





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari kelaparan karena sesungguhnya ia adalah sejelek-jelek teman tidur, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat khianat karena sesungguhnya ia adalah sejelek-jelek kawan dekat."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu DaudNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berlindung dari kelaparan, karena sesungguhnya lapar itu adalah sejelek-jelek teman, karena ia menghalangi ketenangan jiwa dan hati. Beliau juga berlindung diri dari sifat berkhianat terhadap amanat orang lain dan amanat sang Khālik, karena khianat itu adalah sejelek-jelek sifat seseorang.
Ali -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa seorang budak mukātab datang kepadanya lalu berkata, "Aku tidak sanggup melunasi kesepakatan tebusanku, bantulah aku!" Ali berkata, "Maukah engkau kuajarkan beberapa kalimat yang telah diajarkan Rasulullah ﷺ padaku, yang seandainya engkau memiliki utang sebesar gunung Ṣīr, pasti Allah melunasinya untukmu? Ucapkanlah: Allāhumma-kfinī biḥalālika 'an ḥarāmika, wa a'innī bifaḍlika 'amman siwāka (Ya Allah! Cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal hingga aku terhindar dari yang Engkau haramkan. Ya Allah! Berilah aku kecukupan dengan karunia-Mu hingga aku tidak meminta kepada selain Engkau)."
HR. TirmiziSeorang budak mukātab, yaitu yang telah bersepakat dengan majikannya untuk menebus dan memerdekakan dirinya supaya menjadi orang merdeka tetapi tidak memiliki harta, datang menemui Amirul Mukminin Ali bin Abi Ṭālib -raḍiyallāhu 'anhu- dan berkata: Aku tidak mampu melunasi apa yang menjadi kewajibanku, maka bantulah aku untuk melunasinya dengan harta atau pengajaran dan arahan. Maka Amirul Mukminin berkata: Maukah kamu kuajari beberapa kalimat yang telah diajarkan Rasulullah ﷺ kepadaku, seandainya kamu memiliki utang sebesar gunung bernama Ṣīr yang terdapat di kabilah Ṭayyi`, niscaya Allah akan melunaskannya untukmu kepada orang yang berhak dan menyelamatkanmu dari kehinaannya. Yaitu bacalah: Allāhumma-kfinī (ya Allah, cukupkanlah aku); palingkanlah dan jauhkanlah aku .. biḥalālika (dengan rezeki-Mu yang halal); cukupkanlah aku dengannya .. 'an ḥarāmika (dari terjerumus pada yang Engkau haramkan), wa a'innī bifaḍlika (berilah aku kecukupan dengan karunia-Mu); dengan kebaikan-Mu .. 'amman siwāka (dari meminta kepada selain Engkau) dari kalangan makhluk.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Tatkala seorang laki-laki berjalan dalam balutan sebuah pakaian yang ia merasa kagum pada dirinya, rambut kepalanya tersisir rapi dan berlagak sombong dalam jalannya, tiba-tiba Allah membenamkannya. Maka ia meronta-meronta di dalam tanah hingga hari kiamat."
Muttafaq 'alaihNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwasanya ada seorang laki-laki berjalan dengan sombong, ia mamakai pakaian bagus dan rambutnya tersisi rapi, Tiba-tiba Allah membenamkannya ke dalam tanah. Tanah longsor dan ia terkubur di dalamnya. Ia meronta-ronta di dalamnya hingga hari kiamat. Karena -semoga Allah melindungi kita- ketika ia merasa sombong, congkak dan kagum pada diri sendiri maka ia dibenamkan. Sabda beliau, "ia meronta-ronta di dalam tanah". Boleh jadi maksudnya, ia meronta-ronta dalam keadaan hidup seperti kehidupan dunia, sehingga ia tetap dalam kondisi seperti itu, tersiksa hingga hari kiamat. Ia disiksa di dalam bumi dalam kondisi hidup. Maka ia merasa tersiksa sebagaimana orang yang masih hidup. Boleh jadi pula maksudnya, tatkala ia terkubur, ia mati sebagaimana sunatullah -'Azza wa Jalla-. Ia mati, namun demikian ia masih meronta-ronta di dalam bumi dalam keadaan mati. Sehingga merontanya ini terjadi di alam barzakh yang kita tidak mengetahui bentuknya. Wallāhu a'lam. Yang jelas, inilah balasan bagi orang tersebut. Semoga Allah melindungi kita.
Dari Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa Ali bin Abi Thalib -raḍiyallāhu 'anhu- keluar dari rumah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat beliau sedang sakit yang menyebabkan beliau meninggal dunia. Orang-orang bertanya kepadanya, "Wahai Abu Al-Hasan, bagaimana keadaan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-?" Ia menjawab, "Al-hamdulillah, beliau sudah membaik."
Diriwayatkan oleh BukhariDari Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa Ali bin Abi Thalib -raḍiyallāhu 'anhu- keluar dari rumah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika sakit yang menyebabkan beliau meninggal dunia. Ali bin Abi Thalib adalah menantu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan sepupunya. Lantas Ali -raḍiyallāhu 'anhu- ditanya, "Bagaimana keadaan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-?" Ini merupakan kepedulian, kecintaan dan perhatian para sahabat kepada Nabi -'alaihi aṣ-ṣalātu wassalām-. Ali berkata, "Al-hamdulillah, dia sehat wal afiat."
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, dahulu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdoa, “Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada-Mu dari ketidak berdayaan, kemalasan, rasa takut (sifat pengecut), kepikunan dan kebakhilan. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur, dan aku memohon perlindungan kepadaMu dari fitnah hidup dan mati.” Dalam riwayat lain: “…dan lilitan hutang serta tekanan orang lain.”
Diriwayatkan oleh Bukhari - Muttafaq 'alaihHadis ini dapat dianggap sebagai Jawāmi’ al-Kalim, yaitu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyampaikan makna-makna yang komprehensif dengan kalimat singkat namun padat, karena di dalamnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memohon perlindungan dari sejumlah penyakit dan keburukan yang menghalangi gerakan perjalanan seorang hamba kepada Allah. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memohon perlindungan kepada Allah dari: “ketidak berdayaan dan kemalasan”; keduanya adalah dua sejoli yang menghalangi kebangkitan. Tidak bergerak melakukan sesuatu itu bisa jadi disebabkan lemahnya semangat dan minimnya kemauan –dan itulah kemalasan-. Seorang pemalas adalah manusia yang paling lemah semangatnya dan paling minim kemauannya. Tidak berbuat juga bisa disebabkan oleh ketidakmampuan seorang hamba, dan itulah kelemahan (ketidak berdayaan). “rasa takut/pengecut dan kebakhilan”; dan keduanya termasuk penghalang menunaikan kewajiban dan kebaikan. Rasa takut akan melemahkan hati seseorang hingga tidak melakukan amar makruf nahi munkar, disebabkan kelemahan hati dan kebergantungannya pada manusia, bukan kepada Tuhan manusia. Sehingga Anda akan melihat seorang penakut tidak akan melakukan apa-apa kecuali sesuai dengan kehendak dan perintah orang lain. Ia telah memindahkan penghambaannya dari Allah -Ta’ālā- kepada makhluk-Nya. Sementara kebakhilan akan menjebak pemiliknya untuk menahan harta pada momen berinfak. Maka ia tidak memberikan apa yang menjadi hak Sang Khaliq berupa: zakat, juga tidak menunaikan hak makhluk berupa: infak/nafkah. Sehingga ia menjadi orang yang dibenci manusia juga Allah sebagai Tuhannya. “Kepikunan” adalah sampainya seseorang pada usia lanjut/renta. Jika manusia telah sampai pada usia renta, panca inderanya akan banyak kehilangan fungsinya, kekuatannya semakin kendor, hingga ia tidak lagi mampu beribadah kepada Allah -Ta’ālā- dan tidak lagi mampu memberi manfaat kepada keluarganya. Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memohon perlindungan dari siksa kubur. Dan azab kubur itu adalah sesuatu yang haq, karena itu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mensyariatkan kepada kita untuk memohon perlindungan kepada Allah dari siksanya di setiap shalat. Kemudian memohon perlindungan dari fitnah kehidupan dan kematian, agar mencakup 2 wilayah ini. Maka fitnah (ujian) kehidupan adalah musibah dan cobaannya. Dan “fitnah kematian” adalah dengan mengkhawatirkan dirinya mengalami su`ul khatimah dan akhir yang buruk, serta fitnah 2 malaikat dalam kubur dan yang lainnya. Dalam riwayat lain: “dan lilitan hutang dan tekanan orang lain”, keduanya merupakan bentuk intimidasi. Lilitan hutang artinya berat dan bebannya hingga tidak ada yang dapat membantu. Ini adalah bentuk tekanan dari orang lain namun dengan cara yang hak. Sementara “penindasan orang lain” artinya intimidasi mereka, dan ini adalah penguasaan dengan cara yang batil.
Dari Abdullah bin Sarjis -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila bepergian beliau berlindung dari kesulitan safar, duka ketika pulang, al-haur ba'da al-kaun (kembali pada keburukan setelah tadinya dalam kebaikan), doa orang yang dizalimi dan pemandangan buruk terkait keluarga dan harta."
Diriwayatkan oleh MuslimNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berlindung kepada Allah dari kesulitan safar dan kembali dari safar dalam keadaan berduka karena terkena musibah dalam keluarga atau hartanya. Beliau juga berlindung kepada Allah dari rusaknya keadaan dan memohon agar diselamatkan dari doa orang yang dizalimi.
Dari Abdullah bin 'Amr bin Al- 'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū', "Satu orang pengendara adalah satu setan, dua orang pengendara adalah dua setan, sedangkan tiga pengendara adalah rombongan musafir."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh MalikIni adalah peringatan agar jangan melakukan safar seorang diri, atau safar berdua. Hal ini apabila jalan yang dia lalui sepi tidak dilewati orang. Bila satu orang jelas, agar dia dapat meminta tolong bila dibutuhkan atau bila meninggal dan agar tidak menjadi korban tipu daya setan. Sedangkan dua orang, boleh jadi yang satu kena sesuatu hingga tinggal satu orang saja. Adapun di zaman kita, bepergian dengan mobil dsb di jalan lapang penuh dengan para musafir tidak dikatakan menyendiri dan seorang pengendara tidak dikatakan setan karena mereka safar seperti kafilah. Contoh jalan Mekkah - Riyadh atau Mekkah - Jeddah. Akan tetapi di jalan yang terasing, sepi dari musafir maka itu dianggap seorang diri dan tercakup makna hadis.
Salman al-Fārisiy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Ada tiga golongan manusia yang tidak diajak bicara oleh Allah, tidak disucikan, dan bagi mereka azab yang pedih: orang tua yang pezina, orang miskin yang angkuh (sombong), dan orang yang menjadikan Allah sebagai barang dagangannya, yaitu tidak membeli dan menjual melainkan sambil bersumpah."
HR. TabaraniNabi ﷺ mengabarkan tentang tiga golongan manusia yang berhak mendapatkan siksa Allah kelak hari Kiamat dengan tiga siksaan jika mereka tidak bertobat atau hukuman tersebut tidak dimaafkan: Pertama: Allah tidak mau berbicara dengan mereka kelak di hari Kiamat lantaran sangat marah, bahkan Allah berpaling dari mereka, atau Allah berbicara kepada mereka dengan perkataan yang tidak membahagiakan mereka, justru menunjukkan murka-Nya. Kedua: Allah tidak menyucikan mereka, tidak memuji mereka, dan tidak membersihkan mereka dari dosa. Ketiga: Bagi mereka siksa yang keras dan pedih di akhirat. Golongan-golongan tersebut adalah: Pertama: Laki-laki tua yang terjerumus dalam kekejian zina. Kedua: Orang fakir yang tidak punya harta, kendati demikian ia bersikap sombong terhadap manusia. Ketiga: Orang yang banyak bersumpah dengan nama Allah dalam jual beli, sehingga ia melecehkan nama Allah dan menjadikannya sebagai wasilah mengumpulkan harta.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', Apabila kalian bepergian ke tempat yang subur, berikanlah unta itu bagiannya dari bumi. Apabila kalian bepergian ke tempat yang gersang, maka percepatlah perjalanannya, dan segerakanlah (sebelum habis) sumsumnya. Apabila kalian bermalam maka jauhilah jalanan, karena itu adalah lalu lintas binatang-binatang tunggangan yang lain dan binatang-binatang melata di waktu malam.
Diriwayatkan oleh MuslimHadis ini menunjukkan perhatian Islam terhadap kemaslahatan manusia dan binatang-binatang di mana Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengarahkan para musafir kepada berbagai adab berikut ini: Beliau memerintahkan kepada orang musafir apabila mengadakan perjalanan dengan mengendarai binatang tunggangan berupa unta atau keledai atau bighal atau kuda, hendaknya ia memperhatikan kemaslahatan binatang itu dalam penggembalaan dan perjalanan. Sebab, ia bertanggung jawab terhadap binatang-binatang itu. Jika ia mengadakan perjalanan di musim yang banyak tanaman dan makanan ternak, maka ia harus perlahan-lahan dan tidak berjalan dengan cepat hingga ia bisa memberi binatang-binatang itu haknya dalam penggembalaan (makanan). Jika ia melakukan perjalanan di hari-hari yang sedikit tanaman dan makanan ternak, hendaknya ia berjalan cepat hingga tidak membuat binatang kepayahan dan kelelahan. Demikian juga Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyuruh orang musafir apabila singgah di malam hari untuk istirahat dan tidur, hendaknya ia tidak melakukannya di pinggir jalan karena itu adalah lalu lintasnya binatang-binatang para musafir yang datang dan pergi. Karena itu ia tidak boleh merintangi binatang-binatang itu dari jalurnya karena ini berbahaya. Demikian juga jalan-jalan itu merupakan tempat serangga-serangga dan binatang-binatang melata di bumi termasuk binatang beracun dan binatang buas yang melintas di malam hari di jalan-jalan tersebut karena mudah dan memungut makanan dan sejenisnya yang jatuh ke jalan.