





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat-Nya, seperti perbandingan orang hidup dengan orang mati." Dalam redaksi Muslim disebutkan: "Perumpamaan rumah yang di dalamnya ada zikir kepada Allah dan rumah yang di dalamnya tidak ada zikir kepada Allah, seperti perbandingan orang yang hidup dengan orang yang mati."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ menjelaskan perbedaan antara orang yang berzikir kepada Allah Ta'ala dengan orang yang tidak berzikir, yaitu seperti perbedaan antara orang yang hidup dengan orang mati dalam hal manfaatnya dan keindahan penampilannya. Perumpamaan orang yang berzikir mengingat Tuhannya seperti orang hidup yang memiliki penampilan lahiriah yang indah lantaran cahaya kehidupan, demikian juga batinnya hidup dengan cahaya pengetahuan dan memiliki manfaat. Sedangkan perumpamaan orang yang tidak berzikir kepada Allah seperti orang mati yang lahirnya tidak berguna, batinnya kosong dan tidak memiliki manfaat. Demikian juga halnya dengan rumah, disifati sebagai rumah yang hidup jika para penghuninya berzikir kepada Allah. Jika tidak, maka rumah itu adalah rumah mati karena kelalaian penghuninya dari mengingat Allah. Jika disebutkan kata hidup dan mati dalam menyifati rumah, maka maksudnya adalah penghuninya.
Abu Sa'īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Suatu hari, Nabi ﷺ duduk di atas mimbar sedangkan kami duduk di sekitarnya. Beliau bersabda, "Sungguh, di antara yang aku khawatirkan pada kalian sepeninggalku ialah perhiasan dan kenikmatan dunia yang dibukakan pada kalian." Lantas seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah kebaikan dapat mendatangkan keburukan?" Akan tetapi, Nabi ﷺ diam, sehingga dikatakan pada orang itu, "Ada apa denganmu? Engkau berbicara kepada Nabi ﷺ, tetapi beliau tidak menjawabmu?" Lalu kami melihat wahyu turun kepada beliau. Kemudian beliau menyeka keringatnya seraya bertanya, "Mana yang bertanya?" Seakan beliau menyanjungnya. Beliau bersabda, "Kebaikan hakiki itu tidak akan mendatangkan keburukan. Tetapi, sebagian tumbuhan yang tumbuh di musim semi dapat mematikan atau mendekatinya kecuali hewan pemakan rumput yang hijau. Ia makan, kemudian ketika kedua pinggulnya melebar (perutnya penuh), ia menghadap ke matahari lalu buang kotoran, kencing dan merumput. Sungguh, harta itu hijau dan manis. Maka, sebaik-baik harta yang dimiliki seorang muslim adalah yang ia berikan sebagiannya kepada orang miskin, anak yatim dan Ibnu sabil -atau sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi ﷺ-. Sungguh, orang yang mengambil harta dengan cara yang tidak benar seperti orang yang makan tetapi tidak kenyang, kelak di hari Kiamat harta itu akan menjadi saksi yang memberatkannya."
Muttafaq 'alaihSuatu hari, Nabi ﷺ duduk di atas mimbar untuk berbicara kepada sahabat-sahabatnya. Beliau bersabda: Sungguh, yang paling banyak aku khawatirkan dan aku takutkan pada kalian sepeninggalku nanti ialah akan dibukakan pada kalian keberkahan bumi, kenikmatan, perhiasan dan keindahan dunia berikut aneka macam harta benda, pakaian, pertanian dan lain sebagainya yang dibanggakan keindahannya oleh manusia padahal hidupnya sebentar. Lalu ada seseorang bertanya: Perhiasan dunia adalah kenikmatan yang berasal dari Allah, apakah kenikmatan itu dapat berbalik dan berubah menjadi azab dan siksaan?! Orang-orang pun memarahi si penanya karena mereka melihat Nabi ﷺ diam dan mereka menyangka beliau marah karena orang itu. Ternyata wahyu sedang turun kepada beliau. Kemudian beliau menyeka keringat dari keningnya seraya bertanya: Mana orang yang bertanya? Dia menjawab: Saya. Kemudian Nabi ﷺ memuji Allah dan menyanjung-Nya seraya bersabda: Kebaikan sejati tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan. Tetapi, kenikmatan dunia itu bukan kebaikan murni karena dapat menimbulkan fitnah, perebutan, dan kelalain dari menyongsong akhirat secara sempurna. Kemudian beliau membuatkan sebuah perumpamaan untuk hal itu. Beliau bersabda: Tumbuhan dan rerumputan yang tumbuh pada musim semi dapat melenakan hewan lalu membunuhnya karena ia banyak makan lalu kekenyangan, atau hampir membunuhnya. Kecuali hewan pemakan rumput; ia makan, lalu ketika dua sisi perutnya telah penuh, ia menghadap ke matahari lalu membuang kotoran dari perutnya atau kencing, kemudian ia menaikkan kembali makanan yang ada dalam perutnya lalu mengunyahnya dan menelannya. Kemudian ia kembali lagi dan merumput. Harta kekayaan itu seperti tumbuhan hijau yang manis. Dapat mematikan atau hampir mematikan akibat saking banyaknya. Kecuali jika dicukupkan dengan yang sedikit sesuai kebutuhan dan kecukupan melalui cara yang halal, maka tidak akan mencelakakan. Sebaik-baik harta yang dimiliki seorang muslim adalah ketika dia yang memberikan sebagiannya kepada orang miskin, anak yatim dan ibnu sabil. Orang yang mendapatkan harta dengan cara yang benar akan mendapatkan keberkahan pada hartanya. Sementara orang yang mendapatkannya dengan cara yang tidak benar, perumpamaannya adalah semisal orang yang makan dan tidak kenyang, dan harta itu akan menjadi saksi yang memberatkannya kelak pada hari Kiamat.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Seorang lelaki datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata,"Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku pergauli dengan baik?" Beliau bersabda, "Ibumu." Orang itu bertanya lagi, "Lalu siapa?" Beliau menjawab, "Ibumu." Orang itu bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Nabi bersabda, "Ibumu." Orang itu bertanya lagi, "Lalu siapa?" Beliau bersabda, "Bapakmu." Muttafaq 'alaih. Dalam riwayat lain disebutkan, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang lebih berhak aku pergauli dengan baik?" Beliau menjawab, "Ibumu, lalu ibumu, lalu ibumu, lalu bapakmu. Lalu orang yang terdekat denganmu, dan yang terdekat denganmu."
Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq 'alaihHadis ini menunjukkan bahwa masing-masing dari kedua orang tua memiliki hak untuk mendapatkan pergaulan yang baik dan perhatian yang sempurna terhadap berbagai urusannya, "Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara makruf." Hanya saja, hak ibu beberapa derajat di atas hak bapak. Sebab, hak bapak tidak disebutkan kecuali setelah memberikan penegasan yang sempurna mengenai hak ibu dengan menyebutnya tiga kali. Derajat ibu menjadi lebih tinggi dari derajat seorang ayah, padahal kedua-duanya sekutu (partner) dalam mendidik anak. Sang bapak dengan harta dan perhatiannya, dan seorang ibu dengan pelayanannya dalam memberikan makanan, minuman, pakaian, kasur dan sebagainya. Juga karena seorang ibu menderita kepayahan memelihara anaknya yang tidak pernah dirasakan seorang bapak. Ibu mengandungnya sembilan bulan dengan kelemahan di atas kelemahan, keletihan di atas keletihan, dan ia pun melahirkannya dengan susah payah. Kematian hampir saja menyambarnya karena kesusahan yang dideritanya. Demikian juga seorang ibu menyusui anaknya selama dua tahun sambil begadang demi kenyamanan anaknya dan bekerja untuk kemaslahatannya, meskipun rasa pedih tetap ada padanya dalam menjalankan semua itu. Karena itu, wahyu berbicara, "Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan." Engkau lihat Allah memerintahkan manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Allah tidak menyebutkan sebab-sebab kecuali apa yang diderita oleh seorang ibu sebagai isyarat besarnya hak ibu. Di antara etika mempergauli kedua orang tua dengan baik yaitu memberi mereka nafkah berupa makanan, minuman, tempat tinggal dan pakaian serta berbagai kebutuhan hidup lainnya, jika keduanya membutuhkannya. Bahkan, jika keduanya ada dalam kehidupan yang minim atau pertengahan, sedangkan engkau hidup nyaman dan sejahtera, maka angkatlah keduanya ke derajat kehidupanmu atau lebih. Sesungguhnya itu adalah bentuk berbuat baik dalam mempergauli keduanya. Ingatlah apa yang dilakukan Yusuf terhadap kedua orang tuanya saat dirinya sudah diberi kekuasaan, ia mengangkat mereka ke atas singgasananya setelah membawa mereka dari perkampungan. Di antara pergaulan yang baik, bahkan penghimpun semua urusan ialah sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dengan firman-Nya, "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkahlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil." Cegahlah lisan yang buruk dari keduanya, jauhkanlah keduanya dari berbagai gangguan, lembutkanlah ucapanmu kepada keduanya, rendahkanlah dirimu terhadap keduanya, tundukkanlah dirimu untuk mentaatinya, basahilah lidahmu dengan doa bagi keduanya dari sanubari hatimu dan relung jiwamu, serta ucapkanlah, "Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil" Jangan lupa untuk menambah perhatian terhadap ibu sebagai implementasi dari isyarat wahyu dan penyesuaian (adaptasi) dengan logika hadis.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, sesungguhnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa bersedakah dengan sepasang (hewan, dll) di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, wahai hamba Allah, ini adalah kebaikan. Siapa yang gemar salat, maka dia dipanggil dari pintu salat; siapa yang gemar berjihad, maka dia akan dipanggil dari pintu jihad; siapa yang gemar berpuasa, maka dia akan dipanggil dari pintu Rayyān; siapa yang gemar bersedekah, maka dia akan dipanggil dari pintu sedekah." Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Ku persembahkan ayah ibuku sebagai tebusan untukmu wahai Rasulullah, tidak penting bagiku orang yang dipanggil dari tiap-tiap pintu (untuk masuk surga). Apakah ada orang yang dipanggil dari seluruh pintu?" Beliau bersabda, "Ya, dan aku berharap, engkaulah salah satu orangnya."
Muttafaq 'alaihSiapa bersedekah dengan sepasang hartanya, apakah berbentuk makanan, pakaian, kendaraan atau uang karena mengharap rida Allah, maka malaikat akan memanggilnya dari pintu surga dan menyambut kedatangannya. Dia berkata, "Engkau telah mempersembahkan banyak kebaikan, dan engkau akan dibalas dengan pahala yang banyak juga. Orang yang banyak salat, akan dipanggil dari pintu salat dan masuk surga dari pintu tersebut. Orang yang sering sedekah, dia akan masuk surga dari pintu tersebut. Yang banyak berpuasa, akan disambut malaikat dari pintu Rayyān seraya mengajak mereka untuk masuk surga dari pintu Rayyān. Arti kata Rayyan adalah meminum sampai lega dan hilang dahaganya. Karena orang-orang berpuasa menahan diri dari minum air sehingga mereka kehausan, khususnya pada musim panas yang panjang, maka haus mereka dibalas dengan minuman abadi di surga yang mereka masuki. Ketika Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- mendengar hadis ini, dia berkata, "Ku persembahkan ayah ibuku sebagai tebusan untukmu wahai Rasulullah, siapa saja yang masuk di antara pintu-pintu tersebut tidak akan merasakan kekurangan dan kerugian." Lalu dia bertanya, "Apakah ada orang yang dipanggil dari semua pintunya?" Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab: "Ya, aku berharap, engkau termasuk salah seorang dari mereka."
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa melihatku dalam tidurnya, niscaya ia akan melihatku dalam sadarnya - atau seakan-akan ia melihatku dalam sadarnya - karena setan tidak bisa menyerupaiku."
Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq 'alaihPara ulama berbeda pendapat mengenai penjelasan makna hadis ini menjadi beberapa pandangan, di antaranya: Pertama: Maksudnya adalah orang-orang yang hidup pada masa beliau. Artinya, orang yang melihat beliau dalam tidurnya dan tidak hijrah, niscaya Allah -Ta'ālā- memberikan taufik kepadanya untuk hijrah, dan melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di alam sadar dengan mata kepala sendiri. Kedua: Orang yang dilihat ketika itu benar-benar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, artinya di alam ruh, dan bahwa mimpinya tersebut adalah benar, dengan syarat dia melihat beliau sesuai dengan ciri-ciri beliau yang sudah dikenal. Ketiga: Dia akan melihat realisasi mimpi tersebut dalam kondisi sadar di akhirat dengan penglihatan khusus sebagai bentuk kedekatan dengannya, mendapatkan syafaatnya dan sebagainya. Sabda beliau, "atau seakan-akan ia melihatku dalam sadarnya " ini merupakan riwayat Muslim. Ia meriwayatkannya dengan ragu, "Apakah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Niscaya ia akan melihatku dalam sadarnya" atau beliau bersabda, "Seakan-akan ia melihatku dalam sadarnya." Artinya, orang yang melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika tidur dalam bentuk sebagaimana aslinya, seakan-akan orang itu melihatnya saat sadar. Ini seperti sabda Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain, "Siapa melihatku dalam tidur, sesungguhnya ia telah melihatku (dengan sebenarnya)." Dalam satu riwayat masih dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain, "Siapa melihatku dalam tidur, sesungguhnya ia telah melihat kebenaran." Sabda beliau, "Setan tidak bisa menyerupaiku," Dalam redaksi lain, "Siapa melihatku dalam tidur, maka ia telah melihatku, karena sesungguhnya setan tidak bisa menyerupai wujudku." Maksudnya, bahwa setan tidak mungkin bisa menyerupai Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam bentuk yang sebenarnya. Kalau tidak, maka setan akan datang dan berkata, "Sesungguhnya dia itu Rasulullah dalam wujud yang bukan wujud beliau, tentu ini bukan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Jika seseorang melihat manusia dan timbul dalam dirinya bahwa manusia itu adalah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, hendaknya ia meneliti sifat-sifat orang yang dilihatnya, apakah sesuai dengan sifat-sifat Nabi -'alaihiṣṣalātu was sallām- atau tidak? Jika sesuai, maka ia telah melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan jika tidak sesuai maka itu bukan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, tetapi itu khayalan dari setan yang ditimpakan kepada orang yang tidur bahwa wujud itu adalah Rasulullah, padalah itu bukan beliau. Ahmad dan At-Tirmiżi meriwayatkan dalam Asy-Syamā`il dari Yazid Al-Fārisi seraya berkata, Aku pernah melihat Rasulullah dalam tidur, lalu aku berkata kepada Ibnu Abbas, "Sesungguhnya aku melihat Rasulullah dalam tidur." Ibnu Abbas berkata, "Sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda, 'Sesungguhnya setan tidak bisa menyerupaiku. Barangsiapa melihatku dalam tidur, maka sesungguhnya ia telah melihatku.' Apakah engkau bisa menggambarkan orang yang engkau lihat?" Aku jawab, "Ya." Setelah selesai menggambarkannya, Ibnu Abbas berkata, "Seandainya engkau melihatnya saat sadar, niscaya engkau tidak akan mampu menggambarkannya lebih dari itu." Maksudnya, seandainya engkau melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam kondisi terjaga, niscaya engkau tidak akan mampu menggambarkan lebih dari apa yang engkau gambarkan. Ini berarti bahwa ia benar-benar telah melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
An-Nu'mān bin Basyīr -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah orang yang diberikan dua sandal dan dua tali sandal dari api neraka lalu otaknya mendidih akibat keduanya sebagaimana kuali yang mendidih. Dia tidak mengira ada orang yang lebih berat lagi siksanya, padahal ia adalah penghuni neraka yang paling ringan siksanya."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan bahwa penghuni neraka yang paling ringan siksanya kelak pada hari Kiamat adalah orang yang memakai dua sandal yang bertali dua, lalu otaknya mendidih karena panas keduanya sebagaimana kuali tembaga yang mendidih. Ia tidak menduga ada orang lain yang lebih berat siksanya dari dirinya, padahal dia adalah penghuni neraka yang paling ringan siksanya. Alasannya adalah supaya terkumpul padanya siksa badan dan jiwa.
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Mayat itu akan diikuti oleh 3 perkara: keluarga, harta dan amalnya. Dua perkara akan pulang kembali, dan yang satu akan tinggal (bersamanya). Keluarga dan hartanya akan kembali, dan yang tinggal adalah amalnya."
Muttafaq 'alaihMakna hadis: Jika manusia mati, ia akan diikuti oleh para pengantarnya: keluarganya akan ikut mengantarkannya ke kubur; Hartanya juga akan mengikutinya, yaitu para budak dan hamba sahaya yang dimilikinya; Dan amalnya juga ikut serta bersamanya. Dua pengiring itu akan kembali, dan yang tinggal bersama hanyalah amalnya. Jika amalnya baik, maka kebaikanlah yang ia dapatkan. Jika amalnya buruk, maka keburukanlah yang ia dapatkan.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Hendaklah yang berkendara mengucapkan salam kepada yang berjalan kaki, dan yang berjalan kaki mengucapkan salam kepada yang duduk, dan yang berjumlah sedikit mengucapkan salam kepada yang berjumlah banyak." Dalam riwayat Al-Bukhari, "Hendaklah yang muda mengucapkan salam kepada yang lebih tua, pejalan kaki (mengucapkan salam) kepada yang duduk, dan yang berjumlah sedikit (mengucapkan salam) kepada yang berjumlah banyak."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengajarkan adab memberi salam di tengah masyarakat. Salam yang dimaksud adalah ucapan "As-salāmu 'alaikum waraḥmatullāhi wabarakātuh" (Semoga Anda diberikan keselamatan dan rahmat dari Allah, serta keberkahan dari-Nya). Orang yang muda memberi salam kepada yang tua, yang berkendara memberi salam kepada yang berjalan kaki, yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, dan yang berjumlah sedikit memberi salam kepada yang banyak.
An-Nawwās bin Sim'ān Al-Anṣāriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kebajikan dan dosa. Beliau bersabda, "Kebajikan itu adalah akhlak baik. Sedangkan dosa adalah apa yang bergejolak di dalam dadamu dan engkau tidak suka ada orang lain yang melihat kamu melakukannya."
HR. MuslimNabi ﷺ ditanya tentang kebajikan dan dosa. Maka beliau bersabda: Perkara kebajikan yang paling besar adalah berakhlak baik kepada Allah dengan bertakwa dan berakhlak baik kepada manusia dengan bersabar terhadap gangguan mereka, mengurangi marah, bermuka ceria, berbicara baik, menyambung silaturahmi, bersikap lembut, berbuat baik, dan bergaul dengan baik. Adapun dosa, maka ia adalah perkara-perkara syubhat yang bergolak dalam jiwa, dada tidak merasa tenang terhadapnya, ada keraguan dalam hati, khawatir itu dosa dan engkau tidak mau menampakkannya kepada tokoh, panutan dan orang-orang saleh karena hal itu buruk. Hal itu karena tabiat manusia senang dilihat kebaikannya. Sebab itu, jika ia tidak suka dilihat sebagian perbuatannya, itu adalah perbuatan dosa yang tidak mengandung kebaikan.