





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Umar bin al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenarnya, niscaya Dia memberi rezeki kepada kalian sebagaimana burung diberi rezeki; dia pergi di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang."
HR. Ahmad, Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam Sahihnya, dan HakimNabi ﷺ mendorong kita agar bertumpu kepada Allah ﷻ dalam meraih manfaat dan menolak mudarat di seluruh urusan dunia dan agama, karena tidak ada yang memberi dan menghalangi serta tidak ada yang memudaratkan maupun memberi manfaat kecuali Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Beliau juga memotivasi agar kita melakukan sebab-sebab yang dapat mendatangkan manfaat dan menolak mudarat disertai berserah diri secara tulus kepada Allah. Ketika hal itu kita telah lakukan, Allah akan memberi kita rezeki sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung yang keluar di pagi hari dalam keadaan lapar lalu kembali di sore hari dalam keadaan kenyang. Apa yang dilakukan oleh burung tersebut termasuk salah satu sebab dalam upaya mencari rezeki, tidak berpasrah dan malas.
An-Nawwās bin Sam'ān -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Kebajikan itu adalah akhlak baik, sedangkan dosa adalah apa yang bergejolak di dalam dadamu dan engkau tidak suka ada orang lain yang melihat kamu melakukannya." Wābiṣah bin Ma'bad -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku pernah datang menemui Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, "Apakah engkau datang untuk menanyakan tentang kebajikan?" Aku menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Tanyakan pada hatimu sendiri! Kebajikan adalah sesuatu yang membuat jiwa dan hatimu tenteram. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang mengganjal dalam jiwa dan menyebabkan keraguan dalam dada, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu."
Hadis pertama diriwayatkan oleh Muslim, sedangkan hadis kedua diriwayatkan oleh Ahmad dan DarimiNabi ﷺ memberitahukan mengenai kebajikan dan dosa. Beliau bersabda, "Sesungguhnya perkara kebajikan yang paling besar adalah berakhlak baik kepada Allah dengan bertakwa dan berakhlak baik kepada manusia dengan bersabar terhadap gangguan mereka, mengurangi marah, bermuka ceria, berbicara baik, menyambung silaturahmi, bersikap lembut, berbuat baik, dan bergaul serta berkawan dengan baik." Beliau juga menjelaskan bahwa kebajikan itu adalah sesuatu yang menenangkan hati dan jiwa. Adapun dosa, maka ia adalah perkara-perkara syubhat/samar yang bergolak dalam jiwa, dada tidak merasa tenang terhadapnya, ada keraguan dalam hati terhadapnya, merasa khawatir itu dosa, dan engkau tidak mau menampakkannya kepada tokoh, panutan, dan orang-orang saleh karena hal itu buruk. Hal itu karena tabiat manusia senang dilihat kebaikannya. Sebab itu, jika ia tidak suka dilihat sebagian perbuatannya, itu adalah perbuatan dosa yang tidak mengandung kebaikan. Sekalipun manusia memberikan fatwa kepadamu, jangan diambil fatwa mereka, selama indikasi syubhat masih melekat dalam jiwa Anda, karena fatwa tidak bisa menghilangkan syubhat selama syubhat tersebut valid, terlebih jika yang berfatwa tidak berilmu. Sedangkan apabila fatwa itu berlandaskan dalil syariat, wajib bagi yang meminta fatwa menjadikannya acuan meski hatinya terasa berat menerimanya.
Abdullah bin Busr -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ seraya berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam bagi kami sangat banyak, apakah ada satu bab lengkap yang bisa kita pegang?" Beliau bersabda, "Senantiasa lisanmu basah dengan zikir kepada Allah." Dalam riwayat lain dari hadis Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu-, ia meriwayatkan: Hal terakhir yang menjadi perpisahanku dengan Rasulullah ﷺ adalah ucapanku kepada beliau, "Amalan apa yang terbaik dan lebih dekat dengan Allah?" Beliau menjawab, "Dirimu mati dalam kondisi lisanmu basah dengan zikir kepada Allah ﷻ."
HR. Ahmad, Tirmizi, Ibnu Majah, dan Ibnu HibbanSeorang laki-laki datang mengadu kepada Nabi ﷺ bahwa ibadah-ibadah sunah baginya sangat banyak sehingga ia sampai tidak mampu mengerjakannya karena kelemahannya. Kemudian ia meminta kepada Nabi ﷺ agar ditunjuki suatu amalan ringan yang dapat mendatangkan pahala banyak untuk dijadikan sebagai pegangan. Maka beliau ﷺ membimbingnya agar lisannya selalu digerakkan untuk terus-menerus berzikir kepada Allah Ta'ala di setiap waktu dan keadaan berupa tasbih, tahmid, istigfar, doa dan lain sebagainya.
Abu Bakrah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Maukah aku beri tahukan kepada kalian tentang dosa-dosa besar yang paling besar?" Beliau mengulanginya tiga kali. Para sahabat menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Yaitu menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua." Lalu beliau duduk, sebelumnya beliau bersandar, seraya bersabda, "Ingatlah, juga perkataan dusta dan kesaksian palsu." Beliau terus-menerus mengulanginya sampai kami berkata, "Andai saja beliau diam (berhenti)."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabari sahabat-sahabatnya tentang dosa besar yang paling besar, beliau menyebutkan tiga dosa ini: 1- Menyekutukan Allah, yaitu memalingkan ibadah kepada selain Allah dan menyetarakan selain Allah dengan Allah dalam persoalan uluhiah, rububiah serta nama dan sifat-sifat-Nya. 2- Durhaka kepada kedua orang tua, yaitu semua hal yang menyakiti kedua orang tua, berupa perkataan ataupun perbuatan serta tidak berbuat kebaikan pada keduanya. 3- Perkataan dusta dan termasuk kesaksian palsu, yaitu semua ucapan palsu dan dusta yang bertujuan mendiskreditkan orang yang menjadi objeknya untuk mengambil hartanya, merusak kehormatannya atau semisalnya. Nabi ﷺ mengulang-ulang peringatan tentang perkataan dusta untuk mengingatkan kejelekan dan dampak buruknya terhadap masyarakat, sampai para sahabat berkata: Seandainya beliau diam, disebabkan rasa kasihan mereka kepada beliau dan karena mereka tidak suka ada sesuatu yang mengganggu beliau.
Miqdām bin Ma'dī Karib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Jika seseorang mencintai saudaranya, beritahukanlah kepadanya bahwa dia mencintainya."
HR. Abu Daud, Tirmizi, Nasai dalam Al-Kubrā, dan AhmadNabi ﷺ menjelaskan salah satu sebab yang dapat menguatkan ikatan antarmukmin serta menyebarkan cinta di kalangan mereka, yaitu ketika seseorang mencintai saudaranya, sebaiknya ia memberitahukan bahwa ia mencintainya.
Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda, "Dosa-dosa besar itu ialah menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa, dan sumpah palsu."
HR. BukhariNabi ﷺ menerangkan dosa-dosa besar, yaitu dosa yang pelakunya diancam dengan ancaman keras di dunia ataupun di akhirat. - Pertama: Menyekutukan Allah, yaitu memalingkan sebagian jenis ibadah kepada selain Allah dan menyetarakan selain Allah dengan Allah pada hal-hal yang merupakan kekhususan Allah dalam uluhiah, rububiah serta nama dan sifat-sifat-Nya. - Kedua: Durhaka kepada kedua orang tua, yaitu semua yang dapat menyakiti kedua orang tua, berupa perkataan ataupun perbuatan serta tidak berbuat kebaikan pada keduanya. - Ketiga: Membunuh jiwa tidak dengan alasan yang benar, seperti membunuh secara zalim. Keempat: Sumpah al-gamūs (penenggelam); yaitu bersumpah secara palsu atau dusta dalam keadaan menyadari kedustaannya. Dinamakan al-gamūs karena ia menenggelamkan pelakunya ke dalam dosa atau ke dalam api neraka.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Orang yang berusaha untuk memberi nafkah kepada janda dan orang miskin seperti orang yang berjihad fi sabilillah, atau seperti orang yang salat sepanjang malam dan puasa sepanjang siang."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan bahwa orang yang mengupayakan kepentingan perempuan yang ditinggal mati suaminya sementara tidak ada orang yang mengurusi urusannya dan juga orang miskin yang membutuhkan dengan menafkahi mereka karena mengharapkan pahala di sisi Allah Ta'ala, maka dalam perolehan pahala dia sama dengan orang yang berjihad di jalan Allah atau yang melaksanakan salat tahajud tanpa lelah dan yang berpuasa tiada henti.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau bersabda, "Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan!" Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah! Apa saja dosa-dosa yang membinasakan itu?” Beliau menjawab, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang telah Allah haramkan kecuali dengan alasan yang hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari medan pertempuran, dan menuduh wanita yang beriman lagi suci nan menjaga kehormatannya dengan tuduhan berbuat zina."
Muttafaq 'alaihRasulullah ﷺ memerintahkan umatnya agar menjauhi tujuh macam kejahatan dan maksiat-maksiat yang membinasakan. Ketika beliau ditanya apakah itu? Beliau menjelaskan: - Pertama: syirik kepada Allah, yaitu membuat tandingan bagi Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dalam bentuk apapun itu serta memalingkan salah satu ibadah kepada selain Allah Ta'ala. Beliau menyebut dosa syirik di urutan pertama karena ia merupakan dosa yang paling besar. - Kedua: sihir, yaitu buhul, jampi, obat-obatan, dan asap-asap yang memiliki dampak pada badan orang yang disihir berupa pembunuhan atau penyakit, atau memisahkan antara suami dengan istrinya. Sihir merupakan perbuatan setan, dan kerap kali tujuannya itu tidak akan tercapai kecuali dengan melakukan kesyirikan dan ritual kepada roh-roh jahat dengan sesuatu yang disukainya. - Ketiga: membunuh jiwa yang dilarang oleh Allah untuk dibunuh kecuali dengan alasan syar'i yang dilaksanakan oleh pemerintah. - Keempat: memakan riba atau berbagai bentuk pemanfaatan lainnya. - Kelima: menzalimi harta anak kecil yang ayahnya meninggal sebelum dia balig. - Keenam: melarikan diri dari peperangan melawan orang kafir. - Ketujuh: melontarkan tuduhan zina terhadap wanita merdeka yang menjaga diri, demikian juga tuduhan terhadap laki-laki.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Jangan jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, dan janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan. Ucapkanlah selawat untukku, karena sesungguhnya ucapan selawat kalian akan sampai kepadaku di mana saja kalian berada."
HR. Abu DaudNabi ﷺ melarang tindakan membiarkan rumah hampa dari ibadah salat, sehingga seolah-olah menjadikannya seperti kuburan yang tidak boleh melaksanakan salat di sana. Beliau ﷺ melarang mengulang-ulang ziarah ke makam beliau serta berkumpul di sana secara beraturan, karena hal itu bisa menjadi sarana kepada kesyirikan. Beliau meminta agar kita mengucapkan selawat dan salam kepada beliau di mana saja dari belahan bumi ini karena selawat itu akan sampai kepada beliau, baik itu dari dekat maupun jauh, sehingga tidak dibutuhkan untuk bolak-balik ke kubur beliau.