





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Al-Mugīrah bin Syu'bah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa bersabda, "Senantiasa akan ada sekelompok orang dari umatku yang selalu tegak (di atas kebenaran), hingga datang ketetapan Allah atas mereka sedang mereka dalam keadaan tegak (di atas kebenaran)."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan, akan selalu ada segolongan orang dari umatku yang menang atas orang lain dan mengalahkan orang-orang yang menyelisihi mereka, hingga datang perintah Allah untuk mencabut roh mereka di akhir masa dunia sebelum terjadi Kiamat.
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa pun orang yang berkata kepada saudaranya, 'Wahai kafir', maka perkataan tersebut kembali kepada salah satu dari mereka berdua. Bila saudaranya itu benar seperti yang dikatakannya, (maka perkataan itu berlaku padanya). Namun jika tidak benar, perkataan itu kembali kepada dirinya sendiri."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengingatkan seorang muslim agar tidak mengucapkan kata "wahai kafir" pada saudaranya sesama muslim; karena kalimat itu pasti melekat kepada salah satu dari mereka berdua. Jika yang dikatakannya itu benar, (maka orang yang dituduh berarti benar kafir), tetapi jika tidak, maka pengafiran saudaranya itu akan kembali pada orang yang mengucapkannya.
'Imrān bin Ḥuṣain -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya. 'Imrān berkata: Aku tidak tahu apakah Nabi ﷺ mengucapkannya dua atau tiga kali. Nabi ﷺ bersabda, "Akan datang sepeninggal kalian orang-orang yang berkhianat dan tidak dapat dipercaya, memberi kesaksian padahal tidak diminta menjadi saksi, bernazar tapi tidak menunaikannya, dan tampak pada mereka kegemukan."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan, sebaik-baik generasi manusia yang hidup dalam satu masa adalah generasi yang di dalamnya terdapat Rasulullah ﷺ dan sahabat-sahabatnya. Kemudian generasi berikutnya, yaitu orang-orang mukmin yang bertemu para sahabat tetapi tidak bertemu Rasulullah ﷺ. Kemudian generasi setelahnya, yaitu generasi setelah tabiin. 'Imrān ragu pada penyebutan generasi berikutnya pada generasi keempat. Kemudian beliau ﷺ bersabda: Generasi setelah mereka adalah orang-orang yang khianat dan tidak dapat dipercaya, memberi kesaksian sebelum diminta kesaksiannya, bernazar tapi tidak menunaikannya, dan berlebihan dalam makanan dan minuman hingga tampak kegemukan pada mereka.
Abu Ṡa'labah al-Khusyaniy Jurṡūm bin Nāsyir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah Ta'ala telah menetapkan kewajiban-kewajiban, maka jangan kalian menyia-nyiakannya! Dia telah menetapkan batasan-batasan, maka jangan kalian menerjangnya! Dia juga telah mengharamkan beberapa perkara, maka jangan kalian melanggarnya! Dia mendiamkan (tidak memberi ketetapan) dalam beberapa hal sebagai bentuk rahmat-Nya kepada kalian, bukan karena lupa, maka jangan kalian berusaha membahasnya (mempermasalahkannya)!"
HR. Daraqutni dalam Sunannya dan selainnyaNabi ﷺ memberitahu bahwa Allah mewajibkan berbagai macam perkara dan amalan, kerjakanlah dan jangan melalaikannya dengan meninggalkan atau meremehkannya. Dia juga membuat batasan-batasan serta larangan tertentu yang mencegah dan melarang kalian dari perbuatan yang tidak Dia ridai, maka janganlah kalian melampauinya sehingga melewati batasan yang diperintahkan dalam syariat. Dia juga mengharamkan beberapa hal, jangan kalian melanggarnya atau mendekatinya. Sedangkan selain itu semua, seperti perkara yang dibiarkan dan tidak ada dalilnya, itu merupakan bentuk rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya, sehingga ia tetap dalam hukum asalnya, yaitu mubah, maka tidak perlu menelitinya.
Abu Muhammad Hasan bin Ali bin Abi Ṭālib -cucu Rasulullah ﷺ dan kesayangan beliau- meriwayatkan: Aku menghafal dari Rasulullah ﷺ, "Tinggalkan perkara yang meragukanmu kepada perkara yang tidak meragukanmu."
HR. Tirmizi dan NasaiNabi ﷺ memerintahkan agar meninggalkan perkataan dan perbuatan yang meragukan; apakah ia dilarang atau tidak, dan apakah haram atau halal, lalu memilih yang tidak mengandung keraguan dan engkau yakini kebaikan serta kehalalannya.
Abu Ya'lā Syaddād bin Aus -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat ihsan (baik) terhadap segala sesuatu. Sebab itu, jika kalian membunuh, bunuhlah dengan cara yang baik, dan jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik pula. Hendaklah seseorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan hewan sembelihannya."
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah Ta'ala telah mewajibkan berbuat ihsan pada segala sesuatu. Ihsan ialah menanamkan rasa selalu diawasi oleh Allah di dalam beribadah, memberikan kebaikan, dan tidak menyakiti makhluk lain, termasuk di dalamnya berbuat baik ketika membunuh dan menyembelih. Berbuat baik dalam membunuh pada saat kisas ialah dengan memilih cara paling mudah dan paling ringan serta yang paling cepat menghilangkan nyawa orang yang dibunuh. Berbuat baik dalam menyembelih pada saat penyembelihan ialah dengan bersikap lembut kepada hewan, yaitu dengan menajamkan alat penyembelih dan tidak menajamkannya di hadapan hewan yang akan disembelih sementara ia melihatnya. Demikian juga dengan tidak menyembelihnya sementara ada hewan lain yang melihatnya.
Abu Mālik al-Ḥāriṡ bin 'Āṣim al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Bersuci itu separuh dari iman. Ucapan "alḥamdulillāh" memenuhi timbangan, ucapan "subḥānallāhi wal-ḥamdulillāh" memenuhi antara langit dan bumi. Salat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, dan sabar adalah sinar. Al-Qur`an itu akan menjadi hujah yang membelamu atau justru menuntutmu. Semua orang berangkat di pagi hari mempertaruhkan dirinya, antara membebaskan dirinya atau membinasakannya."
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan bahwa menyucikan lahiriah adalah dengan wudu dan mandi, dan itu termasuk syarat sahnya salat. Bacaan "alḥamdulillāh" memenuhi timbangan, yaitu pujian kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- serta menyifati-Nya dengan sifat-sifat kesempurnaan akan ditimbang pada hari kiamat dan memenuhi timbangan amal. Bacaan "subḥānallāh walḥamdulillāh", yaitu menyucikan Allah dari segala kekurangan serta menyifati-Nya dengan sifat-sifat kesempurnaan yang sesuai dengan keagungan-Nya disertai dengan mencintai dan mengagungkan-Nya akan memenuhi ruang antara langit dan bumi. Salat akan menjadi cahaya bagi hamba di dalam hatinya, pada wajahnya, di dalam kuburnya, dan ketika ia dibangkitkan. Sedekah adalah bukti dan dalil yang menunjukkan kebenaran iman seorang mukmin dan perbedaannya dari orang munafik yang enggan menunaikannya, karena orang munafik itu tidak meyakini janji tersebut. Sabar adalah sinar, yaitu menahan diri dari rasa kecewa dan marah, yaitu cahaya yang disertai dengan hawa panas dan membakar seperti sinar matahari, karena terasa berat dan butuh usaha keras untuk melawan jiwa dan menahannya dari apa yang diinginkannya; pelakunya akan senantiasa mendapatkan sinar serta petunjuk serta istikamah di atas yang benar; yaitu sabar melakukan ketaatan kepada Allah, sabar meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya, serta sabar terhadap musibah dan berbagai macam keburukan di dunia. Al-Qur`an akan menjadi hujah yang membelamu dengan cara membaca dan mengamalkannya, atau justru menjadi hujah yang akan menuntutmu karena telah meninggalkannya, tidak mengamalkannya, ataupun membacanya. Kemudian Nabi ﷺ mengabarkan bahwa semua orang berjalan dan menyebar; mereka bangun dari tidur mereka serta keluar dari rumah mereka untuk melakukan pekerjaan mereka yang beraneka macam, di antara mereka ada yang istikamah di atas ketaatan kepada Allah, maka ia sedang membebaskan dirinya dari api neraka, namun ada juga yang menyimpang dari hal tersebut dan terjerumus ke dalam kemaksiatan, maka ia sedang membinasakannya dengan masuk ke dalam api neraka.
Abu Sa'īd Sa'ad bin Mālik bin Sinān al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain."
HR. Ibnu Majah, Daraqutni dan yang lainnya secara musnadNabi ﷺ menjelaskan bahwa seseorang wajib menepis segala macam dan bentuk kemudaratan terhadap diri sendiri dan orang lain, sehingga siapa pun tidak boleh menyakiti dirinya atau orang lain. Demikian pula ia tidak boleh membalas keburukan dengan keburukan, karena hukum asalnya keburukan tidak boleh dihilangkan dengan keburukan juga, kecuali dalam bentuk kisas tanpa melampaui batas.
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Jika semua orang dipenuhi tuntutannya, niscaya akan ada orang-orang yang menuntut harta dan darah suatu kaum (secara serampangan). Akan tetapi, bukti harus diajukan oleh yang menuntut, sedangkan sumpah harus diucapkan oleh yang mengingkari."
HR. Baihaqi dan lainnya seperti ini, sedang sebagiannya dalam Aṣ-ṢaḥīḥainNabi ﷺ menerangkan bahwa kalau tuntutan semua orang dipenuhi hanya dengan adanya tuntutan mereka yang tanpa bukti dan indikator, maka orang-orang akan menuntut harta dan darah orang lain secara serampangan. Tetapi, orang yang menuntut wajib mengajukan bukti dan dalil tuntutannya. Jika ia tidak memiliki bukti, tuntutan tersebut dipaparkan kepada orang yang dituntut; apabila ia mengingkarinya maka ia harus bersumpah dan ia bebas.