





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Semua umatku dimaafkan kecuali yang berbuat dosa terang-terangan. Sungguh, termasuk berbuat dosa terang-terangan ialah seseorang berbuat dosa di malam hari, sementara Allah telah menutupinya, namun keesokan harinya ia malah bercerita, 'Wahai fulan, tadi malam aku melakukan ini dan itu.' Padahal, Tuhannya telah menutupinya di malam harinya, tetapi pada pagi harinya ia justru membuka apa yang telah Allah tutup."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ menerangkan bahwa seorang muslim yang berbuat dosa masih diharapkan akan mendapatkan maaf dan ampunan dari Allah, kecuali yang melakukan maksiat secara terang-terangan dengan angkuh dan tanpa malu, maka ia tidak berhak mendapatkan ampunan. Ia melakukan kemaksiatan di malam hari, padahal Allah telah menutupinya, tetapi di pagi harinya ia justru bercerita kepada orang lain bahwa ia telah melakukan kemaksiatan tertentu kemarin. Tuhan menutupinya di malam hari, tetapi di pagi harinya ia membuka apa yang sudah Allah tutup.
Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda pada waktu tiga hari sebelum beliau meninggal dunia, "Jangan sekali-kali kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah."
HR. MuslimNabi Muhammad ﷺ mendorong seorang muslim agar tidak meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah dengan menguatkan sisi harapan saat menjelang kematian bahwa Allah akan merahmati dan mengampuninya, karena rasa takut diperintahkan untuk memperbaiki amal, sementara waktu itu bukan waktu untuk beramal, sehingga yang diperintahkan pada waktu itu ialah menguatkan sisi harapan.
Ibnu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku bertemu Nabi Ibrahim pada malam aku diperjalankan (malam Isra Mikraj). Ia berkata, 'Wahai Muhammad! Sampaikanlah salamku untuk umatmu. Sampaikan kepada mereka bahwa tanah surga itu semerbak, airnya tawar, ia merupakan tempat yang luas dan tak berpohon, dan penumbuh pepohonannya adalah bacaan: Subḥānallāh wal-ḥamdulillāh wa lā ilāha illallāh wallāhu akbar.'"
HR. TirmiziNabi ﷺ mengabarkan bahwa beliau bertemu Ibrahim Al-Khalīl -'alaihissalām- pada malam Isra Mikraj. Ia berkata: Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu. Sampaikan kepada mereka bahwa tanah surga itu semerbak dan airnya tawar, tidak bergaram. Juga sampaikan bahwa tanah surga itu luas, rata, dan kosong dari pepohonan. Tetapi, penumbuh pepohonannya adalah kalimat-kalimat yang baik, yaitu al-bāqiyātuṣ-ṣāliḥāt (amalan kekal lagi saleh): Subḥānallāh wal-ḥamdulillāh wa lā ilāha illallāh wallāhu akbar. Setiap kali seorang muslim mengucapkan dan mengulanginya, ditanamkan untuknya satu pohon dalam surga.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidak ada yang tersisa dari kenabian selain Al-Mubasy-syirāt." Para sahabat bertanya, "Apa Al-Mubasy-syirāt itu?" Beliau bersabda, "Mimpi yang baik."
Diriwayatkan oleh BukhariNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengisyaratkan bahwa mimpi baik adalah mubasy-syirāt. Dan itu merupakan peninggalan kenabian yang masih tersisa setelah wahyu terputus. Tidak ada lagi yang tersisa untuk mengetahui apa yang akan terjadi kecuali mimpi yang baik.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Seandainya aku mempunyai emas seperti gunung Uhud, tentu aku sangat senang sekali jika tidak berlalu tiga malam dalam keadaan aku masih memiliki sebagian harta itu kecuali sedikit yang aku sisihkan untuk (bayar) utang."
Muttafaq 'alaih, dan ini redaksi BukhariSeandainya aku memiliki harta kekayaan berupa emas murni sebesar gunung Uhud, niscaya aku akan menginfakkan seluruhnya di jalan Allah dan aku tidak akan menyisakannya kecuali yang aku butuhkan untuk memenuhi hak-hak orang dan membayar utangku.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Seorang laki-laki bertanya, "Wahai Rasulullah! Aku mempunyai beberapa orang kerabat. Aku menyambung hubungan tali kekeluargaan dengan mereka, tetapi mereka memutuskannya dariku. Aku berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka berbuat buruk kepadaku. Aku senantiasa bersikap lembut kepada mereka, tetapi mereka bersikap jahat kepadaku." Beliau bersabda, "Seandainya apa yang engkau katakan itu benar, seakan-akan engkau menyuapkan abu panas ke mulut mereka. Allah akan senantiasa menolongmu atas mereka selama engkau tetap berbuat demikian."
HR. MuslimSeorang laki-laki datang mengadu kepada Nabi ﷺ bahwa ia memiliki kerabat dan keluarga. Ia bergaul dengan mereka secara baik, tetapi mereka memperlakukannya dengan kebalikannya. Ia menyambung silaturahmi dan mendatangi mereka, tetapi mereka memutusnya. Ia berbuat kebaikan kepada mereka serta menunaikan hak mereka, tetapi mereka berbuat buruk kepadanya dan menzaliminya. Ia bersikap lembut kepada mereka dan memaafkan, tetapi mereka bersikap buruk dengan perkataan dan perbuatan. Apakah ia tetap lanjut menyambung mereka dengan semua yang disebutkan? Nabi ﷺ bersabda kepadanya: Jika faktanya seperti yang engkau sebutkan, maka engkau sedang mempermalukan dan menghinakan mereka pada diri mereka sendiri. Seolah engkau sedang menyuapi mereka abu yang panas karena banyaknya kebaikanmu dan buruknya perbuatan mereka pada diri mereka sendiri. Engkau akan senantiasa mendapatkan pertolongan dari Allah atas mereka dan pembelaan dari gangguan mereka selama engkau berbuat baik pada mereka sementara mereka masih berbuat buruk kepadamu.
Dari Al-Mustaurid bin Syaddād -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Tidaklah dunia dibandingkan akhirat itu melainkan seperti ketika seorang dari kalian mencelupkan telunjuknya ke lautan, maka lihatlah apa yang tersisa (di tangannya)!”
Diriwayatkan oleh MuslimMakna hadis ini: Jika engkau ingin mengetahui hakikat dunia bila dibandingkan akhirat, maka letakkan jari telunjukmu ke lautan, kemudian angkatlah, lalu lihat apa yang masih tersisa (di telunjukmu)?! Tidak ada artinya air yang tersisa dibandingkan lautan itu. Inilah arti dunia dibandingkan dengan akhirat dari sisi masanya yang pendek dan kelezatannya yang fana, serta kelanggengan akhirat dan kenikmatannya; hanya seperti air yang melekat pada telunjuk dibandingkan air laut yang tersisa. Allah -Ta'ālā- berfirman, “Maka tidaklah nikmat kehidupan dunia dibandingkan akhirat itu kecuali sedikit.” Sehingga, seluruh kenikmatan dan kelezatan dunia yang diberikan kepada seluruh makhluk, dinikmati oleh hamba dalam waktu singkat, diliputi dengan kekurangan dan dipenuhi oleh kekeruhan; digunakan manusia berhias dalam masa yang sebentar demi kesombongan dan ria, lalu ia akan binasa dengan cepat dan diikuti dengan kerugian dan penyesalan. “Dan apapun yang diberikan kepada kalian, maka (itu) hanyalah nikmat kehidupan dunia dan perhiasannya, dan apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik dan abadi. Tidakkah kalian menggunakan akal kalian?” Maka apa yang ada di sisi Allah berupa kenikmatan abadi, kehidupan yang menyenangkan, istana dan kegembiraan, itu lebih baik dan abadi; baik kualitas dan kuantitasnya. Ia kekal untuk selamanya.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah suatu kaum bubar dari sebuah majelis sementara di dalamnya mereka tidak berzikir kepada Allah Ta'ala, melainkan mereka seperti bubar dari bangkai keledai, dan majelis itu akan menjadi penyesalan bagi mereka."
HR. Abu DaudNabi ﷺ mengabarkan bahwa tidaklah suatu kaum duduk di suatu perkumpulan lalu mereka bubar meninggalkannya sementara di dalamnya mereka tidak berzikir kepada Allah, melainkan mereka seperti orang-orang yang bubar dari mengerumuni bangkai keledai yang busuk dan kotor. Hal itu lantaran mereka sibuk dalam pembicaraan yang melalaikan dari berzikir kepada Allah. Kelak di hari Kiamat, perkumpulan tersebut akan menjadi sebab penyesalan dan kerugian abadi bagi mereka.
Dari Abu Żarr -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku pernah berjalan bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di tanah berbatu di Madinah, Uhud berada di hadapan kami. Lantas beliau bersabda, "Wahai Abu Żarr." Aku menjawab, "Aku memenuhi seruanmu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Aku tidak senang jika mempunyai emas seperti Uhud lalu tiga hari berlalu sedang padaku masih memiliki satu dinar dari emas tersebut kecuali sesuatu yang aku simpan untuk (membayar) utang. Aku katakan dengan emas itu pada hamba-hamba Allah, "Begini, begini dan begini." dari kanannya, kirinya dan belakangnya. Kemudian beliau berjalan lalu bersabda, "Sesungguhnya mayoritas itu menjadi minoritas pada hari kiamat kecuali orang yang memperlakukan hartanya begini, begini, dan begini," dari kanannya, kirinya, dan belakangnya. "Dan sedikit sekali dari mereka." Lantas beliau bersabda kepadaku, "Tetaplah di tempatmu dan jangan beranjak hingga aku mendatangimu!" Setelah itu beliau berangkat di kegelapan malam hingga tersembunyi. Tiba-tiba aku mendengar suara keras hingga aku cemas ada orang yang menghadang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- . Aku pun ingin mendatangi beliau, tetapi aku teringat sabdanya: "Janganlah engkau beranjak hingga aku mendatangimu!" Aku tidak beranjak sampai beliau mendatangiku lalu aku berkata: "Aku mendengar suara yang membuatku khawatir." Lantas aku memberitahukan hal itu kepadanya. Beliau bertanya: "Apakah engkau mendengarnya?" Aku menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Itulah Jibril yang mendatangiku." Dia berkata, "Siapa saja dari umatmu yang meninggal dunia tanpa menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, niscaya dia masuk surga." Aku bertanya, "Meskipun dia berzina dan meskipun mencuri?" Beliau bersabda, "Meskipun dia berzina dan mencuri."
Muttafaq 'alaihMakna hadis: Abu Żarr -aḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa dia pernah berjalan bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di tanah berbatu hitam di Madinah. Tiba-tiba Uhud, sebuah gunung yang terkenal, ada di hadapan mereka. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Aku tidak senang jika mempunyai emas seperti Uhud, lalu tiga hari berlalu sedang padaku masih terdapat satu dinar dari emas tersebut kecuali sesuatu yang aku simpan untuk hutang. Artinya, seandainya aku memiliki harta seukuran Uhud berupa emas murni, niscaya aku nafkahkan seluruhnya di jalan Allah dan aku tidak akan menyimpannya selain sesuatu yang aku perlukan untuk menunaikan hak-hak dan melunasi hutang-hutangku, dan tidak lebih dari itu. Sesungguhnya aku tidak akan merasa senang tiga hari berlalu sedangkan padaku masih ada sebagian emas itu. Ini menunjukkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah manusia paling zuhud di dunia, karena beliau tidak mau mengumpulkan harta benda selain yang beliau simpan untuk utang. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meninggal dunia dalam keadaan baju besinya digadaikan kepada seorang Yahudi demi gandum yang beliau ambil untuk nafkah keluarganya. Seandainya dunia itu dicintai Allah -'Azza wa Jalla-, tentu Dia tidak akan menghalangi Nabi-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- darinya. "Dunia itu terlaknat dan terlaknat pula apa yang ada di dalamnya selain zikir kepada Allah, apa yang dikuasai-Nya, orang berilmu dan orang yang belajar ilmu," serta amalan yang merupakan ketaatan kepada Allah 'Azza wa Jalla. Selanjutnya beliau bersabda, "Sesungguhnya orang yang banyak (hartanya) adalah yang paling sedikit (amalnya) pada hari kiamat." Yakni, orang yang memperbanyak dunia adalah orang yang sedikit amal salehnya pada hari kiamat. Sebab, biasanya orang yang banyak harta bendanya di dunia, ia akan merasa cukup, sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah karena dunia telah melalaikannya. Dengan demikian dia memperbanyak harta dunia dan sedikit amal untuk akhirat. Sabdanya, "Kecuali orang yang mengatakan dengan harta begini, begini dan begini." Yakni, mengenai harta dan menyalurkannya di jalan Allah -'Azza wa Jalla-. Kemudian beliau bersabda, "Dan sedikit sekali jumlah mereka." Maknanya bahwa orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah itu jumlahnya sedikit. Selanjutnya beliau bersabda, "Sesungguhnya orang yang meninggal dunia tanpa menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, niscaya dia akan masuk surga meskipun melakukan zina dan meskipun mencuri." Ini tidak berarti bahwa zina dan pencurian itu ringan (siksaanya), tetapi itu berat. Karena itulah, Abu Żar menganggapnya besar dan bertanya, "Meskipun dia berzina dan meskipun dia mencuri?" Beliau bersabda, "Meskipun dia berzina dan meskipun mencuri." Hal ini karena orang yang meninggal dunia dalam keadaan beriman namun mempunyai kemaksiatan berupa dosa-dosa besar, maka Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki." Allah mengampuninya dan tidak menyiksanya. Kadang juga menyiksanya, tetapi jika Dia menyiksanya maka tempat kembalinya ke surga. Sebab, setiap orang yang tidak menyekutukan Allah dan tidak melakukan suatu kekafiran, maka sesungguhnya tempat kembalinya ke surga. Adapun orang yang melakukan kekafiran dan mati dalam kondisi tersebut, maka dia kekal di neraka dan amalnya sia-sia. Sebab, orang-orang munafik dulu mengatakan kepada Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Kami bersaksi bahwa engkau utusan Allah." Mereka itu biasa mengingat Allah, tetapi mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit. Mereka melaksanakan salat, tetapi "Apabila mereka berdiri untuk salat mereka lakukan dengan malas." Walaupun demikian, mereka berada di neraka bagian bawah. Hadis ni merupakan dalil zuhud di dunia dan tidak selayaknya manusia menggantungkan jiwanya kepada dunia. Hendaknya dunia di tangannya bukan di hatinya, sehingga dengan hatinya dia menghadap kepada Allah -'Azza wa Jalla-. Sesungguhnya ini merupakan kesempurnaan zuhud. Ini tidak berarti bahwa engkau tidak boleh mengambil bagian dari dunia, tetapi ambillah dari dunia itu yang halal untukmu, dan jangan lupakan bagianmu dari dunia. Hanya saja, jadikanlah dunia di tanganmu dan jangan engkau jadikan dunia dalam hatimu! Inilah yang urgen.