





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, Dia melewati sejumlah anak-anak, lalu mengucapkan salam kepada mereka. Ia berkata, “Dahulu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah melakukannya.”
Muttafaq 'alaihHadis ini menganjurkannya sikap tawaduk dan mengucapkan salam kepada semua orang, juga menjelaskan ketawadukan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Pelajaran lain adalah bahwa beliau mengucapkan salam kepada anak-anak jika melintasi mereka, dan para sahabat beliau raḍiyallāhu 'anhu meneladani beliau. Anas -raḍiyallāhu 'anhu- menyampaikan bahwa ia pernah melewati kerumunan anak-anak, lalu ia mengucapkan salam kepada mereka. Ia melewati mereka di pasar sedang asyik bermain, maka ia pun mengucapkan salam kepada mereka. Ia mengatakan, “Sesungguhnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah melakukannya”, maksudnya: mengucapkan salam kepada anak-anak jika melewati mereka. Ini merupakan bukti sikap tawaduk dan indahnya akhlak beliau, juga menunjukkan suatu bentuk pembinaan, pendidikan, pengarahan dan bimbingan yang baik; karena anak-anak itu jika ada yang mengucapkan salam kepada mereka, maka mereka akan terbiasa pula melakukan itu. Hal ini akan menjadi insting yang terpatri dalam diri mereka.
Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendengar seorang laki-laki memuji orang lain dan berlebih-lebihan dalam memujinya. Maka beliau bersabda, "Kalian telah membinasakan -atau kalian mematahkan- punggung orang itu."
Muttafaq 'alaihNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendengar seseorang yang menyebut-nyebut kebaikan orang lain dan sangat berlebih-lebihan dalam menyebutnya dengan sifat-sifat terpuji yang tidak ada pada dirinya. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarangnya dan mengabarkan bahwa perbuatan ini bisa menjadi sebab kehancurannya, karena pujian tersebut mendorong orang yang dipuji itu sombong dan tinggi hati.
Dari Abu Bakrah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwasanya ada seseorang disebutkan di hadapan Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu ada seseorang menyanjungnya dengan kebaikan. Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Celakalah engkau! Engkau telah memotong leher temanmu." Beliau mengatakannya berkali-kali, "Jika salah seseorang dari kalian harus memuji, maka ucapkanlah, 'Aku kira orang tersebut begini dan begini,' jika ia melihat orang tersebut demikian adanya dan hisabnya terserah kepada Allah, dan tidak boleh ada yang menyucikan seseorang di hadapan Allah."
Muttafaq 'alaihDalam hadis ini terkandung berbagai arahan dari sunnah yang penuh berkah. Hendaknya seorang muslim tidak berlebihan dalam menyanjung, sebab kecongkakan dan kesombongan merupakan salah satu pintu masuk setan, dan berlebihan dalam memuji dapat menyelimuti orang yang dipuji dengan kesombongan dan kecongkakan sehingga ia binasa. Hendaknya seorang muslim bertindak obyektif (proporsional) dalam menyanjung dan memuji, dan menyerahkan urusan manusia kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang mengetahui apa-apa yang tersembunyi dalam jiwa.
Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhuma-, secara marfū, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang bepergian membawa Al-Qur`ān ke daerah musuh."
Muttafaq 'alaihNabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang kita untuk membawa Al-Qur`ān dan bepergian dengannya ke negara kafir yang tidak memeluk agama Islam karena rentan penistaan di sana. Namun bila kemungkinan besar selamat dari itu maka boleh-boleh saja.
Dari Jubair bin Muṭ’im -raḍiyallāhu 'anhu ia- berkata, tatkala dia berjalan bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat pulang dari Ḥunain, lalu orang-orang badui berusaha merangkul beliau untuk meminta sesuatu hingga beliau terdesak ke pohon Samurah, dan serban beliau tersangkut di pohon itu. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdiri dan bersabda, “Kembalikan serbanku. Andaikan aku memiliki unta sebanyak duri pohon ini (pohon Samurah) pastilah aku akan membagikannya kepada kalian, kemudian kalian tidak akan mendapatiku sebagai orang pelit, pendusta, maupun pengecut."
Diriwayatkan oleh BukhariTatkala Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pulang dari perang Ḥunain yaitu sebuah lembah di antara Makkah dan Thaif, dan saat itu beliau bersama Jubair bin Muṭ’im -raḍiyallāhu 'anhu-, lalu orang-orang memepet beliau untuk meminta bagian ganimah (harta rampasan perang) hingga mereka mendesak beliau ke pohon Samurah –yaitu salah satu pohon berduri di perkampungan badui-, lalu serban beliau tersangkut di durinya, lalu orang-orang badui merebutnya. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Berikan serbanku, andaikan aku memiliki binatang ternak seperti unta, sapi, dan kambing sebanyak duri pohon ini- pohon itu adalah pohon yang banyak durinya- sungguh aku akan membagikannya kepada kalian." Kemudian beliau bersabda, "Dan jika kalian ingin mengujiku niscaya kalian tidak akan mendapatiku sebagai orang pelit, pendusta, dan tidak pula pengecut."
Dari Abu Umāmah, Iyās bin Ṡa'labah Al-Anṣāri Al-Ḥariṡi -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, "Suatu hari, para sahabat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memperbincangkan tentang dunia di dekat beliau, maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidakkah kalian dengar? Tidakkah kalian dengar? Sesungguhnya kebersahajaan itu bagian dari iman, sesungguhnya kesederhanaan itu bagian dari iman."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadSekelompok sahabat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membicarakan tentang dunia. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidakkah kalian dengar!" Lalu beliau ulangi untuk penekanan, bahwa tawaduk dalam berpakaian dan berhias bagian dari akhlak orang beriman, imanlah yang membuatnya melakukan itu.
Istri Nabi ﷺ, Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelembutan. Allah akan memberi pada sikap lembut apa yang tidak diberikan pada sikap keras dan apa yang tidak diberikan pada selainnya."
HR. MuslimNabi ﷺ menganjurkan Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- agar bersikap lembut, karena Allah itu Maha Lembut lagi penuh kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya. Dia menginginkan kemudahan bagi mereka dan tidak menghendaki kesulitan, sehingga Dia tidak membebani mereka di luar kemampuan. Allah suka bila hamba-Nya berhati lembut dan memilih jalan yang mudah, bukan yang kasar dan keras. Allah Ta'ala memberikan ganjaran atas sikap lembut dan kasih sayang, baik di dunia berupa pujian yang baik, tercapainya keinginan, dan kemudahan urusan, maupun di akhirat berupa pahala yang besar, lebih dari yang diberikan kepada sikap keras dan kasar. Kelembutan itu selalu mendatangkan kebaikan yang tidak akan didapatkan dengan selainnya.
Abu Kabsyah 'Amr bin Sa'ad Al-Anmāriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan secara marfū': "Ada tiga hal yang aku bersumpah tentang kebenarannya serta aku akan sampaikan sebuah hadis kepada kalian, karena itu hafalkanlah! Yaitu, harta seorang hamba tidak akan berkurang karena sedekah; tidaklah seseorang dianiaya dan dia bersabar atas penganiayaan itu, melainkan Allah menambah kemuliaannya; tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta, kecuali Allah akan buka baginya pintu kemiskinan -atau ungkapan lainnya yang semakna-. Aku juga akan sampaikan kepada kalian sebuah hadis, maka hafalkanlah! Yaitu, sesungguhnya dunia ini untuk empat orang, yaitu: hamba yang Allah karuniai harta dan ilmu, dengannya dia bertakwa kepada Tuhannya, menggunakannya untuk menyambung tali silaturahmi, dan dia juga mengetahui hak Allah di dalamnya, maka yang seperti ini derajatnya paling utama; hamba yang Allah karuniai ilmu namun tidak dikaruniai harta, dia hanya memiliki niat yang tulus, dia berkata, 'Andaikan aku mempunyai harta, niscaya aku akan beramal seperti amalnya si polan', maka dia mendapatkan pahala niatnya, sehingga pahala keduanya menjadi sama; hamba yang Allah karuniai harta namun tidak dikaruniai ilmu sehingga dia tenggelam bersama hartanya tanpa ilmu, lantas di dalamnya dia tidak bertakwa kepada Tuhannya, tidak menyambung tali silaturahmi, dan tidak mengetahui hak Allah di dalamnya, maka orang ini derajatnya paling rendah; hamba yang tidak dikaruniai harta maupun ilmu oleh Allah, maka dia berkata, 'Andaikan aku mempunyai harta, niscaya aku akan berbuat seperti apa yang diperbuat oleh si polan (orang ketiga)', lantas dia mendapatkan dosa niatnya, sehingga dosa keduanya sama."
Diriwayatkan oleh TirmiżiAda tiga perkara yang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersumpah padanya serta beliau menyampaikan satu hadis kepada para sahabat. Adapun tiga perkara itu, yaitu: 1- Tidak berkurang harta seorang hamba karena sedekah; yaitu tak akan berkurang keberkahannya lantaran memberi sedekah. 2- Tidaklah seorang hamba dizalimi dengan suatu kezaliman lalu dia bersabar atasnya kecuali dengan sebab itu Allah akan menambah kemuliaannya, kezaliman apa pun jenisnya, sekalipun kesabaran itu mengandung semacam kehinaan, kecuali dengannya Allah akan memuliakannya dan menghinakan pelaku kezaliman. 3- Tidaklah seorang hamba membuka pada dirinya pintu minta-minta kepada manusia, bukan karena ada keperluan atau kedaruratan, melainkan untuk memperkaya diri dan menambah kekayaan, kecuali Allah akan menjadikannya fakir dengan dibukakan pintu kebutuhan yang lain atau diambil nikmat yang dimilikinya. Kemudian beliau menyebutkan bahwa dunia itu untuk empat macam manusia: 1- Hamba yang diberikan oleh Allah karunia harta dan ilmu, lantas dia bertakwa sehingga hanya membelanjakan harta itu pada tempat yang benar, mengamalkan ilmunya, dan menyambung silaturahmi; orang yang seperti ini kedudukannya paling utama. 2- Hamba yang diberikan oleh Allah karunia ilmu namun tidak diberikan harta, lantas dia tulus dalam niatnya dengan mengatakan, "Kalau saja aku memiliki harta, aku akan mengamalkan seperti amalan hamba yang pertama"; maka dia mendapatkan pahala sesuai niatnya sehingga pahala keduanya sama. 3- Hamba yang diberikan karunia harta namun tidak diberikan ilmu, lantas dia tenggelam dalam hartanya tanpa ilmu; di dalamnya dia tidak bertakwa kepada Rabb-nya, tidak menyambung tali silaturahimnya, dan tidak mengetahui hak Allah di dalamnya; orang yang seperti ini kedudukannya paling buruk. 4- Hamba yang tidak diberikan oleh Allah karunia harta maupun ilmu lalu dia mengatakan, "Seandainya aku memiliki harta, tentu aku akan menggunakannya seperti perbuatan hamba yang ketiga"; maka dia akan mendapatkan dosa sesuai niatnya sehingga dosa keduanya sama.
Zaid bin Arqam -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Tidaklah aku sampaikan kepada kalian kecuali sebagaimana yang diucapkan oleh Rasulullah ﷺ, yaitu beliau berdoa: Allāhumma innī a'ūżu bika minal-'ajzi wal-kasali, wal-jubni wal-bukhli, wal-harami, wa 'ażābil-qabri. Allāhumma āti nafsī taqwāhā, wa zakkihā anta khairu man zakkāhā, anta waliyyuhā wa maulāhā. Allāhumma innī a'ūżu bika min 'ilmin lā yanfa' wa min qalbin lā yakhsya' wa min nafsin lā tasyba' wa min da'watin lā yustajābu lahā. Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, dari sifat takut dan bakhil, serta pikun dan azab kubur. Ya Allah, berilah jiwaku ketakwaan serta sucikanlah ia, sesungguhnya Engkau sebaik-baik yang menyucikannya. Engkaulah pelindung dan penolongnya. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, nafsu yang tidak bisa puas, dan doa yang tidak terkabul."
HR. MuslimDi antara doa Nabi ﷺ: Allāhumma innī a'ūżu bika, artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu. Minal-'ajzi, artinya: dari sifat lemah, yaitu ketidakmampuan melakukan upaya berguna. Wal-kasali, artinya: dan sifat malas, yaitu tidak memiliki motivasi untuk berbuat karena orang lemah itu adalah yang tidak berdaya, sedangkan orang malas adalah yang tidak menginginkannya. Wal-jubni, artinya: sifat pengecut, yaitu tidak berani melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Wal-bukhli, artinya: sifat pelit, dengan menahan sesuatu yang wajib ditunaikan. Wal-harami, artinya: usia tua renta yang mengakibatkan lemahnya fisik. Wa 'ażābil-qabri, artinya: siksa kubur serta sebab-sebab yang menjadi pengantarnya. Allāhumma āti nafsī, artinya: Ya Allah, berilah jiwaku dan mudahkan baginya. Taqwāhā, artinya: ketakwaannya, yaitu dengan melaksanakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Wa zakkihā, artinya: sucikanlah ia dari keburukan dan akhlak-akhlak rendah. Anta khairu man zakkāhā, artinya: Engkau sebaik-baik yang menyucikannya, tidak ada siapa pun yang dapat menyucikannya selain Engkau. Anta waliyyuhā, artinya: Engkau penolongnya dan yang mengurusnya. Wa maulāhā, artinya: dan pelindungnya, yaitu yang mengurus urusannya, sebagai tuhan dan pemiliknya, dan yang menganugerahinya karunia. Allāhumma innī a'ūżu bika min 'ilmin lā yanfa'; artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, seperti ilmu nujum, perdukunan, dan sihir, serta ilmu yang tidak berguna di akhirat atau ilmu yang tidak dapat diaplikasikan. Wa min qalbin lā yakhsya', artinya: dari hati yang tidak khusyuk, yaitu hati yang tidak khusyuk dan tunduk kepada-Mu, serta hati yang tidak menemukan ketenangan dan ketenteraman dengan berzikir kepada-Mu. Wa min nafsin lā tasyba', artinya: dari jiwa yang tidak bisa puas, yaitu tidak merasa cukup dengan rezeki halal lagi baik yang Allah berikan. Wa min da'watin, artinya: dan dari doa, yaitu doa yang tertolak. Lā yustajābu lahā, artinya: yang tidak dikabulkan.