dipandang remeh oleh manusia, dan menjauhkan diri dari para pemegang kedudukan dan jabatan; sehingga ketika dia meminta izin kepada mereka maka dia tidak diizinkan, dan ketika dia memberi syafaat (rekomendasi) maka mereka tidak mengabulkan rekomendasinya, akan tetapi kesudahannya adalah surga, dan itu adalah sebaik-baik balasan.
Abu Musa Al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tiga orang yang tidak akan masuk surga, yaitu: pecandu khamar, orang yang memutuskan tali silaturahmi, dan orang yang mempercayai sihir."
Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbān - Diriwayatkan oleh AhmadDi dalam hadis ini Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan kepada kita bahwa ada tiga kelompok manusia yang tidak akan masuk surga karena adanya dosa besar yang mereka kerjakan yang berdampak buruk terhadap pribadi dan masyarakat. Pertama: terus-menerus meminum khamar; karena hal itu mengakibatkan hilangnya akal, rusaknya sifat kemanusiaan seseorang, dan hilangnya muruah. Kedua: tidak menyambung hubungan kerabat; karena hal itu akan melahirkan permusuhan dan perpecahan antara anggota keluarga, dan merupakan perkara yang dapat menjadikan seseorang hidup seorang diri dan terisolir dari orang terdekatnya. Ketiga: mempercayai sihir; karena hal itu akan memotivasi perbuatan sihir dan sulap serta mengambil harta orang lain dengan cara yang batil. Yang dicakup oleh ancaman di sini ialah yang mempercayai berita gaib yang disampaikan oleh para penyihir. Adapun yang mempercayai bahwa sihir memiliki pengaruh, maka ancaman ini tidak mencakupnya, karena perihal sihir memiliki pengaruh adalah perkara yang tidak diragukan. Begitu juga yang mempercayai bahwa sihir mampu merubah rupa benda dengan sendirinya, seperti menjadikan kayu sebagai emas dan semisalnya, maka tidak diragukan bahwa dia masuk dalam ancaman ini, karena yang seperti ini tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah -'Azza wa Jalla-.
Dari Abu Sa'id dan Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-ma secara marfū', "Jika ada tiga orang keluar untuk bepergian, hendaknya mereka mengangkat seorang dari mereka sebagai pemimpin."
Diriwayatkan oleh Abu DaudRasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan kepada orang-orang musafir untuk mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin mereka. Hendaknya yang dipilih adalah orang yang paling utama dan paling cerdas gagasannya agar bisa mengatur urusan mereka. Sebab, jika mereka tidak mengangkat seseorang sebagai pemimpin, maka urusan mereka menjadi kacau-balau.