





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Salamah bin Al-Akwa' -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Ada seorang pria yang makan di hadapan Rasulullah ﷺ dengan tangan kirinya. Maka beliau berkata, “Makanlah dengan tangan kananmu!” Orang itu menjawab, “Aku tak bisa.” Nabi pun berkata, “Semoga engkau benar-benar tidak bisa.” Padahal tidak ada yang menghalanginya untuk itu kecuali kesombongannya, maka ia pun tak mampu mengangkat tangannya ke mulutnya.
HR. MuslimNabi ﷺ melihat seorang pria makan dengan tangan kirinya, lalu beliau memerintahkannya agar makan dengan tangan kanannya. Akan tetapi, pria itu menjawab dengan sombong dan dusta bahwa ia tidak mampu! Maka Nabi ﷺ mendoakannya semoga dia tidak diberi kemampuan untuk makan dengan tangan kanan. Allah pun mengabulkan doa Nabi-Nya, yaitu tangan kanan orang itu lumpuh, sehingga setelah itu ia tidak mampu mengangkatnya ke mulut untuk makan ataupun minum.
Dari Jundub bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Seorang lelaki berkata, 'Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.' Allah berfirman, "Siapakah yang telah bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan?Sesungguhnya Aku telah mengampuninya dan menggugurkan amalmu." Dalam hadis Abu Hurairah disebutkan bahwa orang yang berbicara ini adalah lelaki ahli ibadah. Abu Hurairah berkata, "Ia berbicara dengan kata-kata yang menghanguskan dunia dan akhiratnya."
Diriwayatkan oleh MuslimNabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan dalam bentuk peringatan mengenai bahaya lisan, tentang seseorang yang bersumpah bahwa Allah tidak akan mengampuni orang yang berdosa. Seolah-olah ia menghukum Allah dan mengekang-Nya karena meyakini bahwa dirinya memiliki kemuliaan, keberuntungan dan kedudukan di sisi Allah. Sedangkan orang yang berdosa tersebut memiliki kehinaan. Ini merupakan tindakan lancang dan kurang ajar kepada Allah. Karena itu, orang tersebut mendapatkan kesengsaraan dan kerugian di dunia dan akhirat.
Dari Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Tidaklah setiap jiwa yang dibunuh secara zalim, melainkan anak Adam yang pertama ikut menanggung dosa pembunuhan tersebut, karena dialah yang pertama kali melakukan pembunuhan."
Muttafaq 'alaihHadis ini menuturkan sebab salah satu anak Adam memikul tanggung jawab dosa akibat darah yang ditumpahkan setelahnya. Diriwayatkan bahwa Qābil membunuh saudaranya Hābil, karena dengki kepadanya. Keduanya merupakan pembunuh dan korban pembunuhan pertama dari anak Adam. Sehingga Qābil memikul bagian dari dosa akibat darah yang ditumpahkan setelahnya. Sebab, dialah yang pertama kali menggagas pembunuhan, karena setiap orang yang melakukan pembunuhan setelahnya dia mengikutinya.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya seorang hamba benar-benar lepas berbicara dengan satu kalimat yang tidak jelas (baik atau buruknya), maka dia akan tergelincir ke dalam neraka yang lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat."
Muttafaq 'alaihRasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan kepada kita bahwa ada orang yang tidak menimbang lebih dahulu ketika ingin bicara, apakah perkataan yang akan diucapkannya ini baik atau tidak? Akibatnya, karena tidak berpikir, maka orang yang berbicara tersebut bisa terjatuh ke dalam hal yang dilarang dan dirinya akan ditimpa azab Allah di neraka jahanam - kita berlindung kepada Allah - Bahkan mungkin saja ia jatuh ke dalam jurang neraka yang jaraknya lebih jauh daripada jarak timur dan barat.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Barangsiapa mengucapkan -maksudnya ketika keluar dari rumahnya-, "Bismillāhi tawakkaltu 'alallāhi, walā haula walā quwwata illā billāh (Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah dan tidak ada daya serta kekuatan selain dari Allah), maka dikatakan saat itu kepadanya, "Engkau telah mendapatkan hidayah, diberi kecukupan dan dijaga. Seketika itu setan pun menjauh darinya." Abu Dawud menambahkan, "Lantas -maksudnya setan- berkata kepada setan lainnya, "Bagaimana mungkin kamu bisa menganggu seseorang yang telah diberi hidayah, dicukupkan dan dijaga?"
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu DaudRasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa jika seorang laki-laki keluar dari rumahnya lalu mengucapkan, "Bismillāhi tawakkaltu 'alallāhi, walā haula walā quwwata illā billāh (dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya selain dari Allah), maka malaikat menyerunya, "Wahai hamba Allah, engkau telah diberi petunjuk kepada jalan kebenaran, dicukupkan keinginanmu dan engkau dijaga dari musuh-musuh, sehingga setan yang ditugaskan kepadanya menjauh darinya. Lantas setan lainnya berkata kepada setan itu, "Bagaimana mungkin kamu dapat menyesatkan orang yang telah diberi petunjuk, diberi kecukupan dan dijaga dari setan-setan seluruhnya? Karena dia mengatakan kata-kata itu, maka engkau tidak akan bisa menyesatkannya."
Abu Umāmah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ berkhotbah ketika haji wadak. Beliau bersabda, "Bertakwalah kepada Allah, dirikan salat lima waktu, kerjakan puasa di bulan (Ramadan), bayarkan zakat harta, dan patuhi para pemimpin kalian, niscaya kalian akan masuk ke dalam surga Tuhan kalian."
HR. Tirmizi dan AhmadNabi ﷺ berkhotbah di hari Arafah saat haji wadak (perpisahan) pada tahun kesepuluh hijriah. Dinamakan wadak karena beliau ﷺ memberi kata perpisahan kepada manusia saat itu. Beliau memerintahkan manusia semuanya agar bertakwa kepada Tuhan mereka dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Melaksanakan salat lima waktu yang diwajibkan Allah ﷻ dalam sehari semalam, melaksanakan puasa di bulan Ramadan, memberikan zakat harta kepada orang yang berhak menerimanya serta tidak menahannya, dan taat kepada orang yang Allah jadikan sebagai pimpinan mereka, selama bukan dalam kemaksiatan kepada Allah. Siapa yang melakukan perkara-perkara yang disebutkan ini, balasannya adalah surga.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda, "Apabila salah seorang kalian bertemu dengan saudaranya, hendaknya dia mengucapkan salam kepadanya. Jika kemudian keduanya dipisahkan oleh pohon, tembok, atau batu kemudian bertemu lagi, hendaknya dia mengucapkan salam lagi kepadanya."
HR. Abu DaudNabi ﷺ menganjurkan seorang muslim agar memberi salam kepada saudara muslimnya setiap kali bertemu, hingga misalkan keduanya sedang berjalan bersama lalu antara keduanya dipisahkan oleh suatu pemisah, seperti pohon, dinding atau batu besar, kemudian setelah itu berjumpa maka hendaknya dia memberinya salam lagi.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Apakah kalian mau aku tunjukkan amalan yang dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat?" Mereka menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Rasulullah bersabda, "Menyempurnakan wudu pada saat-saat yang tidak disukai, memperbanyak langkah kaki menuju masjid, dan menunggu salat berikutnya setelah selesai salat. Yang demikian itu adalah ribāṭ (berjaga-jaga di jalan Allah)."
HR. MuslimNabi ﷺ bertanya pada sahabat-sahabatnya apakah mereka mau ditunjukkan pada amalan-amalan yang menjadi sebab pengampunan dosa dan penghapusannya dari catatan malaikat serta sebab kedudukan tinggi dalam surga? Para sahabat menjawab, "Ya, kami menginginkan itu." Beliau lantas bersabda: - Pertama: menyempurnakan wudu saat kondisi sulit, seperti saat cuaca dingin, minim air, rasa sakit pada badan, dan air bersuhu panas. - Kedua: memperbanyak langkah kedua kaki menuju masjid lantaran keberadaan rumah yang jauh dan rajin ke masjid. - Ketiga: menunggu waktu salat, menggantungkan hati padanya, sekaligus bersiap dan duduk di masjid untuk menunggu salat jemaah, dan ketika telah salat maka ia menunggu salat berikutnya di tempat salatnya. Kemudian Nabi ﷺ menerangkan bahwa perkara-perkara ini termasuk kategori berjaga dalam jihad yang sebenarnya karena amalan-amalan itu menutup pintu setan terhadap jiwa, menundukkan hawa nafsu, dan mencegahnya menerima bisikan setan. Dengan hal ini, pasukan Allah mengalahkan pasukan setan. Jadi ini merupakan jihad akbar sehingga sama dengan berjaga pada jalur masuk musuh.
Abu Ad-Dardā` -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Maukah kalian aku beritahukan tentang amalan kalian yang paling baik dan paling suci di sisi Tuhan kalian, paling tinggi derajatnya untuk kalian, lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, dan lebih baik bagi kalian daripada bertemu dengan musuh lalu kalian menebas batang leher mereka dan mereka pun menebas leher kalian?" Para sahabat menjawab, "Tentu saja." Beliau bersabda, "Berzikir kepada Allah Ta'ala."
HR. Tirmizi, Ibnu Majah, dan AhmadNabi ﷺ bertanya kepada sahabat-sahabatnya, Maukah kalian aku kabari dan aku ajari tentang amalan kalian yang paling utama, paling mulia, paling berkembang, paling suci dan paling bersih di sisi Allah Yang Maharaja ﷻ? Juga amalan itu paling baik mengangkat kedudukan kalian dalam surga? Serta lebih baik bagi kalian daripada bersedekah emas dan perak? Bahkan, ia lebih baik bagi kalian daripada bertemu dengan orang-orang kafir dalam peperangan, lalu kalian menebas leher mereka dan mereka menebas leher kalian? Para sahabat menjawab: Ya, kami menginginkan hal itu. Nabi ﷺ bersabda, "Berzikir (mengingat) Allah Ta'ala di semua waktu dan seluruh keadaan."