





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Abu Sa'īd Al-Khudriy meriwayatkan bahwa seseorang datang berhijrah kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dari Yaman, lalu beliau bertanya padanya, "Apakah engkau memiliki keluarga di Yaman?" Dia menjawab, "Kedua orang tuaku." Beliau bertanya, "Apakah keduanya telah mengizinkanmu?" Dia menjawab, "Tidak." Beliau bersabda, "Kembalilah pada keduanya lalu mintalah izin dari mereka. Bila keduanya mengizinkanmu maka berjihadlah. Tetapi jika tidak, maka tetaplah berbakti pada keduanya."
Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadHadis ini menerangkan bahwa seseorang datang dari Yaman dalam rangka meminta izin kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- untuk ikut berjihad. Maka beliau bertanya tentang kedua orang tuanya, apakah dia telah meminta izin pada keduanya untuk ikut berjihad, ataukah tidak? Kemudian diketahui bahwa dia belum minta izin. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkannya supaya pulang lagi pada keduanya lalu berbakti dan berbuat baik kepadanya. Sehingga hadis ini menunjukkan bahwa izin kedua orang tua dalam jihad adalah perkara yang diharuskan.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda, "Sesungguhnya kalian akan berambisi untuk mendapatkan kekuasaan, padahal kekuasaan itu akan menjadi penyesalan pada hari Kiamat. Kekuasaan itu enak di awalnya (dunia) seperti bayi yang diberi asi ibunya, namun tidak bagus di akhirnya (akhirat) seperti bayi yang disapih."
Diriwayatkan oleh BukhariHadis ini mengandung peringatan terhadap beratnya urusan kekuasaan -dan juga yang semisal dengannya seperti kehakiman- serta banyaknya konsekuensi dan pertanggungjawabannya di negerai akhirat, juga peringatan dari mengejarnya dan berambisi kepadanya. Tetapi ini berlaku pada orang yang masuk ke dalamnya dengan usaha dan ambisinya sementara dia tidak berkompeten padanya. Berbeda dengan orang yang ditunjuk dan dia tidak pernah mengejarnya serta dia memiliki kompetensi untuk itu, maka dia akan dimudahkan padanya, sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis yang lain. Di dalam hadis ini kekuasaan diibaratkan dengan sebaik-baik wanita yang menyusui disebabkan akan mengalirkan berbagai manfaat harta kekayaan, kedudukan, dan terealisasinya keputusannya. Juga diibaratkan sebagai seburuk-buruk wanita yang menyapih disebabkan adanya berbagai pertanggungjawabannya kelak pada hari Kiamat serta penyesalannya.
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Seorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ seraya bertanya, "Wahai Rasulullah, tidak ada suatu dosa kecil maupun besar kecuali saya lakukan." Beliau bersabda, "Bukankah engkau telah mengucapkan 'asyhadu allā ilāha illallāh wa anna muḥammadar-rasūlullāh?" Beliau mengulangnya sebanyak tiga kali. Dia menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Sesungguhnya syahadat tersebut menghapusnya."
HR. Abu Ya'la, Tabarani, dan Aḍ-Ḍiyā' Al-MaqdisīSeorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ lalu bertanya: Wahai Rasulullah! Sungguh aku telah melakukan semua dosa dan maksiat. Tidak ada suatu dosa kecil maupun besar kecuali aku melakukannya. Apakah aku masih bisa diampuni? Maka Nabi ﷺ bersabda: Bukankah engkau telah mengucapkan syahadat 'asyhadu allā ilāha illallāh wa anna muḥammadar-rasūlullāh'? Beliau mengulangnya sebanyak tiga kali. Dia menjawab: Ya, aku telah bersyahadat. Maka Nabi ﷺ mengabarinya keutamaan dua kalimat syahadat serta ia dapat menggugurkan kesalahan, dan bahwa tobat menghapus semua kesalahan sebelumnya.
Jābir bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Janganlah kalian belajar ilmu untuk membanggakan diri di hadapan ulama untuk mendebat orang-orang bodoh, maupun meraih keunggulan dalam majelis. Siapa yang melakukan hal itu, maka balasannya ialah neraka, neraka."
HR. Ibnu MajahNabi ﷺ memberi peringatan terhadap orang yang belajar ilmu untuk berbangga di hadapan ulama serta menampakkan aku berilmu seperti kalian, atau untuk mendebat orang-orang yang bodoh dan lemah akal, atau belajar agar menjadi pemimpin dalam majelis atau diunggulkan atas yang lainnya. Siapa yang melakukan hal itu maka dia pantas mendapatkan neraka, sebab ia telah pamer dan tidak ikhlas kepada Allah dalam menuntut ilmu.
An-Nawwās bin Sam'ān Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda, "Allah membuat perumpamaan berupa jalan yang lurus. Pada kedua sisi jalan itu terdapat dua pagar, pada keduanya terdapat pintu-pintu yang terbuka, dan pada pintu-pintu tersebut terdapat tirai terjulur. Pada pintu jalan itu terdapat seorang penyeru yang berkata, 'Wahai sekalian manusia, masuklah semuanya ke jalan ini dan janganlah berbelok.' Juga seorang penyeru lainnya di atas jalan; jika ada yang hendak membuka sebagian pintu-pintu itu, penyeru itu berkata, 'Celaka engkau, jangan dibuka, sebab jika engkau buka maka engkau pasti masuk.' Jalan tersebut adalah Islam, kedua pagar itu adalah batasan-batasan Allah, pintu-pintu yang terbuka itu adalah larangan-larangan Allah yang diharamkan, penyeru di awal jalan adalah kitab Allah, dan penyeru di atas jalan adalah pengingat dari Allah di dalam hati setiap muslim."
HR. Tirmizi dan AhmadNabi ﷺ menjelaskan bahwa Allah membuat perumpamaan Islam berupa jalan lurus yang membentang dan tidak berkelok, di kedua sisi jalan tersebut terdapat dua pagar atau dinding yang mengapitnya dari kedua sisi; kedua pagar itu adalah batasan-batasan Allah. Di kedua pagar itu berjejer pintu-pintu yang terbuka, yaitu hal-hal yang diharamkan oleh Allah, dan pada pintu-pintu itu terdapat tirai yang menutupi orang di dalamnya dari penglihatan orang yang melewatinya. Di awal jalan terdapat penyeru yang mengarahkan dan membimbing manusia dengan mengatakan: Berjalanlah di jalan itu, jangan belok ke samping. Penyeru itu adalah Kitabullah. Di atas jalan terdapat penyeru lainnya; setiap kali orang yang berjalan memiliki keinginan untuk membuka sedikit tirai di atas pintu-pintu tersebut, penyeru itu mencegahnya dan mengatakan: Celaka engkau, jangan dibuka! Jika engkau buka, pasti engkau akan masuk dan tidak akan kuasa menahan diri untuk tidak memasukinya. Penyeru itu adalah pengingat yang Allah berikan di dalam hati setiap muslim.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Maukah seseorang di antara kalian ketika pulang ke keluarganya, ia menemukan tiga unta bunting yang besar dan gemuk?" Kami menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Tiga ayat yang dibaca seseorang di antara seorang kalian dalam salatnya lebih baik baginya daripada tiga unta bunting yang besar dan gemuk."
HR. MuslimNabi ﷺ menjelaskan bahwa pahala membaca tiga ayat di dalam salat lebih baik daripada seseorang menemukan di rumahnya tiga unta bunting yang besar nan gemuk.
'Uqbah bin 'Āmir Al-Juhani -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang yang membaca Al-Qur`an secara terang-terangan (di depan orang ramai) seperti orang yang bersedekah terang-terangan, sedangkan orang yang membaca Al-Qur`an dengan pelan (kondisi sepi) seperti orang yang bersedekah sembunyi-sembunyi."
HR. Abu Daud, Tirmizi, dan NasaiNabi ﷺ menjelaskan bahwa orang yang membaca Al-Qur`an secara terang-terangan sama seperti orang yang memberi sedekah dengan terang-terangan, dan orang yang membaca Al-Qur`an dengan disembunyikan, seperti orang yang memberi sedekah secara sembunyi-sembunyi.
Ali meriwayatkan, Aku seorang yang ketika mendengar sebuah hadis dari Rasulullah ﷺ, Allah memberiku faedah dengan hadis itu sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Tetapi, ketika salah seorang sahabat beliau menyampaikan padaku suatu hadis, aku akan memintanya bersumpah. Apabila ia telah bersumpah, maka aku membenarkannya. Sungguh, Abu Bakar telah bercerita kepadaku, dan Abu Bakar itu jujur, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah seseorang berbuat sebuah dosa, kemudian ia bangun lalu berwudu, kemudian ia mengerjakan salat lalu memohon ampun kepada Allah kecuali pasti Allah akan mengampuni dosanya." Kemudian beliau membaca ayat, "Orang-orang yang apabila mengerjakan suatu perbuatan keji atau menzalimi dirinya, segera mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya ..." [QS. Āli 'Imrān: 135]
HR. Abu Daud, Tirmizi, Nasai dalam Al-Kubrā, Ibnu Majah, dan AhmadNabi ﷺ mengabarkan, tidaklah seorang hamba melakukan suatu dosa lalu berwudu sempurna kemudian bangkit seraya mengerjakan salat dua rakaat dengan niat bertobat dari dosanya itu, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, kecuali Allah akan memberinya ampunan. Kemudian Nabi ﷺ membaca firman Allah Ta'ala: "(Juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?! Mereka lantas tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui." [QS. Āli 'Imrān: 135]
Abu Umāmah Al-Bāhiliy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Seorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ seraya bertanya, "Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mencari pahala dan pujian; apa yang akan ia peroleh?" Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada yang ia peroleh sedikit pun." Kemudian ia mengulangi pertanyaannya tiga kali, tetapi Rasulullah ﷺ tetap menjawab, "Tidak ada yang ia peroleh sedikit pun." Kemudian beliau bersabda, "Allah tidak menerima amal kecuali yang diniatkan murni kepada-Nya dan untuk mengejar wajah-Nya."
HR. NasaiSeorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ untuk bertanya dan meminta fatwa tentang hukum seseorang yang keluar berperang dan berjihad untuk mendapatkan pahala dari Allah sekaligus menginginkan pujian dan sanjungan dari manusia; apakah ia mendapat pahala? Rasulullah ﷺ memberinya jawaban bahwa ia tidak mendapat pahala sedikit pun disebabkan ia telah menyekutukan niatnya dengan selain Allah. Laki-laki tersebut mengulangi pertanyaannya kepada Nabi ﷺ hingga tiga kali, tetapi beliau ﷺ menegaskan dan memberinya jawaban yang sama, yaitu ia tidak mendapat pahala. Kemudian Nabi ﷺ memberinya kaidah penerimaan amal di sisi Allah, yaitu Allah tidak akan menerima suatu amal kecuali diniatkan seluruhnya kepada Allah, tanpa disekutukan dengan siapa pun, serta diniatkan untuk mendapatkan wajah Allah ﷻ.