





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwa beliau melarang seseorang minum sambil berdiri. Qatādah berkata, "Lalu kami berkata kepada Anas, Bagaimana dengan makan (sambil berdiri)?" Dia menjawab, "Hal itu lebih buruk – atau lebih menjijikkan. Dalam sebuah riwayat, bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang minum sambil berdiri. Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri. Siapa yang lupa maka hendaknya dia memuntahkannya!”
Diriwayatkan oleh Muslim dengan dua riwayatnyaAnas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang minum sambil berdiri, lalu Qatādah bin Di’āmah as-Sudūsi -raḥimahullāh- berkata, Lantas kami berkata kepada Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, lalu apakah hukum makan sambil berdiri? Apakah terlarang seperti minum, lalu Anas berkata, Makan berdiri lebih keras larangannya, (makan berdiri tu) lebih buruk dan menjijikkan.” “Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang untuk minum sambil berdiri.” “Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang siapapun untuk minum sambil berdiri. Siapa lupa dan telah melakukan hal itu maka dianjurkan untuk mengeluarkan air yang ada di dalam kerongkongannya itu, jika tidak maka tidak ada dosa baginya, karena minum sambil berdiri hukumnya makruh bukan haram.”
Dari Abu Hurairah dan Abdullah bin Abbas -raḍiyallahu 'anhum-, keduanya berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang minum dari mulut teko atau qirbah (kantong air dari kulit)."
Diriwayatkan oleh Bukhari - Muttafaq 'alaihNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang minum dari bibir teko karena dikhawatirkan ada penyakit. Mungkin saja di bibirnya ada sesuatu (penyakit) yang tidak dapat dilihat oleh orang yang minum sehingga masuk ke dalam perutnya.
Dari Abu Sa'id al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang membengkokkan kantong air."
Muttafaq 'alaihNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang tindakan membengkokkan kantong air lalu minum (langsung) darinya. Sebab, mungkin saja di sana terdapat berbagai hal yang membuat sakit kemudian masuk ke dalam perutnya sehingga membahayakannya.
Dari Abu Sa’īd al-Khudrī -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang meniup minuman. Lalu seseorang berkata, “Bagaimana jika ada kotoran yang aku lihat di dalam wadah air itu?" Lantas beliau bersabda, “Tumpahkan saja!” Ia berkata, "Dahagaku tidak hilang dengan (minum) satu kali tarikan nafas." Beliau bersabda, “Kalau begitu, jauhkanlah wadah air itu dari mulutmu.”
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh Malik - Diriwayatkan oleh DārimiNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang untuk meniup minuman, lalu seseorang bertanya kepada beliau, ia berkata, Wahai Rasulullah, terdapat kotoran di dalam minuman lalu seseorang meniupnya agar keluar, lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, tuangkan air yang terdapat kotoran di dalamnya itu dan jangan meniupnya, kemudian orang itu bertanya kepada beliau bahwa dahaganya tidak hilang dengn (minum) satu tarikan nafas, lalu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkannya untuk menjauhkan wadah air itu dari mulutnya, kemudian ia bernafas, lalu minum kembali.
Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- ia berkata, "Aku pernah lewat di hadapan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sementara sarungku terjurai. Maka beliau bersabda, "Wahai Abdullah, naikkan sarungmu!" Aku pun menaikkannya. Kemudian beliau bersabda, "naikkan lagi!" Aku pun menaikkannya lagi. Sejak itu aku selalu menjaga agar sarungku sebatas itu. Sebagian orang bertanya, "Sampai di mana batasnya?" Ia menjawab, "Sampai pertengahan betis."
Diriwayatkan oleh MuslimDari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- ia berkata, "Aku lewat di hadapan Rasullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sementara sarungku agak isbal. Maka beliau bersabda, "Wahai Abdullah, naikkan sarungmu!" Aku menaikkannya hingga kedua mata kaki atau dekat keduanya. Kemudian beliau bersabda, "Naikkan lagi!" Karena itu lebih baik dan lebih bersih. Aku pun menambahnya hingga sampai pertengahan betis. Dan sejak itu aku selalu menjaganya karena memperhatikan sunah dan konsisten mengikuti (perintah Rasulullah). Sebagian orang mengatakan, "Sampai mana batas menaikkan yang diperintahkan?" Ia menjawab, "Sampai pertengahan betis."
Dari Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- apabila beliau takut terhadap satu kaum, beliau berdoa, "Ya Allah! Sesungguhnya kami menjadikan-Mu di leher mereka dan kami berlindung kepada-Mu dari berbagai kejahatan mereka."
Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadSabda beliau, "Ya Allah! Sesungguhnya kami menjadikan-Mu di leher mereka," yakni, di hadapan mereka. Engkau menghalau mereka dari kami dan menghalangi kami dari mereka. Dikhususkannya penyebutan leher karena ia lebih cepat dan lebih kuat dalam menahan dan titik tekan bagi yang didorong. Musuh biasanya menghadapkan lehernya ketika hendak bangkit untuk bertempur atau ungkapan optimis menyekik leher mereka atau membunuh mereka. "Dan kami berlindung kepada-Mu dari berbagai kejahatan mereka." Dalam kondisi seperti ini, cukuplah Allah yang akan menggagalkan kejahatan mereka. Maksudnya adalah kami memohon kepada-Mu agar menghalau kedatangan mereka, mengenyahkan berbagai kejahatan mereka, melindungi kami dari makar mereka, dan menghalangi pertemuan kami dengan mereka. Dua kata yang mudah, jika seseorang mengucapkannya dengan penuh keyakinan dan keikhlasan, niscaya Allah Ta'ālā akan membelanya dan Allah-lah Pemberi taufik.
Dari Abu Sa'īd al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah (ucapan): Lā ilāha illallāh, wa subḥānallāh, wallāhu akbar, walḥamdulillāh, wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh." (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Mahasuci Allah. Allah Mahabesar. Segala puji bagi Allah. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan (daya dan upaya) Allah)
Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbān - Diriwayatkan oleh Hakim - Diriwayatkan oleh Nasā`iHadis ini merupakan dalil keutamaan zikir dengan redaksi ini, karena di dalamnya terkandung makna tasbih, pengagungan dan pemuliaan terhadap Allah Jalla wa 'Alā dan karena di dalamnya terkandung pujian kepada Allah atas perbuatannya yang tidak ada daya, gerak dan kemampuan bagi seorang hamba selain tunduk atas kehendak-Nya. Tidak ada daya untuk menolak keburukan dan kekuatan untuk mendatangkan kebaikan, kecuali dengan bantuan Allah Jalla wa 'Alā. Kalimat-kalimat dengan makna yang agung ini adalah yang akan kekal dampak dan manfaatnya bagi seorang mukmin setelah kematiannya.
Dari Buraidah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah mendengarkan seorang pria berdoa, “Ya Allah! Sesungguhnya aku meminta pada-Mu, aku bersaksi bahwa Engkau adalah Allah yang tiada tuhan yang berhak disembah selain Engkau, yang Mahaesa dan Maha berdiri sendiri, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada satu pun sekutu bagiNya.” Maka beliau bersabda, “Sungguh, dia telah meminta kepada Allah dengan nama-Nya yang jika Dia dimohon dengan nama tersebut pasti akan diberi, dan jika dipanggil dengan nama tersebut pasti akan dijawab.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu DaudDoa agung yang didengarkan oleh Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dari seorang Arab badui yang ia gunakan untuk berdoa dan bertawasul kepada Allah, ini mengandung nama Allah-Ta'ālā- yang Maha Agung. Juga mengandung Tauhid kepada Allah dan bahwa Ia adalah Mahaesa, Tunggal dan berdiri sendiri, seluruh manusia meminta hajat-hajat mereka pada-Nya. Dan Ia tidak beranak, karena tiada tandingan bagi-Nya, dan Ia tidak membutuhkan siapapun. Ia tidak diperanakkan dan tiada satu pun tandingan bagi-Nya. Sehingga tidak satu pun yang menyamai-Nya, baik dalam Zat, sifat maupun perbuatan-Nya. Makna-makna agung ini merupakan pondasi dan ruang lingkup tauhid, sehingga doa ini menjadi doa yang paling agung. Tidak ada seorang hambapun yang berdoa kepada Allah dengan doa tersebut melainkan akan diberikan apa yang dimintanya.
Dari Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sering berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, sifat ifah dan kecukupan."
Diriwayatkan oleh AhmadHendaknya manusia memohon kepada Allah Azza wa Jalla sebagaimana Dia telah memperbagus bentuk lahirnya; membuatnya elok rupawan dan menjadikannya sempurna, jadikanlah juga bentuk batinnya baik dengan memberinya akhlak mulia yang dapat melengkapi sisi kemanusiaannya dan mensucikan batinnya.