





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Ibnu Abbas dan 'Imrān bin Al-Ḥuṣain -raḍiyallāhu 'anhum-, dari Nabi-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Aku melihat ke dalam Surga lalu aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir, dan aku melihat ke dalam Neraka lalu aku melihat kebanyakan penduduknya adalah para wanita."
Muttafaq 'alaihNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan di dalam hadis tersebut bahwa beliau melihat ke dalam Surga, beliau melihat kebanyakan penduduknya adalah orang-orang fakir. Itu karena mereka tidak memiliki apa-apa yang menjadikan mereka sombong, mereka orang-orang yang tenang dan rendah hati. Oleh karena itu, siapa yang memperhatikan ayat-ayat Alquran maka ia akan mendapati bahwa orang-orang yang mendustai para Rasul adalah orang-orang terhormat dan orang-orang kaya. Sementara kaum duafa (orang-orang fakir) adalah orang-orang yang mengikuti para Rasul. Karena itu, kebanyakan mereka adalah penghuni Surga. Hadis ini tidak menjadi sebuah keharusan bahwa setiap orang fakir lebih mulia daripada orang-orang kaya, akan tetapi mengandung arti bahwa orang-orang fakir lebih banyak menempati Surga daripada orang-orang kaya, maka beliau mengabarkan hal itu. Dan bukanlah kefakiran yang menjadi sebab mereka dimasukkan ke dalam Surga meskipun hal itu meringankan dalam hisab mereka, akan tetapi mereka dimasukkan ke dalam Surga lantaran kebaikan-kebaikannya dan kefakirannya, karena kefakiran tanpa kebaikan tidaklah memiliki makna dan keutamaan. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- juga mengabarkan bahwa ketika beliau melihat Neraka, beliau melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita, hal itu disebabkan karena kebiasaan-kebiasaan buruk yang nampak dominan dalam tabiat mereka dan selalu menyertai mereka, seperti kurang mensyukuri pemberian suaminya dan banyak mencela. Maka sudah merupakan kewajiban bagi mereka untuk menjaga aturan-aturan agama agar mereka selamat dari ancaman Neraka.
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku berjanji akan salat bersama kalian sebagaimana aku lihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- salat bersama kami." Ṡābit berkata, "Anas melakukan suatu amalan (salat) yang tidak pernah aku lihat kalian melakukannya yaitu apabila mengangkat kepalanya dari rukuk beliau berdiri lama, hingga ada orang berkata, 'Beliau lupa.' Dan apabila mengangkat kepalanya dari sujud beliau berdiam lama hingga ada orang berkata, 'Beliau lupa'.”
Muttafaq 'alaihAnas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Sungguh aku akan berusaha salat bersama kalian sebagaimana Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- salat bersama kami, agar kalian mengikutinya sehingga kalian bisa salat sama seperti salat beliau." Ṡābit Al-Bunānī berkata, "Anas melakukan suatu amalan (salat) yang termasuk kesempurnaan dan baiknya salat, di mana aku tidak pernah melihat kalian melakukan sepertinya. Beliau berdiri lama setelah bangkit dari rukuk dan duduk lama setelah bangkit dari sujud. Bila beliau mengangkat kepalanya (bangkit) dari rukuk, ia berdiri lama hingga ada orang berkata -karena lamanya beliau berdiri-, 'Dia lupa bahwa dia sedang berdiri antara rukuk dan sujud.' Dan apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud, beliau berdiam duduk hingga ada orang yang berkata -karena lamanya beliau duduk-, 'Dia juga lupa'.”
Dari Jābir bin Samurah ia berkata, "Dahulu jika kami mendatangi (majelis) Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- maka salah seorang dari kami duduk di mana majelis berakhir (barisan terakhir)."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadDi dalam hadis itu terdapat penjelasan tentang adab para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- di dalam majelis Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, yakni jika salah seorang di antara mereka mendatangi majelis Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka ia duduk di mana berakhir majelis (barisan akhir), baik di tengah-tengah majelis atau paling belakang. Seseorang jika masuk ke dalam suatu jamaah (majelis), maka hendaklah ia duduk di mana majelis tersebut berakhir dan tidak maju ke tengah-tengah majelis kecuali jika ada orang yang lebih mendahulukannya (mempersilahkannya) duduk di tempatnya atau jika ia telah menyediakan tempat untuknya di tengah-tengah majelis, maka tidak mengapa. Adapun jika ia memadati majelis dan seakan-akan ia mengatakan kepada manusia menjauhlah kalian dan (biarkan) aku duduk di bagian depan majelis, maka ini bertentangan dengan petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan para sahabat beliau -raḍiyallāhu anhum- serta menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki rasa sombong dan ujub (bangga) dengan dirinya sendiri.
Dari Abu Sa'id Al Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', (Nabi bersabda), "Surga dan neraka saling beradu argumentasi, maka neraka berkata, 'Di dalamku ada orang-orang yang angkuh dan sombong.' Dan surga berkata, 'Di dalamku ada orang-orang lemah dan miskin.' Lalu Allah memutuskan/menengahi di antara keduany0a, 'Sesungguhnya engkau wahai Surga adalah rahmat-Ku, denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki. Dan sesungguhnya engkau wahai Neraka adalah azab-Ku, denganmu Aku mengazab siapa saja yang Aku kehendaki. Dan masing-masing (dari) kalian berdua, menjadi wewenang-Ku untuk memenuhinya (dengan penghuninya)'.”
Diriwayatkan oleh MuslimMakna hadis ini adalah: bahwa surga dan neraka saling beradu argumentasi di antara mereka berdua. Masing-masing menyampaikan argumentasinya; dan hal ini termasuk salah satu perkara gaib yang wajib kita imani meskipun dianggap mustahil oleh akal. Maka surga mendebat neraka, dan neraka (juga) mendebat surga. Neraka beralasan bahwa di dalamnya ada orang-orang yang angkuh dan sombong. Orang-orang angkuh (al-Jabbārūn) adalah orang-orang yang kasar dan keras, sementara orang-orang sombong (al-Mutakabbirûn) adalah orang-orang meninggikan dan mengangkat diri, merendahkan orang lain dan menolak kebenaran; sebagaimana sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang kesombongan: bahwa ia adalah “menolak kebenaran dan merendahkan orang lain”. Maka orang-orang angkuh dan sombong, mereka itu adalah penghuni neraka, wal ‘iyażu billāh. Bisa saja si penghuni neraka itu bersikap lembut kepada orang lain dan berperilaku baik, namun ia angkuh dan sombong terhadap kebenaran, sehingga sikap lemah lembut dan kasih sayangnya kepada manusia tidak berguna untuknya, ia tetap disifati dengan sifat keangkuhan dan kesombongan, meskipun ia lemah lembut kepada orang lain; karena ia bersikap angkuh dan sombong terhadap kebenaran. Adapun surga, ia mengatakan bahwa di dalamnya terdapat orang-orang lemah dan fakir. Mereka pada umumnya adalah orang-orang yang terbuka dan tunduk kepada kebenaran. Sementara orang-orang angkuh dan sombong, umumnya tidak tunduk pada kebenaran. Maka Allah menengahi di antara keduanya, lalu mengatakan kepada surga, “Sesungguhnya engkau, Surga, adalah rahmat-Ku, denganmu Aku merahmati siapa saja yang aku kehendaki.” Dan Ia mengatakan kepada neraka, “Dan sesungguhnya engkau, Neraka, adalah azab-Ku, denganmu Aku mengazab siapa saja yang Aku kehendaki.” Lalu Allah -'Azza wa Jalla- berfirman, “Dan masing-masing (dari) kalian berdua, menjadi wewenang-Ku untuk memenuhinya (dengan penghuninya -penj).’” Allah -'Azza wa Jalla- menjamin dan mewajibkan atas DiriNya untuk memenuhi surga dan juga neraka, meskipun karunia dan rahmat Allah -Ta‘āla- itu lebih luas daripada kemurkaan-Nya. Maka pada hari kiamat, Ia akan melemparkan siapa saja yang Ia lemparkan ke dalam neraka, lalu neraka berkata, “Apakah masih ada tambahan?”; maksudnya: berikan, berikan dan tambahkan lagi untukku. Lalu Allah meletakkan Kaki-Nya di dalam (neraka) –dalam riwayat lain, “…Telapak kaki-Nya”. Maka (neraka) itupun menyusut dan menyatu padu antara satu dengan yang lain akibat pengaruh Allah -'Azza wa Jalla- meletakkan Kaki-Nya, lalu (neraka) berkata: “Qaṭṭun, qaṭṭun”, maksudnya: cukup, cukup. Dan begitulah ia dipenuhi. Adapun surga, maka sesungguhnya surga itu luas, lebarnya seperti seluruh langit dan bumi. Para penghuninya masuk ke dalamnya dan karunia yang berlebihan akan terus langgeng untuk para penghuninya. Lalu Allah -Ta‘āla- memunculkan generasi manusia lain, lalu memasukkan mereka ke dalam surga dengan karunia dan rahmatNya; karena Allah telah menjamin untuk memenuhinya.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Sesungguhnya kalian benar-benar mengerjakan perbuatan-perbuatan yang lebih lembut dari rambut dalam pandangan kalian, sedangkan kami menganggap itu bagian dari dosa-dosa besar pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."
Diriwayatkan oleh BukhariSahabat yang mulia, Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- berbicara kepada sekelompok orang-orang yang meremehkan amalan. Ia berkata, "Sesungguhnya kalian meremehkan sebagian kemaksiatan karena tidak adanya pandangan kalian terhadap Zat yang didurhakai, sehingga kemaksiatan itu kecil sekali menurut kalian. Sedangkan menurut para sahabat, mereka menganggapnya termasuk dosa-dosa besar yang membinasakan karena agungnya Zat yang didurhakai, dan karena hebatnya ketakutan, sikap diawasi dan evaluasi terhadap diri mereka sendiri.
Dari Usaid bin Ḥuḍair dan Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa seorang lelaki Ansar berkata, "Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku sebagai pegawai sebagaimana engkau mengangkat si fulan sebagai pegawai." Beliau bersabda, "Sesungguhnya kalian akan menghadapi (penguasa) yang egois setelahku. Karena itu bersabarlah sampai kalian menjumpaiku di telaga."
Muttafaq 'alaihSeorang lelaki datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan meminta beliau untuk menjadikannya pegawai di salah satu jabatan sebagaimana orang lain yang telah beliau angkat. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahunya suatu hal, yaitu bahwa hendaklah ia dan para sahabatnya bersabar terhadap suatu kezaliman dan aniaya yang akan mereka dapati dari para penguasa di masa datang. Para penguasa itu memonopoli harta benda dan kekayaan tanpa (memberikan hak) rakyatnya. Beliau memerintahkan mereka bersabar sampai mereka mendatangi telaga Nabi -'alaihissalām-.
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Dia segerakan balasan dosanya di dunia. Jika Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya, Dia tahan balasan dosa hamba-Nya hingga dibalas-Nya (sekaligus) pada hari kiamat."
Diriwayatkan oleh TirmiżiRasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa tanda Allah menginginkan kebaikan pada hamba-Nya adalah disegerakan balasan dosanya di dunia, sehingga dia wafat tanpa membawa dosa yang harus ditebusnya pada hari kiamat. Sebab siapa yang perhitungannya disegerakan (di dunia) maka hitungan akhirnya jadi ringan. Dan di antara tanda bahwa Allah menghendaki keburukan pada seorang hamba, Dia tidak membalas dosa hamba tersebut di dunia, hingga ia didatangkan pada hari kiamat dengan bergelimang dosa dan akan dibalas dengan yang setimpal pada hari kiamat.
Muṣ'ab bin Sa'ad meriwayatkan, Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- pernah menganggap dirinya memiliki keutamaan di atas sahabat lainnya, maka Nabi ﷺ bersabda, "Tidaklah kalian diberi pertolongan dan rezeki melainkan dengan sebab orang-orang yang lemah di antara kalian."
HR. BukhariSa'ad bin Abi Waqqāṣ -raḍiyallāhu 'anhu- menyangka dirinya lebih utama dari orang lain yang lemah disebabkan sifat keberaniannya dan semisalnya! Maka Nabi ﷺ bersabda: Tidaklah kalian dimenangkan serta diberikan rezeki kecuali dengan sebab orang-orang lemah kalian, yaitu dengan doa mereka, salat mereka, dan keikhlasan mereka. Mereka umumnya lebih ikhlas dalam berdoa dan lebih khusyuk dalam beribadah karena hati mereka tidak terikat pada kemewahan dunia.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Barangsiapa menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, niscaya seorang penyeru berseru, "Engkau telah berbuat baik dan perjalananmu juga merupakan kebaikan, serta engkau akan menempati satu tempat di Surga."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadOrang yang pergi untuk menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah -'Azza wa Jalla-. Maka sesungguhnya malaikat menyerunya dari sisi Allah -Ta'ālā- bahwa engkau telah suci dari dosa, dadamu menjadi lapang karena engkau memiliki pahala yang besar di sisi Allah, dan telah disiapkan satu istana di Surga yang akan engkau tempati.