





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Allah lebih gembira untuk menerima tobat hamba-Nya daripada salah seorang dari kalian yang menemukan tunggangannya setelah tersesat di gurun pasir." Dalam riwayat lain, "Allah lebih gembira untuk menerima tobat hamba-Nya daripada salah seorang dari kalian yang awalnya berada di atas tunggangannya di gurun pasir, kemudian tunggannya itu terlepas darinya, padahal di situ ada bekal makan dan minumnya. Saat putus asa, dia mendatangi sebuah pohon untuk berteduh di bawahnya. Dia telah putus asa untuk mendapatkan kembali tunggangannya. Dalam keadaan demikian itu, tunggangannya kembali, berada disisinya. Dia pun mengambil tali kekang tunggangannya dan berujar kegirangan, 'Wahai Allah, engkau adalah hambaku dan aku tuhan-Mu.' Dia keliru karena sangat bergembira."
Muttafaq 'alaihRasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa Allah lebih gembira dengan hamba-Nya yang kembali kepada-Nya dengan mentaati dan menjalankan perintah-Nya, ikhlas dari hatinya, daripada kegembiraan salah seorang dari kalian yang berada di tengah gurun pasir, tidak ada seorang pun di sana. Tidak ada air, makanan maupun manusia. Kemudian tunggangannya hilang. Ia berusaha keras mencarinya tetapi tidak menemukannya. Kemudian dia berteduh di bawah sebatang pohon. Tiduran sambil pasrah menunggu kematian. Dia sudah putus asa dengan tunggangannya juga dengan hidupnya, karena bekal makan dan minumnya ada ditunggangannya yang hilang entah ke mana. Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba tunggangannya sudah berada di sisinya. Tali kekangnya tersangkut di ranting pohon tempat dia berteduh. Dapatkah terbayangkan betapa bahagianya dia. Kegembiraannya tidak terbayangkan oleh siapa pun, kecuali oleh mereka yang mengalaminya. Kebahagiaan yang besar, kegembiraan dengan kehidupan setelah mengira akan mati. Karenanya, dia segera mengambil kekang tunggangannya seraya berujar, 'Wahai Allah, engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu.' Sebenarnya ia ingin memuji Allah, "'Wahai Allah, aku hamba-Mu dan Engkau tuhan-Ku." Tapi karena sangat gembira, ia jadi keliru.
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah -'Azza wa Jalla- menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai ke tenggorokan."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadAllah -'Azza wa Jalla- menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan. Apabila nyawa sudah sampai ke tenggorokan, maka tidak ada tobat baginya. Hal ini berdasarkan firman Allah -Ta'ālā-, "Dan tobat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang melakukan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang dari mereka, (barulah) dia mengatakan, "Saya benar-benar bertobat sekarang." (QS. An-Nisa': 18).
Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada waktu malam agar orang yang berbuat dosa di waktu siang bisa bertobat; Dia juga membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang berbuat dosa di waktu malam bertobat, hingga matahari terbit dari arah terbenamnya."
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah Ta'ala menerima tobat para hamba-Nya. Jika hamba berbuat dosa di siang hari lalu bertobat di malam hari, niscaya Allah menerima tobatnya. Sebaliknya, jika dia berbuat dosa di malam hari dan bertobat di siang hari, niscaya Allah menerima tobatnya. Allah ﷻ membentangkan tangan-Nya terhadap tobat sebagai wujud gembira dan menerimanya. Pintu tobat akan senantiasa terbuka hingga matahari terbit dari arah terbenamnya sebagai pemberitahuan berakhirnya dunia. Ketika matahari telah terbit dari arah tersebut, maka pintu tobat ditutup.
Abu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya di antara ungkapan yang telah dikenal manusia dari ucapan para nabi terdahulu adalah: Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!"
HR. BukhariNabi ﷺ mengabarkan bahwa di antara pesan nabi-nabi terdahulu yang beredar di tengah manusia dan mereka wariskan secara turun-temurun hingga sampai ke generasi awal umat Islam ialah: Lihatlah semua yang ingin engkau lakukan, jika termasuk perkara yang tidak mendatangkan malu maka kerjakanlah, tetapi jika termasuk yang mendatangkan malu maka tinggalkanlah. Di antara yang mencegah mengerjakan keburukan ialah rasa malu. Siapa yang tidak memiliki rasa malu, ia akan tenggelam pada setiap kekejian dan kemungkaran.
Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ memegang pundakku seraya bersabda, "Hiduplah di dunia ini seperti orang asing atau yang hanya lewat." Ibnu Umar berkata, "Ketika berada di sore hari, jangan tunggu waktu pagi. Ketika berada di pagi hari, jangan tunggu waktu sore. Manfaatkan masa sehatmu untuk masa sakitmu dan manfaatkan masa hidupmu untuk masa meninggalmu."
HR. BukhariIbnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- menyebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah memegang pundaknya -yaitu pertemuan antara bahu dan lengan- seraya berkata kepadanya: Hiduplah di dunia ini seolah engkau orang asing yang datang ke suatu negeri, di sana ia tidak memiliki rumah tempat tinggal, tidak juga penghuni yang akan menghiburnya; tidak memiliki keluarga, kerabat dan ikatan yang akan menyebabkan dia lupa kepada Sang Pencipta. Bahkan, hiduplah lebih dari seperti orang asing, yaitu orang yang hanya lewat di jalan menuju negaranya. Orang yang asing kadang tinggal dan menetap di negeri asing, berbeda dengan orang yang hanya lewat menuju negerinya. Orang yang hanya lewat biasanya membawa barang seperlunya dan tidak berhenti, tetapi bergegas agar segera sampai ke negerinya. Sebagaimana orang musafir tidak membutuhkan lebih dari yang dapat mengantarkannya ke tujuan perjalanannya, demikian juga seorang mukmin tidak butuh di dunia lebih dari yang dapat mengantarkannya ke tujuannya. Ibnu Umar pun menjalankan nasihat ini. Ia berkata: Jika engkau berada di pagi hari, jangan tunggu waktu sore. Jika engkau berada di sore hari, jangan tunggu waktu pagi. Hitung dirimu termasuk ahli kubur, karena umur tidak lepas dari sehat dan sakit. Segeralah melakukan ketaatan pada hari-hari sehatmu sebelum engkau sakit. Maksimalkanlah amal saleh pada masa sehat sebelum dihalangi oleh sakit. Manfaatkan masa hidupmu di dunia dan kumpulkan apa yang akan berguna bagimu setelah meninggal dunia.
Abdullah bin Busr -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa seorang laki-laki pernah berkata, "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya syariat Islam telah banyak sampai padaku, maka kabarkanlah kepadaku sesuatu yang bisa aku jadikan sebagai pegangan?" Beliau bersabda, "Senantiasa lisanmu basah dengan zikir kepada Allah."
HR. Tirmizi, Ibnu Majah, dan AhmadSeorang laki-laki datang mengadu kepada Nabi ﷺ bahwa ibadah-ibadah sunah baginya sangat banyak sehingga ia sampai tidak mampu mengerjakannya karena kelemahannya. Kemudian ia meminta kepada Nabi ﷺ agar ditunjuki suatu amalan ringan yang dapat mendatangkan pahala banyak untuk dijadikan sebagai pegangan. Maka beliau ﷺ membimbingnya agar lisannya selalu digerakkan untuk terus-menerus berzikir kepada Allah Ta'ala di setiap waktu dan keadaan berupa tasbih, tahmid, istigfar, doa dan lain sebagainya.
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ menjelaskan bahwa kesempurnaan iman seorang muslim tidak akan terwujud sampai ia menginginkan bagi saudaranya seperti yang ia inginkan bagi dirinya sendiri berupa ketaatan dan berbagai macam kebaikan dalam urusan agama dan urusan dunia, serta membenci bagi saudaranya apa yang ia tidak sukai bagi dirinya. Apabila ia melihat suatu kekurangan pada agama saudaranya sesama muslim ia berjuang untuk memperbaikinya. Sebaliknya, apabila ia melihat padanya suatu kebaikan ia mendukungnya, membantunya, serta menasihatinya pada perkara agama dan dunianya.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-bersabda, "Siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat maka Allah menerima tobatnya."
Diriwayatkan oleh MuslimHadis ini memberi faedah bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menerima tobat hamba-Nya yang berdosa sebelum terbit matahari dari barat, karena itu merupakan batas akhir waktu diterimanya tobat dan itu merupakan salah satu tanda kiamat besar.
Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Ṣakhr ad-Dausi -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam- bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali."
Diriwayatkan oleh BukhariNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam- yang sudah Allah ampuni dosa-dosanya yang terlah berlalu dan yang akan datang bersumpah bahwa beliau memohon ampun dan bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali. Istigfar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa ālihi wa sallam- tidak mesti karena beliau melakukan dosa, akan tetapi itu merupakan kesempurnaan ibadah dan ketergantungan beliau dengan zikir kepad Allah, dan beliau merasakan keagungan hak Allah, serta kekurangan beliau meskipun sudah mensyukuri nikmat-Nya. Ini juga sekaligus sebagai syariat untuk umat setelah beliau, dan berbagai hikmah lainnya.