





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Abu Żarr Jundub bin Junādah dan Abu Abdirrahman Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhumā-, mereka meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda, "Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Kerjakan amal kebajikan setelah (tergelincir) dalam dosa, niscaya ia akan menghapusnya. Perlakukanlah manusia dengan akhlak yang baik."
HR. TirmiziNabi ﷺ memerintahkan tiga perkara: Pertama: bertakwa kepada Allah, dengan mengerjakan hal-hal yang wajib dan meninggalkan yang haram di semua tempat, waktu, dan kondisi, baik dalam kesendirian maupun keramaian, ketika selamat maupun musibah, dan lainnya. Kedua: bila engkau terjerumus ke dalam suatu dosa, lakukan setelahnya amal kebaikan, seperti: salat, sedekah, berbakti, silaturahmi, tobat, dan lain sebagainya, karena amalan itu bisa menghapus dosa. Ketiga: perlakukanlah orang lain dengan akhlak yang baik, semisal tersenyum saat bertemu mereka, bersikap lemah lembut, berbagi, serta tidak menyakiti.
Abu Bakrah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila dua muslim berhadap-hadapan dengan pedangnya, maka yang membunuh dan yang dibunuh di neraka." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, pembunuh ini (wajar masuk neraka), lantas bagaimana dengan yang dibunuh?" Beliau bersabda, "Karena dia juga berambisi ingin membunuh rekannya."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan bahwa apabila dua muslim saling berhadapan dengan pedangnya, masing-masing berniat untuk membunuh rekannya, maka orang yang membunuh masuk neraka disebabkan perbuatannya membunuh rekannya. Akan tetapi, para sahabat bingung dengan orang yang dibunuh, bagaimana alurnya dia masuk neraka? Maka Nabi ﷺ menjelaskan bahwa dia juga masuk neraka karena dia berambisi ingin membunuh rekannya, tidak ada yang menghalanginya untuk melakukan pembunuhan itu kecuali karena orang yang membunuhnya lebih cepat dan mendahuluinya.
Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya semua amalan itu tergantung pada niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang (balasan dari) apa yang diniatkannya. Siapa yang niat hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin didapatkannya atau perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada yang diniatkannya." Dalam redaksi Bukhari: "Sesungguhnya semua amalan itu tergantung niat-niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang (balasan dari) apa yang diniatkannya."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ menjelaskan bahwa semua amalan dilihat berdasarkan niat. Kaidah ini berlaku umum di semua perbuatan terkait ibadah dan muamalat. Siapa yang menginginkan suatu manfaat dengan amalnya, dia tidak akan mendapatkan kecuali manfaat itu dan dia tidak mendapatkan pahala. Sebaliknya, siapa yang ingin mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dengan amalnya, dia akan mendapatkan pahala dan ganjaran dari amalnya itu, walaupun hanya berupa rutinitas biasa seperti makan dan minum. Kemudian Nabi ﷺ membuat perumpamaan untuk menjelaskan pengaruh niat terhadap amal kendati keduanya sama secara potret lahir. Beliau menjelaskan, siapa yang menginginkan rida Tuhannya dalam berhijrah dan meninggalkan negerinya, maka hijrahnya itu ialah hijrah yang disyariatkan serta diterima, yaitu hijrahnya akan diberi pahala karena niat tulusnya. Tetapi, siapa yang menginginkan manfaat duniawi dengan hijrahnya, berupa harta, kedudukan, bisnis, atau istri, maka dia tidak akan dapatkan dari hijrahnya itu kecuali manfaat yang diniatkannya dan dia tidak mendapatkan pahalanya.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi ﷺ, "Berilah aku wasiat." Beliau bersabda, "Janganlah engkau marah!" Orang itu mengulangi permintaannya berkali-kali, tetapi beliau tetap bersabda, "Janganlah engkau marah!"
HR. BukhariSalah seorang sahabat -raḍiallāhu 'anhum- meminta kepada Nabi ﷺ agar ditunjukkan pada sesuatu yang akan berguna baginya. Beliau lantas memerintahkannya agar tidak marah. Maksudnya adalah agar dia menjauhi sebab-sebab yang dapat memicu amarahnya serta mengendalikan diri ketika dihinggapi amarah, yaitu dia tidak boleh terbawa amarahnya sampai membunuh, memukul, mencaci atau lain sebagainya. Laki-laki tersebut mengulang permintaannya beberapa kali, tetapi beliau ﷺ tidak memberikannya wasiat lebih dari mengatakan "janganlah engkau marah."
Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda, "Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang benar, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; yaitu ia pergi di pagi hari dalam keadaan perut kempes dan pulang sore hari dalam keadaan buncit (kenyang)."
HR. Tirmizi, Ibnu Majah, dan AhmadNabi ﷺ mendorong kita agar bertumpu kepada Allah ﷻ dalam meraih manfaat dan menolak mudarat di seluruh urusan dunia dan agama, karena tidak ada yang memberi dan menghalangi serta tidak ada yang memudaratkan maupun memberi manfaat kecuali Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Beliau juga memotivasi agar kita melakukan sebab-sebab yang dapat mendatangkan manfaat dan menolak mudarat disertai berserah diri secara tulus kepada Allah. Ketika hal itu kita telah lakukan, Allah akan memberi kita rezeki sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung yang keluar di pagi hari dalam keadaan lapar lalu kembali di sore hari dalam keadaan kenyang. Apa yang dilakukan oleh burung tersebut termasuk salah satu sebab dalam upaya mencari rezeki, tidak berpasrah dan malas.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Dari Nabi ﷺ dalam hadis yang beliau riwayatkan dari Tuhannya ﷻ, beliau bersabda, "Ada seorang hamba melakukan suatu dosa, lalu ia berkata, "Ya Allah! Ampunilah dosaku." Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- pun berfirman, "Hamba-Ku melakukan dosa sementara ia mengetahui bahwa dia memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat pula memberikan hukuman karena dosa." Kemudian hamba tersebut kembali melakukan dosa lalu berkata, "Ya Tuhanku! Ampunilah dosaku." Maka Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, "Hamba-Ku melakukan dosa sementara ia mengetahui bahwa dia memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat pula memberi hukuman karena dosa." Selanjutnya hamba tersebut kembali melakukan dosa, lalu berkata, "Ya Tuhanku! Ampunilah dosaku." Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- berfirman, "Hamba-Ku berbuat dosa lagi, tetapi dia mengetahui bahwa dia memiliki Tuhan yang dapat mengampuni dosa dan dapat pula memberikan hukuman karena dosa. Lakukanlah sekehendakmu! Aku telah mengampunimu."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ meriwayatkan dari Tuhannya bahwa ketika seorang hamba berbuat dosa lalu mengatakan: Ya Allah, ampunilah dosaku, maka Allah Ta'ala akan berfirman: Hamba-Ku telah melakukan sebuah dosa, tetapi dia tahu bahwa dia memiliki Tuhan yang mengampuni dosa, yakni Dia menutupi dan melewatkannya, atau dapat juga memberikan hukuman atas dosa itu, sungguh Aku telah mengampuninya. Kemudian hamba tersebut kembali melakukan dosa, lalu dia berkata: Tuhanku, berilah aku ampunan pada dosaku. Maka Allah berfirman: Hamba-Ku telah melakukan sebuah dosa, tetapi dia tahu bahwa dia memiliki Tuhan yang mengampuni dosa, yakni Dia menutupi dan melewatkannya, atau dapat juga memberikan hukuman atas dosa itu, sungguh Aku telah memberi ampunan pada hamba-Ku itu. Kemudian hamba tersebut kembali lagi melakukan dosa, lalu dia berkata, "Tuhanku, berilah aku ampunan pada dosaku." Maka Allah berfirman, "Hamba-Ku telah melakukan sebuah dosa, tetapi dia tahu bahwa dia memiliki Tuhan yang mengampuni dosa, yakni Dia menutupi dan melewatkannya, atau dapat juga memberikan hukuman atas dosa itu, sungguh Aku telah memberi ampunan pada hamba-Ku itu. Silakan dia melakukan semua yang dia mau, selama tiap kali berbuat dosa, ia segera meninggalkan dosa itu, menyesalinya, dan bertekad untuk tidak mengulanginya." Akan tetapi karena dia dikuasai oleh hawa nafsunya, sehingga sekali lagi dia jatuh dalam dosa tersebut. Namun, selama dia melakukan seperti itu, yaitu melakukan dosa dan bertobat, Aku akan tetap memberinya ampunan karena tobat menggugurkan semua yang terjadi sebelumnya.
Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya orang-orang yang adil itu berada di sisi Allah di atas mimbar-mimbar dari cahaya di samping kanan Ar-Raḥmān ﷻ, sementara kedua tangan-Nya ialah kanan. Mereka itulah yang berlaku adil di dalam kekuasaan, keluarga, dan semua urusan yang mereka pegang."
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan tentang orang-orang yang memutuskan secara adil dan benar di antara manusia yang berada di bawah kepemimpinan, kekuasaan dan keluarga mereka, bahwa mereka akan duduk di atas tempat-tempat duduk tinggi yang terbuat dari cahaya sebagai bentuk memuliakan mereka kelak di hari Kiamat. Mimbar-mimbar tersebut ada di kanan Ar-Raḥmān Yang Mahatinggi, dan kedua tangan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- ialah kanan.
Jarīr -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang dihalangi dari memiliki sifat kelembutan, maka dia terhalang dari seluruh kebaikan."
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan bahwa orang yang tidak memiliki sifat lembut sehingga ia tidak mendapat taufik pada perkara agama dan dunia serta pada tindakan-tindakan yang ia ambil terkait dirinya dan orang lain, ia telah dihalangi dari kebaikan seluruhnya.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Tahukah kalian apa gibah itu?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Beliau bersabda, "Engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci." Kemudian ada yang bertanya, "Bagaimana menurutmu jika sesuatu yang aku sebutkan itu nyata ada pada saudaraku?" Beliau menjawab, "Jika memang apa yang engkau sebutkan ada pada dirinya, maka itulah gibah, namun jika tidak, berarti engkau telah memfitnahnya."
HR. MuslimNabi ﷺ menjelaskan hakikat gibah yang diharamkan, yaitu menyebut seorang muslim dengan sesuatu yang ia benci, baik terkait fisiknya ataupun akhlaknya. Misalnya: si buta sebelah, si penipu, si pembohong, dan sifat-sifat tercela lainnya, sekalipun sifat tersebut benar ada padanya. Adapun jika sifat tersebut tidak benar ada padanya, maka itu lebih berat dari gibah, yaitu fitnah, mengada-ada sesuatu yang tidak ada pada seseorang.