





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Abu Bakar aṣ-Ṣiddīq -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Peliharalah kehormatan Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan cara menjaga hak-hak ahlulbait beliau."
Diriwayatkan oleh BukhariDi dalam aṡar Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- terdapat dalil tentang pengetahuan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- terhadap hak ahlulbait (keluarga) Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, serta pemuliaan dan penghormatan mereka. Oleh sebab itu, siapa saja yang termasuk ahlulbait yang teguh di atas agama (Islam) dan mengikuti sunah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka dia memiliki dua hak: hak Islam (hak sebagai seorang muslim) dan hak kekerabatan dengan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Aṡar ini (menjelaskan) bahwa Abu Bakar dan para sahabat mencintai ahlulbait dan berpesan kebaikan untuk mereka.
Dari Imran bin Hushain -raḍiyallāhu 'anhuma-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Malu itu tidak membawa kecuali kebaikan." Dalam riwayat lain: "Malu itu baik seluruhnya," atau beliau bersabda, "Malu itu seluruhnya baik."
Diriwayatkan oleh Muslim - Muttafaq 'alaihMalu merupakan sifat dalam jiwa yang mendorong manusia melakukan apa yang indah dan bagus, dan meninggalkan yang kotor dan buruk. Dengan demikian, malu tidak membawa kecuali kebaikan. Sebab munculnya hadis ini adalah ketika ada seorang laki-laki menasehati saudaranya terkait sifat malu, dan dia melarangnya dari sifat malu tersebut. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadanya dengan ucapan ini.
Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Perumpamaan teman bergaul yang saleh dan teman bergaul yang buruk adalah bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi itu antara dia akan memberimu atau engkau akan membeli darinya, atau paling tidak engkau bisa mendapatkan darinya aroma yang wangi. Sedangkan pandai besi, bisa jadi dia akan membakar pakaianmu atau engkau akan mendapatkan aroma tidak sedap darinya."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ membuat permisalan untuk dua macam manusia: - Pertama: teman bergaul yang saleh yang membimbing kepada Allah serta amalan yang mendatangkan rida-Nya dan membantu pada ketaatan. Permisalannya seperti seorang penjual minyak wangi. Bisa jadi dia akan memberimu, atau engkau yang membeli darinya, atau engkau akan mendapatkan serta mencium aroma yang baik darinya. - Kedua: teman bergaul yang buruk yang menghalangi dari jalan Allah dan membantu berbuat kemaksiatan. Engkau lihat padanya perbuatan buruk dan memotivasimu untuk berteman dan bergaul dengan orang semisalnya. Permisalannya seperti pandai besi yang menyalakan api. Bisa jadi dia akan membakar pakaianmu akibat bunga apinya yang beterbangan atau engkau mendapatkan darinya aroma yang tidak baik.
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ biasa banyak berdoa, "Yā muqallibal-qulūb ṡabbit qalbī 'alā dīnika (Wahai Tuhan yang membolak-balik hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu)." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah! Kami beriman kepadamu dan pada apa yang engkau bawa; apakah engkau mengkhawatirkan kami?" Beliau menjawab, "Ya. Sungguh, hati itu terletak di antara dua jari dari jemari Allah. Dia membolakbaliknya sebagaimana yang Dia kehendaki."
HR. Tirmizi dan AhmadSebagian besar doa Nabi ﷺ ialah meminta kepada Allah agar diteguhkan di atas agama dan ketaatan serta dijauhkan dari penyimpangan dan kesesatan. Sebab itu, Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- merasa heran karena Nabi ﷺ banyak berdoa dengan doa ini. Kemudian Nabi ﷺ mengabarkan bahwa hati manusia ada di antara dua jari dari jemari Allah; Dia membolakbaliknya sebagaimana yang Dia kehendaki. Hati adalah tempat keimanan dan kekufuran. Hati disebut qalbu (dalam bahasa Arab) karena sangat sering terbolak-balikkan. Hati lebih mudah terbalik daripada panci pada puncak mendidihnya. Siapa yang Allah kehendaki, Allah teguhkan hatinya di atas petunjuk dan agama. Sebaliknya, siapa yang Allah kehendaki maka Allah akan palingkan hatinya dari petunjuk kepada penyimpangan dan kesesatan.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Allah -Ta'ālā- berfirman, "Tidak ada balasan (yang pantas) dari-Ku bagi hamba-Ku yang beriman, apabila Aku mewafatkan orang yang dicintainya dari penghuni dunia, kemudian dia rida dengan musibah tersebut, melainkan Surga."
Diriwayatkan oleh BukhariDalam hadis qudsi ini, Nabi -'alaihi aṣ-ṣalām- mengabarkan bahwa siapa saja yang diuji dengan kehilangan orang yang dicintainya dari kalangan kerabatnya atau yang lainnya, jika ia bersabar terhadap kematian orang yang dikasihi dan dipilihnya, serta ia memandang bahwa orang itu memiliki hubungan yang kuat dengannya, seperti anak, saudara, paman, bapak, ibu atau teman, ketika Allah -'Azza wa Jalla- mewafatkannya lalu orang itu mengharapkan rida Allah dan pahala-Nya, maka tidak ada balasan baginya selain Surga.
Dari Jabir -raḍiyallāhu 'anhumā- dia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Jangan berdoa untuk kecelakaan atas diri kalian, jangan kalian berdoa untuk kecelakaan anak-anak kalian, jangan kalian berdoa untuk kecelakaan harta kalian. Jangan sampai kalian meminta sesuatu (keburukan) kepada Allah lalu bertepatan dengan waktu Dia mengabulkan doa kalian."
Diriwayatkan oleh MuslimDalam hadis ini Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memperingatkan dan melarang mendoakan keburukan untuk anak dan harta, karena doa itu kedudukannya agung. Boleh jadi Allah berlakukan atas hamba-Nya (apa yang dia minta -edit) jika dia berdoa pada saat dikabulkan sehingga kecelakaan akan menimpa dirinya dan apa yang terkait dengannya berupa anak dan hartanya.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', (Nabi bersabda), "Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, (yaitu) orang tersebut berkata, "Aku telah berdoa kepada Tuhanku, tetapi Dia tidak mengabulkannya untukku." Dalam riwayat Muslim (disebutkan), "Doa seorang hamba senantiasa akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk dosa atau memutuskan hubungan keluarga, asalkan ia tidak tergesa-gesa." Ditanyakan, "Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa?" Beliau bersabda, "Seseorang berkata: Sungguh aku telah berdoa dan sungguh aku telah berdoa, namun aku belum melihat dikabulkannya doaku," maka ia pun merasa rugi (putus asa) ketika itu sehingga meninggalkan doa."
Muttafaq 'alaihRasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa doa seorang hamba akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk kemaksiatan atau memutuskan hubungan keluarga, juga tidak tergesa-gesa. Nabi ditanya, "Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa yang menjadi sebab terhalangnya doa untuk dikabulkan?" Beliau bersabda, "Seseorang berkata, "Sungguh aku telah berdoa, sungguh aku telah berdoa, dan berulang kali aku panjatkan doa, namun Dia tidak mengabulkannya untukku. Saat itulah ia tergesa-gesa dan meninggalkan doa.
Abu Umāmah meriwayatkan, Aku diberitahu oleh 'Amr bin 'Abasah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa ia telah mendengar Nabi ﷺ bersabda, "Waktu paling dekat antara Allah dengan hamba ialah di pertengahan malam yang terakhir. Jika engkau bisa termasuk orang yang mengingat Allah pada waktu itu, lakukanlah."
HR. Abu Daud, Tirmizi, dan NasaiNabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah ﷻ berada paling dekat dengan hamba ketika di sepertiga akhir malam. Wahai orang beriman, jika engkau dimudahkan serta mampu untuk menjadi orang yang beribadah, mengerjakan salat, zikir dan tobat di waktu itu, maka hal itu hendaknya diupayakan serta dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Dari Abdullah bin 'Amru -raḍiyallāhu 'anhuma- secara marfū', seseorang mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata, "Aku berbaiat kepadamu untuk hijrah dan jihad demi mencari pahala dari Allah Ta'ālā." Beliau bertanya, "Apakah ada di antara kedua orang tuamu ada yang masih hidup?" Dia menjawab, "Ya, bahkan keduanya". Beliau bersabda, "Apakah engkau ingin pahala dari Allah -Ta'ālā-?" Dia berkata, "Ya". Beliau bersabda: "Pulanglah kepada kedua orang tuamu dan dampingi mereka dengan baik!". Dalam riwayat lain milik keduanya (Bukhari dan Muslim): Seseorang datang dan meminta izin kepada beliau (Nabi) untuk berjihad. Maka Nabi bersabda, "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?" Dia berkata: "Ya" Beliau bersabdsa, "Berjihadlah untuk (berbakti pada) keduanya!"
Muttafaq 'alaihSeseorang datang kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan mengabarkan kepadanya tentang keinginan dan kecintaannya untuk jihad dan hijrah di jalan Allah Ta'ālā. Namun orang ini meninggalkan kedua orang tuanya. Disebutkan dalam riwayat Abu Daud, "Kedua (orang tuanya) menangis" karena takut anaknya akan binasa. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bertanya kepadanya, "Apakah ada di antara kedua orang tuamu ada yang masih hidup?" Dia berkata, "Ya, bahkan kedua-duanya." Beliau bertanya, "Apakah engkau mencari pahala dari Allah -Ta'ālā-?" Dia menjawab, "Ya". Beliau bersabda, "Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan pergaulilah keduanya dengan baik!" Dalam riwayat Abu Daud (beliau bersabda), "Kembalilah kepada keduanya, buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuatnya menangis." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menunjukkan kepadanya amalan yang lebih utama dan wajib baginya, yaitu kembali kepada kedua orang tuanya dan mempergaulinya dengan baik. Karena hal itu termasuk berjihad dengan jiwa untuk melayaninya, meraih ridanya dan taat kepadanya, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Bukhari dan Muslim, "Berjihadlah pada keduanya!" Dalam hadis yang lain terdapat lafal yang jelas bahwa berbakti pada kedua orang tua dan ketaatan serta kebaikan pada keduanya adalah lebih utama dari jihad di jalan Allah seperti tercantum dalam riwayat Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, Seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- guna menanyakan tentang amalan terbaik, Beliau menjawab, "Salat". Dia bertanya lagi, "Lalu apa?" Beliau jawab, "Jihad". Dia berkata, "Aku masih punya orang tua." Beliau bersabda, "Baktimu kepada kedua orang tuamu adalah lebih baik!" HR. Ibnu Hibban. Hadis ini menunjukkan bahwa bakti pada kedua orang tua lebih utama dari jihad, kecuali jika jihadnya fardu 'ain maka ini lebih didahulukan dari berbakti kepada keduanya karena menjadi wajib bagi individu.