





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Seorang mukmin adalah cermin (untuk) saudaranya mukmin lainnya."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu DaudDalam hadis ini terdapat potret nabawi yang mengagumkan dan perumpamaan yang dalam; yang menjelaskan sikap seorang muslim terhadap saudaranya, serta menetapkan tanggung jawabnya terhadap (saudara)nya, lalu menuntunnya untuk melakukan akhlak yang baik dan menjauhi akhlak yang buruk. Maka ia seperti cermin bening yang dapat memperlihatkan dirinya yang sebenarnya. Ini menunjukkan kewajiban memberi nasehat kepada seorang mukmin, sehingga jika ia menemukan sebuah aib atau kesalahan pada saudaranya, ia akan mengingatkannya dan menuntunnya agar memperbaikinya. Namun (itu dilakukannya) antara dia dan saudaranya saja, karena memberi nasehat di depan umum itu (tidak lain adalah) mempermalukannya (menelanjanginya).
'Iyāḍ bin Ḥimār, saudara Bani Mujāsyi' -raḍiyallāhu 'anhu-, meriwayatkan: Suatu hari Rasulullah berdiri di tengah kami dalam rangka menyampaikan pidato -di dalamnya disebutkan-, "Sungguh, Allah telah mewahyukan kepadaku, 'Bersikap tawaduklah agar tidak ada yang saling sombong dan tidak ada yang saling menzalimi satu sama lain.'"
HR. MuslimNabi ﷺ pernah berdiri menyampaikan khotbah di tengah sahabat-sahabatnya, di antara yang beliau sampaikan, "Allah telah mewahyukan kepada beliau bahwa manusia wajib bersikap merendah di antara sesama mereka, yaitu dengan cara merendahkan hati dan bersikap lembut kepada semua orang. Hal itu agar tidak ada orang yang bersikap angkuh dengan menyombongkan diri serta memuliakan dirinya di atas orang lain karena nasabnya, hartanya, atau lainnya. Demikian juga agar tidak ada orang yang menzalimi dan menyakiti yang lain."
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya kalian tidak bisa menarik simpati manusia dengan harta kalian, namun hendaknya kalian menarik hati mereka dengan keceriaan wajah dan budi pekerti kalian."
Diriwayatkan oleh HakimHadis ini adalah dalil yang menunjukkan keutamaan tampil dengan wajah yang lapang, ceria dan berseri pada saat bertemu (dengan orang lain). Juga keutamaan perilaku dan metode interaksi yang baik, serta memperlakukan orang lain dengan perkataan yang baik dan perbuatan yang mulia. Hal ini mampu dilakukan oleh semua orang. Akhlak seperti inilah yang akan mengundang rasa cinta dan melanggengkan kasih sayang antar individu dalam masyarakat.
Dari Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Tidak ada amalan anak Adam yang dapat menyelamatkannya dari azab Allah selain zikir kepada Allah."
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah - Diriwayatkan oleh Ṭabarāni - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh MalikAllah -Ta'ālā- telah menyediakan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman berbagai sebab yang dapat membuatnya meraih surga dan terpelihara dari neraka. Di antara sebab itu ialah zikir kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. hadis ini menunjukkan keutamaan zikir. Zikir adalah sebab paling besar bagi keselamatan dari ketakutan-ketakutan dunia dan akhirat. Zikir merupakan salah satu sebab selamat dari neraka. Keutamaan ini dianggap sebagai keutamaan zikir yang paling besar.
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū',“Siapa yang merasa angkuh dalam dirinya, bersikap congkak saat berjalan, ia akan menemui Allah dalam keadaan Ia murka kepadanya.”
Diriwayatkan oleh Hakim - Diriwayatkan oleh AhmadHadis ini menunjukkan celaan terhadap sikap takabur dan angkuh, dan sikap takabur serta angkuh ini tampak pada cara jalan seseorang, sehingga ia berlaku congkak dalam berjalan, dalam berpakaian, berbicara dan dalam segala hal. Siapa yang keadaannya sombong seperti ini, ia akan meyakini dalam dirinya bahwa ia adalah orang besar yang berhak untuk dimuliakan lebih dari yang lainnya; maka kelak ia akan berjumpa dengan Allah pada hari kiamat dalam keadaan Ia murka kepadanya.
Dari Ṡaubān maula Rasulillah -raḍiyallahu 'anhu-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Sesungguhnya seorang muslim apabila menjenguk saudaranya yang muslim, ia terus-menerus berada di (antara) buah-buahan surga sampai ia kembali." Kemudian ditanya, "Wahai Rasulullah, apakah buah-buahan surga?" Beliau menjawab, "Yaitu, buah-buahan yang telah dipetik."
Diriwayatkan oleh MuslimHadis Ṡaubān bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya seorang muslim apabila menjenguk saudaranya yang muslim," yakni, saat sakitnya, "ia terus-menerus berada di (antara) buah-buahan surga." Beliau ditanya, "Apakah buah-buahan surga?" Beliau menjawab, "Yaitu, buah-buahan yang telah dipetik. Yakni, ia memetik buah-buahan surga selama ia terus-menerus duduk di sisi orang sakit tersebut. Pahala yang diperoleh oleh orang yang menjenguk orang sakit diserupakan dengan apa yang dipetik oleh orang yang memetik buah-buahan." Ada yang mengatakan, "Yang dimaksud dengan buah-buahan di sini adalah jalan. Maksudnya bahwa orang yang menjenguk itu berjalan di jalan yang mengarahkannya ke surga." Penafsiran pertama lebih utama. Duduk di sisi orang sakit berbeda-beda sesuai dengan perbedaan situasi dan orangnya. Terkadang duduk di sisi orang sakit itu dibutuhkan, dan terkadang juga tidak dibutuhkan. Jika diketahui bahwa orang yang sakit itu akrab dengan orang tersebut dan ia ingin agar berlama-lama di sisinya, maka lebih utama ia berlama-lama dengannya. Jika diketahui bahwa orang yang sakit ingin agar orang yang menjenguk itu sebentar, maka ia tidak boleh dibiarkan berlama-lama. Dengan demikian, setiap kondisi itu membuthkan sikap tersendiri.
Dari Sahl bin Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- diberi minuman lalu beliau meminumnya, sedangkan di sebelah kanannya ada seorang anak kecil dan di sebelah kirinya ada orang-orang tua. Lantas beliau berkata kepada anak itu, "Apakah engkau mengizinkan kalau aku memberikan minuman ini kepada orang-orang tua itu terlebih dahulu?" Anak itu menjawab, "Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, saya tidak akan memberikan bagian saya darimu kepada orang lain." Kemudian Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meletakan minuman itu di tangannya."
Muttafaq 'alaihDalam hadis ini Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meminta izin kepada seorang anak untuk memberikan minuman kepada orang-orang tua sebelum anak itu meminumnya. Beliau melakukan itu untuk menarik hati para orang tua itu dan menunjukkan kecintaan beliau kepada mereka serta mengutamakan martabat mereka karena hal ini tidak dilarang oleh sunnah. Hadis ini juga mengandung penjelasan sunnah, yaitu bahwa orang yang berada di sebelah kanan lebih berhak atas giliran dan tidak boleh diberikan kepada selainnya kecuali atas izinnya. Juga tidak ada salahnya untuk meminta izinnya tetapi dia tidak wajib memberikan izin. Orang yang di sebelah kanan juga seyogyanya tidak memberikan izin untuk dilangkahi jika hal tersebut menyebabkan terlewatkannya karunia akhirat dan kemaslahatan agama. Anak itu adalah Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhu-.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, "Sesungguhnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Janganlah seseorang dari kalian mengharapkan kematian. Jika ia orang yang berbuat baik, maka semoga kebaikannya itu dapat bertambah. Namun, jika ia adalah orang yang berbuat buruk, maka mudah-mudahan ia bertobat kepada Allah." Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Janganlah seseorang dari kalian mengharapkan kematian dan jangan pula berdo'a agar segera mendapat kematian sebelum kematian itu datang padanya. Sesungguhnya apabila ia telah mati, maka terputuslah amalannya, dan bahwa tidaklah seorang mukmin itu bertambah umurnya, melainkan akan menjadi kebaikan baginya."
Muttafaq 'alaihSabda Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Janganlah seseorang dari kalian mengharapkan kematian!" Larangan di sini menunjukkan pengharaman. Sebab, mengharapkan kematian mengandung ketidak ridaan dengan keputusan Allah. Seorang mukmin wajib bersabar ketika ditimpa kesulitan. Jika ia bersabar terhadap musibah, maka ia mendapat dua hal penting: pertama, berbagai kesalahannya dihapuskan. Sesungguhnya tidaklah manusia itu ditimpa duka, kepedihan, penderitaan, dan apa pun, melainkan Allah menghapus kesalahan-kesalahannya, hingga duri yang menusuknyapun dapat menghapuskan kesalahannya. Kedua, jika ia mendapatkan taufik untuk mengharapkan pahala dari Allah dan sabar demi mencari keridaan Allah, maka ia akan mendapat pahala. Sedangkan jika ia mengharapkan kematian, maka ini menunjukkan dirinya tidak sabar dan tidak rida terhadap keputusan Allah -'Azza wa Jalla-. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa jika ia termasuk orang baik, maka sisa kehidupannya akan menambah amal saleh. Seorang mukmin apabila diberi umur panjang meskipun menderita dan ditimpa bahaya, barangkali kebaikan-kebaikannya akan bertambah. Jika ia orang buruk yang terkadang melakukan keburukan, mungkin saja ia bertobat, meminta 'utbā (keridaan dan maaf), lalu ia meninggal dunia dalam keadaan bertobat dari kesalahan-kesalahannya. Karena itu, janganlah engkau mengharapkan kematian! Sebab, segala urusan sudah ditetapkan. Kemudian hendaknya dia bersabar dan mengharap keridaan Allah, karena adalah suatu kemustahilan sebuah kondisi berlangsung secara terus-menerus. Di dalam hadis ini terkandung isyarat bahwa makna dari larangan mengharapkan kematian dan berdoa agar segera mendapatkan kematian adalah memutuskan amal dengan kematian. Sebab, kehidupan itu yang mendatangkan amal. Sedangkan amal itu dapat menambah pahala meskipun hanya sekedara berada terus-menerus dalam tauhid, maka itu adalah amal paling utama. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa bisa saja terjadi kemurtadan dari keimanan -dan kita berlindung kepada Allah darinya-, hanya saja itu jarang terjadi. Sebab ketika cahaya iman sudah merasuk ke dalam hati maka tidak ada seorang pun yang membencinya. Kalau pun terjadi kemurtadan -dan itu bisa saja terjadi tapi jarang-, maka orang yang sudah ditetapkan dalam ilmu Allah mengalami sū`ul khātimah (akhir yang buruk), niscaya hal itu akan menimpanya, baik umurnya panjang atau pun pendek. Hanya saja menyegerakan akhir kehidupan yang buruk dengan meminta kematian bukanlah sesuatu yang baik baginya. Dalam hadis ini terdapat isyarat agar berlomba dengan orang baik dalam melakukan kebaikan, dan peringatan terhadap orang buruk dari keburukannya. Seakan-akan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Barangsiapa berbuat baik, hendaknya ia meninggalkan angan-angan kematian dan seyogyanya ia terus berbuat kebaikan dan menambahnya. Barangsiapa berbuat buruk, hendaknya meninggalkan angan-angan kematian dan mencabut diri dari keburukan agar tidak mati dalam keadaan buruk sehingga ada dalam bahaya.
Dari Rifa'ah Tamīm bin Usaid -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, sedangkan beliau masih berkhotbah. Kemudian aku menyelanya, "Wahai Rasulullah, ada orang asing datang hendak bertanya tentang agamanya, karena ia belum mengerti tentang seluk-beluk agamanya?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menuju ke arahku dan menghentikan khotbahnya hingga tiba di hadapanku. Lalu beliau diberi kursi dan duduk di atasnya serta mengajariku apa yang diajarkan Allah kepadanya. Setelah itu beliau melanjutkan khotbahnya sampai selesai."
Diriwayatkan oleh MuslimDi antara bentuk sifat tawaduk (rendah hati) Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah ketika seorang lelaki mendatangi beliau saat berkhotbah di hadapan sahabat. Orang itu berkata, "Orang asing datang untuk menanyakan seluk-beluk agamanya." Seketika itu pula Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendekati orang tersebut dan menghentikan khotbahnya hingga tiba di hadapan orang asing itu. Lantas diberikan kursi kepada beliau lalu beliau mengajari orang itu karena ia datang dengan simpati dan cinta terhadap ilmu. Ia ingin mengetahui agamanya sehingga bisa mengamalkannya. Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendatanginya dan menghentikan khotbahnya serta mengajarinya. Setelah itu beliau kembali menyempurnakan khotbahnya.