





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah tidak memandang orang yang menyeret pakaiannya karena sombong."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengingatkan agar tidak menjulurkan jubah atau sarung di bawah mata kaki karena ujub dan sombong. Beliau menjelaskan bahwa orang yang melakukan hal tersebut berhak mendapatkan ancaman keras, yaitu Allah tidak memandangnya dengan pandangan rahmat kelak pada hari Kiamat.
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu pada keduanya, yakni kesehatan dan waktu luang."
HR. BukhariNabi ﷺ mengabarkan bahwa ada dua di antara nikmat besar Allah pada manusia yang banyak orang merugi pada keduanya karena mereka menggunakannya bukan pada tempatnya. Orang yang mendapatkan nikmat kesehatan dan waktu luang, lalu sifat malas mengalahkan mereka untuk melakukan ketaatan adalah orang yang rugi. Ini adalah keadaan kebanyakan manusia. Sebaliknya, jika ia menggunakan waktu luang dan kesehatannya dalam ketaatan kepada Allah, maka ia adalah orang yang beruntung karena dunia adalah tempat menanam untuk akhirat dan tempat perniagaan yang akan terlihat keuntungannya nanti di akhirat. Waktu luang akan disusul oleh kesibukan dan kesehatan akan diikuti oleh sakit. Jika hal itu tidak ada kecuali usia tua, sebenarnya sudah cukup.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ biasa mengucapkan dalam sujud beliau, "Allāhumma-gfir lī żanbī kullahu; diqqahu wa jillahu, wa awwalahu wa ākhirahu, wa 'alāniyatahu wa sirrahu (Ya Allah! Ampunilah dosaku semuanya yang kecil maupun yang besar, yang pertama maupun yang terakhir, yang tampak maupun yang tersembunyi)."
HR. MuslimNabi ﷺ biasa berdoa di dalam sujudnya dengan membaca: Allāhumma-gfir lī żanbī (Ya Allah, ampunilah dosaku); yaitu dengan menutupinya dan Engkau melindungiku dari dampaknya dengan memaafkan dan melewatkannya .. kullahu (semuanya) .. diqqahu (yang kecil); yakni dosa yang kecil dan yang sedikit .. wa jillahu (maupun yang besar); yakni dosa yang besar dan yang banyak .. wa awwalahu (yang pertama); yakni dosa yang pertama .. wa ākhirahu (maupun yang terakhir), demikian juga dosa antara keduanya .. wa 'alāniyatahu wa sirrahu (yang tampak maupun yang tersembunyi); yang tidak mengetahuinya kecuali Engkau, aku menyucikan-Mu.
Abu Ad-Dardā` -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh, orang-orang yang suka melaknat tidak akan menjadi saksi dan tidak dapat memberi syafaat kelak di hari Kiamat."
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan bahwa orang yang suka mengucapkan laknat terhadap orang yang tidak berhak mendapatkannya, ia pantas mendapatkan dua hukuman: Pertama: Tidak menjadi saksi kelak di hari Kiamat bagi umat manusia bahwa rasul-rasul mereka telah menyampaikan risalah, tidak diterima kesaksiannya di dunia karena kefasikannya, dan tidak akan diberikan karunia mati syahid di medan perang. Kedua: Tidak dapat memberi syafaat kelak di hari Kiamat ketika orang-orang beriman memberi syafaat kepada saudara-saudara mereka yang seharusnya masuk neraka.
Salmān -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh, Tuhan kalian Mahamalu dan Mahadermawan. Dia malu kepada hamba-Nya jika dia mengangkat tangan kepada-Nya untuk mengembalikannya dalam keadaan kosong.”
HR. Abu Daud, Tirmizi, dan Ibnu MajahNabi ﷺ menganjurkan untuk mengangkat kedua tangan saat berdoa. Beliau mengabarkan bahwa Allah Mahamalu, yaitu memiliki banyak sifat malu, tidak berhenti melakukan apa yang menyenangkan hamba-Nya dan meninggalkan apa yang memudaratkannya. Allah Mahadermawan, yaitu memberi walaupun tidak ada permintaan. Lalu bagaimana jika ada permintaan! Allah malu kepada hamba-Nya yang beriman untuk mengembalikan kedua tangannya setelah diangkat untuk berdoa dalam keadaan kosong dan rugi tanpa dikabulkan.
Ummul Mukminin Juwairiyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Nabi ﷺ keluar meninggalkannya pagi hari ketika salat Subuh, sementara dia sedang di tempat salatnya. Beliau kemudian kembali setelah waktu duha sementara dia masih duduk, maka beliau bertanya, "Kamu masih dalam keadaan ketika aku meninggalkanmu?" Dia menjawab, "Ya." Nabi ﷺ bersabda, "Sungguh, setelah meninggalkanmu aku telah membaca empat kalimat sebanyak tiga kali; sekiranya ditimbang dengan semua yang kamu baca sejak pagi ini niscaya akan mengalahkannya, yaitu: Subḥānallāhi wa biḥamdihi 'adada khalqihi wa riḍā nafsihi wa zinata 'arsyihi wa midāda kalimātihi (Mahasuci Allah, dan aku memuji-Nya sejumlah bilangan makhluk-Nya, sejauh rida jiwa-Nya, seberat Arasy-Nya, dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya)."
HR. MuslimNabi ﷺ keluar meninggalkan istrinya, Ummul Mukminin Juwairiyah -raḍiyallāhu 'anhā-, di pagi hari saat mengerjakan salat Subuh sementara dia telah duduk di tempat salatnya, kemudian beliau pulang setelah siang di waktu duha sementara dia masih duduk di tempatnya. Beliau bertanya: Kamu masih dalam keadaan saat aku tinggalkan? Dia menjawab: Ya. Nabi ﷺ bersabda: Setelah meninggalkanmu, aku telah membaca empat kalimat dan mengulanginya sebanyak tiga kali. Seandainya pahala kalimat itu disandingkan dengan semua yang kamu baca sepanjang waktu dudukmu niscaya itu akan mengalahkannya. Kalimat itu adalah: Subḥānallāh (Mahasuci Allah); aku menyucikan-Nya dari semua cacat dan kurang .. wa biḥamdih (dan aku memuji-Nya); bagi-Nya pujian indah yang ditunjukkan-Nya .. 'adada khalqihi (sejumlah bilangan makhluk-Nya), tidak ada yang dapat menghitung jumlahnya kecuali Allah .. wa riḍā nafsihi (sejauh rida jiwa-Nya), yaitu seukuran yang akan mendatangkan rida-Nya kepada hamba yang diridai-Nya, dan itu adalah sesuatu yang tidak dapat dibatasi .. wa zinata 'arsyihi (seberat Arasy-Nya) yang merupakan makhluk paling besar dan paling berat .. wa midāda kalimātihi (dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya), sementara kalimat Allah tidak terhitung dan tidak terhingga. Ini mencakup ketiga macam yang disebutkan sebelumnya. Kalimat-kalimat Allah ﷻ tidak memiliki ujung dari sisi kadar, kaifiat maupun bilangan. Tetapi maksudnya ialah untuk menunjukkan jumlahnya yang banya, karena beliau mengawali penyebutan sesuatu yang memiliki jumlah banyak, yaitu jumlah makhluk, kemudian naik ke yang lebih tinggi yang diungkapkan dengan rida jiwa-Nya, kemudian berat makhluk yang paling besar yaitu Arasy. Jadi, yang pertama pada bilangan dan jumlah, kedua pada sifat dan kaifiat, dan ketiga pada besar dan berat.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Tidaklah suatu kaum duduk dalam sebuah majelis yang di dalamnya mereka tidak berzikir kepada Allah Ta'ala dan tidak pula berselawat kepada nabi mereka, kecuali akan menjadi penyesalan bagi mereka. Jika berkehendak, Allah akan mengazab mereka, dan jika berkehendak, Allah akan mengampuni mereka."
HR. Abu Daud, Tirmizi, dan Nasai dalam Al-KubrāNabi ﷺ mengingatkan agar tidak lalai berzikir kepada Allah, bahwa tidaklah sejumlah orang duduk dalam suatu majelis (perkumpulan) lalu tidak berzikir kepada Allah Ta'ala di dalamnya dan tidak pula berselawat kepada Rasulullah ﷺ, kecuali majelis tersebut akan menjadi penyesalan dan kerugian bagi mereka kelak di hari Kiamat. Jika Allah berkenan, maka Allah akan menyiksa mereka lantaran dosa mereka yang telah lalu dan kelalaian mereka di waktu yang akan datang. Dan jika berkenan, Allah memberi mereka ampunan sebagai karunia dan rahmat dari-Nya.
Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempatnya denganku pada hari Kiamat adalah orang yang paling baik budi pekertinya di antara kalian. Sebaliknya, orang yang paling aku benci dan paling jauh tempatnya dariku pada hari Kiamat adalah orang yang banyak bicara, bergaya saat bicara, serta bermulut besar." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Kami sudah tahu orang yang banyak bicara dan bergaya dalam bicara, lantas apakah yang dimaksud dengan bermulut besar?" Beliau menjawab, "Yaitu orang-orang yang sombong."
HR. TirmiziNabi ﷺ mengabarkan, di antara orang yang paling beliau cintai di dunia dan paling dekat tempatnya kelak di hari Kiamat ialah yang paling baik akhlaknya. Sebaliknya, orang yang paling beliau benci di dunia dan paling jauh tempatnya nanti di hari Kiamat adalah yang buruk akhlaknya; yaitu aṡ-ṡarṡārūn; orang-orang yang banyak bicara secara memaksakan diri dan keluar dari kebenaran. Juga al-mutasyaddiqūn; orang-orang yang berbicara luas dengan menampakkan diri fasih dan membanggakan pembicaraannya, tanpa sikap hati-hati dan menjaga ucapan. Demikian juga al-mutafaihiqūn (orang-orang yang besar mulut). Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui orang yang banyak bicara dan yang bergaya dalam berbicara. Lantas siapa orang yang besar mulutnya? Beliau menjawab: Yaitu orang yang angkuh, mengolok orang lain, berbicara kesana kemari dengan membuka lebar mulutnya.
Abdullah bin 'Amr bin al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh beruntung orang yang masuk Islam dan dianugerahi rezeki yang cukup, serta Allah menjadikannya kanaah pada anugerah yang Dia berikan."
HR. MuslimNabi ﷺ menerangkan, telah beruntung dan menang orang yang tunduk kepada Tuhannya, yaitu ia mendapatkan petunjuk dan taufik kepada Islam sekaligus dianugerahi rezeki yang halal sesuai kebutuhannya, tidak lebih dan tidak kurang, dan Allah menjadikannya kanaah dan rida pada apa yang Dia berikan kepadanya.