





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah kalian saling mendengki, melakukan najasy, saling membenci, saling membelakangi, dan janganlah sebagian kalian melakukan jual beli di atas jual beli orang lain. Tetapi, jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara! Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Dia tidak boleh menzalimi, menghina, dan merendahkannya. Takwa itu di sini -beliau menunjuk dadanya tiga kali-. Cukuplah seseorang itu berbuat buruk kala menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap muslim lain haram darah, harta, dan kehormatannya."
HR. MuslimNabi ﷺ berpesan kepada orang Islam agar bersikap baik kepada saudaranya sesama muslim dan menjelaskan sebagian kewajiban dan adab yang wajib dilakukan kepada mereka, di antaranya: Pesan pertama: Jangan saling mendengki; yaitu sebagian kalian mengharapkan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain. Kedua: Jangan melakukan najasy; yaitu sebagian kalian menaikkan penawaran harga barang padahal tidak ada niat membelinya, tetapi hanya ingin menguntungkan penjual atau merugikan pembeli. Ketiga: Jangan saling membenci; yaitu menginginkan keburukan pada yang lain, kebalikan mencintai, kecuali jika kebencian tersebut karena Allah Ta'ala maka hukumnya wajib. Keempat: Jangan saling membelakangi; yaitu satu sama lain saling memberi punggung, berpaling, dan memboikot. Kelima: Jangan melakukan jual beli di atas jual beli yang lain; yaitu berkata kepada orang yang sedang membeli suatu barang dari penjual lain: "Saya memiliki barang yang sama dengan harga lebih rendah, atau saya memiliki barang yang lebih bagus dengan harga sama." Kemudian beliau ﷺ berpesan dengan pesan yang komprehensif: Jadilah seperti saudara dengan meninggalkan larangan-larangan yang disebutkan dan dengan mencurahkan cinta, kelembutan, kasih sayang, dan kerja sama dalam kebaikan disertai dengan hati tulus dan nasihat pada semua keadaan. Di antara konsekuensi persaudaraan ini adalah: 1- Tidak menzalimi saudaranya sesama muslim. 2- Tidak membiarkan saudaranya sesama muslim dizalimi dengan meninggalkannya, padahal ia dalam kondisi mampu menolongnya dan menghilangkan kezaliman tersebut. 3- Tidak menghina, merendahkan, memandang sebelah mata, dan mendiskreditkannya karena semua itu lahir dari kesombongan yang ada di dalam hati. Kemudian Nabi ﷺ menerangkan sebanyak tiga kali bahwa ketakwaan itu ada dalam hati. Orang yang dalam hatinya terdapat ketakwaan yang melahirkan akhlak baik, rasa takut, dan perasaan selalu diawasi oleh Allah, tidak akan menghina seorang muslim. Cukuplah seseorang memiliki perangai buruk dan akhlak rendah manakala ia menghina saudaranya sesama muslim karena hal itu disebabkan keangkuhan di dalam hatinya. Kemudian beliau ﷺ menegaskan semua yang beliau sebutkan sebelumnya, bahwa setiap muslim terhadap muslim lainnya terlindungi darahnya, tidak boleh dizalimi dalam bentuk pembunuhan ataupun yang lebih ringan daripadanya, seperti melukai, memukul, dan semisalnya. Demikian juga hartanya, tidak boleh dirampas tanpa alasan yang benar, serta kehormatannya (harus dijaga) dengan tidak mencela dirinya ataupun nasabnya.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang mengangkat satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan angkat darinya satu kesusahan hari Kiamat. Siapa yang memberi kemudahan kepada orang yang dilanda kesulitan, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim, Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan ke surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi oleh rahmat, dinaungi oleh para malaikat, dan disebut oleh Allah di tengah makhluk yang ada di sisi-Nya. Siapa yang diperlambat oleh amalnya, tidak akan bisa dipercepat oleh nasabnya."
HR. MuslimNabi Muhammad ﷺ menjelaskan bahwa balasan seorang muslim di sisi Allah sejenis dengan apa yang ia lakukan pada umat Islam. Siapa yang mengangkat suatu kesusahan dan kesulitan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan membalasnya dengan diangkatkan satu kesusahan hari Kiamat dari dirinya. Siapa yang memudahkan orang yang sedang mengalami kesulitan dan menghilangkan kesulitannya, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Siapa yang menutupi aib seorang muslim, misalkan ia mengetahuinya melakukan kekeliruan dan kesalahan yang tidak patut ditampakkan, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut membantu saudaranya dalam kemaslahatan agama dan dunianya. Membantu dapat dilakukan dengan doa, tenaga, harta dan lainnya. Siapa yang berjalan untuk mendapatkan ilmu agama karena menginginkan wajah Allah Ta'ala, maka dengan sebab itu Allah akan memudahkannya pada satu jalan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Al-Qur`an dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun pada mereka ketenangan dan ketenteraman, mereka akan diliputi oleh rahmat Allah, mereka dinaungi oleh malaikat, dan akan dipuji oleh Allah di hadapan malaikat-malaikat yang didekatkan di sisi-Nya. Cukuplah sebagai kemuliaan ketika nama hamba disebut oleh Allah di kalangan makhluk-makhluk mulia yang tertinggi. Siapa yang amalnya kurang, nasabnya tidak akan mengantarnya ke tingkatan orang-orang yang beramal. Sebab itu, tidak dibenarkan bertumpu pada kemuliaan nasab dan nenek moyang lalu lalai dalam beramal.
Al-Agarr -raḍiyallāhu 'anhu-, salah seorang sahabat Nabi ﷺ, meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai sekalian manusia! Bertobatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali."
HR. MuslimNabi ﷺ meminta sekalian manusia agar memperbanyak tobat dan istigfar. Beliau menyampaikan tentang diri beliau yang bertobat dan memohon ampunan kepada Allah dalam sehari lebih dari seratus kali, padahal semua dosa beliau yang lalu dan yang akan datang telah diampuni. Hal itu menunjukkan kesempurnaan perendahan dan penghambaan diri beliau kepada Allah ﷻ.
Abu Sa'īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sarung seorang laki-laki muslim sampai setengah betis, namun tidaklah mengapa -atau tidaklah berdosa- bila dipanjangkan antara pertengahan betis hingga mata kaki. Sedangkan yang (tertutupi) di bawah mata kaki, maka akan (disiksa) di neraka. Siapa yang menyeret sarungnya karena sombong, maka Allah tidak akan melihat kepadanya."
HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan AhmadNabi ﷺ menerangkan bahwa izār (sarung) laki-laki muslim, yaitu semua yang menutupi setengah tubuhnya ke bawah, ada tiga jenis: Pertama: Jenis yang dianjurkan; yaitu sampai setengah betis. Kedua: Jenis yang boleh tanpa ada pemakruhan; yaitu di bawah itu hingga mata kaki, yaitu dua tulang menonjol di persendian betis dengan telapak kaki. Ketiga: Jenis yang diharamkan; yaitu sampai di bawah mata kaki, dikhawatirkan ia akan disiksa dengan api neraka, dan jika dilakukan karena sombong dan angkuh maka Allah tidak akan mau melihat kepadanya.
Ma'qil bin Yasār -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Ibadah di masa harj (fitnah) sama seperti berhijrah kepadaku."
HR. MuslimNabi ﷺ mengarahkan agar berpegang teguh melaksanakan ibadah di masa terjadi fitnah, perang, dan kekacauan urusan manusia. Beliau menjelaskan bahwa pahalanya sama seperti berhijrah kepada Nabi ﷺ. Hal itu karena manusia melupakannya dan sibuk, tidak ada yang fokus untuk ibadah kecuali segelintir orang.
Abu Sa‘īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Tidaklah seorang muslim berdoa dengan satu doa yang tidak mengandung dosa maupun pemutusan silaturahmi, melainkan dengan doanya itu Allah pasti memberinya satu dari tiga hal: doanya akan disegerakan kepadanya, Allah simpankan doanya itu untuknya di akhirat, atau Allah hindarkan darinya kejelekan yang sebanding dengan doanya." Para sahabat berkata, "Kalau begitu, kita perbanyak doa." Beliau bersabda, "Allah lebih banyak (memberi)."
HR. AhmadNabi ﷺ mengabarkan, apabila seorang muslim berdoa kepada Allah, meminta suatu permintaan yang tidak mengandung dosa, misalkan ia berdoa kepada Allah agar dimudahkan pada kemaksiatan dan kezaliman, tidak berdoa yang mengandung pemutusan silaturahmi seperti mendoakan celaka untuk anak-anak dan kerabatnya, kecuali dengan doanya itu Allah akan memberinya salah satu dari tiga perkara: 1- Allah menyegerakan doanya dan memberikan apa yang ia minta. 2- Allah ﷻ akan mengakhirkan doanya itu sebagai pahala untuknya kelak di hari Kiamat berupa ketinggian derajat atau rahmat dan ampunan dari kesalahan. 3- Allah jauhkan darinya -saat sekarang di dunia- sebagian keburukan yang sebanding dengan kadar doanya. Para sahabat berkata kepada Nabi ﷺ: Kalau begitu, kita perbanyak berdoa saja agar kita mendapatkan salah satu keutamaan ini? Nabi ﷺ menjawab: Apa yang ada di sisi Allah lebih banyak dan lebih besar daripada apa yang kalian minta. Pemberian-Nya tidak pernah habis dan tidak tidak akan berujung.
Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Bahwa Nabi ﷺ ketika mengalami kesulitan, beliau mengucapkan, "Lā ilāha illallāh al-'aẓīmul-ḥalīm. Lā ilāha illallāh rabbul-'arsyil-'aẓīm. Lā ilāha illallāh rabbus-samāwāti wa rabbul-arḍi wa rabbul-'arsyil-karīm (Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Mahaagung lagi Maha Penyantun. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Tuhan Arasy yang agung. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Tuhan langit, bumi, dan Arasy yang mulia)."
Muttafaq 'alaihSaat mengalami kesulitan dan kesusahan yang berat, Nabi ﷺ biasa membaca: Lā ilāha illallāh; tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah .. al-'aẓīm (Yang Mahaagung), yaitu Yang Mahaagung kedudukan-Nya lagi Mahabesar urusan-Nya terkait zat, sifat, dan perbuatan-Nya .. al-ḥalīm (Yang Maha Penyantun); tidak cepat-cepat menghukum pelaku maksiat, melainkan mengakhirkannya dan terkadang memaafkannya padahal Dia kuasa melakukannya, Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Lā ilāha illallāh rabbul-'arsyil-'aẓīm (Tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah, Tuhan Arasy yang agung); yaitu Pencipta Arasy yang besar. Lā ilāha illallāh rabbus-samawāti wa rabbul-arḍi (Tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah, Tuhan langit dan bumi); yaitu Pencipta langit dan bumi dan Pencipta segala sesuatu yang ada pada keduanya, yang memilikinya, mengurusnya, dan mengaturnya sesuai kehendak-Nya .. rabbul-'arsyil-karīm (Tuhan Arasy yang mulia); yaitu Pencipta Arasy yang mulia.
Abu Sa'īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika salah seorang kalian menguap, hendaklah dia menahannya dengan meletakkan tangan pada mulutnya karena setan akan masuk."
HR. MuslimNabi ﷺ memberi arahan kepada orang yang menguap, yaitu orang yang mulutnya menganga lantaran malas, kenyang, atau semisalnya agar meletakkan tangan di mulut untuk menutupnya. Hal itu karena setan akan masuk ke dalamnya jika ia membiarkannya terbuka, sehingga meletakkan tangan akan menjadi penghalangnya masuk.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Lihatlah orang yang berada di bawah kalian (dalam urusan dunia), dan janganlah melihat orang yang ada di atas kalian. Hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kalian."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ memerintahkan seorang muslim agar dalam urusan dunia terkait kedudukan, harta, kehormatan dan lainnya melihat kepada orang yang lebih rendah dan lebih minim keadaannya, tidak melihat orang yang berada di atasnya dan yang lebih baik darinya dalam urusan dunianya. Melihat orang yang lebih rendah lebih pantas dan lebih utama membuat Anda tidak menganggap kurang serta sedikit nikmat yang Allah berikan kepada Anda.