





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Samurah bin Jundub -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- aku masih muda belia. Aku hafal apa yang disampaikan oleh Rasulullah. Tidak ada yang menghalangiku untuk berbicara, kecuali karena di sana ada orang-orang yang lebih tua dariku."
Diriwayatkan oleh MuslimSamurah bin Jundub -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa dirinya masih muda belia pada masa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Dia hafal beberapa sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Hanya saja tidak ada yang menghalanginya untuk menceritakannya selain karena di sana ada orang-orang yang lebih tua darinya.
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Aku pernah didatangi oleh seorang wanita miskin sambil membawa kedua anak perempuannya, lalu aku memberinya tiga butir kurma. Lalu wanita itu memberikan satu butir kurma kepada masing-masing anaknya dan satu lagi diangkatnya ke mulutnya untuk dimakan. Namun, kedua putrinya itu memintanya, sehingga ia membagi dua kurma yang hendak dimakannya itu untuk mereka berdua. Keadaan wanita itu membuatku takjub, sehingga aku memberitahukan perbuatannya itu kepada Rasulullah ﷺ. Lantas beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah telah menetapkan surga untuk wanita itu atau membebaskannya dari neraka karena perbuatannya tersebut."
HR. MuslimUmmul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menuturkan bahwa ia pernah didatangi oleh seorang wanita miskin yang membawa kedua anak perempuannya untuk meminta makanan. Lantas Aisyah memberikannya makan tiga butir kurma. Lalu wanita itu memberikan masing-masing anaknya satu butir kurma, dan sebutirnya lagi dia angkat ke mulutnya hendak dimakan. Namun, kedua anaknya itu meminta kurma yang hendak dimakannya tersebut, maka wanita tersebut membagi kurma yang itu di antara kedua anaknya. Kelakuan wanita itu membuat Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- takjub, lalu menceritakan apa yang dilakukannya kepada Rasulullah ﷺ. Lantas beliau bersabda: Sesungguhnya Allah telah menetapkan untuk wanita itu surga dengan sebab kurma tersebut atau membebaskannya dari neraka.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Bahwasanya seorang lelaki mengunjungi saudaranya di kampung lain. Lalu Allah -Ta'ālā- mengutus seorang malaikat untuk mengawasinya di jalan. Ketika malaikat itu bertemu dengannya, ia bertanya, "Engkau mau kemana?" Orang itu menjawab, "Aku ingin menemui saudaraku di kampung ini." Malaikat bertanya, "Apakah ada satu keuntungan yang ingin engkau dapatkan darinya?" Orang itu menjawab, "Tidak. Hanya saja aku mencintainya karena Allah -Ta'ālā-." Malaikat berkata, "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah (untuk mengabarkan) kepadamu bahwa Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya karena-Nya."
Diriwayatkan oleh MuslimNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan tentang seorang lelaki dari umat terdahulu yang mengunjungi saudaranya di kampung lain. Lantas Allah menyiapkan baginya satu malaikat di jalannya untuk menjaga dan mengawasinya. Malaikat tersebut bertanya kepada orang itu ke mana dia akan pergi? Orang itu menjawab bahwa dia pergi untuk mengunjungi saudaranya karena Allah di kampung ini. Malaikat bertanya lagi kepadanya, apakah orang itu budakmu, anakmu atau selainnya yang harus engkau beri nafkah dan kasih sayang, atau engkau punya kepentingan darinya? Orang itu menjawab, "Tidak, tetapi aku mencintainya karena Allah dan dengan kunjunganku ini aku mencari keridaan Allah." Malaikat pun memberitahunya bahwa dia adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadanya bahwa Allah mencintainya sebagaimana dia mencintai saudaranya karena Allah.
Dari Aisyah -raḍiyyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Para istri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ada di samping beliau. Lantas Fatimah -raḍiyyallāhu 'anhā- datang sambil berjalan. Cara jalannya mirip dengan cara jalan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Saat beliau melihatnya, beliau pun menyambutnya dan bersabda, "Selamat datang putriku." Selanjutnya beliau mempersilakannya untuk duduk di samping kanannya atau kirinya. Lalu beliau bisikkan sesuatu kepadanya hingga ia (Fatimah) menangis tersedu-sedu. Ketika melihat kesedihan hati Fatimah, maka sekali lagi Rasulullah pun membisikkan sesuatu kepadanya hingga ia tertawa. Lalu aku (Aisyah) bertanya kepada Fatimah, "Sesungguhnya Rasulullah - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah memberikan keistimewaan kepadamu dengan membisikkan suatu rahasia di hadapan para istri beliau hingga kamu menangis sedih!" Setelah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meninggalkan tempat itu, aku pun bertanya kepada Fatimah, "Apa yang dikatakan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepadamu?" Fatimah menjawab, "Sungguh aku tidak ingin menyebarkan rahasia Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Setelah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam - meninggal dunia, aku (Aisyah) bertanya kepadanya, "Aku bertekad menanyakan kepadamu -sesuai dengan hak (kedudukanku) di sisimu- tentang apa yang telah dibisikkan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepadamu dulu waktu kamu tidak mau menjelaskannya kepadaku." Fatimah menjawab, "Sekarang -setelah Rasulullah meninggal dunia- aku akan memberitahukannya kepadamu. Dulu, ketika Rasulullah membisikkan sesuatu kepadaku, untuk yang pertama kali, beliau memberitahukan bahwasanya Jibril dan beliau biasanya bertadarus Al-Qur`ān satu atau dua kali dalam setiap tahun dan kini beliau bertadarus dengannya (Jibril) sebanyak dua kali. Sungguh aku (Rasulullah) tahu bahwa ajalku telah dekat. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah! Sesungguhnya sebaik-baik pendahulumu adalah aku." (Fatimah berkata), "Maka aku pun menangis, seperti yang kamu lihat dulu. Ketika Rasulullah melihat kesedihanku, beliau pun berbisik kepadaku untuk kedua kalinya. Beliau bersabda, "Hai Fatimah, tidakkah kamu rida menjadi pemimpin para istri orang-orang mukmin atau pemimpin para wanita umat ini?" Lalu aku pun tertawa seperti yang dulu engkau lihat."
Muttafaq 'alaihAisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menuturkan bahwa para istri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berada di sisi beliau. Lantas Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- datang menjenguk beliau yang sedang sakit menjelang wafat. Aisyah menuturkan bahwa Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- datang dengan berjalan kaki. Cara jalannya seperti cara jalan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Kebiasaan Nabi - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila putrinya, Fatimah - raḍiyallāhu 'anhā- datang, beliau berdiri menyambutnya, menciumnya, dan menyilahkannya untuk duduk di tempat duduknya. Beliau menyambut kedatangan putrinya dan menyilahkannya untuk duduk di sampingnya. Selanjutnya Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengabarkan bahwa beliau berbisik kepada Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- dengan satu perkataan lalu ia (Fatimah) menangis keras. Saat beliau melihat kesedihan dahsyat pada putrinya, beliau pun membisikan perkataan lainnya kepadanya hingga ia tertawa. Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- pun bertanya kepada Fatimah mengenai kekhususan yang diberikan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepadanya tanpa istri-istri yang lainnya dan menyebabkan dirinya menangis. Fatimah menjawab, "Aku tidak akan membeberkan rahasia Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Setelah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat, Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bersumpah kepada Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- agar menceritakan kepadanya mengenai sabda Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepadanya. Fatimah berkata, "Karena engkau bertanya kepadaku sekarang, maka aku akan menceritakannya kepadamu. Mengenai tangisanku saat beliau membisikan perkataan kepadaku pada bisikan pertama, sesungguhnya beliau memberitahuku bahwa Jibril -'alaihi as-salām- membacakan Al-Qur`ān kepada beliau satu atau dua kali setiap tahun. Saat itu Jibril membacakan Al-Qur`ān kepadanya dua kali dan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengira bahwa itu merupakan peringatan mengenai akhir masa hidupnya. Beliau memerintahkanku untuk bertakwa dan bersabar serta menyadari hal itu sebagai kemuliaan yang dimajukan bagiku setara dengan kesedihan perpisahan yang tampak. Aku pun menangis sebagaimana yang engkau lihat dariku. Ketika beliau melihat kesedihanku yang berat, beliau memberi kabar yang baik kepadaku bahwa aku adalah pemimpin para wanita orang-orang beriman atau pemimpin wanita umat ini. Aku pun tertawa lepas dengan tawa sebagaimana yang pernah engkau lihat dariku. Adapun tertawanya, maka hadis ini menjelaskan keadaan Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwa dia adalah pemimpin para wanita penghuni Surga. Meskipun demikian, ada perbedaan pendapat di berbagai riwayat mengenai bisikan kedua beliau dan tertawanya terhadap hal tersebut. Pendapat ini terbagi ke dalam beberapa pendapat: 1. Itu merupakan kabar bagi Fatimah bahwa dialah keluarganya yang pertama kali menyusul Nabi. 2. Itu merupakan pemberitahuan bahwa Fatimah adalah pemimpin para wanita penghuni Surga, dan Fatimah sebagai keluarga yang pertama kali menyusul beliau (meninggal) digabungkan dengan pendapat yang pertama, dan ini pendapat yang sahih. 3. Beliau bersabda kepada Fatimah bahwa Jibril telah mengabariku bahwa tidak ada satu perempuan pun yang lebih agung keturunannya darimu, karena itu janganlah engkau menjadi wanita yang paling rendah kesabarannya. Hanya saja sebelum itu Aisyah - raḍiyallāhu 'anhā- dengan minatnya terhadap ilmu, dia segera bertanya kepada Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- mengenai apa yang terjadi dalam bisikan. Ternyata putri Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hanya menjawab, "Sungguh aku tidak akan menyebarkan rahasia Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ini merupakan bukti dari hadis. Setelah larangan terhapus dengan wafatnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, Fatimah pun memberitahukan perkara rahasia itu. Dalam hadis tersebut Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahukan hal yang akan terjadi. Lalu terjadilah sebagaimana sabda beliau. Mereka sepakat bahwa Fatimah -'alaiha as-salām- adalah orang yang pertama kali meninggal dari kalangan keluarga Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahkan sebelum para istri-istri beliau -raḍiyallāhu 'anhunna-.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwasanya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Orang miskin itu bukanlah orang yang bisa ditolak dengan sebiji dan dua biji kurma, atau sesuap dan dua suap makanan. Akan tetapi orang miskin yang sebenarnya adalah orang yang menjaga diri (dari segala yang tidak baik dan tidak halal)."
Muttafaq 'alaihHadis ini menjelaskan hakikat kemiskinan. Sesungguhnya orang miskin yang terpuji lagi paling berhak mendapatkan sedekah dan paling membutuhkannya adalah orang miskin yang menjaga diri. Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menafikan kemiskinan dari pengemis yang suka berkeliling, karena ia mendapatkan kecukupan. Kadang juga mendapatkan zakat sehingga lenyaplah kemiskinannya. Sedangkan kebutuhan akan tetap ada pada orang (miskin) yang tidak meminta-minta dan tidak diberi simpati sehingga dia patut untuk diberi.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwa dirinya pernah bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengenai ṭā'ūn (wabah penyakit). Beliau memberitahunya bahwa ṭā'ūn adalah azab yang dikirimkan oleh Allah -Ta'ālā- kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Allah -Ta'ālā- menjadikannya rahmat bagi orang-orang Mukmin. Tidak ada seorang pun hamba yang terkena ṭā'ūn (wabah penyakit) lalu dia menetap di negerinya dalam keadaan sabar dan mengharap pahala Allah, dan dia mengetahui bahwa tidak ada yang menimpanya selain apa yang telah ditetapkan oleh Allah kepadanya, maka baginya seperti pahala orang yang mati syahid.
Diriwayatkan oleh BukhariDalam hadis Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwasannya dia pernah bertanya kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengenai ṭā'ūn (wabah penyakit). Beliau memberitahunya bahwa ṭā'ūn adalah azab yang dikirimkan oleh Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Baik berupa ṭā'ūn tertentu atau berupa wabah umum seperti kolera dan sebagainya. Sesungguhnya ṭā'ūn ini merupakan azab yang dikirimkan oleh Allah -'Azza wa Jalla-, tetapi itu menjadi rahmat bagi seorang Mukmin jika ia menimpa negerinya dan dia sendiri tetap berada di sana dalam keadaan sabar dan mengharap pahala-Nya. Dia mengetahui bahwa tidak ada yang menimpanya melainkan apa yang sudah ditetapkan oleh Allah untuknya. Sesungguhnya Allah menetapkan baginya seperti pahala orang yang mati syahid. Karena itulah dalam sebuah hadis sahih dari Abdurrahman bin 'Auf -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Jika kalian mendengar ṭā'ūn menimpa suatu negeri, maka janganlah kalian mendatanginya, dan jika ṭā'ūn terjadi di sebuah negeri sedangkan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar untuk melarikan diri darinya!" Apabila ṭā'ūn melanda satu negeri, maka kita tidak boleh datang ke negri itu. Sebab, datang ke negeri itu sama saja dengan mencampakkan diri ke dalam kebinasaan. Tetapi jika ṭā'ūn merebak di suatu negeri, maka kita tidak boleh keluar darinya untuk melarikan diri darinya. Sebab, walaupun engkau melarikan diri dari takdir Allah ketika ṭā'ūn itu merebak di satu negeri, maka tindakan melarikan diri ini sedikit pun tidak akan berguna bagimu, karena tidak ada tempat kabur dari takdir Allah selain kepada Allah. Adapun rahasia meraih derajat orang yang mati syahid bagi orang yang sabar dan mengharap pahala, yaitu karena apabila ṭā'ūn menimpa negeri seseorang maka kehidupan menjadi berharga baginya, tentu ia akan kabur karena takut kepada ṭā'ūn. Jika ia sabar, tetap tinggal, dan mengharap pahala, serta mengetahui bahwa tidak ada yang menimpanya kecuali apa yang telah ditetapkan oleh Allah kepadanya lalu dia mati karena itu, maka dicatat baginya seperti pahala orang yang mati syahid. Dan ini termasuk kenikmatan dari Allah -'Azza wa Jalla-.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', (Nabi bersabda), “Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di tengah kami adalah orang yang tidak punya dirham dan harta benda.” Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang datang pada hari kiamat dengan (pahala) salat, puasa dan zakat. Namun ia datang telah mencela si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini dan memukul si ini. Maka orang yang ini diberi dari kebaikannya, dan orang ini juga diberi dari kebaikannya. Hingga jika semua kebaikannya habis padahal semua dosanya belum habis, diambillah kesalahan-kesalahan (orang yang dizaliminya), lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia pun dilemparkan ke dalam neraka.”
Diriwayatkan oleh MuslimNabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bertanya kepada para sahabat -riḍwānullāhi 'alaihim-, “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Maka mereka pun menjawab dengan apa yang selama ini dipahami oleh masyarakat, mereka menjawab, “Dia adalah orang fakir yang tidak mempunyai uang dan harta.” Maka Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- menyampaikan kepada mereka, bahwa orang bangkrut dari umat ini adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan kebaikan-kebaikan yang besar dan amal-amal saleh yang banyak; berupa salat, puasa dan zakat, namun ia dahulunya telah mencela si fulan, memukul si fulan, mengambil harta si fulan, menuduh si fulan, menumpahkan darah si fulan. Dan orang-orang tersebut ingin mengambil hak mereka; hak yang tidak bisa mereka dapatkan di dunia akan mereka ambil di akhirat, sehingga mereka menuntut balas dari orang tersebut. Maka si fulan mengambil kebaikannya, dan si fulan lainnya juga mengambil kebaikannya, dan si fulan yang itu mengambil kebaikannya, secara adil dan haq. Hingga jika kebaikannya telah habis, diambillah keburukan orang-orang itu lalu ditimpakan padanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka.
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Perbanyaklah mengucapkan 'Yā żal jalāli wal ikrām (Wahai pemilik keagungan dan kemuliaan)!"
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh AhmadDalam hadits ini terdapat perintah untuk memperbanyak dan sering berdoa dengan doa ini. Maksudnya adalah pakailah selalu doa ini dalam doa-doa kalian. Di dalamnya terkandung salah satu nama Allah yang dikatakan sebagai nama yang paling agung karena mengandung semua sifat rububiyah dan uluhiyah.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila salah seorang kalian sampai di satu majelis, hendaklah ia mengucapkan salam. Lalu apabila ia hendak bangun (meninggalkan majelis), hendaklah ia juga mengucapkan salam, karena tidaklah (salam) yang pertama lebih pantas (diucapkan) daripada yang terakhir."
HR. Abu Daud, Tirmizi, Nasai dalam Al-Kubrā, dan AhmadNabi ﷺ memberi arahan kepada orang yang datang ke tempat kumpul manusia agar ia mengucapkan salam kepada mereka. Demikian juga ketika ia ingin bangun meninggalkannya, hendaklah ia memberi salam kepada orang-orang yang hadir, karena tidaklah salam yang pertama ketika datang lebih utama daripada salam yang terakhir ketika pergi.