





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau berikan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu; yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan kepada keluargamu."
HR. MuslimNabi ﷺ menyebutkan beberapa macam infak. Beliau menyebutkan: satu dinar yang engkau nafkahkan untuk jihad di jalan Allah, satu dinar yang engkau nafkahkan dalam rangka memerdekakan seorang budak dari perbudakan, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin yang membutuhkan, dan satu dinar yang engkau nafkahkan kepada keluarga dan tanggunganmu. Kemudian beliau menyebutkan, yang paling besar pahalanya di sisi Allah adalah yang engkau nafkahkan kepada keluargamu dan orang-orang yang nafkahnya menjadi tanggunganmu.
Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Engkau berpuasa sepanjang tahun dan qiamulail sepanjang malam?" Aku menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Jika hal itu engkau lakukan, mata akan menjadi cekung dan diri menjadi lelah. Tidaklah berpuasa orang yang melakukan puasa sepanjang tahun. Tetapi, berpuasa tiga hari dalam sebulan sama dengan melakukan puasa satu tahun seluruhnya." Aku berkata, "Tetapi sungguh, aku mampu yang lebih banyak dari itu." Beliau menjawab, "Kalau begitu, lakukanlah puasa seperti puasa Daud -'alaihissalām-, yaitu ia berpuasa satu hari dan tidak berpuasa satu hari dan ia tidak pernah lari ketika bertemu musuh."
Muttafaq 'alaihSampai kepada Nabi ﷺ berita bahwa Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- berpuasa terus-menerus dan tidak pernah libur sepanjang tahun serta salat malam seluruhnya dan tidak pernah tidur. Beliau lantas melarangnya melakukan hal itu dan berkata kepadanya: Berpuasa dan berbukalah, salat malam dan tidurlah. Beliau melarangnya melakukan puasa tiap hari dan qiamulail seluruh malam. Beliau bersabda: Jika engkau melakukan itu, penglihatanmu akan lemah, matamu mencekung, dan dirimu akan lemah serta lelah. Tidaklah berpuasa orang yang melakukan puasa sepanjang tahun karena ia tidak memperoleh pahala puasa lantaran menyelisihi larangan dan tidak dikatakan berbuka karena ia sedang berpuasa. Kemudian beliau mengarahkannya berpuasa tiga hari di setiap bulan karena hal itu setara puasa satu tahun; karena setiap satu hari sama dengan sepuluh hari dan itu adalah pelipatan kebaikan yang paling rendah. Abdullah berkata: Sungguh, aku mampu yang lebih banyak dari itu. Beliau ﷺ bersabda: Kalau begitu, lakukanlah puasa Daud -'alaihissalām- karena ia adalah puasa yang paling afdal. Dia berpuasa satu hari dan tidak berpuasa satu hari. Dia juga tidak lari ketika bertemu musuh karena cara puasanya tidak melemahkan badannya.
An-Nu'mān bin Basyīr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Ibunya, Bintu Rawāḥah, meminta ayahnya menghibahkan sebagian hartanya untuk anaknya. Tapi, ayahnya menundanya selama setahun, setelahnya ia mau melakukannya. Lantas ibunya berkata, "Aku tidak rela sampai engkau menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai saksi atas hibah yang engkau berikan kepada anakku." Sehingga ayahku pergi dengan menggandeng tanganku, waktu itu aku masih kecil, lalu menemui Rasulullah ﷺ seraya mengatakan, "Wahai Rasulullah! Ibu anak ini, yaitu Binti Rawāḥah, merasa bangga bila aku menjadikanmu sebagai saksi pada hibah yang aku berikan kepada anaknya." Rasulullah ﷺ bertanya kepada ayahku, "Wahai Basyīr! Apakah engkau memiliki anak selain anak ini?" Ayahku menjawab, "Ya." Beliau bertanya lagi, "Apakah semua anakmu engkau perlakukan seperti ini?" Ayahku menjawab, "Tidak." Beliau bersabda, "Jika begitu, janganlah engkau memintaku menjadi saksi! Sungguh, aku tidak akan bersaksi atas suatu kezaliman." Dalam redaksi lain riwayat Muslim: "Mintalah persaksian dalam hal ini kepada selainku!"
Muttafaq 'alaih. Hadis ini memiliki redaksi yang beragamAn-Nu'mān bin Basyīr -raḍiyallāhu 'anhumā- mengabarkan bahwa ibunya, 'Amrah binti Rawāḥah -raḍiyallāhu 'anhā-, meminta ayahnya menghibahkan sebagian hartanya untuk anaknya, tetapi ia merasa berat dan menundanya hingga setahun. Kemudian muncul keinginannya untuk mengabulkan permintaannya dan memberikan hibah kepadanya anaknya, An-Nu'mān. Tetapi ibunya berkata: Aku tidak akan rela sampai engkau menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai saksi terhadap apa yang engkau hibahkan kepada anakku. Lalu ayahku menggandeng tanganku, waktu itu aku masih kecil, lalu pergi menemui Rasulullah ﷺ. Ayahku mengatakan: Wahai Rasulullah! Ibu anak ini, yaitu Binti Rawāḥah, sangat ingin agar aku menjadikanmu sebagai saksi pada apa yang aku hibahkan kepada anaknya. Maka beliau ﷺ bertanya: Wahai Basyīr, apakah engkau memiliki anak selain anak ini? Ia menjawab: Ya. Beliau bertanya lagi: Apakah semuanya engkau berikan seperti ini? Ia menjawab: Tidak. Beliau bersabda: Jika begitu, jangan jadikan aku sebagai saksi. Sesungguhnya aku tidak akan bersaksi atas kezaliman. Dalam riwayat Muslim, beliau bersabda untuk mencelanya: Tetapi, carilah saksi selainku atas kezaliman ini.
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Siapa yang menjenguk orang sakit sebelum ajalnya datang, lalu berdoa di sisinya sebanyak tujuh kali: 'As`alullāhal-'aẓīm, rabbal-'arsyil-'aẓīm an yasyfiyak (Au memohon kepada Allah Yang Mahaagung, Pemilik Arasy yang agung, agar menyembuhkanmu),' niscaya Allah menyembuhkannya dari penyakit tersebut."
HR. Abu Daud, Tirmizi, dan AhmadNabi ﷺ mengabarkan, tidaklah seorang muslim menjenguk muslim lainnya di masa sakitnya sebelum datang waktu kematiannya, kemudian penjenguk mendoakan orang yang sakit dengan doa: As`alullāhal-'aẓīm (Aku memohon kepada Allah Yang Mahaagung) dalam zat-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya .. rabbal-'arsyil-'aẓīm an yasyfiyak (Pemilik Arasy yang agung, agar menyembuhkanmu), dan ia mengulanginya tujuh kali, kecuali Allah akan menyembuhkannya dari penyakit tersebut.
Ummul Mukminin Ummu Salamah, istri Nabi ﷺ, meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang memiliki kurban yang akan dia sembelih, apabila hilal bulan Zulhijah telah terbit, janganlah dia memotong sedikit pun rambut dan kukunya sampai dia berkurban."
HR. MuslimNabi ﷺ memerintahkan orang yang berencana menyembelih kurban agar tidak mengambil rambut kepala, bulu ketiak, kumis atau lainnya, dan tidak juga kuku tangan dan kakinya apabila hilal bulan Zulhijah sudah terbit hingga ia selesai berkurban.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila Ramadan telah tiba, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan bahwa ketika bulan Ramadan telah masuk maka akan ada tiga perkara: Pertama: Pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satu pintu pun yang terkunci. Kedua: Pintu-pintu neraka dikunci, tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Ketiga: Setan dan jin-jin yang membangkang diikat dengan rantai; mereka tidak akan mampu menembus apa yang bisa mereka lakukan di luar Ramadan. Semua itu adalah bentuk pengagungan terhadap bulan ini, motivasi bagi orang yang beramal untuk memperbanyak ketaatan seperti salat, sedekah, zikir, baca Al-Qur`an dan lainnya, dan menjauhi dosa dan maksiat.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sekiranya manusia mengetahui keutamaan azan dan saf pertama kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan berundi, niscaya mereka akan berundi untuk mendapatkannya. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan bersegera dalam memenuhi panggilan salat, niscaya mereka akan berlomba untuk mendatanginya. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan salat Isya dan Subuh, niscaya mereka akan datang menunaikannya walaupun dengan merangkak."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan bahwa sekiranya manusia mengetahui keutamaan, kebaikan, dan keberkahan azan dan saf pertama kemudian mereka tidak bisa mendapatkan alasan didahulukan dan diutamakan untuk melakukannya kecuali dengan ikut undian siapa di antara mereka yang lebih berhak dibandingkan saudaranya, niscaya mereka akan berundi. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan bersegera menghadiri salat di awal waktunya, niscaya mereka akan berlomba untuk mendatanginya. Sekiranya mereka mengetahui kadar pahala menghadiri salat Isya dan Subuh, niscaya akan mudah bagi mereka menghadiri keduanya walaupun dengan merangkak di atas lutut sebagaimana anak kecil pertama kali belajar berjalan.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Siapa yang menjatuhkan diri dari gunung sehingga membunuh dirinya, maka ia akan masuk neraka Jahanam; ia akan terus-menerus menjatuhkan diri di dalamnya, ia kekal di dalamnya selama-lamanya. Siapa yang menenggak racun untuk bunuh diri, racun tersebut akan dipegang di tangannya sambil menenggaknya di dalam neraka Jahanam, ia kekal di dalamnya selama-lamanya. Siapa yang bunuh diri dengan sebilah pisau, maka pisau tersebut akan dipegang di tangannya sambil menusukkannya di perutnya di dalam neraka Jahanam, ia kekal di dalamnya selama-lamanya."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ memperingatkan orang yang sengaja bunuh diri di dunia, bahwa ia akan disiksa pada hari Kiamat dalam neraka Jahanam dengan cara yang sama seperti yang ia lakukan terhadap dirinya di dunia sebagai balasan yang setimpal. Orang yang menjatuhkan diri dari atas gunung sehingga menyebabkan kematiannya, ia akan masuk neraka; ia jatuh di dalamnya dari gunung-gunung Jahanam ke lembahnya, ia kekal abadi di dalamnya selama-lamanya. Orang yang menenggak racun sehingga ia membunuh dirinya, racunnya tersebut akan dipegang di tangannya sambil menenggaknya di dalam neraka Jahanam, ia kekal abadi di dalamnya selama-lamanya. Siapa yang menusuk diri dengan pisau di perutnya sehingga menyebabkan kematiannya, pisaunya tersebut akan dipegang di tangannya sambil menusukkannya di perutnya di dalam neraka Jahanam, ia kekal abadi di dalamnya selama-lamanya.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seseorang yang hatinya tertaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka berkumpul dan berpisah di atasnya, seseorang yang diajak berzina oleh perempuan yang punya kedudukan lagi cantik lalu dia mengatakan: 'Aku takut kepada Allah', seseorang yang memberi sedekah lalu dia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir kepada Allah dalam kesendirian lalu mengucur air matanya."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ memberi kabar gembira kepada tujuh macam orang beriman yang akan mendapatkan naungan Allah Ta'ala di bawah Arasy-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Mereka adalah: Pertama: Pemimpin yang saleh pada dirinya dan tidak fasik, dan yang adil di antara rakyatnya dan tidak zalim; yaitu pemegang tampuk kepemimpinan terbesar, demikian juga semua yang memegang jabatan sebagian urusan kaum muslimin dan berlaku adil di dalamnya. Kedua: Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah; yang menghabiskan masa muda dan masa kuatnya dalam ketaatan hingga ia diwafatkan di atasnya. Ketiga: Laki-laki yang hatinya tertaut dengan masjid saat ia keluar darinya hingga kembali lagi ke sana lantaran kecintaannya yang besar terhadap masjid, ia banyak menetap di masjid, dan terus-menerus berada di sana dengan hati walaupun fisiknya berada di luar masjid. Keempat: Dua orang yang saling mencintai karena Allah dengan cinta yang sejati, terus-menerus di atas cinta yang dibangun di atas agama dan tidak memutusnya dengan suatu sebab duniawi, baik keduanya berkumpul secara nyata ataupun tidak, hingga keduanya dipisahkan oleh kematian. Kelima: Laki-laki yang diajak oleh seorang perempuan untuk melakukan zina, sedang perempuan tersebut memiliki kebesaran nasab, kemuliaan, ketinggian status sosial, kedudukan, harta dan kecantikan, tetapi ia enggan dan mengatakan: Aku takut kepada Allah. Keenam: Seseorang yang telah bersedekah, sedikit ataupun banyak, tanpa melakukan ria di dalamnya, bahkan ia menyembunyikannya sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. Ketujuh: Seseorang yang berzikir kepada Allah dengan hati atau lisannya dalam kesendirian dan jauh dari pantauan manusia, lalu air matanya mengalir karena besarnya rasa takut dan pengagungan kepada Allah Ta'ala.