





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Abu Ubaid, mantan budak milik Ibnu Azhar, meriwayatkan, Aku menghadiri salat hari raya bersama Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu-, lalu ia berkata, "Dua hari ini adalah hari yang dilarang oleh Rasulullah ﷺ untuk berpuasa padanya; hari berbuka dari puasa kalian (Idulfitri) dan hari lainnya saat kalian makan sembelihan kalian (Iduladha)."
Muttafaq 'alaihNabi Muhammad ﷺ melarang berpuasa di hari Idulfitri dan Iduladha. Adapun Idulfitri, karena merupakan hari berbuka setelah berpuasa di bulan Ramadan. Sedangkan hari Iduladha adalah hari makan hewan kurban.
Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Talbiah Rasulullah ﷺ adalah: Labbaikallāhumma labbaik. Labbaika lā syarīka laka labbaik. Innal-ḥamda wan-ni’mata laka wal-mulk lā syarīka lak (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya seluruh pujian, nikmat dan kerajaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu)." Perawi (Nāfi') berkata, "Ibnu Umar menambahkan lafal: Labbaika labbaika wa sa’daik, wal-khairu biyadaik, warragbā`u ilaika wal-‘amal (Aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, dengan senang hati. Seluruh kebaikan ada di tangan-Mu. Aku sambut panggilan-Mu. Seluruh harapan (pahala) dan amalan hanya kepada-Mu)."
Muttafaq 'alaihTalbiah Nabi ﷺ ketika hendak memulai ibadah haji atau umrah adalah dengan membaca: Labbaikallāhumma labbaika (Aku sambut panggilan-Mu, ya Allah, aku sambut panggilan-Mu); yaitu sambutan demi sambutan yang terus-menerus untuk-Mu terkait ikhlas, tauhid, haji dan lainnya yang Engkau serukan. Labbaika lā syarīka laka labbaika (Aku sambut panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku sambut panggilan-Mu); maka Engkau semata yang berhak terhadap ibadah, tidak ada sekutu bagi-Mu dalam rububiah, uluhiah serta nama dan sifat-sifat-Mu. Innal-ḥamda (Sesungguhnya seluruh pujian); yaitu seluruh pujian dan sanjungan .. wan-ni'mata (dan kenikmatan); berasal dari-Mu, Engkau yang memberikannya .. laka (milik-Mu); yang diberikan pada semua keadaan .. wal-mulka (dan kerajaan); demikian juga milik-Mu. Lā syarīka lak (tidak ada sekutu bagi-Mu); seluruhnya adalah milik-Mu semata. Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- menambahkan: Labbaika labbaika wa sa'daik (Aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu dengan penuh senang); yakni hal ini menjadikanku bahagia, kebahagiaan demi kebahagiaan. Wal-khairu biyadaik (Seluruh kebaikan ada di tangan-Mu); kebaikan seluruhnya berasal dari karunia-Mu. Labbaika warragbā`u ilaik (Aku sambut panggilan-Mu, seluruh harapan (pahala) hanya kepada-Mu); yakni harapan, permintaan dan permohonan adalah kepada Zat yang seluruh kebaikan ada di tangan-Nya .. wal-'amal (demikian juga seluruh amalan) adalah milik-Mu, Engkaulah yang berhak terhadap seluruh ibadah.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Carilah lailatulqadar pada malam-malam yang ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan."
Muttafaq 'alaihNabi Muhammad ﷺ memotivasi untuk bersungguh-sungguh mencari lailatulqadar dan mengupayakan banyak amal saleh di dalamnya. Ia sangat diharapkan akan terjadi pada malam-malam yang ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan setiap tahun; tanggal 21, 23, 25, 27 & 29.
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhuma- meriwayatkan, Ada beberapa orang sahabat Nabi ﷺ bermimpi melihat lailatulqadar di tujuh malam terakhir, lantas Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku melihat mimpi kalian sepakat pada tujuh malam terakhir. Sebab itu, siapa yang ingin mencarinya, carilah di tujuh malam terakhir."
Muttafaq 'alaihBeberapa orang sahabat Nabi bermimpi bahwa lailatulqadar ada di tujuh malam terakhir Ramadan. Maka Nabi ﷺ bersabda: Aku memandang mimpi kalian sepakat di tujuh malam terakhir Ramadan. Oleh karena itu, siapa yang ingin mendapatkan lailatulqadar dan bersemangat mencarinya, hendaklah ia sungguh-sungguh mencarinya dengan cara memperbanyak amal saleh. Paling besar harapan ia terjadi di tujuh malam terakhir, yaitu mulai dari malam ke-24 jika bulan Ramadan terdiri dari 30 hari dan dimulai dari malam ke-23 jika bulan Ramadan terhitung 29 hari.
Abu Żarr -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Beberapa orang sahabat berkata kepada Nabi ﷺ, "Wahai Rasulullah! Orang-orang kaya telah menang banyak dengan mendapat banyak pahala. Mereka salat seperti kami salat, mereka berpuasa seperti kami berpuasa, tetapi mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka." Beliau ﷺ bersabda, "Bukankah Allah telah memberi kalian sesuatu yang dapat kalian sedekahkan? Sungguh, pada setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, amar makruf adalah sedekah, dan melarang suatu kemungkaran adalah sedekah. Bahkan, pada senggama salah seorang kalian adalah sedekah." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah bila salah seorang kami menyalurkan syahwatnya, di dalamnya ia mendapatkan pahala?" Beliau bersabda, "Apa pendapat kalian jika ia menyalurkannya di tempat yang haram, apakah ia akan mendapatkan dosa? Demikian pula jika ia menyalurkannya di tempat yang halal, maka ia akan mendapatkan pahala."
HR. MuslimSebagian sahabat yang miskin datang mengadukan kondisi dan kemiskinan mereka kepada Nabi ﷺ serta ketidakmampuan mereka bersedekah dengan harta demi mendapatkan pahala yang banyak sebagaimana yang diperoleh oleh orang-orang yang memiliki banyak harta, dan agar mereka dapat melakukan kebaikan seperti mereka juga. Orang-orang kaya itu mengerjakan salat seperti kami salat, mereka melakukan puasa seperti kami berpuasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan harta mereka sementara kami tidak dapat bersedekah! Maka Nabi ﷺ mengarahkan mereka pada sedekah yang sanggup mereka lakukan, beliau ﷺ bersabda: Bukankah Allah ﷻ telah membuatkan kalian apa yang bisa kalian sedekahkan?! Kalian membaca "Subḥānallāh" adalah berpahala sedekah bagi kalian. Demikian juga bacaan "Allāhu Akbar" adalah sedekah, bacaan "Al-Ḥamdu lillāh" adalah sedekah, bacaan "Lā ilāha illallāh" adalah sedekah, mengajak kepada kebaikan adalah sedekah, dan melarang kemungkaran adalah sedekah. Bahkan, perbuatan kalian menggauli istri adalah sedekah. Mereka pun heran dan mengatakan: Wahai Rasulullah! Apakah kami menyalurkan syahwat itu bisa mendapatkan pahala?! Beliau menjawab: Apa pandangan kalian seandainya ia menyalurkannya di tempat yang haram seperti zina dan lainnya, bukankah ia mendapatkan dosa? Demikian juga jika ia menyalurkannya di tempat yang halal, ia akan mendapatkan pahala.
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Rasulullah ﷺ dahulu, apabila telah masuk sepuluh malam terakhir (bulan Ramadan) beliau menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, serta bersungguh-sungguh dan mengencangkan ikatan sarung."
Muttafaq 'alaihApabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramaḍan, Nabi ﷺ menghidupkan seluruh malamnya dengan berbagai ketaatan, membangunkan keluarganya untuk mengerjakan salat, bersungguh-sungguh dalam beribadah melebihi kebiasaannya dengan fokus melakukannya, dan menjauhi istri-istrinya.
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Tidaklah Nabi ﷺ mengerjakan suatu salat setelah turun surah Iżā jā`a naṣrullāhi wal-fatḥ (An-Naṣr) kecuali di dalamnya beliau membaca, "Subḥānaka rabbanā wa biḥamdika allāhumma-gfir lī (Mahasuci Engkau, wahai Tuhan kami, aku memuji-Mu. Ya Allah! Ampunilah aku)." Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- juga meriwayatkan, Rasulullah ﷺ terbiasa banyak mengucapkan doa berikut dalam rukuk dan sujudnya, "Subḥānakallāhumma rabbanā wa biḥamdika, allāhumma-gfir lī (Mahasuci Engkau, wahai Tuhan kami, aku memuji-Mu. Ya Allah! Ampunilah kami)." Beliau mengaplikasikan Al-Qur`an.
Muttafaq 'alaihUmmul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengabarkan bahwa Nabi ﷺ setelah diturunkan padanya surah Iżā jā`a naṣrullāhi wal-fatḥ, beliau mengaplikasikan Al-Qur`an dan segera menerapkan perintah Allah Ta'ala dalam firman-Nya: "Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya." Beliau banyak membaca di dalam rukuk dan sujudnya ketika salat: Subḥānaka (Mahasuci Engkau), yaitu aku menyucikan-Mu dari semua aib yang tidak pantas bagi-Mu .. allāhumma rabbanā wa biḥamdika (Ya Allah, Tuhan kami, aku memuji-Mu); yakni dengan pujian demi pujian yang terpuji kepada-Mu, lantaran kesempurnaan zat, sifat, dan perbuatan-Mu .. Allāhumma-gfir lī (Ya Allah, ampunilah aku); hapuskanlah dan lewatkanlah dosa-dosaku.
Abu Umāmah Iyās bin Ṡa'labah Al-Ḥāriṡiy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang mengambil hak seorang muslim secara zalim menggunakan sumpahnya, maka Allah menetapkan baginya neraka dan mengharamkan baginya surga." Seorang laki-laki bertanya, "Meskipun sesuatu yang remeh, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Meskipun satu batang ranting arāk (pohon siwak)."
HR. MuslimNabi ﷺ mengingatkan agar tidak bersumpah dengan nama Allah secara dusta dan sadar dalam rangka merampas hak seorang muslim karena balasannya ialah mendapatkan neraka dan diharamkan dari surga. Ini termasuk dosa besar. Seorang laki-laki bertanya: Wahai Rasulullah, walaupun yang disumpahkan itu sesuatu yang remeh? Beliau ﷺ menjawab: Walaupun itu pada ranting siwak yang diambil dari pohon arāk.
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Apabila Rasulullah ﷺ menjenguk orang sakit, beliau biasa mendoakannya dengan membaca, "Ażhibil-ba`sa, rabban-nās, wa-syfi antasy-syāfī, lā syifā`a illā syifā`uka, syifā`an lā yugādiru saqaman (Hilangkanlah penyakit ini, wahai Tuhan manusia! Sembuhkanlah ia, karena Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan, tiada kesembuhan selain kesembuhan-Mu, dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit)."
Muttafaq 'alaih1- Nabi ﷺ ketika menjenguk orang yang sakit. Beliau akan mendoakannya dengan mengatakan: Ya Allah, ażhibil-ba`sa (hilangkanlah penyakit ini); singkirkanlah kedahsyatannya .. rabban-nās (wahai Tuhan manusia); yang menciptakan dan yang mengurusi mereka .. isyfi (sembuhkanlah) orang yang sakit ini .. antasy-syāfī (Engkau Yang Maha Menyembuhkan); aku bertawasul kepada-Mu dengan menyebut nama-Mu asy-Syāfī .. lā syifā`a (tiada kesembuhan) yang akan diperoleh oleh orang yang sakit .. illā syifā`uka (selain kesembuhan-Mu) dan keafiatan yang datang dari-Mu .. syifā`an (dengan kesembuhan) total .. lā yugādiru (yang tidak meninggalkan), tidak menyisakan .. saqaman (penyakit) yang lain.