





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak penting bagi dirinya."
HR. Tirmizi dan lainnyaNabi ﷺ menjelaskan bahwa termasuk di antara kesempurnaan keislaman serta keimanan seorang muslim adalah sikapnya yang menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat baginya, tidak ada kepentingan bagi dirinya, serta tidak berguna untuknya; entah itu berupa perkataan atau perbuatan, atau sesuatu yang tidak bermanfaat bagi urusan agama dan dunianya. Menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak pantas, terkadang bisa mengalihkannya dari hal yang penting baginya, atau mengakibatkan ia melakukan hal yang seharusnya ia hindari. Di samping itu, setiap manusia pasti akan ditanya terkait amalan-amalannya pada hari Kiamat nanti.
Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan orang yang keji (buruk akhlaknya), dan bukan pula orang yang jorok omongannya."
HR. TirmiziNabi ﷺ mengabarkan bahwa bukan sifat orang mukmin yang sempurna imannya: suka mencela orang lain terkait nasabnya, banyak mencaci dan melaknat, berbuat keji maupun berkata-kata yang tidak mengandung rasa malu.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang membaca: 'Lā ilāha illallāh waḥdahū lā syarīka lah, lahul-mulku walahul-ḥamdu, wahuwa 'alā kulli syai`in qadīr' dalam sehari seratus kali, hal itu baginya setara dengan memerdekakan 10 budak, dituliskan baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 keburukan, dan itu menjadi tameng baginya hari itu dari setan hingga sore. Tidak ada yang datang dengan membawa sesuatu yang lebih utama daripada apa yang ia bawa kecuali seseorang yang mengamalkan lebih banyak dari itu."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan bahwa orang yang membaca: Lā ilāha (tidak ada sembahan yang benar)... illallāhu waḥdahu lā syarīka lahu (kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam uluhiah, rububiah, serta nama dan sifat-sifat-Nya)... lahul-mulku (milik-Nya kerajaan, tindakan dan pengaturan seluruhnya)... walahul-ḥamdu (dan milik-Nya pujian atas semua yang Dia ciptakan dan tetapkan)... wahuwa 'alā kulli syai`in qadīr (dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, tanpa ada yang dapat menolak dan melawan, dan semua yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi), siapa yang membaca zikir ini dan mengulang-ulangnya 100 kali dalam sehari, maka akan dituliskan baginya pahala di sisi Allah seperti orang yang memerdekakan 10 orang budak, dituliskan baginya 100 kebaikan dan derajat dalam surga, dihapus dan digugurkan darinya 100 keburukan, serta ia menjadi pelindung dan penjaganya dari setan dan tipu daya serta penguasaannya pada hari itu hingga memasuki waktu petang yang ditandai dengan tenggelamnya matahari. Tidak ada seorang pun yang datang kelak hari Kiamat membawa yang lebih afdal daripada yang ia bawa kecuali seseorang yang mengamalkan lebih banyak dari itu.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Hati orang yang sudah tua akan selalu muda pada dua perkara: cinta dunia dan panjang angan-angan."
HR. BukhariNabi ﷺ mengabarkan, seorang laki-laki yang tua, umurnya akan bertambah dan fisiknya menjadi lemah, tetapi hatinya akan tetap muda atau bersemangat dalam mencintai dua perkara: Pertama: Cinta dunia dengan banyak harta. Kedua: Panjang hidup, umur, dan angan-angan.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan." Ia adalah kematian.
HR. Tirmizi, Nasai, dan Ibnu MajahNabi ﷺ mendorong untuk memperbanyak mengingat kematian. Dengan mengingatnya, seseorang akan mengingat akhirat dan akan menghancurkan kecintaan terhadap kenikmatan dunia dalam hatinya, terutama yang diharamkan.
Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Kami pernah melewati daerah Hijr bersama Rasulullah ﷺ, lantas Rasulullah ﷺ bersabda kepada kami, "Janganlah kalian memasuki pemukiman orang-orang yang menzalimi diri mereka itu kecuali dalam keadaan menangis karena khawatir kalian akan ditimpa (siksa) seperti siksa yang telah menimpa mereka." Kemudian beliau mempercepat tunggangannya sampai melewatinya.
Muttafaq 'alaihSaat Nabi ﷺ melewati bekas pemukiman kaum Ṡamūd, beliau melarang masuk ataupun mendatangi pemukiman orang-orang yang disiksa yang telah menzalimi dirinya kecuali dia masuk dalam keadaan menangis karena mengingat kejadian yang menimpa mereka lantaran takut ditimpa siksaan seperti siksaan yang telah menimpa mereka. Lantas beliau memacu hewan tunggangannya dan mempercepat jalannya hingga melewati tempat tersebut.
Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Kami sedang bersama Umar -raḍiyallāhu 'anhu-, lalu dia berkata, "Siapa di antara kalian yang pernah mendengar Rasulullah ﷺ menyebutkan tentang fitnah?" Sebagian yang hadir mengatakan, "Kami pernah mendengarnya." Umar berkata, "Mungkin maksud kalian fitnah yang didapatkan seseorang terkaitkeluarganya dan tetangganya?" Mereka menjawab, "Ya." Umar berkata, "Fitnah tersebut akan digugurkan oleh salat, puasa, dan sedekah. Namun, siapakah di antara kalian yang pernah mendengar Nabi ﷺ menyebutkan fitnah yang bergelombang seperti gelombang laut?" Orang-orang terdiam, sehingga aku berkata, "Aku pernah mendengarnya." Umar berkata, "Engkau, sungguh bagus." Ḥużaifah berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Fitnah akan dimasukkan ke dalam hati seperti tikar satu demi satu. Setiap hati yang menangkapnya, maka akan menyisakan padanya satu noktah hitam. Sebaliknya, tiap hati yang menolaknya maka akan menyisakan padanya noktah putih. Sehingga fitnah akan datang pada dua macam hati; yaitu hati yang putih bersih seperti batu yang licin, tidak dibahayakan oleh fitnah apa pun selama langit dan bumi masih ada; dan lainnya adalah hati yang hitam legam seperti panci yang terbalik, ia tidak mengenal kebaikan dan tidak juga mengingkari kemungkaran kecuali yang diterima oleh hawa nafsunya." Ḥużaifah melanjutkan: Lantas kusampaikan kepadanya, "Antara engkau dengan fitnah tersebut dipisahkan oleh satu pintu terkunci yang akan dipecahkan dalam waktu dekat." Umar berkata, "Celaka engkau! Apakah akan dipecahkan? Andaikan ia hanya dibuka, mungkin dapat dikembalikan." Aku berkata, "Tidak. Tetapi dipecahkan." Aku riwayatkan kepadanya bahwa pintu tersebut adalah seseorang yang dibunuh atau meninggal; benar-benar sebuah hadis, bukan dongeng. Abu Khālid (salah satu perawi hadis ini) berkata, "Lantas aku bertanya kepada Sa'ad, 'Wahai Abu Mālik! Apa arti: aswad murbādd?' Dia menjawab, 'Yaitu sangat putih di antara yang hitam.' 'Lalu apa arti: al-kūz mujakhkhiyan?', Tanyaku lagi. Dia menjawab, 'Yaitu terbalik.'"
HR. MuslimAmirul Mukminin Umar bin al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- sedang berada di majelisnya dan sejumlah sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- hadir bersamanya. Umar bertanya: Siapa di antara kalian yang pernah mendengar Rasulullah ﷺ menyebutkan tentang fitnah? Sebagian mereka menjawab: Kami telah mendengar beliau menyebutkan fitnah. Umar -raḍiyallāhu 'anhu- berkata: Barangkali maksud kalian cobaan dan ujian seseorang terkait urusan pribadinya; istrinya dan anaknya, lantaran terlalu mencintai mereka, sangat memperhatikan mereka, dan sibuk dengan urusan mereka sehingga meninggalkan banyak kebaikan, atau karena lalai menunaikan hak mereka, mendidik dan mengajar mereka. Demikian juga ujian seseorang terkait tetangganya dan semisalnya. Barangkali itu yang kalian maksudkan? Mereka menjawab: Ya. Umar berkata: Itu semuanya adalah fitnah yang mendatangkan hisab. Di antaranya adalah dosa-dosa yang diharapkan akan digugurkan dengan amalan kebaikan seperti salat, puasa, dan sedekah. Tetapi, siapa di antara kalian yang mendengar Nabi ﷺ menyebutkan fitnah yang bersifat umum; sangat besar dan tersebar luas yang mengguncang manusia seperti guncangan gelombang laut? Para sahabat yang hadir terdiam, lalu Ḥużaifah bin al-Yamān -raḍiyallāhu 'anhu- berkata: Aku telah mendengarnya. Maka Umar -raḍiyallāhu 'anhu- senang dan mengatakan: Sunggu beruntung ayahmu memiliki anak sepertimu. Sebutkanlah! Maka Ḥużaifah mengabarkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Fitnah akan muncul dan menempel pada permukaan dan sisi hati manusia sebagaimana hamparan tikar menempel pada sisi tubuh orang yang tidur dan akan berpengaruh pada hati dengan sangat kuat, lalu fitnah-fitnah tersebut akan berulang fitnah demi fitnah. Tiap hati yang dimasukinya serta ia menyukainya dan bercampur seperti bercampur dan masuknya minuman, maka akan menyisakan noktah hitam pada hatinya. Sebaliknya, tiap hati yang menolaknya, maka akan menyisakan noktah putih. Sehingga hati akan terbagi menjadi dua. Pertama: Hati yang putih lantaran sangat kuat mengikat iman dan selamat dari cacat; fitnah tidak akan melekat dan berdampak padanya seperti batu licin yang tidak dapat melekat padanya apa pun, sehingga semua fitnah tidak akan membahayakannya sampai ia bertemu Allah. Kedua: Hati yang berubah warna menjadi hitam disebabkan oleh fitnah, seperti cerek yang miring atau terbalik sehingga air tidak dapat tinggal di dalamnya. Demikian juga dengan hati yang seperti ini, tidak akan menempel padanya kebaikan maupun hikmah, tidak mengenal kebaikan, dan tidak mengingkari kemungkaran kecuali yang dia sukai dan diinginkan oleh jiwanya. Ḥużaifah berkata kepada Umar: Tidak ada satu pun di antara fitnah-fitnah tersebut yang muncul di masa hidupmu. Pemisah antara engkau dengannya adalah satu pintu yang terkunci dan akan segera dipecahkan. Umar bertanya: Apakah akan dipecahkan? Kalau ia hanya dibuka, ada kemungkinan dapat dikembalikan lalu ditutup. Ḥużaifah menjawab: Tidak, tetapi dipecahkan, dan pintu tersebut adalah seseorang yang dibunuh atau mati. Apa yang aku sampaikan ini adalah berita benar yang telah tervalidasi, tidak diambil dari lembaran ahli kitab maupun ijtihad seseorang, melainkan berasal dari hadis Nabi ﷺ.
Dari Ibnu Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian telah selesai makan, maka janganlah ia mengusap (membersihkan) jari-jarinya hingga ia menjilatinya atau menjilatkannya (ke orang lain)."
Muttafaq 'alaihNabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan kepada orang yang telah selesai makan agar tidak mengusap tangannya atau membasuhnya hingga ia menjilatinya atau menjilatkannya (ke orang lain). Dalam beberapa riwayat disebutkan illat (penyebab) tindakan ini, yaitu karena dia tidak tahu di bagian makanan manakah terdapat keberkahan. Karena itu, Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan untuk menjilati jari-jari, siapa tahu keberkahan ada pada makanan yang menempel di jari-jarinya.
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah membuat sebuah cincin emas, dan ketika memakainya beliau meletakkan matanya di bagian dalam telapak tangan, maka kemudian orang-orang pun membuat cincin emas. Ketika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- duduk di atas mimbar tiba-tiba beliau mencabut cincinnya lalu bersabda, “Sesungguhnya aku telah memakai cincin ini dan aku meletakkan matanya dari bagian dalam (perut telapak tangannya).” Kemudian beliau membuang cincin tersebut lalu bersabda, “Demi Allah, aku tidak akan memakainya lagi untuk selamanya.” Maka orang-orang juga membuang cincin mereka. Dalam lafal lain disebutkan, “beliau memakainya di tangannya yang sebelah kanan."
Muttafaq 'alaihNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meminta agar dibuatkan untuknya cincin emas. Dahulu jika beliau memakainya maka bagian matanya beliau letakkan di bagian dalam telapak tangannya. Kemudian para sahabat mengikuti beliau dan membuat cincin seperti yang telah beliau buat. Setelah beberapa waktu, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- duduk di atas mimbar agar orang-orang dapat melihatnya, lalu bersabda, “Sesungguhnya aku telah memakai cincin ini dan aku meletakkan matanya di bagian dalam telapak tanganku.” Kemudian beliau membuang cincin tersebut dan bersabda, “Demi Allah, aku tidak akan memakainya lagi untuk selamanya.” Dan itu beliau lakukan setelah turunnya hukum pengharaman (memakai emas bagi laki-laki). Maka para sahabat pun melemparkan cincin mereka karena mengikuti Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.