





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- "Bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila menuturkan satu kata, beliau mengulanginya tiga kali hingga dapat dipahami. Dan jika mendatangi suatu kaum lalu mengucapkan salam, beliau mengucapkan salam kepada mereka tiga kali."
Diriwayatkan oleh BukhariDalam hadis Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu-, "Bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila menuturkan satu kata, beliau mengulanginya tiga kali hingga dapat dipahami." Ucapannya, "Hingga dapat dipahami," menunjukkan bahwa jika kata itu dipahami tanpa pengulangan maka beliau pun tidak mengulanginya. Akan tetapi apabila seseorang belum faham karena tidak bisa mengetahui maknanya dengan baik, maka ulangilah untuknya sampai dia faham, atau mungkin pendengarannya berat tak bisa mendengar atau ada kebisingan, maka di sini kamu disunahkan mengulanginya sampai dia memahami (ucapanmu). Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila mengucapkan salam kepada suatu kaum, "Beliau mengucapkan salam tiga kali," yakni, beliau tidak mengulangi (salam) lebih dari tiga kali. Beliau mengucapkan salam satu kali. Jika belum ada jawaban, beliau mengucapkan salam yang kedua kali. Jika belum ada yang menjawab, beliau mengucapkan salam yang ketiga kali. Apabila tidak ada yang menjawab, beliau meninggalkannya. Demikian juga dalam hal meminta izin, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meminta izin tiga kali. Yakni, apabila beliau mendatangi seseorang, beliau meminta izin untuk masuk ke rumahnya; beliau mengetuk pintu tiga kali. Jika tidak ada yang menjawab, beliau pun pulang. Inilah sunah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yaitu mengulang hal-hal tersebut tiga kali lalu berhenti (tidak melakukan lagi).
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa ada dua orang sahabat Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- keluar dari tempat beliau pada suatu malam yang gelap gulita, bersama mereka seolah ada dua lampu di depan mereka. Ketika keduanya berpisah, setiap lampu itu menyertai mereka sampai tiba di keluarganya.
Diriwayatkan oleh BukhariDalam hadis mulia ini terdapat karamah yang jelas pada dua orang dari sahabat Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Dalam beberapa jalur hadis lainnya disebutkan bahwa kedua sahabat itu adalah 'Abād ibn Basyar dan Usaid ibn Ḥuḍair -raḍiyallāhu 'anhuma-. Keduanya berada bersama Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di sebuah malam yang gelap gulita di mana manusia biasanya tidak akan bisa berjalan di malam seperti itu dengan mudah. Allah Ta'ālā memuliakan keduanya dengan karamah yang mengagumkan, yaitu Dia menjadikan cahaya di depan keduanya laksana cahaya bola lampu listrik yang menerangi jalan yang sedang keduanya tempuh. Ketika kedua sahabat mulia ini berpisah, ternyata bersama mereka masing-masing ada cahaya sehingga mereka bisa sampai ke rumah dengan mudah dan tenang.
Dari Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Jangan engkau berteman kecuali dengan orang beriman dan jangan memakan makananmu selain orang yang bertakwa!"
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadHadis Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- ini memberikan pengertian bahwa seorang Muslim wajib menyertai orang baik di semua keadaannya. Hadis ini mengandung anjuran berteman dengan orang-orang beriman. Ini menuntut supaya kita untuk menjauhi pertemanan dengan orang-orang kafir dan munafik; karena berteman dengan mereka itu membahayakan agama. Maksud orang beriman adalah orang yang termasuk kaum beriman. Beliau menegaskan anjuran senantiasa menyertai orang-orang saleh ini dengan sabda beliau, "Dan jangan memakan makananmu selain orang yang bertakwa." Yakni, orang warak yang mengarahkan nutrisi makanan untuk beribadah kepada Allah. Maksudnya, jangan berikan makananmu kecuali pada orang yang bertakwa. Juga termasuk dalam hal ini hidangan jamuan seperti walimah (pesta pernikahan) dan lainnya. Maka seyogianya orang yang diundang termasuk orang beriman dan saleh.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Seorang lelaki datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin melakukan perjalanan, maka berilah aku bekal." Beliau bersabda, "Semoga Allah membekalimu dengan ketakwaan." Orang itu berkata, "Tambahkanlah untukku." Beliau bersabda, "Semoga Dia mengampuni dosamu." Orang itu berkata lagi, "Tambahkanlah untukku." Beliau bersabda, "Semoga Allah memudahkan kebaikan untukmu di mana saja."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh DārimiDari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- bahwasanya seorang laki-laki pernah datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hendak melakukan perjalanan. Dia datang untuk minta izin melakukan perjalanan sambil meminta bekal. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendoakannya dengan doa yang manfaatnya menjadi seperti bekal. Bekalnya berupa melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. Selanjutnya dia mengulangi permintaan tambahan dengan harapan (memperoleh) kebaikan dan keberkahan doa. Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabulkan permintaan tambahannya untuk menyenangkan hatinya. Beliau berdoa, "Semoga Dia (Allah) mengampunimu." Selanjutnya orang itu mengulangi permintaan tambahan dengan harapan (memperoleh) kebaikan dan keberkahan doa. Al-Muṣṭafa -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengakhiri doanya untuk orang itu dengan penutup yang indah dan mencakup kebaikan dan keberuntungan. Beliau mendoakannya semoga Allah memudahkan baginya kebaikan dunia dan akhirat, di setiap tempat yang dia tempati dan di segala masa yang ditempuh.
Dari Ṡābit, dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang kepadaku saat aku bermain dengan anak-anak kecil. Beliau mengucapkan salam kepada kami lalu beliau mengutusku untuk suatu keperluan sehingga hal itu membuatku terlambat menemui ibuku. Saat aku datang, ia (ibuku) bertanya, "Kenapa engkau telat?" Aku jawab, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutusku untuk satu keperluan. Ia bertanya, "Apa keperluan beliau?" Aku jawab, "Itu rahasia." Ia berkata, "Janganlah engkau sekali-kali memberitahukan rahasia Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada seseorang!" Anas berkata, "Demi Allah, seandainya aku menceritakan rahasia itu kepada seseorang, niscaya aku menuturkannya kepadamu, wahai Ṡābit."
Muttafaq 'alaihDari Ṡābit, dari Anas, pelayan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah melintasinya saat dia sedang bermain dengan anak-anak kecil, karena saat itu Anas masih anak kecil. Lantas beliau mengucapkan salam kepada anak-anak yang sedang bermain. Selanjutnya beliau memanggil Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- dan menyuruhnya untuk suatu keperluan sehingga dia terlambat (datang) kepada ibunya. Saat datang kepada ibunya, dia bertanya kepadanya, "Kenapa engkau telat?" Ia menjawab, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengutusku untuk satu keperluan." Ia bertanya, "Apa keperluan beliau?" Aku jawab, "Aku tidak akan pernah menceritakan rahasia Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Yakni, aku tidak akan menceritakan rahasia ini kepada siapa pun." Ia berkata, "Janganlah engkau sekali-kali memberitahukan rahasia Rasulullah - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada seseorang!" Sebagai bentuk penguatan dan penegasan baginya serta membenarkan uzurnya karena dia menolak untuk memberitahukan rahasia Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepadanya. Selanjutnya Anas berkata kepada muridnya, Ṡābit al-Bunāni yang senantiasa menyertainya, "Seandainya aku menceritakan kepada seseorang mengenai hajat/keperluan di mana beliau menyuruh saya melakukannya, niscaya aku menuturkannya kepadamu, wahai Ṡābit."
Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Dahulu apabila kami menghadiri jamuan bersama Rasulullah ﷺ, kami tidak meletakkan tangan kami pada hidangan sebelum Rasulullah ﷺ meletakkan tangannya. Suatu ketika, kami bersama beliau menghadiri hidangan makanan, tiba-tiba seorang anak perempuan datang seolah didorong dan bermaksud meletakkan tangannya pada makanan sehingga Rasulullah ﷺ memegang tangannya. Kemudian datang seorang badui seolah-olah didorong, maka beliau pun memegang tangannya. Lantas Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya setan akan dapat ikut makan makanan bila tidak disebut nama Allah Ta'ala padanya. Sungguh, ia datang bersama anak perempuan ini supaya dapat ikut makan, sehingga aku memegang tangannya. Lalu ia datang dengan orang badui ini supaya dapat ikut makan, maka aku pun memegang tangannya. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya! Sungguh, tangan setan itu ada dalam genggaman tanganku beserta tangan keduanya."
HR. MuslimḤużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan bahwa jika mereka menghadiri jamuan makanan bersama Nabi ﷺ, mereka tidak akan meletakkan tangan pada makanan sampai Rasulullah ﷺ yang memulainya dengan meletakkan tangannya. (Ia melanjutkan), "Kami pernah bersama beliau menghadiri hidangan makanan, ternyata seorang anak perempuan datang seolah-olah didorong karena saking cepatnya dan bermaksud meletakkan tangannya di makanan, sehingga Rasulullah ﷺ memegang tangannya. Kemudian datang lagi seorang badui seolah didorong, sehingga beliau memegang tangannya sebelum ia sempat menyentuh makanan. Rasulullah ﷺ lalu bersabda, 'Sesungguhnya setan itu dapat ikut makan makanan jika ada orang yang mulai makan tanpa menyebut nama Allah Ta'ala. Setan datang bersama anak perempuan ini agar dapat ikut makan, maka aku mengambil tangannya. Kemudian datang lagi bersama laki-laki badui ini agar dapat ikut makan, maka aku pun mengambil tangannya. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, tangan setan itu ada dalam genggaman tanganku bersama tangan keduanya. Kemudian beliau membaca bismillah dan makan.'"
Dari Abu Muhammad Abdullah bin 'Amru bin Al-Āṣ - raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Ada empat puluh macam perangai (kebaikan), dan yang paling utama adalah mendermakan seekor kambing (untuk diperah susunya). Tidaklah seseorang mengerjakan salah satu dari perangai-perangai tersebut dengan tujuan mengharap pahala dan membenarkan apa yang telah dijanjikannya, melainkan Allah akan memasukkan dia dengan amalannya itu ke dalam surga."
Diriwayatkan oleh BukhariNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memotivasi umatnya untuk melakukan kebaikan dan beliau menyebutkan jumlahnya yaitu empat puluh macam perangai (kebaikan). Beliau tidak menjelaskan jenis kebaikan kecuali satu dan itu yang paling utama, yaitu seseorang mempunyai seekor kambing lalu ia menyerahkan kambing betinanya kepada orang fakir untuk memanfaatkan susunya. Jika ia sudah menyelesaikan kebutuhannya terhadap kambing itu, ia pun mengembalikannya kepada pemiliknya. Perlu dipahami bahwa perbuatan ini gampang dan banyak. Untuk itu, hendaknya manusia berlomba-lomba dalam amal kebaikan.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Apabila telah dekat waktunya (kiamat), hampir tidak ada mimpi seorang mukmin yang dusta. Mimpi seorang mukmin itu satu dari empat puluh enam bagian kenabian. Dalam riwayat lain disebutkan, "Orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling jujur bicaranya."
Muttafaq 'alaihMakna hadis: Sesungguhnya mimpi orang Mukmin di akhir zaman akan menjadi benar. Bisa jadi ini adalah berita mengenai sesuatu yang terjadi atau sesuatu yang akan terjadi sehingga terjadi di alam nyata sesuai mimpi. Dengan demikian, mimpi ini laksana wahyu kenabian karena kebenaran maknanya. "Mimpi seorang mukmin itu satu dari empat puluh enam bagian kenabian." Yakni, bagian dari ilmu kenabian dari segi kandungan berita mengenai hal gaib. Kenabian sendiri tidak abadi, hanya saja ilmunya tetap langgeng. Adanya pengkhususan bilangan tersebut karena usia Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam sebagian besar riwayat yang sahih adalah enam puluh tiga tahun dan masa kenabiannya adalah duapuluh tiga tahun, karena beliau diutus saat usianya sudah mencapai empat puluh tahun. Sebelum diangkat sebagai Nabi, beliau pernah bermimpi yang baik selama enam bulan. Mimpi-mimpi itu datang seperti waktu fajar yang jelas dan terang. Selanjutnya beliau melihat malaikat dalam keadaan terjaga. Jika masa wahyu ketika tidur, yaitu enam bulan, diperbandingkan dengan masa kenabiannya, yaitu dua puluh tiga tahun, maka enam bulan adalah setengah bagian dari dua puluh tiga bagian (1/2x23), maka itu berarti menjadi satu bagian dari empat puluh enam bagian (1/46). Sabda beliau, "Orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling jujur bicaranya." Artinya, jika seseorang jujur dalam pembicaraannya dan dekat dengan Allah, maka biasanya mimpinya lebih dekat kepada kebenaran. Untuk itulah, dalam hadis Bukhari dibatasi bahwa, "Mimpi yang baik berasal dari lelaki yang saleh..." Adapun orang yang tidak jujur dalam bicaranya (suka berdusta) dan melakukan kekejian yang tampak dan yang tersembunyi, maka biasanya mimpi-mimpinya bagian dari permainan setan. Ibnul Qayyim -raḥimahullāh- berkata, "Barangsiapa ingin mimpinya benar, hendaknya ia menjaga kejujuran dan makan yang halal serta memelihara amar makruf dan nahi mungkar. Juga hendaknya tidur dalam keadaan suci yang sempurna dengan menghadap ke arah kiblat, zikir kepada Allah hingga kedua matanya tertidur, maka sesudah itu mimpinya hampir dipastikan tidak akan meleset sama sekali."
Dari Abu Sa'īd Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Apabila anak Adam berada di pagi hari, maka seluruh anggota tubuhnya mewanti-wanti lisannya seraya berkata, 'Bertakwalah kepada Allah, karena kami hanya bergantung kepadamu! Jika engkau istiqamah, kami pasti istiqamah. Jika engkau menyimpang, maka kami pun akan menyimpang.' "
Diriwayatkan oleh TirmiżiMakna hadis ini: Seluruh anggota tubuh tunduk dan mengekor pada lisan. Anggota tubuh tersebut mengikutinya, karena itu apabila anak Adam berada di pagi hari, anggota tubuh berkata, "Bertakwalah kepada Allah, karena kami bergantung kepadamu!" Lisan adalah anggota tubuh paling berbahaya bagi pemiliknya. Jika ia istiqamah, maka seluruh anggota tubuh istiqamah dan semua amalnya menjadi baik. Jika lisan tergelincir, maka seluruh anggota tubuh tergelincir dan semua amalnya rusak. Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Iman seorang hamba tidak akan lurus sampai lurus hatinya. Hatinya tidak akan lurus hingga lurus lisannya." Banyak sekali hadits dalam bab ini yang menunjukkan bahaya lisan. Yakni, kebahagiaan untuk pemiliknya atau kesengsaraan baginya. Jika seseorang mengikat lisannya dalam ketaatan kepada Allah, maka menjadi kebahagiaan baginya di dunia dan akhirat. Jika ia melepaskan lisannya dalam hal-hal yang tidak diridhai Allah -Ta'ālā-, maka menjadi penyesalan baginya di dunia dan akhirat.