





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaīhi wa sallam- melarang mengenakan sutra kecuali seperti ini. Rasulullah - ṣallallāhu 'alaīhi wa sallam- mengangkat dua jarinya; jari telunjuk dan jari tengah untuk (memperlihatkan kepada) kami." Dalam riwayat Muslim disebutkan, "Rasulullah - ṣallallāhu 'alaīhi wa sallam- melarang mengenakan sutra kecuali seukuran dua, tiga atau empat jari."
Muttafaq 'alaihRasulullah -ṣallallāhu 'alaīhi wa sallam- melarang kaum lelaki mengenakan sutra kecuali sesuatu yang dikecualikan. Hal yang dikecualikan dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim (muttafaq 'alaih) adalah selebar dua jari. Dalam riwayat Muslim adalah selebar tiga atau empat (jari). Lantas diambillah yang paling banyak. Dengan demikian, tidak ada masalah mengenakan sutra selebar empat jari dalam pakaian."
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwasannya Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Wahai Rasulullah ajarkanlah kepadaku doa yang aku ucapkan waktu pagi dan petang." Maka Rasulullah bersabda, "Ucapkanlah, ya Allah Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui alam gaib dan yang tampak, Rabb segala sesuatu dan pemiliknya. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan jiwaku dan kejelekan setan dan sekutunya, dan (aku berlindung supaya tidak) mendatangkan keburukan kepada diriku sendiri atau menganiaya orang muslim lainnya." Beliau bersabda, "Bacalah kalimat-kalimat itu apabila kamu berada di pagi hari dan di sore hari, serta apabila kamu hendak tidur."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadIni merupakan salah satu zikir yang diucapkan di waktu pagi dan petang, yang diajarkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu-. Abu Bakar berkata, "Ajarkanlah kepadaku." Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun mengajarinya zikir dan doa yang diucapkan setiap pagi dan petang, dan beliau menyuruhnya untuk mengucapkan, (Ya Allah Pencipta langit dan bumi) yakni, ya Allah, wahai Pencipta langit dan bumi. "Pencipta keduanya," yakni, Allah -'Azza wa Jalla- menciptakannya tanpa ada contoh sebelumnya, tetapi Dia menciptakannya dan mewujudkannya dari ketiadaan, tanpa ada contoh sebelumnya. (Yang Maha Mengetahui alam gaib dan yang tampak) yakni, Yang Mengetahui apa yang tidak terlihat oleh makhluk dan apa yang mereka saksikan. Sebab, Allah -Ta'ālā- mengetahui masa sekarang, masa mendatang dan masa lalu. (Rabb segala sesuatu dan pemiliknya) Yakni, Rabb segala sesuatu dan pemiliknya. Allah -Ta'ālā- adalah Rabb segala sesuatu dan pemiliknya. (Aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Engkau) Aku mengakui dengan lisan dan hatiku bahwa tidak ada sembahan yang benar selain Engkau. Segala sesuatu yang disembah selain Allah maka itu adalah batil, ia tidak berhak untuk diibadahi. Tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah semata. Sabda beliau, (Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan jiwaku), karena jiwa itu memiliki kejelekan-kejelekan sebagaimana firman Allah -Ta'ālā-, "Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu (jiwa) itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Rabbku." Jika Allah tidak melindungimu dari kejelekan-kejelekan jiwa, maka jiwa (nafsu) itu membahayakanmu dan menyuruhmu kepada kejahatan. Namun, jika Allah melindungimu dari kejelekan jiwa, maka Dia memberimu taufik untuk melakukan segala kebaikan. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menutup dengan sabdanya, (Dan kejelekan setan dan sekutunya) Dalam redaksi lain, (Wa Syarakihi) yakni, hendaklah engkau memohon kepada Allah agar melindungimu dari kejelekan setan dan dari kejelekan sekutunya. Yakni, yang menyuruhmu melakukannya berupa sekutu atau jebakannya. Asy-Syarak adalah sesuatu yang digunakan untuk memburu ikan paus, burung dan sebagainya. Sebab, setan itu memiliki perangkap untuk memburu Bani Adam, baik berupa syahwat, syubhat atau selain itu. (Dan mendatangkan keburukan kepada diriku sendiri) Yakni, mendatangkan keburukan kepada diriku sendiri atau kepada orang Muslim. Zikir ini merupakan perintah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kepada Abu Bakar agar mengucapkannya jika berada di waktu pagi dan sore hari dan jika hendak tidur.
Dari Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, Apabila Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memasuki waktu sore hari, beliau mengucapkan, "Kami memasuki waktu sore hari dan segala kekuasaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa tidak ada sekutu bagi-Nya." Perawi berkata, "Aku lihat beliau membaca (dalam doa itu), "Bagi-Nya-lah segala kekuasaan dan bagi-Nya-lah segala puji dan Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Rabbku, aku memohon kepada-Mu kebaikan yang ada di malam ini dan kebaikan yang terdapat setelahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang ada di malam ini dan kejelekan yang terdapat setelahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepadamu dari kemalasan dan kejelekan umur tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka dan azab kubur." Apabila beliau berada di pagi hari, beliau mengucapkan doa itu juga, "Kami memasuki waktu pagi dan segala kekuasaan hanya milik Allah."
Diriwayatkan oleh MuslimDia antara petunjuk Nabi -'alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām- ketika masuk waktu pagi hari dan sore hari ialah mengucapkan doa yang penuh berkah ini. Ucapan beliau, "Kami memasuki waktu sore hari dan segala kekuasaan hanya milik Allah," yakni, kami memasuki waktu sore hari dan kekuasaan pada sore itu selamanya milik Allah dan khusus untuk-Nya. "Dan segala puji hanya milik Allah," yakni, semua pujian hanya milik Allah. Yaitu, kita mengetahui pada sore ini bahwa segala kekuasaan dan pujian hanya milik Allah, bukan milik selain-Nya. "Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah," yakni, Dia-lah satu-satunya Zat yang memiliki sifat uluhiyah. Ucapan beliau, "Wahai Rabbku! Aku memohon kepada-Mu kebaikan malam ini," yakni, malam itu sendiri. "Dan kebaikan yang ada di dalamnya," yakni, kebaikan yang muncul, yang terjadi dan timbul di malam itu dan apa yang ada di dalamnya. " Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan malam ini dan kejelekan yang ada di malam ini," yakni, (kejelekan) dari malam-malam dan kejelekan yang ada di dalamnya yang berhubungan dengan agama dan dunia. "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan," yaitu, merasa berat dalam (melaksanakan) ketaatan padahal mampu. Hal ini disebabkan tidak adanya dorongan jiwa untuk melakukan kebaikan seiring dengan adanya kemampuan. "Dan pikun," yakni, usia renta yang menyebabkan hilangnya sebagian kekuatan dan adanya kelemahan, yaitu kembali ke usia yang paling hina karena pada saat itu lenyaplah tujuan dari kehidupan berupa ilmu dan amal. "Dan kejelekan umur tua," artinya pikun, kemerosotan akal, usia lanjut yang mengakibatkan hilangnya berbagai kekuatan, dan menjadi lemah, yaitu dengan dikembalikan pada umur yang paling lemah; karena akan menghilangkan maksud dari kehidupan, yaitu untuk mencari ilmu dan beramal. Usia lanjut menyebabkan hilangnya akal, bercampur-baurnya fikiran, kacau-balau, dan lalai dalam melaksanakan ketaatan, serta hal lainnya yang memperburuk keadaan. Ada juga diriwayatkan dengan mensukunkan huruf bā` (kibr) yang bermakna kesombongan, mengingkari kenikmatan dan merasa lebih dari orang lain. "Dan azab kubur," yakni, seperti azab itu atau sesuatu yang menyebabkan timbulnya azab tersebut. "Apabila beliau berada di pagi hari," yakni, ketika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- masuk waktu pagi. "Beliau mengucapkan doa itu," yakni, apa yang diucapkan di sore hari. "Juga," yakni, akan tetapi beliau mengganti kalimat, "Kami memasuki waktu sore dan segala kekuasaan hanya milik Allah" dengan kalimat, "Kami memasuki waktu pagi dan segala kekuasaan hanya milik Allah." Beliau mengganti kata malam dengan kata hari lalu mengucapkan, "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan hari ini," dan beliau menyebutkan berbagai kata ganti setelahnya.
Dari Abu Musa Al-Asy`ari -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya di antara bentuk mengagungkan Allah -Ta'ālā- ialah menghormati orang Muslim yang tua, pembawa Alquran yang tidak berlebih-lebihan dan tidak menjauh darinya, dan menghormati penguasa yang adil."
Diriwayatkan oleh Abu DaudHadis ini menunjukkan bahwa di antara cara memuliakan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, mengagungkan dan menghormati-Nya ialah melakukan hal-hal yang disebutkan dalam hadis tersebut, yaitu: "Menghormati orang Muslim yang tua", yakni, mengagungkan orang yang sudah tua dalam Islam dengan cara menghormatinya di berbagai majlis, lembut, sayang kepadanya dan sebagainya. Ini merupakan bagian dari kesempurnaan mengagungkan Allah karena kehormatannya ada di sisi Allah. "Pembawa Alquran", yakni, memuliakan orang yang menghafalnya. Dinamakan pembawa karena Alquran dibawa di dalam dadanya, dan karena dia memikul kesulitan-kesulitan besar yang menambah beban beratnya. Termasuk dalam kategori ini ialah memuliakan orang yang sibuk membaca dan mengkaji tafsir Alquran. Pembawa Alquran yang disebutkan dalam hadis nabawi ini dibedakan dengan dua sifat: "Tidak guluw (ekstrem)". Guluw adalah berlebihan dan melampaui batas. Jadi yang dimaksud adalah tidak melampaui batas dalam mengamalkan Alquran, menyelidiki hal-hal yang tersembunyi di dalamnya, dan makna-makna yang samar baginya, batasan-batasan bacaannya, dan makhraj hurufnya. Ada yang berpendapat bahwa berlebihan di sini adalah berlebihan dalam tajwid atau cepat dalam membaca sehingga menghalanginya untuk merenungkan maknanya. "(Tidak) menjauh darinya", yakni, tidak menjauhkan diri dari Alquran dan berpaling dari membacanya, menerapkan hukum-hukum bacaannya, mencermati makna-maknanya, dan mengamalkan isinya. Ada yang berpendapat bahwa maksud menjauhinya adalah meninggalkan Alquran setelah mengetahuinya, apalagi jika melupakannya karena meremehkan dan berpaling darinya. Sedangkan hal terakhir yang disebutkan dalam sabda Nabi ini, yang diperintahkan untuk dimuliakan adalah "Penguasa yang adil", yakni, pemilik kekuasaan dan jabatan yang memiliki sifat adil. Memuliakannya karena kepentingan umum dan tindakan perbaikan untuk rakyatnya.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku keluar bersama Jarir bin Abdillah Al-Bajaliy -raḍiyallāhu 'anhu- dalam suatu perjalanan. Ternyata ia melayaniku. Aku berkata padanya, "Jangan lakukan!" Ia menjawab, "Sungguh aku telah melihat orang-orang Ansar melakukan sesuatu (kebaikan) pada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, di mana aku bersumpah terhadap diriku bahwa aku tidak menyertai salah seorang dari mereka kecuali aku akan melayaninya."
Muttafaq 'alaihHadis Jarir bin Abdillah Al-Bajaliy -raḍiyallāhu 'anhu- ini menceritakan bahwa ia dalam suatu perjalanan. Ia melayani kawan-kawannya yang termasuk orang-orang Ansar. Di antara mereka adalah Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- yang notabenenya lebih muda dibanding Jarir. Maka ia ditanya tentang sikapnya ini, yakni mengapa engkau melayani mereka padahal engkau seorang sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-? Ia menjawab, "Aku telah melihat orang-orang Ansar melakukan sesuatu (kebaikan) pada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, di mana aku bersumpah terhadap diriku bahwa aku tidak menemani salah seorang dari mereka kecuali aku melayaninya. Ini termasuk memuliakan orang yang memuliakan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Memuliakan sahabat-sahabat seseorang sama dengan memuliakan orang tersebut dan menghormati mereka sama dengan menghormatinya. Oleh sebab ini, Jarir -raḍiyallāhu 'anhu- memandang memuliakan mereka ini termasuk memuliakan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Dahulu Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- biasa berkata kepada seseorang yang hendak melakukan sebuah perjalanan, “Kemarilah, aku akan lepas kepergianmu sebagaimana Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melepas kami." Lalu dia berkata, “Aku titipkan kepada Allah (pemeliharaan) agamamu, amanahmu dan akhir penutup amalmu." Dan dari Abdullah bin Yazid Al Khaṭmi -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, “Dahulu apabila Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hendak melepas keberangkatan pasukan, maka beliau berdoa, “Aku titipkan kepada Allah (pemeliharaan) agama kalian, amanah dan akhir penutup amal kalian."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadDahulu Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- biasa berkata kepada orang yang hendak melakukan safar, “Kemarilah, aku akan lepas kepergianmu sebagaimana Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melepas kami. Ini adalah penjelasan dari Ibnu Umar tentang kesempurnaan tekad para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- dalam mengikuti petunjuk Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Perkataannya, "iża wada'a rajulan" yakni apabila ia melepas seseorang yang hendak melakukan suatu perjalanan. "Akhaża biyadihi, falā yada'uhā", ia memegang tangannya dan tidak melepaskannya. Ini disebutkan dalam beberapa riwayat lain, yakni ia tidak melepaskan tangan orang tersebut karena sangat tawadu serta ungkapan rasa cinta dan kasih sayang. Dan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, yakni kepada orang yang akan bepergian, "Astaudi'ullāha dīnaka", Aku titipkan kepada Allah agamamu, yakni aku memohon penjagaan dan meminta kepada-Nya agar menjaga agamamu. "Wa amānataka", yakni menjaga amanahmu. Dan itu mencakup semua yang diamanahkan kepada seseorang berupa hak-hak orang lain dan hak-hak Allah dalam berbagai bentuk taklif (perintah dan larangan). Dalam melakukan perjalanan, seseorang tidak mungkin terbebas dari kesibukan dengan apa yang ia butuhkan dari menerima, memberi serta berinteraksi dengan orang lain, maka beliau mendoakannya agar bisa menjaga amanah serta terhindar dari berkhianat. Kemudian jika ia kembali kepada keluarganya, ia aman dari apa yang dapat merusak agama dan dunianya. Ini juga merupakan petunjuk dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika hendak melepas pasukan yang berangkat untuk berperang di jalan Allah. Beliau melepas mereka dengan doa tersebut agar mereka semua mendapatkan taufik dan kemenangan atas musuh, serta penjagaan untuk dapat menunaikan kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan dalam berperang.
Dari Abu Musa al-Asy`ari -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Seseorang itu bersama orang yang dicintainya." Dalam riwayat lain disebutkan: "Bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah ditanya, "Seseorang mencintai suatu kaum, padahal dia belum pernah bertemu dengan mereka?" Beliau bersabda, "Seseorang itu bersama orang yang dicintainya." Dari Abdullah bin Mas`ud -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu mengenai seseorang yang mencintai suatu kaum, padahal dia belum pernah bertemu dengan mereka?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Seseorang itu bersama orang yang dicintainya."
Muttafaq 'alaih dengan dua riwayatnyaDi akhirat, manusia akan bersama orang-orang yang mereka cintai di dunia. Hadis ini berisi anjuran untuk kuat dalam mencintai para rasul dan orang-orang saleh, mengikuti mereka sesuai dengan tingkatan-tingkatannya, dan peringatan untuk tidak mencintai lawan mereka. Sebab, kecintaan merupakan bukti kekuatan hubungan orang yang mencintai dengan orang yang dicintainya, dan kesesuaian dengan akhlaknya, serta tindakan meneladaninya. Maka kecintaan merupakan bukti adanya hal-hal tersebut, juga merupakan motivasi untuk mewujudkan hal-hal tersebut. Demikian juga orang yang mencintai Allah -Ta'ālā-, maka kecintaannya itu merupakan sesuatu paling besar yang mendekatkannya kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri. Dia memberi kepada orang yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan sesuatu yang lebih besar dari apa yang dikorbankannya beberapa kali lipat. Keberadaan orang yang mencintai dengan orang yang dicintai tidak menjadi keharusan adanya kesamaan dengan orang yang dicintainya dalam kedudukan dan keluhuran derajatnya. Sebab, hal itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan amal saleh dan perniagaan yang menguntungkan. Ini (menunjukkan) bahwa ma'iyyah (kebersamaan) dapat dicapai hanya dengan berkumpulnya dalam satu hal dan tidak harus dalam segala hal. Jika disepakati bahwa semua masuk surga maka kebersamaan itu pun benar meskipun derajatnya berbeda-beda. Siapa saja yang mencintai Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- atau mencintai salah seorang mukmin, maka ia akan bersama dengannya di surga karena niat baiknya, sebab itu adalah pokoknya, sedangkan amal merupakan pengikut niat. Dan keadaannya bersama mereka tidak menjadi satu keharusan bahwa dia berada dalam kedudukan mereka, dan tidak juga dibalas seperti balasan mereka dari segala segi.
Dari Abdullah bin 'Amru bin al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū, "Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil di antara kami dan tidak mengetahui kemuliaan orang tua di antara kami."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadBukan termasuk bagian dari golongan orang muslim yang berpegang dan komiten dengan Sunnah orang yang tidak menyayangi anak kecil dari kaum muslimin, berbuat baik kepadanya, dan bermain-main dengannya; juga orang yang tidak mengetahui penghormatan dan penghargaan yang pantas didapatkan oleh orang dewasa. Lafal "laisa minnā" (tidak termasuk golongan kami) bertujuan untuk mengancam dan memperingatkan. Jadi bukan berarti dia keluar dari agama Islam.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Ada dua orang bersaudara pada masa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Salah satunya datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- (untuk belajar), dan yang lainnya bekerja. Lantas orang yang bekerja itu mengadukan saudaranya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Maka beliau bersabda, "Bisa jadi kamu diberi rezeki karenanya."
Diriwayatkan oleh TirmiżiAnas -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan. Ia berkata, "Ada dua orang saudara pada masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Salah satunya datang ke majlis Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan menyertai beliau untuk memperoleh pengetahuan-pengetahuan (tentang Islam) dan mengambil berbagai sabda serta perbuatan beliau. Sedangkan yang satu lagi bekerja dan berusaha mencari penghasilan. Lantas orang yang bekerja ini mengadukan saudaranya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- karena dia meninggalkan kerja. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda untuk menghiburnya, "Bisa jadi karena kamu mengurus urusannya, itu menjadi sebab dimudahkannya rezekimu. Sebab, Allah akan membantu seorang hamba selama hamba itu membantu saudaranya."